NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Seharga Dua Ribu Rupiah

Tentu, ini adalah revisi Bab 25. Dalam versi ini, ditambahkan momen intim di mana William membersihkan wajah Adinda, menciptakan sentuhan fisik yang lembut dan bermakna.

Perisai Hati Tuan Bagaskara

Bab 25: Alasan Seharga Dua Ribu Rupiah

Sore itu, langit di atas kampus Institut Kesenian Jakarta berwarna oranye kemerahan. Kampus sudah mulai sepi. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang setelah kehebohan insiden lampu panggung tadi pagi.

Adinda duduk sendirian di bangku taman belakang studio patung, di bawah pohon beringin yang rindang. Di pangkuannya ada buku sketsa, tapi tangannya diam. Pikirannya masih memutar ulang kejadian tadi siang.

Aroma parfum William, detak jantungnya yang cepat, dan tatapan matanya yang... putus asa.

"Bodoh," rutuk Adinda pada dirinya sendiri. "Harusnya kamu lari, bukan malah meluk."

Tiba-tiba, sebuah bayangan panjang menutupi buku sketsanya.

"Permisi. Apa bangku ini kosong?"

Suara bariton itu. Suara yang bisa membuat direksi perusahaan gemetar, tapi kini terdengar lembut dan sedikit ragu.

Adinda mendongak pelan. Jantungnya mencelos.

William Bagaskara berdiri di sana.

Tidak ada jas formal. Tidak ada Rudi. Tidak ada pengawal berbadan besar. William hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku, celana bahan hitam, dan kacamata hitam yang ia pegang di tangan kiri. Rambutnya sedikit acak-acakan tertiup angin sore.

Ia terlihat... manusiawi.

"Bapak ngapain di sini?" tanya Adinda kaku, refleks menutup buku sketsanya. "Wartawan pasti masih nyariin Bapak di depan."

"Saya lewat pintu belakang. Panjat pagar sedikit," jawab William santai, lalu duduk di ujung bangku yang sama, menyisakan jarak sopan sekitar setengah meter di antara mereka.

"Bapak? Manjat pagar?" Adinda menatapnya tak percaya.

"Saya belajar dari ahlinya," William tersenyum miring, melirik Adinda.

William merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hijau kayu yang ujungnya sudah tumpul dan sedikit tergigit di bagian atasnya.

Sebuah pensil 2B bermerek Faber-Castell. Harganya mungkin tidak sampai tiga ribu rupiah.

William menyodorkan pensil itu pada Adinda dengan dua tangan, seolah sedang menyerahkan berlian mahal.

"Ini milikmu," kata William serius. "Jatuh saat kau melakukan aksi heroik tadi siang."

Adinda menatap pensil butut itu, lalu menatap wajah miliarder di depannya. Situasi ini begitu absurd hingga membuat Adinda ingin tertawa.

"Bapak jauh-jauh balik ke sini, manjat pagar, cuma buat balikin pensil seharga dua ribu perak?"

"Bukan soal harganya," William memutar pensil itu di jari-jarinya. "Tapi ini satu-satunya alasan yang bisa saya pikirkan supaya saya punya keberanian menemui kamu lagi."

Adinda terdiam. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil pensil itu.

"Tunggu," kata William tiba-tiba, menahan gerakannya.

Mata William menyipit, menatap pipi kanan Adinda. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, membuat napas Adinda tercekat.

"Ada serpihan debu kaca di sini. Dekat matamu," bisik William.

Sebelum Adinda sempat menghindar, William mengangkat tangannya. Ibu jarinya yang hangat dan sedikit kasar menyentuh kulit pipi Adinda dengan sangat hati-hati.

Adinda menegang sesaat—insting pertahanannya menyala—tapi kemudian ia rileks saat menyadari sentuhan itu tidak berbahaya. Justru, sentuhan itu sangat lembut.

William mengusap pelan noda debu dan serpihan kecil sisa insiden panggung tadi. Gerakannya lambat, seolah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat berharga.

Mata mereka bertemu dalam jarak dekat. Adinda bisa melihat pupil mata William yang membesar.

"Kau terluka demi saya lagi," gumam William, masih belum menarik tangannya dari wajah Adinda. Ibu jarinya kini mengusap pelan tulang pipi gadis itu. "Maafkan saya."

"Cuma goresan kecil, Pak. Tidak sakit," jawab Adinda lirih, suaranya hampir hilang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut William bisa mendengarnya.

William tersenyum sedih, lalu perlahan menurunkan tangannya. "Bagi saya sakit, Adinda. Melihatmu lecet sedikit saja membuat saya sakit."

William akhirnya memberikan pensil itu ke telapak tangan Adinda.

"Kau terlihat berbeda," ucap William, mengubah topik untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi terlalu intim. "Baju ini, rambut ini... kau terlihat cocok di sini. Kau terlihat... nyata."

"Saya memang nyata, Pak. Selama ini saya nyata," jawab Adinda pelan, menggenggam pensilnya erat-erat untuk menyalurkan kegugupannya. "Bapak saja yang terlalu tinggi di awan."

William tertawa kecil, tawa yang terdengar lelah namun lega.

"Mungkin kau benar. Tiga bulan ini saya sibuk terbang ke sana ke mari, mengurus uang triliunan, melawan ayah saya sendiri... tapi rasanya kosong."

William menyandarkan punggungnya ke bangku taman, menatap langit sore.

"Tadi siang, saat lampu itu jatuh dan kau menabrak saya... itu pertama kalinya saya merasa aman dalam waktu yang lama. Ironis, kan? Saya hampir mati, tapi saya merasa aman karena ada bau cat minyak dan vanila."

Wajah Adinda memerah. Ia bersyukur cahaya matahari sore menyamarkan rona pipinya yang masih terasa hangat bekas sentuhan William tadi.

"Adinda," panggil William lagi.

"Ya?"

"Saya tidak akan memintamu kembali bekerja. Saya tidak akan menarikmu kembali ke dunia saya yang berbahaya. Saya sudah berjanji."

Hati Adinda mencelos sedikit. Oh, jadi ini salam perpisahan lagi?

"Tapi," lanjut William, menoleh menatap Adinda dengan tatapan intens. "Saya ingin bertanya. Sebagai William, bukan sebagai CEO Bagaskara Corp."

William menggeser duduknya sedikit lebih dekat.

"Kalau... seandainya ada seorang pria biasa yang ingin mengajak mahasiswi seni makan malam—bukan di restoran mewah, tapi mungkin makan nasi goreng di pinggir jalan—apakah mahasiswi itu bersedia?"

Adinda terpaku. Ia menatap mata William. Tidak ada arogansi di sana. Hanya ada harapan tulus dari seorang pria yang sedang berusaha mendekati wanita yang disukainya dengan cara yang canggung.

Adinda menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang mulai terbit di bibirnya. Ia memutar-mutar pensil 2B di tangannya.

"Tergantung, Pak," jawab Adinda jual mahal.

"Tergantung apa?"

"Tergantung apakah pria itu bakal protes kalau makanannya pedas, dan apakah dia bakal rewel kalau bajunya kena asap abang nasi goreng."

William tersenyum lebar, senyum yang mencapai matanya.

"Pria itu sudah kebal. Dia pernah makan sate sambil diawasi pembunuh bayaran. Asap nasi goreng bukan masalah besar."

Adinda tertawa. Tawa yang lepas.

"Baiklah," kata Adinda akhirnya, menatap William. "Kalau begitu, pria itu boleh menjemput jam tujuh malam. Tapi jangan bawa mobil mewah. Malu sama tetangga kos."

"Siap laksanakan, Nona," jawab William semangat.

Ia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. Ia tampak lebih bahagia daripada saat memenangkan tender triliunan rupiah.

"Sampai ketemu jam tujuh, Adinda."

"Sampai ketemu, William."

Untuk pertama kalinya, Adinda memanggil namanya tanpa embel-embel "Pak". Dan bagi William, itu terdengar lebih merdu daripada musik klasik manapun.

William berjalan pergi, kali ini lewat jalan biasa, tidak perlu memanjat pagar lagi. Sementara Adinda tetap duduk di bangku taman, memegang pipinya yang tadi disentuh William, sambil tersenyum sendiri seperti orang gila.

Ternyata, pensil seharga dua ribu rupiah itu adalah benda paling berharga yang pernah ia terima hari ini.

1
gina altira
Suka sama ceritanya, ga lebay. Bikin nagih bacanya, tiap hari nunggu update.
Qyzz🇲🇾
maaf kak author..aku ingin bertanya,bukan bermaksud untuk menjatuhkan kak author.novel ini menggunakan AI ke?sebab penggunaan kata macam AI.maaf kalau soalan ni mengganggu kak author.🙏
Dede Dedeh
lanjutttt......
Nurhartiningsih
lanjuuut...dikit amat up nya
gina altira
jd sedihhh,, cinta yang tulus dan berbesar hati
gina altira
galak tapi ngangenin ya,🤭
Nurhartiningsih
lanjuuut....mkin penasaran
Nurhartiningsih
kereeeennn aku suka.. aku suka
Nurhartiningsih
ah knp banyak bawang disini??
Nurhartiningsih
ya ampun... sesulit apa hidupmu dindaa
Nurhartiningsih
ah suka deh sama cerita yg ceweknya badas
Nurhartiningsih
kereeeen....ah knp baru Nemu nih novel
Raditya Gibran
aku menanti episode selanjutnya bestii
terimakasih
Fenti Fe
Ceritanya mulai menarik, gaya bahasa dan tulisannya rapi. Semangat Author...
PENULIS ISTIMEWA: Terima kasih qha qha.. 😍
total 1 replies
Kavina
Kalo novel ini di bwt movie nya pasti seru abiss, thank ya Thor dh UP byk 😘😘💪💪
PENULIS ISTIMEWA: 😍😍 Kak Kavina bisa aja deh.. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!