Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Reuni
Mobil kembali melaju. Kali ini Andi tidak menyalakan radio. Keheningan terasa lebih jujur daripada suara apa pun. Lampu jalan berganti ritme, membelah malam menjadi potongan-potongan pendek yang tidak memberinya waktu berpikir terlalu jauh.
Di persimpangan besar, Nayla tiba-tiba berkata, pelan tapi tegas, seolah keputusan itu sudah lama ada di kepalanya.
“Kita perlu ngomong satu hal, kak.”
Andi mengangguk, tanpa bertanya. Ia sudah belajar: kalau Nayla membuka kalimat seperti itu, artinya bukan soal teknis.
“Latihan ini,” lanjut Nayla, “sudah nggak murni latihan.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kakak berhenti nanya apa yang boleh,” jawabnya cepat. “Dan mulai nanya apa yang lu mau.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada gosip kantor atau klausul kontrak.
“Gue nggak merasa nuntut apa-apa,” k
“Justru itu,” Ia menoleh, matanya menangkap pantulan lampu merah. “Kak Andi nggak nuntut, tapi kakak hadir. Dan buat orang kayak gue, kehadiran itu bukan hal netral.”
Mobil berhenti di lampu merah. Bunyi klakson dari arah belakang terdengar jauh mendesak.
“Nay,” ujar Andi lebih rendah dari biasanya, “kalau lu mau berhenti—bilang sekarang.”
Nayla tersenyum kecil, tapi bukan senyum ringan. Lebih seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban, tapi berharap tidak perlu mengucapkannya.
“Gue nggak mau berhenti,” katanya jujur. “Gue cuma lagi nimbang… apa gue masih boleh lanjut.”
“Boleh dari siapa?”
“Dari diri gue sendiri.”
Lampu hijau menyala. Andi menginjak gas perlahan.
“Gue pernah salah baca situasi,” lanjut Nayla, menatap ke depan. “Gue kira bisa mengatur jarak bisa seprofesional sampai akhir. Ternyata, ada orang mendekat bukan dengan sentuhan, tapi dengan diam.”
Andi menelan ludah. “Gue nggak niat bikin lu di posisi susah.”
“Gue tahu,” jawabnya cepat. “Itu yang bikin susah.”
Mereka berhenti di pinggir jalan dekat taman kecil. Bangku-bangku beton kosong, lampu taman menyala setengah hati duduk berdampingan, tetap menjaga jarak seperti kebiasaan, tapi jarak itu kini terasa rapuh.
“Kalau reuni nanti,” Nayla memulai lagi, “itu bukan cuma latihan tampil. Itu validasi sosial. Sekali orang percaya kita nyata, mundur menjadi mahal.”
"Gue sudah terikat kontrak dengan lu Nay, dan bukan hal mudah untuk memutus." Andi menghela napas rintih
“Kak Andi,” katanya pelan, menyebut namanya tanpa embel-embel profesional, “Kakak siap nggak… jadi orang yang gue pertahankan di depan orang banyak versi masa lalu ?”
Pertanyaan itu lebih menakutkan daripada “lu cinta gue atau nggak”.
Andi menatap tangannya sendiri teringat ibu, Sofiah, kontrak, angka satu miliar, dan kalimat Raka: Jangan rusak cuma karena takut.“Gue nggak siap,” katanya jujur.
Nayla mengangguk kecil tidak terkejut.
“Tapi,” Andi melanjutkan, mengangkat wajahnya, “gue juga nggak siap kehilangan tanpa mencoba untuk jujur.”
Gadis cantik itu memejamkan mata sebentar. Tarikan napasnya terdengar jelas.“Gue nggak minta lu milih sekarang,” katanya akhir. “Gue cuma minta satu hal sebelum reuni.”
“Apa?”
" Kakak datang ke reuni bukan buat pembuktian bukan buat ibu dan juga bukan buat gue.” Ia menoleh menatap tajam, tapi tidak menekan.
“Datang buat diri kakak sendiri. Kalau di sana kakak merasa ini salah—gue yang pertama mundur.”
Andi mengangguk pelan. “Dan kalau gue ngerasa ini benar?” tanyanya.
“Berarti kita masuk wilayah yang kontrak nggak bisa lindungi.”
Malam semakin larut. Angin menggerakkan daun-daun taman, menciptakan suara gesek yang samar.
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Tidak ada pelukan pegangan tangan. Tapi ketika Nayla melangkah pergi menuju halte kecil di seberang taman, ia berhenti sebentar.
“Oh ya,” katanya tanpa menoleh. “Besok ibu lu nelpon lagi, kan?”
Andi terdiam. “Kemungkinan.”
“Angkat,” kata Nayla. “Jangan jelasin apa-apa. Jangan bohong tapi jangan juga ceritain gue.”
“Kenapa?”
“Karena kalau nama gue keluar sebelum waktunya,” katanya pelan, “itu bukan latihan lagi. Itu perang.” Ia berjalan pergi. Bayangannya mengecil di bawah lampu jalan.
---
Di rumah, Andi tidak langsung tidur duduk di sofa, menatap kalender lagi.Tanggal reuni kini terasa dekat—bukan sebagai ancaman, tapi sebagai garis batas.
Ponselnya bergetar pesan dari ibunya masuk singkat, tanpa tekanan:
Mama ingin mendengar kamu baik-baik saja. Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, Mama siap.
Andi menatap layar lama mengetik, " Andi baik baik saja Ma.."
" Kapan kamu pulang?
" Tunggu dulu Ma, Andi sedang sibuk sekarang
" Oke, Mama tunggu secepatnya."
ia tidak merasa terpojok dan sadar bahwa kejujuran bukan soal berkata semuanya—tapi memilih kapan tidak bersembunyi
Di kalender, tulisan Reuni tetap ada. Tapi kini, di kepalanya, satu kalimat Nayla terus berulang: “Kalau ini benar, kita masuk wilayah kontrak nggak bisa lindungi.”
Dan Andi tahu—cerita mereka baru saja benar-benar dimulai.
---
Dio pria slegek'an itu muncul di hari yang seharusnya tidak biasa, bukan pagi yang dramatis, bukan malam penuh hujan. Ia muncul di sela jam makan siang, ketika Andi baru saja menutup laptop dan merasa cukup tenang untuk percaya bahwa hidupnya—untuk sementara—tidak akan menuntut apa-apa lagi.
“Lu ke mana aja?” suara itu terdengar dari belakang, terlalu familiar untuk diabaikan.
Andi menoleh.
Dio berdiri di sana, tangan di saku celana, senyum setengah jadi—senyum orang yang tidak pernah benar-benar pergi, hanya menunggu waktu yang pas untuk kembali.
“Gue denger lu mau reuni,” lanjutnya, seolah itu bukan informasi pribadi.“Bawa siapa?”
Andi tidak langsung menjawab. Ada jeda kecil—cukup lama untuk Dio tersenyum lebih lebar.
“Lu masih sama kayak dulu,” kata Dio ringan. “Kalau ragu, lu diam.”
“Lu ngapain ke sini?” Andi akhirnya bertanya.
“Ngopi,” jawabnya. “Dan ngeliat lu. Ternyata hidup lu beneran berubah.”
Nada suaranya netral. Tapi mata Dio terlalu jeli untuk sekadar nostalgia.
“Lu kelihatan… rapi,” Dio menambahkan.
“Biasanya itu tanda orang lagi menjaga sesuatu.”
Andi tahu ke mana arah ini.“Kalau cuma mau basa-basi—”
“Enggak ! Gue cuma mau bilang satu hal sebelum reuni.”Ia mendekat sedikit, menurunkan suara.“Orang-orang di sana masih ingat versi lu yang lama.Dan mereka kejam sama versi yang setengah berubah.”
Wajah Andi menegang.“Kalau lu bawa dia,” lanjutnya pelan, “lu siap kehilangan jalan mundur?” Kalimat itu tidak keras mengancam tapi justru itu yang membuatnya berbahaya.
“Lu sok peduli?”
Ia mengangkat bahu. “Gue peduli sama lu yang dulu selalu memilih aman dan tetap berdiri.”
" Ini semua atas saran lu juga.."
" Gue cuma nyaranin tapi keputusan ada ditangan lu dan satu milyar bukan uang yang sedikit."
" Di..lu tahu gue udah berkomitmen untuk menjaga."
"Hati siapa yang tahu ?" Ia melangkah pergi, meninggalkan satu kalimat terakhir tanpa menoleh: “Kadang orang datang bukan buat ngancurin. Tapi buat ngingetin kalau lu masih punya pilihan buat kabur.”
Andi terhenyak menatap nya pertama kali sejak Nayla masuk ke dalam hidupnya, ia merasakan godaan lama itu kembali—bukan untuk pergi, tapi untuk tidak melangkah lebih jauh.
Dan ia tahu, reuni nanti bukan cuma soal dilihat orang lain.Tapi soal apakah ia berani tidak menjadi versi yang Dio kenal.