“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikuti permainan ku
“Begitu?” ulang Radya, suaranya lebih tajam, lebih dingin dari embun malam yang membasahi rerumputan di bawah kaki mereka. Ia menendang sekelopak bunga kamboja yang jatuh dengan ujung sepatunya yang mahal, seolah menendang harapan Raras yang kini berserakan.
“Jawab aku, Raras Inten! Apa itu rencanamu?”
Raras menatap tumpahan isi tas kainnya. Tujuh kembang, lambang tujuh permohonan pada Sang Kuasa. Tanah dari makam leluhur, simbol permintaan restu. Air sendang, manifestasi kesucian niat. Semuanya ia kumpulkan dengan susah payah dan penuh doa.Di mata Radya, semua itu hanyalah sampah klenik, peralatan kerja seorang dukun murahan.
Semua seolah sia-sia.
Tapi apa yang bisa Raras lakukan. Menjelaskan tentang Tolak Balak Sandyakala pada pria yang logikanya telah dibajak oleh kebencian hanya akan menjadi bensin yang menyiram api. Menjelaskan tentang pengkhianatan Bayu akan terdengar seperti dongeng putus asa seorang terdakwa.
Maka, ia memilih satu-satunya senjata yang tersisa. Raras biarkan keheningan yang mendekap raganya yang dingin dan lelah.
Perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap nanar lurus ke dalam mata Radya yang menyala-nyala. Tidak ada air mata. Tidak ada pembelaan. Hanya ada kelelahan yang begitu dalam, seolah jiwanya telah menempuh perjalanan ribuan kilometer malam itu.
Keheningan itu justru menyulut amarah Radya ke level yang baru. Itu adalah keheningan seorang penjahat yang tertangkap basah, arogansi yang terbungkus dalam kepasrahan palsu.
“Oh, jadi sekarang kamu memilih bisu?” desisnya, melangkah lebih dekat. “
Tidak ada lagi omong kosong tentang ‘keseimbangan’? Tentu saja tidak. Permainanmu sudah berakhir.”
Radya meraih dagu Raras, mencengkeram kuat, memaksa perempuan itu untuk terus menatapnya.
“Dengar baik-baik. Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kamu mainkan dengan Eyang, tapi semua ini akan berhenti malam ini. Kamu akan tetap di rumah ini, di kamar tamu sialan itu, sampai Eyang sadar. Kamu tidak akan melangkah keluar satu senti pun tanpa izinku. Paham?”
Raras tidak menjawab, hanya menatapnya. Tatapan mata yang tenang dan diam Raras membuat Radya berdecih muak.
“Aku anggap itu sebagai ‘ya’,” geram Radya. Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
“Sekarang bersihkan semua sampahmu ini. Aku muak melihatnya.”
Radya berbalik, punggungnya yang lebar dan kaku adalah sebuah dinding yang tak akan pernah bisa Raras tembus. Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Raras sendirian dalam keheningan yang pecah, ditemani sisa-sisa ritualnya yang gagal.
Perlahan tubuh Raras merosot ke tanah. Wanita cantik yang kelelahan itu mengigit bibirnya, menahan gemetar hati yang tersisa, tangan Raras perlahan terulur mengumpulkan semua yang Radya porak-porandakan.
***
Esok paginya, Raras kembali menjadi Rara. Ia mengenakan seragam OB yang sedikit kebesaran, mengikat rambutnya asal-asalan, dan memulas wajahnya dengan topeng ketidakpedulian.
Matanya sembap, tetapi tak ada yang akan peduli pada mata seorang pesuruh. Kelelahan yang menggerogoti tulangnya menjadi perisai, membuatnya bergerak seperti robot di tengah hiruk pikuk Cokrodinoto Group.
Menyeduh kopi, mengantar dokumen, membersihkan pantry. Rutinitas itu terasa menenangkan, sebuah anomali di tengah badai yang menerpa hidupnya. Di sini, ia tak terlihat. Di sini, ia aman.
“Rara.”
Suara itu, rendah dan penuh kepura-puraan ramah, memecahkan gelembung amannya. Raras berbalik perlahan dari mesin fotokopi. Bayu berdiri di sana, bersandar santai di dinding koridor, senyumnya sama rapinya dengan setelan jasnya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak Bayu?” tanya Raras, suaranya sengaja dibuat datar.
“Santai saja, jangan panggil ‘Pak’,” kata Bayu, melangkah mendekat. Aroma parfumnya yang maskulin terasa menyesakkan.
“Kita kan… teman.”
Raras hanya diam, tangannya memegang erat setumpuk kertas.
“Saya dengar kondisi Eyang memburuk tadi malam,” lanjut Bayu, nadanya penuh simpati palsu.
“Pasti berat ya buat kamu. Apalagi setelah usaha… jalan-jalan malammu sepertinya tidak membuahkan hasil.”
Jantung Raras berdebar kencang, tubuhnya menegang sesaat. Jadi, pria licik ini tahu. Ah, sial, tentu saja dia tahu. Dialah yang mengirim Radya untuk memburunya.
“Saya tidak mengerti maksud Bapak,” jawab Raras dingin, tak acuh.
Bayu tertawa kecil.
“Sudahlah, Nyonya Raras. Tidak perlu bersandiwara lagi di depanku. Aku tahu segalanya. Dan aku salut dengan keberanianmu. Tapi, permainanmu sudah selesai.”
Bayu maju selangkah lagi, suaranya kini turun menjadi bisikan yang mengancam.
“Mas Radya sudah muak. Eyang tak berdaya. Sekarang, kendali ada di tanganku. Kamu mau selamat? Ikuti saja permainanku.”
“Apa maumu?” tanya Raras langsung, muak dengan basa-basi beracun itu.
Senyum Bayu melebar, lebih mirip seringai.
“Nah, begitu lebih baik. To the point. Aku suka itu.” Ia melirik ke sekeliling koridor yang sepi.
“Aku punya tugas kecil untukmu. Anggap saja ini tes loyalitas.”
“Tugas apa?”
“Mas Radya butuh beberapa dokumen penting untuk dikirim ke Pak Notaris Hartono. Sangat mendesak. Tapi karena Mas Radya sedang fokus di rumah sakit, dia memintaku yang mengurus,” jelas Bayu dengan lancar, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
“Masalahnya, aku harus mendampingi Mas Radya siang ini. Jadi, aku butuh bantuanmu untuk mengirimkannya.”
Raras menyipitkan mata. Sebuah kejanggalan menusuk instingnya. Mengapa tugas sepenting itu diserahkan pada seorang OB? Mengapa tidak melalui sekretaris atau asisten resmi?
“Kenapa saya? Ada banyak staf administrasi yang lebih berwenang.”
“Karena aku percaya padamu, Rara,” jawab Bayu, menekan nama samarannya dengan nada mengejek.
“Dan karena… kalau sampai dokumen ini hilang atau terlambat, aku tahu persis siapa yang harus disalahkan. Seorang OB ceroboh yang bernama Rara. Mudah, kan?”
Ancaman itu begitu telanjang, begitu kurang ajar. Bayu tidak hanya menjadikannya kurir, tetapi juga kambing hitam jika terjadi sesuatu.
“Dokumennya ada di mejaku,” lanjut Bayu, seolah kesepakatan sudah tercapai.
“Ambil sekarang. Kirim lewat kurir ekspres satu jam dari sekarang. Pastikan kamu dapat nomor resi pengirimannya dan berikan padaku. Jangan coba-coba melakukan hal bodoh, Raras. Aku mengawasimu.”
Bayu menepuk bahu Raras dua kali sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah penuh kemenangan, meninggalkan Raras yang membeku di tempat. Ini jebakan. Ia tahu ini jebakan. Dokumen itu pasti bukan dokumen biasa.
Dengan langkah berat, Raras menuju meja kerja Bayu. Benar saja, sebuah map cokelat tebal tergeletak di sana dengan secarik kertas bertuliskan “UNTUK NOTARIS HARTONO - SANGAT RAHASIA & MENDESAK”.
Rara alias Raras membawa map itu ke sudut paling sepi di kantor, ruang arsip yang remang-remang dan berdebu. Jantungnya berdentum-dentum di rusuknya. Ia harus tahu isinya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka map itu.
Matanya membelalak. Lembar pertama adalah Surat Kuasa Penuh atas nama Radya Maheswara kepada Bayu Adinegoro untuk mengelola seluruh aset bergerak dan tidak bergerak milik keluarga Cokrodinoto. Lembar berikutnya adalah draf Akta Hibah Wasiat, yang menyatakan sebagian besar pusaka dan saham utama dialihkan kepada Bayu jika Eyang Putra meninggal dunia. Semuanya tampak asli, lengkap dengan kop surat firma hukum dan tempat untuk tanda tangan Radya yang masih kosong.
Ini bukan sabotase bisnis lagi. Ini adalah kudeta. Bayu sedang mencoba merampok seluruh warisan Cokrodinoto.
Pilihan Raras hanya dua, mengirimkannya dan membiarkan Bayu menang, atau menolaknya dan identitasnya akan dibongkar, membuatnya tampak seperti pencuri yang mencoba menyabotase ajudan kepercayaan suaminya. Keduanya adalah jalan buntu.
Tapi otak Raras sebagai seorang penulis bergerak cepat. Ia terbiasa mencari jalan ketiga, celah dalam narasi yang buntu.
Dengan cepat ia merogoh ponselnya dari saku seragam. Dengan napas tertahan, ia membuka aplikasi kamera. Jarinya menekan mode senyap. Satu per satu, ia meletakkan dokumen-dokumen pengkhianatan itu di lantai berdebu.
Klik. Surat Kuasa. Fotonya tersimpan.
Klik. Draf Akta Hibah. Fotonya tersimpan.
Klik. Daftar Aset. Fotonya tersimpan.
Setiap suara klik tanpa suara itu terasa seperti dentuman meriam perlawanan di dalam kepalanya. Ia tidak punya saksi. Ia tidak punya kekuatan. Tapi ia punya bukti. Bukti digital yang bisa ia simpan di awan, jauh dari jangkauan Bayu.
Setelah memastikan setiap halaman terpotret dengan jelas, ia memasukkan kembali semua dokumen ke dalam map, merapikannya seperti semula. Ia berjalan keluar dari ruang arsip, wajahnya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia memesan kurir daring dari lobi, menunggu dengan sabar.
Lima menit kemudian, seorang pria berjaket hijau menghampirinya.
“Dengan Ibu Rara?”
“Iya, benar,” jawab Raras, menyerahkan map cokelat itu.
Jantungnya terasa seperti akan melompat keluar dari dadanya. Ia sedang menyerahkan senjata pemusnah massal ke tangan musuh, berharap amunisi digital yang ia simpan cukup untuk membalikkan keadaan nanti.
Saat kurir itu berbalik untuk pergi, sebuah suara menginterupsinya dari belakang.
“Tunggu sebentar.”
Raras membeku. Ia berbalik dan melihat Bayu berdiri tak jauh darinya, senyumnya tipis dan dingin.
“Sudah mau dikirim, Ra?” tanya Bayu dengan nada ringan, matanya menatap lekat-lekat ke arah Raras, seolah bisa melihat getaran ketakutan di balik topeng tenangnya.
“Coba saya periksa sekali lagi, takut ada yang salah.”