NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Besi yang Mengingat Api

Cahaya putih itu memudar perlahan, menyisakan kegelapan yang hangat dan berbau belerang.

Sekar terbatuk pelan, mencoba mengusir debu vulkanik yang memenuhi paru-parunya. Ia merasakan punggungnya bersandar pada sesuatu yang keras namun hangat, seperti batu yang baru saja dijemur di bawah matahari seharian. Saat ia membuka mata, ia tidak melihat langit-langit gerbong kereta, juga tidak melihat stasiun.

Ia berada di dalam sebuah gua raksasa yang luasnya tak terukur. Langit-langit gua itu tinggi sekali, hilang dalam kegelapan yang diselimuti asap merah. Di kejauhan, aliran-aliran magma jatuh dari dinding gua seperti air terjun darah, menerangi ruangan itu dengan cahaya remang-remang yang mistis.

"Keretanya..." bisik Sekar, suaranya serak.

Di depannya, tidak ada jejak lokomotif uap maupun gerbong kayu. Hanya ada jejak hangus memanjang di lantai batu, seolah ada meteor yang baru saja mendarat dengan gaya gesek luar biasa hingga benda itu menguap tak bersisa. Kunci tulang Ratu Kidul, kereta hantu, semuanya telah menjadi bahan bakar untuk lompatan dimensi itu.

"Sekar."

Panggilan itu terdengar lemah. Sekar menoleh. Pangeran Suryo sedang berusaha duduk tak jauh darinya.

Sekar terkesiap. Ia merangkak cepat mendekati junjungannya. "Gusti! Wajah Gusti..."

Separuh wajah Pangeran Suryo yang tadi membatu kini terlihat retak-retak parah. Lapisan karang abu-abu itu merekah seperti tanah kering di musim kemarau.

"Panas..." desis Pangeran Suryo. Ia menyentuh pipi kirinya. "Tempat ini... panasnya bukan panas biasa. Ini panas yang 'matang'."

Krak.

Pangeran Suryo meringis, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia mengelupas lapisan karang di pipinya. Potongan batu itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Di bawahnya, kulit sang Pangeran terlihat merah menyala, melepuh seperti luka bakar baru, tapi hidup. Tidak ada lagi warna abu-abu mati. Dagingnya telah kembali.

"Api Merapi membakar racun laut itu," Pangeran Suryo tersenyum lega, meski darah segar menetes dari kulit barunya yang sensitif. "Terima kasih, Sekar. Kalau kita telat satu menit saja, aku pasti sudah jadi patung permanen."

Sekar menghela napas lega, merobek sedikit kain jariknya untuk menyeka darah di wajah Pangeran. "Jangan dikelupas paksa, Gusti. Nanti infeksi."

"Di sini tidak ada bakteri, Sekar," Pangeran Suryo menepis pelan tangan Sekar, lalu berdiri dan memandang sekeliling. "Ini adalah Dapur Mustika. Tempat paling steril di tanah Jawa. Lihat."

Sekar mengikuti arah pandang Pangeran. Di dinding-dinding gua itu, tertanam ribuan senjata.

Keris, tombak, pedang, cundrik, gada... semuanya menancap di batu cadas seolah batu itu hanyalah tahu lunak. Senjata-senjata itu tidak berkarat. Mereka berkilauan, memantulkan cahaya magma. Dan yang lebih aneh lagi, senjata-senjata itu berdengung. Suara dengungan rendah seperti lebah, menciptakan harmoni yang menggetarkan tulang dada.

Ini adalah Sarasengara. Gudang senjata para leluhur yang dikubur agar tidak digunakan untuk saling membunuh, melainkan untuk menjaga keseimbangan dunia.

"Kita cari senjata yang mana, Gusti?" tanya Sekar, merasa kerdil di hadapan ribuan pusaka itu.

"Bukan kita yang mencari," suara berat tiba-tiba menggema dari arah air terjun magma. "Mereka yang memilih."

Sekar dan Pangeran Suryo reflek mundur selangkah.

Dari balik tirai api, muncul sosok yang sangat besar. Tingginya mungkin tiga meter, tapi dia bukan raksasa jahat. Tubuhnya gemuk, kulitnya hitam legam seperti besi tuang, dan ia hanya mengenakan celana pangsi serta celemek kulit. Di tangannya, ia memegang sebuah palu godam yang ujungnya menyala merah.

Wajahnya jenaka namun penuh wibawa, dengan perut buncit yang berguncang saat ia tertawa.

"Selamat datang, Den Bagus Suryo. Dan kamu... ah, si pembawa kunci tulang," sapa sosok itu.

Pangeran Suryo langsung berlutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sungkem saya, Empu Dharma."

Sekar buru-buru ikut berlutut, meski ia tidak tahu siapa raksasa ini.

"Bangun, bangun. Jangan kebanyakan adat. Di sini panas," kata Empu Dharma sambil mengibaskan tangannya. Angin panas berhembus, mengeringkan keringat mereka seketika. "Aku sudah dengar keributan di atas. Ubur-ubur terbang? Langit jadi laut? Ckckck... Poseidon itu memang tidak punya seni. Maunya main keroyokan."

Empu Dharma berjalan mendekati dinding senjata. Ia mencabut sebilah keris kecil dengan dua jari, menimangnya sebentar, lalu menancapkannya lagi.

"Kalian butuh pemukul lalat, atau pemotong ombak?" tanyanya santai.

"Kami butuh sesuatu yang bisa membunuh Dewa yang sudah kehilangan akal sehatnya, Empu," jawab Pangeran Suryo tegas. "Keris Kyai Pleret saya patah saat melawan atmosfernya."

Empu Dharma mengangguk-angguk. "Pleret itu keris bagus, tapi dia elemen angin. Lawan uap air ya kalah. Kamu butuh yang elemennya berlawanan, atau justru yang bisa memakan air."

Raksasa itu berjalan menuju sebuah kolam di tengah gua. Kolam itu tidak berisi air, tapi berisi logam cair yang bergolak pelan. Warnanya perak kebiruan.

"Dulu, ada seekor naga yang dihukum karena terlalu rakus," Empu Dharma mulai bercerita seperti kakek yang mendongeng pada cucunya. "Naga itu melingkari gunung ini, mencoba menelan dunia. Lidahnya dipotong, lalu ditempa menjadi mata tombak."

Pangeran Suryo terbelalak. "Kyai Baru Klinting?"

"Tepat," Empu Dharma menyeringai. "Baru Klinting adalah naga air yang 'dimasak' oleh api. Dia tahu rasa sakitnya dibakar, dan dia tahu caranya berenang. Dia adalah jembatan antara dua elemen yang sedang bertarung di luar sana."

Empu Dharma memukul pinggiran kolam logam itu dengan palunya.

TENG!

Suaranya nyaring dan jernih.

Dari tengah kolam logam cair itu, sesuatu perlahan naik.

Bukan tombak yang indah berkilauan emas. Yang muncul adalah sebatang tombak hitam yang permukaannya kasar, seperti kulit reptil purba. Mata tombaknya tidak lurus, melainkan bergelombang aneh, seperti lidah api yang sedang menjilat.

Aura yang dipancarkan senjata itu begitu kuat hingga Sekar merasa sesak napas. Ia bisa mencium bau rawa-rawa purba dan bau belerang sekaligus.

"Ambillah, Den Bagus," perintah Empu Dharma. "Tapi ingat, naga ini benci diperintah. Kamu harus meminta."

Pangeran Suryo melangkah maju. Tangannya yang baru sembuh terulur ke arah tombak itu. Saat kulitnya menyentuh gagang tombak, terdengar suara desisan keras. Asap mengepul dari telapak tangan Pangeran.

"Gusti!" teriak Sekar khawatir.

"Jangan ikut campur, Nduk!" cegah Empu Dharma, menahan bahu Sekar dengan satu jari raksasanya. "Liat itu."

Pangeran Suryo tidak menarik tangannya. Ia membiarkan telapak tangannya terbakar. Ia memejamkan mata, bibirnya bergerak-gerak merapalkan sesuatu—bukan mantra pemaksa, tapi ikrar persaudaraan.

Aku tidak akan menjadi tuanmu. Aku akan menjadi tanganmu. Kita punya musuh yang sama. Dia yang menodai air, dan dia yang ingin memadamkan api.

Perlahan, desisan itu berhenti. Asap menghilang.

Tombak hitam itu bergetar, lalu cahaya merah menyala menjalar dari gagang hingga ke mata tombak. Baru Klinting telah bangun. Tombak itu menerima darah dan rasa sakit Pangeran Suryo sebagai bayaran di muka.

Pangeran Suryo mengangkat tombak itu tinggi-tinggi. Untuk sesaat, bayangan seekor naga raksasa tanpa lidah terlihat melayang di belakang punggungnya, menatap nyalang.

"Terima kasih, Empu," ucap Pangeran Suryo, matanya kini menyala dengan tekad baru.

"Jangan senang dulu," potong Empu Dharma. Ia beralih menatap Sekar.

"Dan kamu, Nduk. Kamu tidak mungkin ikut perang cuma modal tusuk konde dan selendang sobek begitu, kan?"

Sekar menunduk malu melihat penampilannya yang kacau balau. "Saya... saya cuma pengantar kunci, Empu. Tugas saya sudah selesai."

"Kata siapa?" Empu Dharma tertawa menggelegar. "Kunci tulang itu memang sudah habis, tapi kamu sekarang adalah kuncinya. Energi moksa kereta hantu tadi tidak hilang, Nduk. Energi itu masuk ke badanmu. Kamu sekarang adalah baterai berjalan."

Empu Dharma mengambil sebuah benda kecil dari meja kerjanya. Sebuah pecut (cambuk) pendek dengan pegangan kayu asem. Tali cambuknya terbuat dari anyaman serat nanas yang dicampur benang emas.

"Ini Kyai Pamuk. Cambuk ini tidak melukai kulit, tapi memecah konsentrasi. Cocok buat anak kecil yang suka bikin onar," Empu Dharma melemparkan cambuk itu ke Sekar.

Sekar menangkapnya dengan kikuk. Cambuk itu terasa ringan, tapi saat ia menggenggamnya, ia merasa ujung-ujung jarinya kesemutan.

"Sekarang pergilah," kata Empu Dharma, kembali memukul logam di atas paron. "Jalan keluar ada di sana."

Ia menunjuk ke sebuah lubang ventilasi di langit-langit gua yang jauh di atas.

"Kalian akan keluar lewat kawah puncak. Dan hati-hati... begitu kalian keluar, kalian akan langsung disambut pesta."

"Pesta?" tanya Sekar bingung.

"Pesta kembang api," jawab Empu Dharma misterius. "Gunung ini sudah tidak sabar ingin memuntahkan dahak."

Pangeran Suryo menggenggam erat Baru Klinting, lalu meraih tangan Sekar.

"Ayo. Kita tunjukkan pada ubur-ubur itu siapa predator puncaknya."

Mereka berdua mulai mendaki dinding gua yang terjal, meninggalkan sang Penjaga Besi yang kembali sibuk menempa nasib di dalam keabadian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!