NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Alya terisak sendirian di sudut kamar, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung setelah kata-kata Romeo menancap tajam di hatinya. Ia tak pernah membayangkan, pernikahan yang datang begitu tiba-tiba yang ditawarkan hanya demi satu kepentingan justru menjadi luka paling dalam yang harus ia terima. Harapan yang sempat tumbuh kini runtuh, menyisakan perih dan kekecewaan yang tak mampu ia ucapkan dengan kata-kata.

          Setiap wanita tentu mendambakan pernikahan yang cukup sekali seumur hidup, sebuah janji yang diikat untuk selamanya. Namun takdir berkata lain pada Alya. Bahkan sebelum genap dua puluh empat jam ia sah menyandang status sebagai istri, sebuah peringatan dingin telah ia terima bahwa pernikahan itu memiliki batas waktu, dan hanya akan bertahan selama lima tahun.

          Pikirannya melayang kembali ke satu bulan yang lalu, pada hari yang tanpa ia sadari telah mengubah seluruh arah hidupnya. Sejak saat itu, tak ada lagi yang berjalan seperti sebelumnya, seolah takdir memaksanya menapaki jalan yang sama sekali asing.

          Alya adalah seorang gadis yang masih berstatus mahasiswi semester tujuh di salah satu fakultas universitas ternama. Ia menempuh pendidikan di jurusan akuntansi melalui jalur beasiswa. Kecerdasannya tak diragukan, membuatnya mampu meraih bantuan pendidikan itu dengan mudah dan mempertahankannya berkat prestasi yang selalu gemilang.

          Namun, semua pencapaian itu seolah tak berarti apa pun di mata ayah Alya. Pria berusia enam puluh tahun tersebut dengan nekat meminjam uang dari seorang rentenir, mengatasnamakan biaya kuliah Alya. Kenyataannya, uang itu justru ia gunakan untuk menuruti kecanduannya pada judi online, tanpa memikirkan dampak yang harus ditanggung putrinya.

          Rumah yang selama ini mereka tempati akhirnya disita pihak bank, setelah ayahnya tanpa ragu menggadaikannya. Hidup Alya runtuh seketika akibat ulah pria yang seharusnya melindunginya. Sang ibu tak sanggup melawan suami yang tak lagi menjalankan perannya, hanya bisa pasrah menelan kenyataan pahit. Di titik terendah itulah Alya memilih bekerja paruh waktu di kedai kakao milik sahabatnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya dan sang ibu. Ia sama sekali tak membiayai hidup ayahnya tidak sedikit pun. Pria itu telah pergi meninggalkan mereka, membiarkan Alya dan ibunya bertahan berdua di sebuah kontrakan kecil yang jauh dari kata layak, namun menjadi satu-satunya tempat mereka bersandar.

          Siang itu, Alya baru saja menghentikan motornya di depan tempat kerja. Kendaraan roda dua tersebut ia beli dalam kondisi bekas dari sebuah bengkel motor yang letaknya tak jauh dari kedai tempatnya mencari nafkah.

          Mendadak, seorang pria melangkah turun dari mobil mewah berwarna putih. Kacamata hitam bertengger di wajahnya, sementara jas yang dikenakannya tampak begitu rapi dan berkelas, cukup untuk membuat siapa pun yang memandangnya tak kuasa menyembunyikan rasa kagum.

        Alya yang mengira pria tersebut hanyalah seorang pelanggan, hanya membalasnya dengan senyum tipis khasnya sebelum berlalu begitu saja. Ia harus segera berganti pakaian, mengenakan apron khusus milik kedai kakao tempatnya bekerja, lalu bersiap menjalani jam kerjanya seperti biasa.

          Romeo sempat diliputi rasa jengkel ketika melihat Alya begitu acuh padanya. Namun kesadaran segera menyusul gadis itu jelas tak mengenalnya. Tak ingin membuang waktu, Romeo pun melangkah masuk ke dalam kedai kakao tersebut. Aroma cokelat yang khas langsung menyambut inderanya, memenuhi ruangan dengan kehangatan yang menenangkan, hingga tanpa sadar membuatnya berpikir bahwa tak heran jika kedua putrinya begitu betah berada di tempat ini.

          “Selamat siang, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Luna sambil melangkah mendekat.

          “Hm… aku sedang mencari sesuatu.” jawab Romeo singkat dengan nada datar. 

          Luna tetap memaksakan senyum di wajahnya, berusaha bersikap ramah meski sikap pria di hadapannya terasa begitu dingin dan menjaga jarak.

          “Baik, Tuan. Apa yang ingin Anda pesan? Kami menyediakan aneka cokelat dan cake, juga berbagai varian minuman cokelat yang menjadi favorit pelanggan.” ucapnya dengan nada ramah dan profesional.

 

          “Aku tidak membutuhkan semua itu. Yang kucari adalah hal lain.” jawabnya singkat dengan nada ketus.

          “Hal lain yang Anda maksud apa, Tuan? Di sini kami hanya menjual menu yang tadi saya sebutkan, tidak ada pilihan lain.” ucap Luna sambil berpikir keras, mencoba memahami maksud pria itu.

          “Alya, panggil gadis itu ke hadapanku.” perintahnya dengan suara tegas. 

          Luna terperanjat saat pria itu tiba-tiba menyebut nama Alya, karyawan yang juga sahabatnya. Seketika ia merasa pria tersebut tak waras bagaimana mungkin ia meminta Alya seolah sahabatnya itu adalah sesuatu yang bisa diperjualbelikan.

          “Apa maksud Anda? Karyawan di sini bukan untuk diperlakukan seperti barang dagangan. Tolong jaga sikap, jangan bersikap seenaknya dan terkesan angkuh.” ujar Luna dengan senyum tipis yang menyimpan ketegasan.

          “Cukup panggilkan dia. Aku memiliki urusan penting dengannya.” jawab Romeo datar, raut wajahnya tetap tak berubah.

          Alya yang baru saja melangkah masuk ke dalam kedai sontak terkejut mendapati sahabatnya tengah beradu argumen dengan pria yang sebelumnya ia lihat di pintu masuk. Tanpa menunda, ia segera menghampiri Luna dan menariknya sedikit ke samping, berusaha meredakan suasana.

          “Lo ngapain sih marah-marah?” bisik Alya pelan. 

          “Dia itu nggak sopan. Gue paling nggak suka sama orang yang belagu kayak dia.” jawab Luna dengan nada kesal. 

          Alya pun mencubit pinggang sahabatnya itu dengan gemas. Susah payah ia bertanya dengan nada pelan, namun Luna justru menjawabnya dengan suara ketus dan penuh kekesalan.

          “Jangan begitu, dia itu pelanggan.” bujuk Alya lagi dengan suara pelan. 

          “Kamu, Alya.” potong Romeo tiba-tiba tanpa basa-basi. 

          Alya jelas merasa tidak nyaman menerima tatapan tajam seperti itu. Namun ia berusaha menahan diri dan tetap bersikap tenang. Ia tak ingin suasana memanas dan mencoreng citra kedai tempatnya bekerja hanya karena dirinya.

          “B-benar, saya Alya.Maaf, kita pernah bertemu sebelumnya? Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” jawabnya hati-hati.

         “Aku butuh bicara berdua denganmu.” kata Romeo singkat. 

         “Apa yang ingin Anda bicarakan?Saya tidak bisa menerima permintaan bicara empat mata tanpa alasan. Kita belum saling mengenal, dan bagi saya Anda masih orang asing.” Alya mengangkat dagu.

         “Yang ingin saya bicarakan tentang si kembar. Putri saya.”

          Deg!

          Jantung Alya dan Luna seolah berhenti berdetak. Mereka menatap pria itu dengan mata terbelalak, baru memahami bahwa sosok di hadapan mereka adalah ayah kandung si kembar.

          “A-apa maksud Anda putri?Anda orang tua dari Selina dan Serena?” Alya menelan ludah.

          “Benar.”

          “Ada yang bikin gue nggak tenang,kalau lo ngerasa nggak nyaman, stop aja. Dia juga nggak jelas. Gue bisa suruh dia pergi.” bisik Luna dekat telinga Alya.

          “Tenang aja,aku yang akan bicara dengannya. Sepertinya ada hal yang ingin dia sampaikan.” jawab Alya pelan. 

          “Saya tidak punya banyak waktu.” ujar Romeo singkat.

         “Kalau begitu, mari,mari ikut saya. Kita lanjutkan pembicaraan di atas.” jawab Alya singkat.

         Setelah sampai di lantai dua yang lebih sepi, mereka tetap terjebak dalam diam. Alya merasa heran,pria di depannya seolah ragu membuka pembicaraan.

         “Saya ingin Anda menikah dengan saya.”

Romeo membuka pembicaraan tanpa ekspresi.

          “Apa?” Alya menatapnya terpaku. Jemarinya menyentuh telinga, seolah ingin memastikan kalimat itu benar-benar ia dengar.

          “Menjijikkan.”

          “Hah?” Alya kembali tertegun. Ia benar-benar tak mengerti ke mana arah pembicaraan pria itu.

         “Pilihan kedua putri saya sungguh mengecewakan.” ucapnya tanpa ragu.

          “Sejak awal Anda tidak sopan,Anda membuat keributan, mengajukan pernikahan tanpa alasan, dan sekarang menghina saya. Katakan, apa yang Anda inginkan?” kata Alya menahan emosi.

         “Apa perlu kuulangi?Aku sudah mengatakan kita akan menikah.” ucapnya datar.

         “Maaf,siapa yang bilang saya mau menikah dengan Anda?” katanya menahan amarah. 

         “Ini bukan tentang perasaan,aku tidak menyukaimu, tapi putri-putriku menyukaimu. Dan demi mereka, aku akan memastikan pernikahan ini terjadi.” ujar Romeo tegas.

         "Tidak,aku tidak akan menikah dengan pria yang bahkan tidak menghargai orang lain. Nasib si kembar sungguh disayangkan punya ayah sepertimu, untungnya mereka tumbuh dengan hati yang lembut jelas seperti ibunya.” jawab Alya.

         “Jaga ucapanmu,namanya tidak pantas keluar dari mulutmu.” katanya pelan namun tajam.

          “Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,permisi.” kata Alya singkat. 

         “Aku sudah menyelidikimu,utang itu bisa aku bereskan. Sebagai gantinya, kau menjadi istriku.”

          Alya tak langsung berbalik. Tangannya mengepal kuat, sementara air mata nyaris jatuh. Dalam hatinya bergema satu pertanyaan dari mana pria angkuh itu tahu begitu banyak tentang hidupnya. 

         "Kau boleh kaya, tapi tidak berhak merendahkan martabatku,pernikahan bukan alat tawar-menawar.” kata Alya dingin.

         “Tak ada ruang untuk bertanya,ini penawaran terakhir.” katanya tanpa emosi.

         “Maaf,aku tidak bisa menerima itu. Aku tidak akan menikah denganmu.” desis Alya pelan.

         “Aku sudah memberi pilihan,kau menolak. Konsekuensinya jelas jangan dekati kedua putriku lagi.” katanya rendah.

         Alya belum sempat membuka suara saat keributan dari lantai satu memecah suasana. Rekan kerjanya berlari dengan wajah ketakutan, sementara Romeo berdiri dingin, tak peduli pada apa pun yang terjadi.

         "Alya, rentenir itu datang lagi!Uang kas diambil semua. Mereka bilang ayahmu punya utang besar dan sengaja mencarimu. Nona Luna juga dibawa ke rumah sakit dia didorong salah satu dari mereka!” Sofia terengah.

         Wajah Alya memucat, syok itu mengguncang pikirannya. Lagi-lagi ia harus membayar mahal keegoisan ayahnya. Kenapa takdir memilih momen ini untuk menjatuhkannya.

 

          “Jangan membeku seperti itu!Masalahmu sudah menghancurkan ketenangan di sini. Luna bahkan sampai masuk rumah sakit berapa lama lagi dia harus menanggung beban ini?” sengak Sofia.

         "Sampaikan ke mereka aku akan melunasi utangnya,tolong, ke bawah dulu. Aku masih ada urusan di sini.” kata Alya berusaha tegar.

         Sofia menatap Alya dengan kesal. Ia sempat menyaksikan perdebatan Romeo dan Luna di lantai bawah, dan sekali lagi, semuanya berujung pada Alya. Setelah menerima isyarat darinya, Sofia pun berbalik dan pergi tanpa banyak kata.

         “Kupikir pembicaraan kita sudah selesai,bukan begitu, Nona?” katanya singkat.

         “Kalau aku berubah pikiran,apakah tawaranmu masih ada?” tanya Alya pelan.

         “Sudah terlambat,aku tidak tertarik pada wanita sepertimu.” ucapnya singkat.

         Alya menutup mata rapat, perasaan dipermainkan menyayat harga dirinya. Tapi mungkin, inilah balasan yang layak untuknya.

         “Sekali ini saja.” pinta Alya nyaris menangis.

         “Menjauh dariku,” katanya tajam.

         “Mohon bantu aku,aku tak akan menawar, tak akan membantah. Apa pun syaratnya akan kuterima.” Kepalanya tertunduk, harga dirinya luruh tanpa sisa.

         Tatapan Romeo mengeras di wajah Alya yang hancur. Meski enggan mengakuinya, rasa kasihan menyelinap ke hatinya. Alya hanyalah korban, dipaksa menanggung dosa ayahnya sendiri.

         “Semua hutang itu akan kubereskan,kau tak perlu lagi menanggung akibat perbuatan ayahmu. Sebagai gantinya, kau menikah denganku untuk anak-anakku. Setuju atau tidak?” katanya tenang.

         Tanpa ragu, Alya mengangguk. Bebas dari bayang-bayang hutang papanya terasa seperti keselamatan, walau ia tahu kebahagiaan bukan bagian dari kesepakatan itu.

         “Dua hari lagi semuanya selesai,ingat satu hal, jangan main-main denganku. Konsekuensinya tidak akan ringan."ucapnya datar.

         “Baik,terima kasih.” bisiknya lemah.

         Romeo meninggalkan Alya dengan langkah mantap. Di lantai bawah, Satria langsung bergerak sesuai instruksi, membawa para rentenir dan melunasi hutang ayah Alya hingga tuntas. Semua itu telah dihitung Romeo sejak awal ratusan juta rupiah, tak sebanding dengan kekuasaannya.

         “Semua ini akibat Papa,jika aku bisa memilih, aku tak ingin melihatnya lagi seumur hidup.” bisiknya pahit.

~~~Flashback and~~~

         Tatapan Alya tak lepas dari map merah itu. Isinya bukan sekadar aturan, melainkan belenggu hidupnya sebagai istri Romeo. Namun satu poin membuat dadanya sesakpoin ketiga, yang terasa paling kejam.

          Romeo menuntut jarak mutlak. Alya tak boleh ikut campur dalam hidup pribadinya, tak boleh menuntut, apalagi melarang. Bahkan kehadiran Tania di rumah pun harus ia terima. Pernikahan tanpa cinta ini terasa semakin menyakitkan bukankah setidaknya ia pantas dihargai. 

         Alya tak menuntut cinta. Ia hanya ingin dihargai sebagai istri, meski status itu sekadar formalitas. Karena tak ada perempuan yang benar-benar kebal melihat suaminya berbagi kehangatan dengan wanita lain.

         “Beginilah jadinya,istri di atas kertas bahkan tak layak sekamar.” gumam Alya.

         Alya berdiri mematung di kamar besar itu. Foto wanita yang telah tiada menatapnya diam-diam, kecantikannya lembut dan tenang. Dalam hati, Alya berbisik mungkin Tuhan lebih menyayanginya.

         Dengan tangan gemetar, Alya melepas baju pernikahan itu. Pernikahannya jauh dari bayangan indah tanpa gaun megah, tanpa tamu undangan. Hanya akad sederhana di KUA, karena Romeo menilai dirinya tak pantas dirayakan.

         Usai membersihkan diri, Alya mengenakan piyama dari Luna. Hatinya menghangat mengingat betapa tulus sahabatnya itu, selalu ada meski Alya kerap membawa masalah. Ia tahu dirinya beruntung. Alya pun menutup matanya, di sofa yang ternyata menyimpan jejak kenangan mendiang istri Romeo.

         Wajah si kembar muram saat ditinggal di rumah kakek. Mereka tak ingin berpisah dari Alya. Namun Romeo merangkai alasan manis waktu berdua untuk suami istri. Padahal kenyataannya, ia menghabiskan malam bersama Tania di sebuah klub.

         “Kalau masih peduli, minumlah denganku,jangan bilang pernikahan itu membuatmu melupakanku.” bujuk Tania lembut.

         Tanpa berkata apa pun, Romeo menolak. Ia tak ingin mabuk, apalagi hanya berdua dengan Tania. Ia masih harus mengantarnya pulang.

         “Aku lebih baik tidak minum,terlalu berisiko kalau nanti aku harus mengantarmu pulang.” ucapnya lembut.

         “Hanya satu gelas,itu tak akan membuatmu mabuk. Temani aku malam ini aku sudah cukup terluka karena kamu.” bujuk Tania pelan. 

         Romeo sempat diam, lalu mengalah. Ia mengangkat gelas yang telah terisi dan meneguknya sekali, membiarkan alkohol menghangatkan tubuhnya.

         “Nah, begitu dong aku bilang juga apa, kamu baik-baik saja.” Tania tersenyum puas.

        “Hm…” Romeo menghela napas pendek. 

        “Sayang?Kamu kenapa?” Tania menepuk pipi Romeo pelan.

        Suara itu hanya sampai sebagai dengungan samar di telinga Romeo. Kepalanya terasa berat, wajahnya meringis menahan perih, hingga perlahan kesadarannya mulai goyah.

        Bugh! 

        Tubuh Romeo ambruk, tak sadarkan diri sepenuhnya. Tania memastikan pria itu benar-benar terlelap, lalu berjongkok dan berbisik rendah, seolah hanya malam yang menjadi saksi.

         “Akhirnya… malam ini hanya milik kita berdua, sayang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!