NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Sugar Daddy KR

Ayu membeku di kursinya, mug cokelat panas di tangannya terasa dingin. Ini adalah ujian yang sangat personal, sangat menusuk. Lingga bukan lagi CEO; dia adalah manipulator ulung yang mencoba membeli bagian dari jiwanya.

"Kau bisa tertawa padaku, Ayu. Kau bisa menanyakan bagaimana perasaanku. Dan aku akan mengembalikan gajimu penuh," ulang Lingga, memancing.

Ayu menatap mug-nya, memikirkan uang itu. Ia bisa membayar kuliahnya di luar kota tanpa harus bekerja paruh waktu lagi.

Namun, ia teringat wajah polos ibunya di kampung pdan betapa ia tidak ingin menjadi seperti narasi sugar baby yang diceritakan Vera.

"Tuan Lingga," kata Ayu, suaranya sedikit bergetar. "Saya tidak bisa menjual kehangatan emosional saya. Jika saya tertawa, itu harus tawa yang tulus. Jika saya bertanya, itu harus karena saya peduli. Membayar emosi adalah hal yang paling tidak profesional yang pernah saya dengar."

Ayu menatap Lingga, matanya memantulkan cahaya lampu. "Saya menolak, Tuan. Saya akan tetap bekerja dengan pemotongan gaji 80%. Saya tidak akan menjual tawa saya."

Rasa hormat yang mendalam muncul di mata Lingga. Dia telah mencoba menggoda Ayu dengan materi paling murni (uang untuk pendidikan), dan gadis itu menolak.

"Kau... sangat keras kepala," bisik Lingga, ada kekaguman dalam nada bicaranya.

Tiba-tiba, Lingga teringat sesuatu. Dia melihat partitur musik di meja piano. Dia mencoba mencairkan ketegangan yang diciptakan Ayu.

"Baiklah, Nona Moralitas," kata Lingga. "Jika kau tidak mau tertawa karena uang, bagaimana kau mau tertawa karena sesuatu yang konyol?"

Lingga berjalan ke sofa dan mengambil ponselnya. Ia membuka sebuah video dan menyerahkannya pada Ayu.

"Ini," kata Lingga. "Kau boleh menonton. Aku menemukan video ini di internet. Ini adalah video paling tidak masuk akal yang pernah kulihat. Itu mungkin akan membunuhmu dengan kebodohannya, tapi mungkin akan memberimu satu tawa tulus."

Ayu mengambil ponsel Lingga (sebuah tindakan yang melanggar semua protokol, tetapi Lingga yang memberikannya). Video itu adalah klip viral dari dua ekor anjing yang mencoba mencuri sekantong sosis, tetapi gagal dengan cara yang sangat konyol.

Awalnya, Ayu hanya tersenyum tipis. Tapi kemudian, adegan di mana anjing-anjing itu tersandung dan sekantong sosis melayang mengenai kepala salah satu anjing itu membuat pertahanannya runtuh.

Ayu tertawa.

Bukan tawa kecil, tapi tawa lepas yang datang dari perut, tawa yang merdu dan renyah, tawa yang ia tahan selama berbulan-bulan. Tawa Ayu yang polos, tawa gadis 18 tahun, memenuhi perpustakaan yang senyap.

Lingga terpaku. Dia belum pernah mendengar suara itu. Itu adalah suara paling indah yang pernah ia dengar di penthouse-nya.

Lingga, yang niatnya hanya memancing tawa kecil untuk membuktikan bahwa ia bisa, kini merasakan gejolak yang sangat besar di dadanya. Dia telah membeli tawa itu dengan harga satu video konyol, bukan dengan 80% gaji.

Ayu tertawa sampai air mata keluar. Ketika tawanya mereda, ia menoleh ke Lingga untuk mengembalikan ponselnya.

"Tuan Lingga," kata Ayu, tersenyum lebar. "Itu... itu konyol sekali. Saya minta maaf. Saya tidak bisa menahannya."

Lingga menatap Ayu. Wajah Ayu berseri-seri, matanya sedikit merah karena tawa, rambutnya sedikit berantakan. Ia tampak seperti Ayu yang ada di The Abyss—murni dan tanpa kepalsuan.

Lingga tiba-tiba kehilangan kendali. Semua pertahanannya runtuh oleh satu tawa tulus.

Lingga melangkah maju dan menarik Ayu ke pelukan erat.

Itu adalah tindakan spontan, di luar protokol, di luar rencana, dan di luar karakter Lingga.

Ayu terkejut. Keintiman fisik?

Pelukan itu singkat, kurang dari dua detik. Tapi itu adalah pelukan yang sangat kuat, sangat posesif, seolah-olah Lingga ingin menyerap kehangatan tawa Ayu ke dalam dirinya yang dingin.

Lingga segera melepaskan Ayu, wajahnya langsung pucat karena malu dan penyesalan.

"Maafkan aku," kata Lingga, suaranya tercekat. "Itu... itu adalah reaksi spontan terhadap betapa terkejutnya aku mendengar tawa tulus."

Ayu, yang masih tercengang, merasakan denyutan di dadanya. Pelukan itu terasa aneh—salah, sangat salah, tetapi juga... hangat dan kuat. Lingga sangat memancarkan kekuasaan dan perlindungan.

Ayu melihat Lingga, yang kini tampak sama terkejutnya dengan dirinya, seorang CEO yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Aku terkejut... tapi aku juga tidak mendorongnya menjauh, Ayu menyadari. Aku ingin pelukan itu lebih lama.

Ayu yang polos tidak mengerti, tetapi Ayu yang berdarah muda merasakan tarikan fisik yang sangat kuat.

Lingga menarik napas dalam, berusaha mengembalikan topeng kendali dirinya. Namun, pandangannya tidak bisa lepas dari bibir Ayu yang sedikit terbuka, tempat tawa tulus itu baru saja keluar.

Rasa bersalahnya tenggelam oleh gelombang hasrat yang tiba-tiba dan tak terkendali. Ia sudah melanggar batas; mengapa tidak melangkah lebih jauh?

"Ayu," bisik Lingga, suaranya serak dan jauh lebih rendah dari biasanya.

Sebelum Ayu sempat merespons atau memproses kekacauan di mata Lingga, Lingga melangkah maju lagi. Kali ini, tidak ada pelukan singkat. Lingga menangkup wajah Ayu dengan kedua tangannya, ibu jarinya membelai tulang pipinya dengan intensitas yang membakar, dan ia mencondongkan tubuhnya.

Bibirnya menempel pada bibir Ayu. Ciuman itu bukan permintaan maaf, melainkan pernyataan kepemilikan. Ciuman itu panas, penuh hasrat yang tertekan lama, menuntut respons.

Lingga memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman itu, mengabaikan fakta bahwa ini benar-benar menghancurkan setiap lapisan profesionalisme yang selama ini ia bangun.

Ia menginginkan rasa manis cokelat panas dan rasa tak terduga dari kejutan Ayu.

Ayu terkesiap. Matanya melebar, memproses keintiman yang tiba-tiba dan keras ini. Ia merasakan desakan fisik, campuran aroma cokelat panas dan keringat halus Lingga dari sesi latihan sore.

Lingga segera melepaskan cengkeramannya, menarik diri dengan cepat, seolah baru saja tersengat listrik. Wajahnya langsung pucat, digantikan oleh rasa malu dan penyesalan yang luar biasa.

"Maafkan aku," kata Lingga, suaranya parau, nyaris tidak terdengar. Ia terengah-engah, matanya memancarkan kepanikan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah meledakkan bom yang ia sembunyikan selama berbulan-bulan.

Ayu berdiri mematung. Bibirnya terasa dingin. Ia tidak marah, ia bingung. Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena terkejut, tetapi juga karena sensasi yang asing dan kuat yang menjalari tubuhnya. Itu salah. Itu tidak boleh terjadi. Tapi...

Ayu yang polos tidak mengerti nafsu, tetapi ia merasakan tarikan fisik yang murni. Ia tidak mendorongnya menjauh; ia hanya terlalu terkejut untuk bergerak.

"Tuan Lingga..." bisik Ayu, suaranya kembali bergetar, tetapi kali ini bukan karena ketakutan akan kontrak, melainkan karena kebingungan emosi yang campur aduk.

Lingga berbalik, tidak mampu melihat wajah Ayu. Dia berjalan cepat ke jendela perpustakaan, memunggungi Ayu. Dia berusaha mendapatkan kembali kendali atas dirinya yang berantakan.

"Lupakan ini, Ayu," perintah Lingga, suaranya keras dan dingin, kembali ke topeng CEO-nya. "Itu adalah... pelanggaran protokol yang tidak akan terjadi lagi. Aku akan membayar dendanya sendiri."

Ayu berjalan ke arah Lingga, langkahnya ragu-ragu. "Membayar denda? Maksud Anda, Anda akan memotong 80% gaji Anda sendiri?"

"Aku akan memotong gajimu," potong Lingga tajam, memutar kepalanya sedikit. "Aku akan membatalkan pemotongan 80% yang sudah ada, dan aku akan memotong semua gajimu. Selama satu bulan. Sebagai hukuman atas diriku sendiri. Kau tetap bekerja, dan kau akan mendapatkan nol rupiah. Setuju?"

Lingga menawarkan untuk bekerja tanpa dibayar. Itu adalah hukuman terberat bagi Ayu, tetapi juga bukti betapa putus asanya Lingga untuk menebus tindakannya.

Ayu berpikir cepat. Bekerja tanpa digaji selama sebulan? Itu berarti aku harus menggunakan semua tabunganku.

Namun, ini adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan hubungan mereka ke batas profesional. Jika Lingga membayar denda yang besar, itu akan memaksa Lingga untuk memperlakukan Ayu sebagai asisten yang mahal, bukan sebagai objek ketertarikan.

"Baik, Tuan Lingga," kata Ayu, nadanya tegas. "Pemotongan 100% gaji saya selama satu bulan. Tapi dengan satu syarat."

Lingga menoleh. "Apa?"

"Anda harus berjanji, bahwa pelanggaran protokol ini tidak akan terjadi lagi," kata Ayu. "Dan Anda akan kembali ke 'Jarak Profesional' yang ketat. Jika tidak, saya akan memecat diri saya sendiri, tidak peduli dengan beasiswa saya."

Ayu, si lulusan SMA, baru saja memberikan ultimatum kepada salah satu CEO paling berkuasa di Asia.

Lingga menatapnya lekat. Ia melihat keberanian yang muncul dari keterkejutan. Ia melihat batas yang jelas di mata Ayu.

"Aku berjanji," kata Lingga, suaranya serak. "Aku bersumpah, itu tidak akan pernah terjadi lagi. Sekarang, kau boleh pergi."

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!