DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR HANGAT
RUMAH YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR HANGAT
Hujan turun seperti ingatan yang tidak diundang—pelan, terus-menerus, dan enggan berhenti. Dari balik jendela kamar,
Aira Maheswari memandang titik-titik air yang berlomba jatuh, meninggalkan garis-garis tipis yang sebentar terlihat, lalu lenyap. Ia selalu merasa hujan punya caranya sendiri untuk mengingatkan manusia pada hal-hal yang sengaja dilupakan.
Di luar, tetesan air menampar kaca dengan irama hujan tapi.
Di dalam, keheningan rumah ini jauh lebih bising.
Rumah itu berdiri tenang di bawah langit kelabu. Fisiknya kokoh, warisan dari ambisi yang ditata rapi.
Tetapi Aira tahu, kehangatan tidak selalu tinggal di tempat yang sama dengan atap dan dinding. Kehangatan di rumah ini sudah lama dicabut, digantikan oleh etiket yang dipelihara secara kaku dan janji-janji yang tak pernah terucap.
Di ruang tengah, suara jam dinding berdetak lebih nyaring dari biasanya. Tik. Tik. Tik. Seolah menegaskan bahwa waktu tetap berjalan, meski bagi Aira, ia sudah lama terjebak dalam lingkaran yang sama.
Ibunya berada di dapur, menumis sesuatu dengan api kecil. Bunyi minyak yang berdesis lembut terdengar seperti bisikan yang terlalu lelah untuk menjadi kata.
Bau bawang goreng menyebar, bercampur dengan aroma hujan yang masuk dari celah jendela. Kombinasi yang dulu selalu membuat Aira merasa aman. Dulu. Saat pulang masih berarti berlari.
Ayahnya duduk di ruang tengah. Kemeja rapi, celana bahan, ponsel di tangan. Wajahnya serius seperti biasa, wajah seseorang yang selalu merasa memikul beban lebih besar daripada orang lain, tetapi lupa bahwa beban itu juga dirasakan oleh mereka yang tinggal serumah.
Aira berdiri di ambang pintu kamarnya, ragu. Ia tidak benar-benar ingin keluar, tetapi juga tidak tahan terus-menerus terkurung. Rumah ini sering membuatnya merasa seperti tamu yang terlalu lama tinggal, tetapi tidak cukup diharapkan untuk diajak bicara.
“Aira,” suara ibunya memanggil dari dapur, lembut seperti angin sore.
“Jangan dekat jendela. Anginnya masuk, nanti sakit.”
“Iya, Bu,” jawab Aira pelan. Ia menutup jendela itu, meskipun ia ingin hujan tetap terlihat,
ada sesuatu dari hujan yang membuatnya merasa ditemani, sesuatu yang jatuh bersama perasaannya sendiri.
Aira memutuskan melangkah ke ruang tengah. Langkahnya disengaja pelan, takut memecahkan gelembung keheningan yang mengelilingi ayahnya.
Ayah mendongak sedikit, matanya yang tajam sempat menangkap sosok Aira, sebelum kembali fokus pada layar ponselnya.
“Sudah selesai tugasmu?” tanya Ayah, tanpa menanggalkan nada formalnya.
“Sudah, Yah. Sudah selesai yang untuk besok,” jawab Aira, berdiri agak jauh.
Jarak fisik itu terasa lebih pendek dibandingkan jarak emosional mereka.
“Bagus! Jaga fokusmu. Jangan sampai nilaimu turun hanya karena terlalu banyak kegiatan tidak penting di kampus.”
Tidak penting? Aira merasakan sengatan samar di dadanya. Apakah berorganisasi, bertemu teman, dan mencari hal-hal yang membuatnya merasa hidup dianggap 'tidak penting' di mata ayahnya?
“Raka dan yang lain mengajak rapat untuk proyek sosial, Yah. Itu penting,” koreksi Aira, memberanikan diri. Ini adalah salah satu momen langka di mana ia mencoba melawan kebisuan.
Ayah meletakkan ponselnya, tatapannya kini benar-benar tertuju pada Aira. Dingin dan menilai.
“Proyek sosial bagus, asal tidak mengganggu prioritas utama. Prioritasmu adalah akademis. Citra yang kamu bangun sekarang akan menentukan masa depan Wira Group. Paham?”
Aira menelan ludah. Wira Group. Bahkan prestasinya di kuliah harus melayani citra keluarga.
“Paham, Yah.”
“Bagus. Jangan sampai membuat kesalahan yang tidak perlu.” Ayah kembali pada ponselnya, seolah percakapan itu tak pernah terjadi, dan Aira sudah dilupakan.
Ia kembali berjalan, menuju dapur. Ibu Arum sedang meracik sambal di cobek batu, tangannya bergerak lambat namun terampil.
“Bu, aku bantu ya,” tawar Aira, meraih lap kain.
“Tidak usah, Nak. Sebentar lagi selesai. Kamu duduk saja, temani Ibu sebentar.”
Aira duduk di kursi kayu dekat meja makan, mengamati ibunya. Ibu Arum terlihat lelah. Kerutan halus di sudut matanya semakin terlihat di bawah cahaya lampu neon dapur yang terlalu terang.
“Ibu capek?” tanya Aira, suaranya otomatis merendah.
Ibu Arum tersenyum, senyum yang selalu sama, hangat, tetapi menyimpan berton-ton lelah. “Capek itu wajar, Sayang. Namanya juga hidup. Kamu sendiri bagaimana di kampus? Ujar ibu yang kelihatan pucat.”
Aira menggeleng pelan. “Semuanya berjalan lancar bu. Hanya banyak tugas. Dan... Raka mengajak rapat lagi.”
“Raka, ya…” Ibu Arum berhenti sebentar mengulek, lalu melanjutkan lagi. “Dia anak baik. Ibu perhatikan dia sering sekali mengirim pesan padamu, boleh-boleh saja tapiii Jangan terlalu larut malam Aira. Kesehatanmu penting.”
Aira merasa sedikit bersalah. Ibunya selalu lebih peduli pada hal-hal kecil seperti kesehatan dan pertemanan, sementara ayahnya hanya peduli pada citra dan nilai.
“Bu, Ayah selalu begitu ya?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa saringan. Ibu Arum berhenti total. Ia menoleh perlahan, tatapannya kini serius, tetapi tidak menyalahkan.
“Begitu bagaimana, Sayang?”
“Selalu… menuntut. Seolah Aira hanya berfungsi untuk Wira Group. Seolah Aira tidak boleh punya perasaan lain selain fokus belajar. Kenapa sih, Bu? Apakah Aira harus jadi sempurna seperti yang Ayah mau?” suara Aira bergetar.
Ini adalah kali pertama ia mengungkapkan beban itu secara verbal dalam waktu lama.
Ibu Arum menghela napas, menaruh ulekan, dan mendekat ke Aira. Ia menggenggam tangan Aira, yang terasa dingin.
“Ayahmu… dia hanya punya caranya sendiri untuk mencintai. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang keras, Ra. Di mana cinta diukur dari pencapaian. Bukan berarti dia tidak peduli. Dia hanya tidak tahu bagaimana caranya mengatakan ‘Ibu dan Ayah selalu bangga padamu"
“Tapi, Bu, itu bukan cinta. Itu tekanan,” bisik Aira, matanya mulai memanas
“Iya. Itu adalah bahasa cintanya yang rusak. Dan Ibu minta maaf karena Ibu tidak bisa memperbaiki bahasa itu, juga tidak bisa membuatmu tidak mendengarnya. Tapi kamu harus ingat, Aira,” Ibu Arum memegang bahu anaknya dengan lembut. “Kamu tidak harus sempurna untuk dicintai. Kamu sempurna karena kamu adalah kamu. Tugasmu bukan menyenangkan Ayah, tugasmu adalah menjaga hatimu sendiri.”
Kalimat itu, sederhana, tetapi begitu berat maknanya. Aira memejamkan mata sejenak, menahan air mata yang sudah di ujung pelupuk. Di rumah ini, ibunya adalah satu-satunya dinding yang tidak terasa dingin.
“Aku sudah capek, Bu. Capek menahan perasaan,” lirih Aira.
“Tahanlah secukupnya, Nak. Lalu simpan sisanya. Jangan sampai habis. Jika kamu sudah tidak kuat, carilah tempat yang bisa kamu jadikan sandaran. Dunia ini luas, Aira. Rumah tidak hanya berwujud bangunan.”
Ibu Arum kembali ke kompor, meninggalkannya dengan kalimat-kalimat yang begitu melegakan sekaligus menyakitkan. Kata-kata itu adalah izin tak terucap untuk mencari kehangatan di tempat lain.
...## Perjamuan Sunyi ##...
Makan malam segera dimulai. Mereka duduk di meja makan yang terasa terlalu besar untuk tiga orang. Ayah di ujung meja, seolah memimpin sidang. Ibu di samping Aira, bertindak sebagai peredam kebisingan yang tidak ada.
Tidak ada musik, tidak ada pembuka, hanya suara hujan yang kini berubah menjadi deru di luar dan denting peralatan makan. Sunyi. Sunyi yang menusuk.
Ayah mengambil sepotong ayam, mencicipinya, lalu menaruh garpu.
“Aira,” kata Ayah tiba-tiba, tanpa menatap Ibu atau Aira. “Tadi siang ada telepon dari Tante Desi. Dia menawarkan kamu untuk magang di salah satu perusahaan cabang Wira Group di Jakarta, setelah semester ini selesai.”
Aira tersentak. “Magang, Yah? Tapi aku sudah punya rencana dengan Raka dan tim.”
Ayah akhirnya menatap Aira, alisnya terangkat sedikit. “Rencana apa? Proyek sosial yang tidak menghasilkan uang?”
“Bukan soal uang, Yah. Tapi pengalaman. Aku dan Raka merencanakan…”
“Cukup,” potong Ayah tegas. “Magang di cabang kita adalah jalan pintas terbaik. Kamu langsung mengenal sistem. Itu adalah prioritas. Jangan sia-siakan kesempatan. Jangan ambil risiko dengan hal-hal di luar rencana.”
Aira merasakan jantungnya berdebar kencang. Ini bukan tawaran, ini perintah.
“Aku belum memutuskan, Yah. Aku akan pikirkan,” kata Aira, mencoba mempertahankan suaranya tetap tenang.
“Tidak perlu dipikirkan. Sudah diputuskan. Besok Ayah akan telepon Tante Desi. Ini yang terbaik untuk masa depanmu.” Ayah kembali makan, mengakhiri perdebatan yang bahkan belum sempat dimulai.
Aira menunduk, mencoba menelan makanannya yang tiba-tiba terasa seperti pasir di tenggorokan. Ia melirik Ibunya. Ibu Arum hanya menatap Ayah sejenak, lalu perlahan menggenggam tangan Aira di bawah meja. Sebuah isyarat tanpa kata: ibu tahu kamu terluka.
Setelah makan, Aira bergegas kembali ke kamarnya. Kekalahan ini terasa perih. Ia bukan hanya tidak diizinkan memiliki perasaannya sendiri, tapi ia juga tidak diizinkan memiliki rencananya sendiri.
Di mata Ayah, ia adalah bidak catur yang harus mengikuti setiap langkah yang telah diatur.
Ia merebahkan diri, menatap langit-langit yang sama yang telah menjadi saksi begitu banyak malam tanpa harapan.
Ponselnya bergetar pelan, memecah keheningan di kamar.
Satu notifikasi. Dari grup chat kuliah mereka, yang berisi Raka, Naya, dan Bima. Grup kecil yang baru ia kenal beberapa bulan terakhir, orang-orang yang tidak menuntutnya untuk kuat setiap saat, sebaliknya, mereka adalah tempatnya melonggarkan ikatan.
Naya:
Aku nyerah sama tugas psikolingustik. Siap-siap remedial massal.
Bima:
Grup kecil kita jadi ajang curhat Psikolingustik sekarang ya? 😂 Semangat, Nay!
Raka:
Aira, kamu sudah kirim draf usulan proyek ke Naya? Hujan deras ya di rumahmu?
Aira tersenyum tipis. Senyum yang tidak ia sadari sudah lama tidak muncul dengan mudah. Raka selalu begitu. Setengah bertanya tentang urusan penting, setengah bertanya tentang perasaannya.
Ia mengetik balasan, tangannya terasa sedikit gemetar karena sisa amarah dan kesedihan dari ruang makan.
Aira:
Sudah ku kirim, Rak. Iya. Hujannya panjang.
Beberapa detik kemudian, notifikasi Raka muncul di luar grup, hanya untuknya.
Raka:
Hujannya panjang di luar, atau panjang di hatimu, Ra?
Aira terdiam. Ia menatap layar ponsel cukup lama. Kalimat sederhana itu terasa seperti tangan yang diam-diam diletakkan di bahunya. Raka tahu. Ia selalu tahu. Bahkan dari balik pesan singkat dan dinding yang memisahkan mereka.
Aira:
Mungkin dua-duanya.
Raka:
Hujan itu biasanya cuma numpang lewat. Dia tidak pernah permanen. Jangan keburu mikir yang berat-berat. Ingat, proyek kita, magang impianmu, kita akan ke sana sama-sama. Jangan biarkan Ayahmu merusak itu lagi.
Aira merasakan sentakan energi. Raka tahu tentang ambisi Ayahnya, tahu tentang rencananya, dan ia selalu ada untuk mengingatkannya.
Aira:
Terima kasih, Rak. Kamu teman yang baik.
Raka:
Tidur, Ra. Besok kita berjuang lagi. Jangan lupa, kita punya rumah lain yang harus kita rawat, persahabatan ini.
Setelah obrolan singkat dengan tiga sahabtnya, Aira kembali menatap hujan di luar. Ia memejamkan mata, membiarkan kehangatan sesaat dari pesan Raka memudar, digantikan oleh rasa dingin yang selalu ia bawa, rasa dingin dari rumahnya sendiri.
Ia mengingat masa kecilnya bukan lewat tanggal atau peristiwa besar, melainkan lewat suasana, bau kopi pahit yang terlalu kuat di pagi hari, suara televisi di ruang tengah yang terlalu keras untuk menutupi kebisuan yang sebenarnya, dan langkah kaki Ayah yang selalu terdengar tergesa.
Langit kelabu itu sama persis dengan hatinya saat kecil.
Saat itu, Aira masih terlalu kecil untuk mengerti arti jarak. Ia hanya tahu bahwa rumahnya tidak pernah benar-benar ribut, tetapi juga tidak pernah benar-benar hangat. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada teriakan. Yang ada hanya kelelahan yang disimpan rapi oleh orang tuanya, seperti debu yang tidak pernah dibersihkan karena dianggap tidak terlihat.
Ia sering duduk di lantai ruang tamu, menggambar apa saja yang terlintas di kepalanya. Rumah-rumahan dengan atap merah, matahari besar, dan tiga sosok berdiri berdekatan.
“Ini siapa?” tanya Ibunya suatu sore, sambil menyisir rambut Aira.
“Ayah, Ibu, sama Aira,” jawabnya ceria.
Ibunya tersenyum, tetapi matanya tampak kosong sebentar—seperti seseorang yang tahu bahwa gambar itu terlalu ideal untuk menjadi kenyataan.
Ayah jarang duduk bersama mereka. Jika ada di rumah, ia lebih sering membawa pekerjaannya ke ruang tamu. Suatu kali, Aira kecil pernah mencoba menarik lengannya.
“Yah, lihat gambar Aira,” katanya, menyodorkan kertas dengan bangga.
Ayah melirik sekilas, tanpa benar-benar melihat. “Bagus. Taruh saja di meja. Tangan Ayah sedang kotor dengan berkas.”
Kotor dengan berkas? Kalimat itu seperti tembok yang tiba-tiba didirikan.
Tidak ada penolakan, tetapi juga tidak ada perhatian. Dan bagi anak kecil, setengah perhatian sering kali terasa seperti penolakan penuh. Sejak saat itu, Aira mulai menggambar diam-diam. Menyimpan kertas-kertasnya di laci.
Ia belajar bahwa tidak semua hal perlu ditunjukkan. Tidak semua kebanggaan akan disambut.
Luka pertama Aira datang pada suatu malam yang tidak hujan. Malam yang sepi.
Ia terbangun karena suara-suara yang berbeda dari biasanya. Bukan teriakan, bukan pertengkaran keras. Hanya percakapan pelan di ruang tengah, tetapi penuh tekanan.
Aira kecil memberanikan diri berjalan ke ambang pintu. Suara ayahnya terdengar rendah dan dingin, bernada final.
“Aku sudah bilang, Arum. Keputusan ini final. Jangan dibahas lagi.”
“Tapi, Mas,” suara Ibunya bergetar, “Anak kita… Aira berhak tahu kenapa kita harus terus berpura-pura. Kenapa kita tidak bisa mencari rumah yang benar-benar…”
“Cukup!” Ayah memotong cepat, suaranya naik sedikit, tetapi segera ditekan lagi. “Tidak ada yang berpura-pura. Kita menjalankan peran kita. Citra keluarga ini penting. Jangan sekali-kali kamu ungkit masa ini di depan Aira. Dia tidak perlu tahu, Arum. Dia hanya perlu tahu tugasnya.”
Aira kecil yang berdiri di balik pintu memeluk boneka usangnya. Ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, masa lalu, berpura-pura, tegas. Ia hanya tahu bahwa suara Ibunya terdengar seperti orang yang hampir menangis, tetapi dilarang oleh Ayahnya.
“Aku hanya ingin kita bahagia, Mas,” bisik Ibunya, suaranya kini tinggal embusan napas.
“Kebahagiaan datang dari ketenangan, Arum. Dan ketenangan datang dari kepatuhan pada rencana. Sekarang tidur.”
Kalimat itu seperti pintu yang ditutup dengan paksa. Ayah kembali ke kamar, membiarkan Ibunya duduk sendirian di sofa.
Aira kembali ke kamarnya, duduk di atas ranjang, dan untuk pertama kalinya ia menangis tanpa suara. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu kenapa rumahnya tiba-tiba terasa asing. Ia hanya tahu satu hal, menangis keras tidak membuat siapa pun datang.
Sejak malam itu, Aira menangis dengan cara yang berbeda. Ia belajar menekan tangisnya ke dalam bantal. Belajar menggigit bibir agar tidak bersuara. Belajar bahwa diam lebih aman daripada bertanya. Karena bertanya hanya akan memicu suara keras Ayah, atau tangisan sunyi Ibu.
Di sekolah dasar, Aira dikenal sebagai anak yang “baik”. Tidak rewel. Tidak banyak meminta. Selalu menurut. Guru-guru menyukainya. Teman-temannya tidak pernah bermasalah dengannya.
Tidak ada yang tahu bahwa kebaikan itu tumbuh dari rasa takut, takut merepotkan, takut membuat orang lain lelah, takut ditinggalkan karena terlalu banyak bicara.
Kenangan lain muncul, lebih tajam.
Suatu hari, saat ia SMP, Aira pulang dengan nilai matematika yang sedikit di bawah harapan. Ia menyerahkan kertas ulangan itu pada Ibunya dengan tangan gemetar, meski ia sudah mempersiapkan diri menghadapi Ayah.
“Tidak apa-apa, Nak,” kata Ibunya cepat.
“Kamu sudah berusaha. Ibu tahu kamu sudah belajar keras.”
“Tapi, Bu, ini jauh dari target Ayah,” kata Aira, air mata mulai menggenang.
“Sstt. Ayahmu sedang ada tamu di ruang kerja. Jangan cemas. Biar Ibu yang bicara,” ujar Ibunya, menyembunyikan kertas itu di laci.
Aira merasa lega, tetapi rasa bersalahnya justru semakin membesar. Ia tahu Ibunya sekali lagi harus menjadi peredam kejut antara dirinya dan Ayah.
Beberapa jam kemudian, Aira sedang membaca di kamar, ketika pintu diketuk. Ayahnya berdiri di sana. Tatapannya tidak marah, justru tenang, dan itu jauh lebih mengerikan.
“Ibumu sudah menunjukkan nilaimu.”
Aira menunduk. “Maaf, Yah.”
“Tidak perlu minta maaf. Kamu hanya perlu berjanji.” Ayah melangkah masuk, duduk di kursi belajar Aira.
“Dengar baik-baik. Kamu tahu posisi kita. Semua yang kita lakukan, termasuk nilai-nilaimu, harus sempurna. Agar tidak ada celah bagi orang lain untuk menilai keluarga ini. Kamu mengerti pentingnya citra, Aira?”
Aira mengangguk kaku. “Mengerti, Yah.”
“Bagus. Besok kamu cari guru les tambahan. Ayah akan atur biayanya. Tapi kamu harus janji, ini tidak boleh terjadi lagi. Jangan pernah mengecewakan Ibu yang sudah susah payah melindungimu.”
Melindungi. Kata itu menusuk. Ayah tidak mengatakan 'jangan mengecewakan Ayah'. Ayah menggunakan perisai Ibu.
Aira merasa lututnya lemas. Ayahnya tidak perlu berteriak untuk menjatuhkannya. Kalimatnya yang tenang dan logis, yang mengatasnamakan perlindungan untuk Ibu, jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.
Malam itu, Aira duduk di kamarnya, membuka buku kosong, dan menulis untuk pertama kalinya.
Ia menulis tentang rumah yang sepi. Tentang suara yang ingin keluar, tetapi tidak pernah diizinkan. Tentang seorang anak yang ingin dipeluk, tetapi tidak tahu caranya meminta.
Menulis menjadi tempat persembunyiannya. Tempat ia bisa jujur tanpa takut mengganggu siapa pun, tanpa takut mengecewakan Ibunya.
Aira tumbuh dengan kebiasaan itu memendam, menahan, menyimpan. Ia menyimpan setiap kalimat Ayah, setiap tatapan lelah Ibu, dan setiap tangisan sunyi, di dalam lembar-lembar kertas.
Dan tanpa ia sadari, kebiasaan itu kelak akan membentuk cara ia mencintai, berteman, dan kehilangan. Karena luka pertama tidak pernah benar-benar sembuh.
Ia hanya belajar diam, menunggu datangnya hari di mana ia bisa menemukan suara dan rumahnya sendiri.