NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Perawatan Kulit vs Cairan Infus

Pria itu membawa sebuah kotak besar yang berisi berbagai macam produk perawatan kulit serta sebuah surat yang ditujukan khusus untuk Dokter Adrian yang sedang menderita jerawat rindu. Adrian menatap tumpukan botol berwarna warni itu dengan ekspresi wajah yang sulit digambarkan antara ingin marah atau ingin menghilang dari muka bumi. Sementara itu, Lala yang masih terbaring lemas dengan selang cairan infus di tangannya justru tampak berseri seri saat melihat kotak tersebut sampai di tangan tujuannya.

"Itu adalah persenjataan lengkap untuk mengusir noda di wajah Dokter, harganya setara dengan uang jajan sekolahku sebulan!" seru Lala dengan suara yang masih sedikit serak.

"Segera bawa kembali barang ini, saya tidak butuh krim pencerah atau cairan pembersih wajah bermerek mahal seperti ini!" bentak Adrian kepada kurir yang tampak kebingungan tersebut.

Kurir itu hanya menggelengkan kepala lalu menunjukkan bukti pembayaran yang sudah dilunasi melalui aplikasi telepon genggam atas nama pasien bangsal melati. Adrian menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut denyut karena tekanan batin yang tiada henti. Ia menoleh ke arah Lala yang kini sedang mencoba duduk tegak di atas tempat tidur perawatan meskipun tubuhnya masih gemetar karena efek serangan panik tadi.

"Kenapa kamu malah menghamburkan uang untuk hal tidak berguna seperti ini di saat jantungmu sendiri sedang bermasalah?" tanya Adrian dengan nada suara yang mulai merendah.

"Karena kalau wajah Dokter kusam, aku tidak punya alasan untuk terus menatap mata Dokter selama satu menit penuh," jawab Lala sambil tersenyum lebar tanpa beban.

Adrian meletakkan kotak besar itu di atas nakas samping tempat tidur Lala dengan gerakan yang cukup keras hingga menimbulkan suara dentuman kayu. Ia merasa kalah telak karena setiap kali ia mencoba bersikap tegas, gadis sekolah menengah atas ini selalu punya cara untuk membalikkan keadaan. Adrian segera mengambil botol cairan infus yang hampir habis lalu menggantinya dengan botol baru untuk memastikan kondisi fisik Lala benar benar stabil sebelum dipulangkan.

"Jangan banyak bicara, fokus saja pada pemulihan detak jantung kamu yang tadi sempat sangat mengkhawatirkan," perintah Adrian sambil mengatur kecepatan tetesan cairan infus.

"Dokter lebih mementingkan kesehatan fisikku atau kesehatan kulit wajah Dokter sendiri saat ini?" tanya Lala sambil menatap gerakan tangan Adrian yang sangat cekatan.

Adrian terdiam sejenak sambil menatap jemarinya yang sedang memutar pengatur aliran selang plastik tipis tersebut dengan sangat teliti. Ia menyadari bahwa perdebatan antara perawatan kulit dan cairan infus ini adalah metafora nyata dari benturan dua dunia yang sedang mereka jalani. Di satu sisi ada dunia medis yang sangat kaku dan serius, namun di sisi lain ada dunia masa muda Lala yang penuh warna dan sangat ugal ugalan.

"Bagi saya, kesehatan pasien adalah prioritas utama, sedangkan masalah wajah adalah urusan sekunder yang tidak mendesak," jawab Adrian dengan nada yang kembali dingin.

"Bohong, tadi malam Dokter pasti memakai masker buatanku kan? Wajah Dokter terlihat jauh lebih segar hari ini!" goda Lala sambil mencoba menyentuh ujung jas putih Adrian.

Adrian segera menarik mundur tubuhnya agar tidak terjadi kontak fisik yang bisa merusak konsentrasi profesionalnya sebagai seorang dokter spesialis. Ia menyimpan sisa botol kosong ke dalam kantong plastik kuning lalu mencatat perkembangan kondisi kesehatan Lala di dalam buku laporan medis pasien. Tanpa diduga, pintu ruang perawatan terbuka secara mendadak dan memunculkan sosok perawat kepala yang membawa sebuah map berwarna merah terang.

"Dokter Adrian, ada kiriman lagi dari toko produk kecantikan, katanya ini untuk stok perawatan rutin di ruangan Anda," lapor perawat tersebut dengan senyum tertahan.

"Katakan pada mereka untuk berhenti mengirimkan apa pun ke sini, ini adalah rumah sakit, bukan salon kecantikan!" teriak Adrian dengan wajah yang kembali merah padam.

Lala tertawa terpingkal pingkal hingga membuat alarm pada alat pemantau jantungnya kembali berbunyi karena ritme nadinya naik secara tiba tiba. Adrian panik dan segera menekan dada Lala secara lembut agar gadis itu tenang dan berhenti melakukan gerakan yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Mata mereka kembali bertemu dalam jarak yang sangat dekat hingga udara di dalam ruangan tersebut terasa sangat tipis dan mendebarkan bagi keduanya.

"Hentikan tawa kamu, nyawa kamu itu bukan untuk dimainkan seperti ini, Lala!" bisik Adrian dengan suara yang sangat dalam dan penuh penekanan.

"Habisnya wajah Dokter lucu sekali kalau sedang marah, seperti kucing yang kehilangan mangsanya," sahut Lala sambil mencoba mengatur napasnya yang kembali memburu.

Adrian melepaskan genggamannya pada bahu Lala lalu berbalik membelakangi tempat tidur tersebut untuk menutupi rasa canggung yang semakin memuncak. Ia meraba saku jasnya dan menemukan surat izin sakit yang sudah ia siapkan sebelumnya untuk diberikan kepada guru sekolah Lala. Ia meletakkan surat itu di atas tumpukan botol perawatan kulit dengan perasaan yang sangat campur aduk antara peduli dan ingin melarikan diri.

"Gunakan surat ini untuk izin istirahat di rumah selama tiga hari, jangan berani berani muncul di rumah sakit sebelum kondisi kamu benar benar pulih," ucap Adrian tanpa menoleh.

"Tiga hari itu sangat lama, Dokter, apa Dokter yakin tidak akan merindukan asisten yang ugal ugalan ini?" tanya Lala dengan nada suara yang penuh harap.

Adrian tidak menjawab dan langsung melangkah keluar dari ruang perawatan dengan langkah kaki yang sangat cepat dan terburu buru seolah sedang dikejar hantu. Ia terus berjalan menyusuri koridor panjang rumah sakit sambil sesekali menyentuh pipinya yang kini memang terasa sangat halus tanpa ada jerawat yang mengganggu lagi. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat seorang pria paruh baya yang memakai seragam polisi sedang berdiri di depan meja pendaftaran sambil menunjukkan foto seorang gadis.

Pria polisi itu menanyakan keberadaan putrinya yang dilaporkan menghilang sejak pagi tadi dan foto yang ditunjukkan adalah wajah Lala yang sedang tersenyum ceria.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!