harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 3 Nikah dadakan!
Pagi ini Anggiba merasa aneh akan sikap sang Bibik.dan hari ini Ia di suruh mandi menggunakan sabun dan Bibik sendiri yang menggayung di sumur untuk mengisi air di bak mandi.
"Bik."
"iya, ada apa Iba," ucap Bibik, suaranya begitu lembut tak seperti biasanya.
"Bibik tidak sakit, kan."
Bibik Nur tersenyum dan membelai pipi Anggiba. "Kami akan pergi, dan kamu akan sendirian disini, setidaknya kamu harus memiliki secuil kenangan baik bersama Bibik," Ia menunduk dan menghela nafas dalam. "Bibik tahu, Bibik selalu kasar sama kamu, Bibik cuman mau memberikan sedikit kelembutan dari Bibik ke kamu," ucapnya tersenyum.
Ini sulit di percaya, begitulah isi pikiran Anggiba, Namun hatinya menghangat mendapatkan perilaku sang Bibik hari ini.
Namun Ia juga merasa sedih, Bibik Nur harus meninggalkannya sendirian disini.
"Kamu mandi yah, hari ini kita mau ketemu seseorang, kamu tenang aja, kamu bakalan aman disana, dan kamu akan bahagia Iba," ujar Bibik Nur membelai rambut Iba dan menunggu di depan, agar suaminya tak mengintip Iba mandi.
Setelah selesai mandi Anggiba di kejutkan perlakuan Dela yang berubah juga, "kak Iba,sini Dela keringkan rambut dan make up in kak Iba!" seru Dela.
Anggiba merasa aneh, namun Ia tetap mengikuti Dela yang mengarahkan Ia menuju meja rias.Yang dulu tak pernah boleh Ia sentuh atau menginjakkan kaki di kamar Dela, kini Ia di bawa oleh pemilik kamar itu sendiri untuk masuk.
Setelah di Make up, wajah Anggiba yang baru sembuh dari jerawatan kini nampak mulus dan cantik, kulit aslinya keluar setelah mandi menggunakan sabun, bau jeruk nipis hilang digantikan harum sabun bunga mawar yang wangi.
"ini pakai baju yang ini, ini sangat cocok untukmu," ucap Dela memberikan baju berwarna putih tulang sebatas lutut, tak hanya itu Ia di beri heals berwarna senada dengan bajunya.
"Dela, ini... kan baju ulang tahunmu tahun lalu, memangnya tidak apa-apa kalau aku pakai?" tanya Anggiba takut menyinggung Dela.
Dela tersenyum."tidak apa-apa, lagi pula ini kekecilan, dan ini cocok untukmu, cepat pakai!"serunya sedikit memaksa Anggiba memakainya.
Dengan cepat Anggiba memakai baju itu, setelah itu Ia langsung di tarik menuju meja rias, rambutnya yang lurus di buat bergelombang sangat cantik, Ia sendiri terpukau akan kecantikan yang di pantulkan cermin ukuran sedang di depan.
"lihat, ternyata kamu cantik juga," puji Dela membuat Anggiba malu-malu.
"sekarang ayo kita pergi," ucapan Dela membuat mata Anggiba berbinar. Ia berfikir kalau Dela akan membawanya juga ke Kota.
mereka semua sudah siap. "Ayo cepat,Pak sam menunggu," ujar Bik Nur tergesa-gesa.
Dela menarik Anggiba agar cepat berjalan membuat Anggiba kesusahan berjalan menggunakan heals, apalagi jalanan desa tak begitu mulus.
Sekilas Ia melirik kandang Sapi yang sudah di jual 2 Hari lalu.
Mereka naik mobil pick up,"Iba bakalan di bawa ke Kota Bik?"tanya Anggiba antusias.
"Nggak Iba, kamu bakalan Bibik bawa ke keluarga baru kamu," ujar Bibik Nur lembut membelai tangan Anggiba, senyum Anggiba seketika hilang.
"Maksud bibik apa?"
"Maksud Ibu, kamu bakalan di bawa ke rumah Tuan sam, disana Ibu tidak perlu mengkhawatirkan kamu, karena disana, kamu sudah ada yang jaga dan rawat," Jelas Dela kembali ketus.
"Apa tidak bisa, Anggiba ikut kalian saja?" tanya Anggiba lagi.
Sebelum Bibik menjawab, mobil Pick up berhenti di tempat yang selalu Ia lihat dari kejauhan di sumur.
Yah, kastil itu. Mereka berhenti disana, dengan cepat Dela menariknya turun dan menggenggam erat tangan Anggiba.
"Bibik kita, kan. di larang kesini sama warga," ucap Anggiba pelan.
"shuutt, diem, kamu harus diam selama kami di dalam sana!"
Anggiba langsung menutup mulut, tak lagi bertanya meski bibirnya begitu gatal ingin terbuka dan menanyakan semua yang ada di dalam kepalanya.
gerbang besar itu di buka, dan mereka di sambut oleh beberapa pelayan.
"kami ingin bertemu dengan Tuan Sam, beliau meminta kami kemari," ucap Bibik Nur ramah.
"Mari ikut kami, Tuan Sam sudah menunggu anda."
Mereka lantas mengikuti langkah pelayan yang memakai baju seragam yang serupa dengan yang lainnya, berwarna hitam, rok selutut berwarna senada, dan warna putih di bagian area dada.
saat masuk tak henti-hentinya Anggiba terpukau melihat kecantikan kastil ini, di halamannya saja begutu indah, ada pancuran wanita yunani yang besar dengan air yang mengelilingi kakinya di bawah seperti kolam kecil.
di sekitarnya ada pohon pinus dan semak-semak yang di tata rapi seperti persegi, jalannya mulus dan kotak-kotak berwarna abu tua yang di setiap harusnya akan tumbuh rumput kecil, tiang-tiang tinggi yang di dusun dari batu yang berwarna pasir.
Dan saat menginjakkan kaki di dalam Istana Ia semakin terpukau, Ini seperti istana Disney sangat cantik.
lalu mereka di bawa ke sebuah taman bunga yang begitu indah, kupu-kupu berterbangan di cuaca yang cerah ini, angin sepoi-sepoi menerpa kulit Anggiba meninggalkan rasa dingin yang Ia suka.
dan mereka berhenti di sebuah pondok yang cantik di setiap tiang ada daun blukar yang tumbuh bunga kecil yang mengelilingi tiang itu.
Sosok yang bertubuh tegap membelakangi mereka. pelayan itu sedikit membungkuk."Tuan, mereka sudah datang."
"hmm tinggalkan kami," Suara berat itu berucap dan Ia membalik tubuhnya menghadap ke arah mereka,Pria itu memiliki uban yang cukup banyak dan terlihat tua.
Setelah pelayan itu undur diri.Barulah pria yang memakai kacamata itu bersuara, "Jadi, yang mana dia?" tanya Pak Sam.
Bibik Nur menenangkan dirinya terlebih dahulu, karena aura membunuh pria di depannya mampu membuat Ia gemetar, begitupun anak dan suaminya.
"I—ni, ini dia," Bibik Nur merangkul Anggiba dan meminta Anggiba maju ke depan menggunakan isyarat mata.
Anggiba lantas menurut berjalan ke arah Tuan Sam yang melihatnya dengan tatapan menyelidik.
"kalau begitu kami permisi Tuan," ucap Paman Agus, setelah menerima anggukan pelan barulah mereka pergi.
"Bibik! kenapa Iba di tinggal!" teriak Anggiba akan menyusul Bibik Nur.
Namun tangan Iba di cekal oleh Pak Sam, "Tuan saya menunggu anda Nona Iba," ujar Pak Sam berjalan seraya menarik paksa Anggiba.
"Aku mau di bawa kemana? aku mau bersama Bibik lepas! lepas paman!" teriak Anggiba tak di gubris sama sekali, bahkan tangan Anggiba memukul lengan pria yang sama sekali tak merasakan apapun.
Ia di bawa ke sebuah ruangan yang disana sudah ada beberapa orang yang bahkan tak Ia kenal.
"Hari ini, Anda akan menikah."
Anggiba membulatkan mata, syok berat.
Aduh, kasihan Anggiba, nggak tahu apa-apa, Tiba-tiba udah di suruh nikah, sama orang nggak dia kenal🥲
Kalau kalian bernasib kayak gini bakalan lakuin apa? buat ubah nasib?
spam 🩵 buat kasih kekuatan buat Anggiba bertahan di kolom komentar.
dan kasih like supaya ke depannya Anggiba kuat, menghadapi suami yang kejam.