Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Langit di Penjara Suci
Setelah kepergian orang tuanya, Langit dibimbing oleh Ustadz Hasan, salah satu pengurus senior yang memiliki pembawaan tegas namun teduh.
Langkah kaki Langit terasa berat saat melewati koridor-koridor kayu menuju gedung asrama putra. Bau harum minyak kasturi dan suara riuh rendah santri yang menghafal bait-bait kitab kuning membuat kepalanya pening.
"Ini kamar kamu, Langit. Di sini semua sama, tidak ada anak pengusaha atau anak pejabat. Semuanya santri," ucap Ustadz Hasan sambil membuka pintu kayu sebuah kamar.
Di dalam kamar yang sederhana itu, tiga pasang mata langsung menoleh. Ustadz Hasan memperkenalkan teman-teman sekamar Langit: Rayyan yang terlihat paling dewasa, Akbar yang murah senyum, dan Bilal yang tampak paling muda.
Langit hanya berdiri mematung, menatap tiga kasur busa tipis di lantai dan lemari kayu kecil yang jauh dari kata mewah.
"Duduk dulu, Langit. Selamat datang," sapa Rayyan ramah sambil mengulurkan tangan, sementara Langit hanya menyambutnya dengan anggukan kaku, masih merasa asing dengan suasana yang begitu kontras dari kamarnya di Jakarta yang ber-AC dan kasur empuk.
Tak lama kemudian, suara adzan Maghrib menggema dengan sangat merdu dari speaker masjid pusat. Rayyan segera bangkit dan meraih sarung serta peci hitamnya.
"Ayo, Lang, kita siap-siap ke masjid. Di sini shalat jamaah itu wajib," ajak Rayyan.
Sambil berjalan menuju tempat wudhu, Rayyan mulai menjelaskan aturan dasar pondok dengan sabar; mulai dari larangan membawa smartphone, jam bangun tidur sebelum subuh, hingga jadwal mengaji yang padat.
Langit hanya bisa mengangguk pelan, mengikuti arahan Rayyan layaknya robot, sementara batinnya berteriak memberontak, mencari celah untuk bisa lepas dari rutinitas yang menurutnya sangat menyiksa ini.
Pagi itu, Langit berdiri di depan cermin kecil di sudut kamar asrama dengan tatapan tidak percaya.
Alih-alih seragam bermerek dan kunci motor sport, kini ia mengenakan seragam SMA yang rapi dan harus menaiki sepeda jengki tua untuk menuju sekolah barunya.
Sepanjang perjalanan, Langit mengayuh sepedanya dengan lesu di belakang Rayyan dan Akbar. Sesampainya di sekolah, sebuah bangunan SMA yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan sekolah mewahnya di Jakarta, Langit hanya duduk di bangkunya dengan wajah ditekuk.
Ia menjadi murid baru yang paling pendiam, sangat kontras dengan status "primadona" yang ia miliki di ibu kota.
Saat jam istirahat, Rayyan menarik lengan Langit untuk pergi ke kantin.
"Ayo, Lang, jangan di kelas terus. Kamu butuh makan," bujuk Rayyan. Langit hanya menurut dengan langkah gontai.
Namun, saat sedang berjalan melewati deretan meja yang penuh sesak, kaki Langit tersandung sesuatu hingga ia nyaris tersungkur.
Di depannya, seorang siswi yang sedang memegang mangkuk bakso tampak kaget. Gadis itu adalah Senja Ardhani. Langit yang suasana hatinya sudah buruk sejak bangun tidur, langsung meledak.
"Heh! Mata lo ditaruh di mana, hah? Sengaja lo ya nyandung gue biar gue jatuh?!" bentak Langit dengan kata-kata kasar yang membuat seisi kantin mendadak senyap.
Senja, yang sebenarnya hanya duduk diam, tidak terima dituduh begitu saja. Ia meletakkan mangkuk baksonya dan berdiri dengan tatapan tajam.
"Siapa yang sengaja? Kamu saja yang jalannya melamun, malah menyalahkan orang lain!" balas Senja tegas.
Rayyan yang tahu betul bahwa Senja adalah putri Kyai pemilik pondok mereka, langsung panik dan menarik bahu Langit.
"Udah, Lang, minta maaf aja. Dia ini..." Namun, Langit menepis tangan Rayyan dengan kasar.
"Minta maaf? Ogah! Bagi gue perempuan itu cuma pembawa sial. Gue udah lima kali diputusin perempuan dan semuanya sama, cuma bisa bikin susah!" teriak Langit.
Rayyan yang menyadari ketegangan sudah mencapai puncaknya, segera berbisik dengan nada mendesak tepat di telinga Langit.
"Lang, tahan emosi kamu. Dia ini putri Kyai Danardi, pengasuh kita. Kalau kamu bikin masalah sama dia, urusannya bisa sampai ke telinga Bapak kamu di Jakarta!" Mendengar ancaman halus itu, Langit terdiam sejenak.
Bayangan wajah ayahnya yang tegas dan ancaman pencabutan fasilitas membuat nyalinya sedikit menciut, meski hatinya masih panas membara.
Langit akhirnya mengalah, namun ia tetap memberikan tatapan tajam yang seolah ingin menembus manik mata Senja.
"Urusan kita belum selesai," desisnya pelan namun penuh penekanan sebelum berbalik badan dengan kasar.
Senja hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Langit yang menjauh dengan perasaan heran sekaligus kesal; ia belum pernah bertemu cowok seangkuh itu di lingkungan pondok.
Begitu bel masuk berbunyi, Langit kembali ke kelas dan menghabiskan sisa jam pelajaran dengan melamun, menopang dagu sambil menatap ke luar jendela, merindukan deru mesin motornya di aspal Jakarta.
Sore harinya, saat lonceng sekolah berbunyi, Langit harus menerima kenyataan pahit bahwa kebebasannya telah sirna.
Jika biasanya di jam seperti ini ia sudah nongkrong di kafe mahal di kawasan Senopati sambil memesan iced americano, kini ia harus mengayuh sepeda tua kembali ke pesantren.
Sesampainya di asrama, suasana sudah sibuk dengan santri yang berlarian menuju kamar mandi untuk bersiap shalat Ashar berjamaah.
"Ayo, Lang, pakai sarungnya. Jangan sampai telat, Ustadz Hasan paling nggak suka kalau ada santri baru yang masbuk," ajak Rayyan sambil menyodorkan sarung milik Langit.
Dengan wajah dongkol dan gerakan yang serba terpaksa, Langit mengganti celana abu-abunya dengan kain sarung yang terasa canggung di kakinya.
Ia berjalan di belakang Rayyan menuju masjid dengan langkah terseret, merasa dunianya benar-benar terbalik saat ia harus duduk bersila di antara ratusan santri, bersiap melaksanakan shalat dan melanjutkan agenda dengan belajar mengaji kitab dasar.
Sudah satu minggu Langit menjalani hari-harinya di Mambaul Ulum, dan baginya, setiap detik terasa seperti satu tahun di penjara.
Ia mulai hafal seluk-beluk jalan dari pondok ke sekolah, namun bukan untuk menyesuaikan diri, melainkan untuk mencari celah melarikan diri.
Pikiran Langit sudah bulat; lebih baik ia tidak sekolah sama sekali dan hidup luntang-lantung daripada harus "nyesek" mengikuti aturan yang mencekik lehernya setiap hari. Bagi Langit, kehidupan santri yang tenang justru merupakan siksaan yang paling kejam.
Malam itu, tepat pukul sebelas malam saat suasana asrama sudah sunyi senyap, Langit memulai aksinya. Ia bangkit dari kasur tipisnya, memegang perutnya sambil mengerang pelan untuk mengelabui Rayyan yang tampak masih setengah sadar.
Dengan alasan sakit perut, ia melangkah menuju toilet. Namun, bukannya masuk ke bilik mandi, Langit justru mengendap-endap keluar melalui pintu belakang asrama yang jarang dijaga.
Ia berlari kecil menuju sudut gelap di dekat tembok pembatas, tempat sebuah pohon rambutan besar tumbuh dengan dahan-dahan yang menjuntai kuat hingga melewati pagar tinggi.
Langit mulai memanjat dengan cekatan, jantungnya berdegup kencang karena bayangan kebebasan di Jakarta sudah di depan mata.
Namun, baru saja kakinya menginjak dahan tertinggi, sebuah senter menyorot tepat ke wajahnya. "LANGIT! MAU KEMANA KAMU?!" teriakan menggelegar Ustadz Hasan membelah keheningan malam.
Saking kagetnya, tumpuan kaki Langit terpeleset hingga ia jatuh berdebam ke tanah.
Belum sempat ia bangkit untuk lari, tangan kekar Ustadz Hasan sudah mencengkeram kerah bajunya.
"Baru seminggu di sini sudah mau jadi buronan?" bentak Ustadz Hasan dengan mata berkilat marah.
Langit hanya bisa tertunduk dengan napas tersenggal dan baju yang kotor terkena tanah.
Tanpa ampun, malam itu juga Ustadz Hasan menyeretnya kembali ke area asrama.
Sebagai hukuman atas kenekatannya, Langit dijatuhi hukuman yang paling ia benci: membersihkan seluruh kamar mandi santri sendirian sebelum fajar menyingsing.
Dengan wajah merah padam karena kesal dan lelah, Langit terpaksa memegang sikat lantai, sementara hatinya makin mengutuk tempat yang ia sebut penjara suci itu.
Percobaan pertama yang gagal tidak membuat nyali Langit ciut. Baginya, menyerah pada keadaan adalah penghinaan bagi seorang mantan raja jalanan Jakarta.
Keesokan harinya, setelah bel pulang sekolah berbunyi, Langit tidak mengayuh sepedanya ke arah pondok bersama Rayyan.
Ia sengaja memisahkan diri, berbelok ke arah gang sempit yang ia yakini akan membawanya ke jalan raya besar menuju terminal bus.
Dengan napas memburu dan senyum kemenangan yang mulai terkembang, ia mengayuh sepedanya sekuat tenaga, membayangkan dirinya sudah duduk manis di dalam bus menuju Jakarta.
Namun, keberuntungan seolah sedang enggan singgah di hidupnya. Saat ia keluar dari gang dan hendak memotong jalan utama, sebuah motor bebek tua berhenti tepat di depannya.
Langit mendongak dan seketika jantungnya serasa berhenti berdetak. Di atas motor itu, Ustadz Hasan berdiri dengan tatapan melotot yang seolah bisa menembus tengkorak kepala Langit.
Ustadz Hasan yang kebetulan baru saja pulang dari pasar untuk keperluan pondok, langsung menghadang jalan Langit.
"Mau ke mana kamu, Langit? Jalan ke pondok itu ke kiri, bukan ke kanan!" bentak Ustadz Hasan dengan nada rendah yang mengancam.
Langit hanya bisa mendengus kesal, mencengkeram stang sepedanya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saya cuma mau cari angin, Ustadz," kilahnya dengan wajah tanpa dosa yang malah membuat Ustadz Hasan makin geram.
"Cari angin atau cari jalan pulang ke Jakarta? Cepat putar balik dan kayuh sepedamu ke pondok sekarang juga! Kalau tidak, saya telepon Bapak kamu detik ini juga!" Ancaman itu telak mengenai sasaran.
Dengan hati yang panas membara dan mulut yang terus merutuk pelan, Langit terpaksa memutar balik sepedanya, mengayuh dengan penuh emosi kembali ke Mambaul Ulum.
Sesampainya di pesantren, hukuman yang lebih berat sudah menantinya. Ustadz Hasan tidak lagi memberinya sikat kamar mandi, melainkan sapu dan kain pel besar.
"Sebagai ganti 'angin' yang kamu cari tadi, sekarang bersihkan seluruh area masjid sampai mengkilap sebelum adzan Maghrib berkumandang!" perintah Ustadz Hasan tegas.
Dengan wajah dongkol, Langit harus menyapu dan mengepel lantai masjid yang sangat luas sendirian di bawah tatapan heran para santri lain.
Sesekali ia mengusap keringat di dahi dengan kasar, membayangkan betapa malunya ia jika teman-teman geng motornya di Jakarta melihat sang "Raja Jalanan" kini sedang sibuk mengepel masjid di pelosok Yogyakarta.