Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Sudah 3 bulan berlalu sejak pak Harto meninggal, Mawar lebih sering murung di banding kan sebelum nya. Kepergian bapak nya cukup membuat Mawar kehilangan separuh jiwa nya.
Sekarang ini Farhan bekerja lebih kerasa lagi, doa tidak tega melihat ibu nya harus bekerja seorang diri. Di tambah lagi dengan permintaan Indah yang aneh - aneh dan terkesan memaksa kan diri nya.
"Bu, teman - teman ku punya baju keluaran terbaru loh. Aku belum punya bu, Indah minta uang dong bu buat beli baju nya!" Indah berkata ketika mereka sedang makan malam.
"Dua hari lagi ibu jual getah karet ya, nanti ibu belikan ya!" Bu Munah mengangguk kan kepalanya.
"Indah, jangan mengikuti orang - orang di luar sana, mereka itu orang kaya. Mereka punya orang tua yang lengkap dan hidup nya lebih dari cukup, jadi jangan ikuti gaya mereka!" Nasehat Farhan pada adik bungsu nya.
Indah tampak cemberut mendengar penuturan kakak nya, dia tidak suka di atur oleh siapa pun. Bu Munah menyadari reaksi Indah dan segera membela nya.
"Gak papa Farhan, lagian kan wajar Indah punya keinginan seperti anak - anak lain nya!" Bu Munah membela Indah.
"Utama kan kebutuhan sekolah mu dan kebutuhan keluarga kita, Indah. Jangan terlalu mengikuti gengsi!" Kembali Farhan mengingat kan.
Indah mengerucut kan bibir nya karena dia sedang kesal, sementara Mawar hanya diam tanpa mau ikut dalam pembicaraan mereka.
Setelah selesai makan, Indah langsung ngeloyor begitu saja meninggal kan dapur tanpa mau membantu membereskan bekas makan mereka.
"Indah, bantu Mawar membereskan dan mencuci piring, jangan langsung pergi saja!" Farhan menegur Indah.
"Sudah lah Farhan, Indah itu masih kecil dan dia tidak pantas mengerjakan semua itu. Biarkan Mawar sendiri yang mengerjakan nya!" Bu Munah membela Indah.
Farhan hanya menggeleng - geleng kan kepala melihat kelakuan adik bungsu nya tersebut, di tambah lagi dengan sikap sang ibu yang selalu membela nya membuat Indah bersikap sesuka hati nya.
Malam ini Farhan sedang tidak keluar, biasanya malam - malam seperti ini dia bekerja sebagai penjaga warung hingga jam 12 malam. Tapi malam ini dia sedang malas dan tidak ingin pergi ke mana - mana.
Farhan yang sedang duduk di teras rumah nya di kaget kan dengan kedatangan sebuah mobil di depan rumah nya. Yang lebih membuat nya tidak percaya adalah orang yang baru saja keluar dari dalam mobil itu.
"Pak Amin, silah kan masuk pak!" Farhan mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih Farhan!" Pak Amin dan istri nya, bu Rosi segera masuk ke dalam rumah.
Pak Amin adalah wakil kepala sekolah di tempat Mawar dan Farhan belajar, sedang kan istri nya adalah guru di SMP di mana Farhan dan Mawar sekolah dulu.
"Bu, ada tamu di luar!" Farhan memberi tahu ibu nya yang sedang menikmati acara televisi bersama Indah.
"Siapa Han?" Tanya bu Munah Heran.
"Pak Amin bu, guru nya Farhan dan Indah!" Jawab Farhan.
Bu Munah segera menemui tamu nya, sementara Farhan menemui Mawar di dapur. Dia meminta Mawar membuat kan minuman untuk kedua tamu mereka di depan.
"Mawar, tolong buat kan teh ya. Di depan ada pak Amin dan bu Rosi!" Farhan memberi tahu adik nya.
"Ada apa ya kak? Kok malam- malam begini pak Amin dan bu Rosi datang ke rumah kita!" Mawar merasa heran dengan kedatangan kedua guru nya tersebut.
"Kakak juga gak tahu, ya udah deh kakak ke depan dulu ya!" Farhan pamit pada adik nya.
Mawar mengangguk kan kepala nya dan dia langsung membuat 2 gelas teh hangat untuk tamu nya. Mawar bergegas kedepan membawa nampan berisi 2 gelas minuman tersebut.
"Silah kan pak, bu!" Mawar mempersilahkan kedua tamu nya untuk minum setelah meletakkan 2 gelas tersebut di atas meja.
"Terima kasih nak!" Jawab Bu Rosi sambil memandangi Mawar dengan senyum lebar nya.
Mawar segera berlalu dari ruang tamu meninggal kan tamu nya, dia tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan orang tua. Berbeda dengan Indah yang malah duduk bersama ibu nya di ruang tamu.
"Begini bu, nak Farhan maksud kedatangan kami ke sini dengan suatu tujuan!" Pak Amin mulai berbicara setelah menarik nafas panjang.
Bu Munah dan Farhan fokus mendengar apa yang mau di sampai kan oleh tamu mereka.
"Kami bertujuan untuk mengajak Mawar untuk tinggal di rumah kami, saya yang akan menanggung semua biaya pendidikan Mawar sampai ke perguruan tinggi. Kami menyayangi Mawar dan ingin menjadikan nya sebagai putri kami!" Pak Amin mengutarakan keinginan nya.
Bu Munah dan Farhan terkejut mendengar permintaan pal Amin, dia ingin mengadopsi Mawar menjadi anak nya.
"Maaf pak, apakah bapak dan ibu beluk memiliki keturunan sehingga bapak dan ibu mau mengangkat Mawar menjadi putri bapak?" Tanya bu Munah pada mereka.
"Kami memiliki 2 orang putra bu, yang pertama sekarang sudah sekolah kelas 3 Sekolah Dasar dan yang ke 2 masih berumur 5 tahun. Kami tertarik pada Mawar dan ingin menjadikan nya sebagai putri sulung kami jika ibu mengizinkan!" Jelas pak Amin pada bu Munah.
Bu Munah tampak berpikir sejenak, ada alasan yang membuat nya terasa berat.
"Bu Munah, tujuan kami bukan nya ingin memisahkan ibu dari Mawar. Jika ibu memang keberatan jika kami mengadopsi Mawar itu memang hal yang wajar. Tolong izin kan Mawar tinggal di rumah kami, dan kami berjanji akan memenuhi kewajiban kami terhadap Mawar. Kami akan memenuhi semua kebutuhan nya, dan juga biaya pendidikan nya hingga ke perguruan tinggi. Sampai kapan pun Mawar tetap lah putri ibu!" Bu Rosi juga ikut menjelaskan.
"Maaf bu Rosi, Mawar adalah anak yang ku lahir kan ke dunia ini dengan taruhan nyawa. Jadi mau bagai mana pun keadaan nya, aku tidak akan memberikan Mawar pada siapa pun. Aku masih mampu memenuhi semua kebutuhan nya!" Bu Munah menolak permintaan mereka.
Bukan tanpa alasan bu Munah menolak nya, jika Mawar tinggal bersama pak Amin dan Rosi yang kaya raya itu. Maka dia akan kehilangan orang yang akan mengerjakan semua pekerjaan yang ada di rumah ini.
Untuk meminta Indah mengerjakan semua nya, semua itu tidak mungkin. Bu Munah sendiri tidak pernah membiarkan Indah melakukan apapun di rumah ini. Dia sendiri yang mengerjakan semua nya, tentu saja dia tidak mau.
'Tidak, Mawar tidak boleh pergi dari rumah ini. Jika pak Amin dan bu Rosi mau mereka bisa mengadopsi Indah saja. Dengan begitu Indah tidak akan kekurangan lagi!' Batin bu Munah sambil tersenyum.
Tidak hanya itu, bu Munah sendiri tidak rela Mawar mendapat kan kehidupan yang lebih baik dari pada Indah. Jika dia bisa menukar nya dengan Indah kenapa tidak.