Meski karir Rendra sebagai CEO Perusahaan Wilson sangat cemerlang, hidupnya justru dipenuhi ancaman oleh ayahnya sendiri, Danu.
Obsesi harta dan kekuasaan telah membutakan mata Danu, hingga ia setuju menerima tawaran kerja sama Selvi yang ingin kembali ke pelukan Rendra.
Selvi menyesal 5 tahun lalu ia telah mengkhianati cinta Rendra. Dan kini berkat bantuan Danu, ia berhasil bertunangan dengan Rendra, meski dengan cara di paksa.
Disisi lain, Rendra kembali bertemu dengan Luna. Meski dulu dia tidak ingat jika Luna adalah gadis kecil yang meminta bantuannya 5 tahun yang lalu.
Luna, gadis childish dengan segala tingkahnya yang mengemaskan, hingga berhasil membuat Rendra si pria dingin, jarang senyum karna sariawan, kembali merasakan apa itu jatuh cinta.
"Dasar, Bocil Kematian!" Rendra selalu saja memanggilnya seperti itu, jika Luna selalu berhasil membuatnya tepuk jidat, melihat tingkahnya yang selalu ada-ada saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseruan Bermain Jet Ski
"Gue tantang lo balapan jet ski! Kalau gue menang, Lamborghini Aventador lo buat gue. Tapi kalau gue kalah, Mobil Mclaren Senna gue buat lo. Gimana? Deal?" tanya David membuat sebuah taruhan.
Rendra yang sudah selesai memakai rompi pelampung, hanya tersenyum miring menatap kearah David. "Lo yakin nantang gue, Vid?" alisnya terangkat satu, seolah sedang meremehkan tantangan yang diberikan kepadanya.
"Entar lo nyesel, kalau mobil kesayangan lo itu, bakalan jatuh ke tangan gue. Karena udah pasti gue yang bakalan menang," sambungnya tersenyum percaya diri.
"Ck! Belum mulai dah sombong. Oke kita liat aja nanti. Deal!" David mengulurkan tangan kanannya.
Rendra yang masih mempertahankan senyum percaya dirinya, membalas uluran tangan David, "Deal!"
"Huft! Kenapa semua cowok suka banget taruhan?" gumam Lisa merasa heran.
"Entah, padahal gak boleh tau bikin taruhan kayak gitu," sahut Luna yang juga ikutan merasa heran, dan jengkel melihat Rendra dengan gampangnya menerima tantangan David.
Lisa yang semula memperhatikan Rendra, dan David. Kini beralih menatap ke arah Luna. "Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa suka sama Tuan Muda? Padahal umur kalian sangat beda jauh. Tuan muda 30 tahun, sementara kamu sendiri masih 18 tahun," ia merasa bingung karena Luna seperti lupa perbedaan jarak usianya, dengan Rendra.
"Apa nanti kamu gak malu? Pacaran sama orang yang cocoknya jadi Om kamu. Kenapa gak nyari yang seumuran sama kamu aja?"
"Emang ada larangnya? Harus mencari yang seumuran?" tanya balik Luna.
"Ya, gak ada sih. Terlebih yang namanya perasaan, gak bisa sepenuhnya dikontrol untuk berlabuh di hati siapa," balas Lisa.
"Nah, kan. Jadi gak masalah kalau misalnya aku suka sama orang dewasa, seperti Kak Rendra," ucap Luna tersenyum manis, membuat Lisa juga ikut tersenyum.
Emang bener kata David, anak ini beneran tulus apa adanya. Setiap perkataan, dan tingkahnya murni karena sifat childish. Mungkin ini yang bikin Tuan Muda suka sama dia. Beda sama Nona Selvi, yang terlalu berlebihan mengejar cinta Tuan Muda, pikir Lisa.
"Lisa! Luna!" suara David memanggil sambil melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
"Kak, kesana yuk! Itu Kak David manggil kita," ajak Luna sambil menggandeng tangan Lisa, dan membuatnya mengikuti Luna dari belakang.
"Gimana kalau kalian ikut kita main jet ski? Lisa sama gue, Luna sama Rendra. Gimana mau kan?" tanya David menatap Lisa, dan juga Luna yang sudah berada di hadapannya.
"Gak ah, gak mau. Yang ada gue sama Luna kepental, nyemplung masuk laut. Gara-gara gak bisa jaga keseimbangan," tolak Lisa melipat tangan di dada merasa kesal.
"Kalau kalian mau balapan, balapan sendiri aja sana! Gak usah bikin gue sama Luna jadi tumbal. Iya kan, Dek?" tanyanya menatap ke arah Luna.
Luna mengangguk setuju, "Iya betul tuh!" ucapnya yang juga ikut-ikutan melipat tangan di dada, menatap kesal ke arah mereka.
Membuat Rendra, dan David saling bertukar pandang. "Keknya kalau berurusan sama ras terkuat di bumi, kita kalah Vid," ujar Rendra sedikit menghela napas.
"Hmm, iya. Keknya Nyi Roro Kidul juga sungkem ni sama mereka," sahut David.
"Lah, Nyi Roro Kidul kan sama-sama cewek kayak mereka, Vid."
"Nah itu, berarti mereka titisannya," David di buat terkekeh dengan perkataannya sendiri. Dan membuat Lisa, dan Luna menatap tajam ke arahnya.
"Hahaha, canda gue. Udah yuk ikut aja, nih pake dulu biar aman," ucap David memberi Luna, dan juga Lisa rompi pelampung.
"Kalau gue sih fine aja mau ikut kalian naik jet ski. Tapi Luna?" tanya Lisa merasa khawatir, karena tau jika Luna tidak tahan dengan gelombang air laut.
"Udah, aku gapapa kok. Lagi aku juga pengen ni naik jet ski. Seumur hidup baru pertama kali aku dapat kesempatan, merasakan berseluncur di atas air," balas Luna tersenyum.
"Naik Luxury yacht aja mabok, gimana kalau naik jet ski?" sahut Rendra yang sedikit tidak setuju, jika Luna ikut naik jet ski.
Bukan karena tidak suka jika Luna akan duduk di belakangnya. Tapi Rendra khawatir, kalau nanti tiba-tiba Luna pingsan nyemplung ke laut, karena tidak kuat merasakan mabuk laut.
"Ish, udah sih aku mau ikut naik. Kalau gak aku nangis ni," ucap Luna bersikeras ikut, dan membuat ekspresi seolah-olah ingin menangis.
Membuat Rendra hanya bisa menghela napas, "Iya deh, Cil!"
"Nah gitu dong. Yuk!" Luna tersenyum bersemangat menarik tangan Rendra, menuju jet ski yang terparkir di bibir pantai.
David yang di tinggal berdua dengan Lisa, dibuat tersenyum. "Ehem, Lis! Kalau nanti gue menang, gimana kalau nanti kita liburan berdua di Bali?"
"Kenapa lo harus nunggu menang dulu, kalau mau ngajakin gue liburan berdua?" tanya balik Lisa.
David sedikit menggaruk tengkuknya, "Ya biar gue semangat aja nanti."
"Ck! Bilang aja semangat mau dapetin mobil Lamborghini Tuan Muda iya kan?" tanya Lisa merasa kesal.
"Kalau itu sih, bonus aja Lis," balas David tertawa geli.
"Ck! Dasar!" Lisa memukul perut David menggunakan sikunya, dan meninggalkannya menuju ke tempat Rendra, dan Luna.
"Awww, sakit! Ayang Lisa tungguin!" pinta David tersenyum mengikuti Lisa dari belakang.
Sementara Rendra yang sudah berada di atas jet ski, bersama Luna di belakangnya sedikit merasa khawatir dengan keadaan Luna. "Lo yakin gapapa kalau ikut gue naik jet ski?"
"Udah, Kak Rendra tenang aja. Selagi aku bersama dengan Kakak, aku bakalan baik-baik aja. Karena Kakak gak bakal biarin aku kenapa-kenapa," Luna tersenyum manis, sambil mengeratkan pelukannya di perut Rendra.
Melihat senyum manis di bibir Luna, serta tatapan imut di matanya yang terlihat sangat menggemaskan, membuat Rendra juga ikut tersenyum.
"Cieee, yang lagi jatuh cinta. Dunia serasa milik berdua," sahut David yang ingin naik jet ski bersama dengan Lisa, membuat Rendra sedikit terkejut, dan menjadi salah tingkah memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Yaelah, pake salting segala. Ngomong-ngomong baru pertama kali ini, Ren. Gue liat lo senyum sama cewek," ucap David merasa heran melihat perubahan Rendra yang sekarang ini.
"Emang biasanya dia gimana, Kak?" tanya Luna.
"Biasanya ya, Dek. Rendra tuh kalau tiap liat cewek, dingin banget. Matanya melotot ke mau keluar tuh bola matanya," balas David yang mencoba menjelekkan Rendra di depan Luna.
Dan tentu saja Rendra merasa tidak terima. "Sembarangan lo kalau ngomong. Udah kita lomba sekarang!" sahut Rendra dengan nada kesal, dan mulai menyalakan mesin.
"Hahaha," David tertawa puas melihat raut kesal sahabatnya itu.Rendra dan David sudah bersiap untuk beradu cepat bermain jet ski. Sementara Luna, dan juga Lisa terlihat memeluk erat tubuh mereka, agar tidak terpental masuk kedalam laut.
"Oke, gue hitung ya!" Lisa mulai memberi aba-aba.
"Satu."
Rendra dan David saling beradu pandang, tersenyum seolah saling meremehkan satu sama lain.
"Dua."
"Ya, Tuhan. Tolong lindungi Luna, semoga Luna selamat, dan gak sampe kepental ke laut, terus dimakan ikan hiu. Atau malah nyasar ke tempat Nyi Roro Kidul, batin Luna sedikit merintih takut.
"Tiga!"
Wus!!!
Dua jet ski meluncur dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ingin membelah air laut menjadi dua bagian. Rendra, dan David terlihat begitu lihai beradu kecepatan, bahkan saling menyusul satu sama lain.
Sementara Luna, dan Lisa yang berada di belakang hanya bisa mengeratkan pelukannya, agar jangan sampai terpental ke laut. Berbeda dengan Lisa yang nampak tenang, bahkan sangat menikmati permainan jet ski David.
Luna malah terlihat sangat ketakutan, dan mulutnya tidak berhenti komat-kamit, berharap agar permainan cepat selesai.
"Aaaaaaahhhhhh!!!!" Luna berteriak sekeras mungkin, sampai ia lupa jika Rendra sedang ingin membelokan jet ski, dan membuat Luna otomatis ...
"Ham, pui! Asin!!" Luna merengek membuang kembali air laut, yang sempat masuk kedalam mulutnya. Sementara Rendra sama sekali tidak peduli, karena sedang fokus bertanding.
"Tuhan, Luna masih pengen hidup!" rengek Luna membuat ekspresi menangis.
"Luna masih belum merasakan malam pertama sama Om Landak, Tuhan. Lagi pula mie ayam mamang udin masih enak, Luna masih punya hutang bon ma dia, Tuhan." Luna terus mengoceh merasa ketakutan, membuat Rendra yang sejak dari tadi fokus bertanding, sedikit merasa tersenyum saat samar-samar mendengar ocehan Luna.
Tuhan, kalau memang benar Engkau mengirimkan bocil childish ini kepadaku, untuk menghangatkan hati yang sudah lama membeku. Aku cuma minta satu, Tuhan. Tolong jaga senyum manis Bocilku ini, dan aku juga akan selalu menjaganya di hidupku, batin Rendra tersenyum manis, dan kembali menambah kecepatan jet ski.
Suara teriakan, dan mesin jet ski yang terus bertabrakan dengan air laut, membuat perlombaan adu cepat semakin seru. Hingga mereka semua saling melempar senyum, dan tertawa bahagia.
Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengambil foto Rendra, dan Luna secara diam-diam. Dimana pose foto yang menampilkan Luna memeluk erat perut Rendra, dan Rendra tersenyum manis menatapnya.