Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18: Kunci di Balik Rasa Perih
Malam itu, dunia seolah menyempit hanya seluas kamar tidur Ella yang sederhana. Di balik selimut tebal yang biasanya menjadi tempat perlindungan paling nyaman, Ella justru sedang berjuang melawan rasa sakit yang hebat. Ia meringkuk dengan posisi janin, kedua tangannya mendekap erat bagian perut yang kembali terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Rasa perih itu tidak hanya menetap di ulu hati, tapi menjalar naik hingga ke dadanya, menciptakan sensasi terbakar yang membuat napasnya terasa pendek dan sesak.
Lagi-lagi, dorongan mual itu datang. Ella terpaksa bangkit dengan sisa tenaganya, berlari terhuyung-huyung ke kamar mandi. Di sana, di bawah cahaya lampu neon yang berkedip, ia hanya bisa memuntahkan cairan bening. Perutnya kosong—ia terlalu stres untuk menyentuh makan malamnya—namun lambungnya dipenuhi gas yang mendesak keluar akibat tekanan mental yang luar biasa selama seminggu terakhir.
"Ayo, La... fokus. Jangan sampai jatuh sakit sekarang," bisiknya parau pada pantulan wajahnya di cermin. Ia menyeka keringat dingin yang membanjiri dahi dan pelipisnya.
Kembali ke tempat tidur, Ella mencoba melakukan apa yang selalu ia lakukan sebagai siswi berprestasi: berpikir logis. Ia mencoba memaksakan pikirannya untuk tertuju pada Rizki. Secara objektif, Rizki adalah pilihan yang sempurna. Sosok pangeran sekolah yang selama ini menjadi impian banyak gadis, kini justru bertekuk lutut di bawah pohon mahoni hanya untuk memohon izin berjalan di sampingnya. Rizki itu tampan, memiliki latar belakang keluarga yang terpandang, cerdas secara akademik, dan menjanjikan masa depan yang stabil serta bergengsi di kampus elit nanti.
Secara logika matematika yang biasa Ella kerjakan, setiap gadis di SMA Garuda akan memilih Rizki tanpa perlu berpikir dua kali. Memilih Rizki berarti memilih keamanan sosial dan pengakuan dunia. Namun, anehnya, setiap kali ia mencoba memantapkan hati pada logika itu, rasa nyeri di lambungnya seolah bereaksi secara fisik, menolak mentah-mentah kalkulasi rasional yang ia bangun.
Saat Ella merangkak kembali ke atas kasur dengan napas yang masih tersengal, matanya tanpa sengaja menangkap kantung plastik putih kecil yang tergeletak di atas meja belajar—pemberian Wawan tadi sore. Ia teringat kembali suara berat Wawan yang terdengar agak galak namun penuh perhatian: "Diminum obatnya sebelum tidur. Jangan dipikirin terus omongan Rizki tadi sampai bikin lambungmu perih lagi."
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Ella membuka plastik itu. Ia mengeluarkan satu strip obat lambung dan sebotol sirup pereda nyeri. Ada rasa haru yang mendadak menyeruak saat ia menyadari bahwa Wawan telah memikirkan detail sekecil ini di saat Rizki hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya mereka bisa bersama di masa depan. Ella meminum obat itu. Rasanya pahit di lidah, namun tak lama kemudian, sensasi dingin yang menenangkan mulai menjalar di saluran pencernaannya, perlahan meredam api yang membakar dinding perutnya.
Ia membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Keheningan malam mulai mengambil alih kesadarannya, dan di sanalah, di tengah sunyi yang paling sunyi, "kaset ingatan" dalam kepalanya mulai berputar secara otomatis, menampilkan adegan-adegan yang selama ini ia abaikan karena terlalu sibuk dengan predikat "juara kelas".
Ia teringat saat-saat paling memalukan di kelas XI, ketika Lia sedang gencar-gencarnya berusaha mempermalukannya di depan umum. Wawan—si berandalan yang dianggap tidak punya tata krama—justru sengaja melakukan lelucon bodoh hingga seluruh kelas tertawa terbahak-bahak, mengalihkan perhatian semua orang dari Ella hanya agar gadis itu tidak perlu menanggung malu lebih lama lagi.
Ia teringat saat Wawan dengan berani naik ke atas meja kantin, mempertaruhkan sisa reputasinya yang sudah buruk untuk menantang siapa pun yang berani menatap sinis ke arah Ella. Wawan tidak meminta Ella untuk berubah; Wawan justru memaksa dunia untuk menerima Ella apa adanya.
Ia teringat rasa hangat yang tertinggal di pipinya saat jempol Wawan menghapus butiran nasi di sudut bibirnya setelah kejadian perundungan itu. Itu adalah sentuhan yang tidak menuntut, tidak posesif, melainkan sebuah pengakuan tulus bahwa di mata Wawan, Ella adalah permata yang berharga, bahkan saat ia merasa seperti kerikil yang dekil.
Dan memori yang paling menghantam hatinya malam ini adalah kenyataan bahwa Wawan berdiri tegak di depan pintu toilet perempuan selama lima belas menit hanya untuk memastikan Ella keluar dalam keadaan baik-baik saja tanpa perlu membuat kegaduhan.
"Rizki mencintai aku karena aku yang sekarang... karena aku sudah bersinar dan membuktikan kepintaranku," batin Ella, air matanya mulai menggenang. "Tapi Wawan... Wawan sudah mencintai aku bahkan saat aku masih menjadi bayangan dekil yang tidak terlihat di pojok kelas. Dia melihat aku saat orang lain menganggapku tidak ada."
Ella memejamkan mata rapat-rapat. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya, membasahi bantal. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Ia merasa baru saja menemukan kunci dari pintu hati yang selama ini ia kunci dengan gembok logika dan ketakutan. Kebimbangan yang menyiksanya selama berhari-hari lenyap seketika, menguap bersama rasa perih di perutnya yang kini sudah tenang.
Jawaban untuk Rizki sudah terbentuk dengan sangat jelas di kepalanya. Bukan karena Rizki adalah orang yang buruk—Rizki sudah berubah menjadi jauh lebih baik—tapi karena ada seseorang yang selalu ada, memberikan hatinya tanpa syarat, bahkan sebelum Ella menyadari bahwa ia membutuhkan seseorang untuk bersandar.
"Maaf, Rizki," bisik Ella pada kegelapan malam yang dingin. "Tapi aku butuh seseorang yang bisa melihat jiwaku tanpa aku harus menjadi yang terbaik lebih dulu untuk memenangkan perhatiannya."
Malam itu, Ella tertidur dengan sangat nyenyak, tidur paling tenang yang pernah ia rasakan sejak kenaikan kelas XII.
Pagi pun tiba dengan sinar matahari yang menerobos celah jendela, membawa harapan baru. Ella bangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah beban seberat gunung sudah terangkat dari pundaknya. Perutnya sudah tidak sakit lagi. Ia mengambil ponselnya, jarinya sempat berhenti di atas nama Rizki. Namun, ia tidak mengirimkan pesan apa pun. Ia memutuskan untuk menghormati transformasi Rizki dengan memberikan jawaban secara langsung dan jujur di hari pendaftaran kampus nanti.
Setelah itu, ia memiliki rencana lain yang jauh lebih penting. Ia akan mencari cowok berandalan yang selalu tahu caranya memberi obat lambung tepat waktu, cowok yang telah mencintainya sejak ia masih menjadi "si kutu buku berkacamata" yang tidak diinginkan siapa pun. Ella tersenyum menatap plastik obat di mejanya. Masa depannya kini terasa lebih cerah, bukan karena universitas elit, tapi karena ia tahu ke mana hatinya harus pulang.