NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Berbohong

Ketika Cinta Berbohong

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Wanita perkasa / Konflik etika / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARINI MERASA ADA YANG SALAH

Hari Minggu pagi, suara musik dan keceriaan anak-anak memenuhi halaman sekolah taman kanak-kanak Tara.

Acara Hari Ibu sudah dimulai dengan pawai kostum anak-anak yang mengenakan baju warna-warni.

Arini duduk di barisan depan bersama orang tua lain, sambil mengabadikan setiap momen dengan kamera ponselnya.

Tara berdiri di barisan depan anak-anak, mengenakan kostum kupu-kupu yang dibuat tangan Arini sendiri.

Matanya terus mencari ke arah pintu masuk dengan ekspresi yang penuh harapan – dia masih berharap ayahnya akan datang.

"Lihat Mama, itu saya!" Tara melambai tangan dengan senang ketika gilirannya tiba untuk berjalan di depan penonton.

Arini menangis senang melihat anaknya yang begitu ceria dan percaya diri. Namun di balik rasa bangga itu, ada rasa sakit yang mendalam karena melihat wajah Tara yang terus mencari sosok ayahnya yang tidak datang.

Setelah acara selesai, Tara mendekat dengan wajah yang sedikit sedih.

"Mama, kenapa Papa tidak datang ya? Saya sudah berjanji akan menari bagus-bagus untuk dia."

Arini mengelus rambut anaknya dengan lembut.

"Papa sedang sangat sibuk bekerja, nak. Tapi Mama sudah mengambil banyak foto dan video lho. Nanti malam kita bisa tunjukkan sama Papa bersama-sama."

Saat mereka pulang, Arini memutuskan untuk berhenti sebentar di kedai kopi dekat kantor Rizky.

Dia ingin memberikan makanan yang dia bawa untuk suaminya, karena tahu bahwa Rizky sering lupa makan saat sibuk bekerja.

Namun ketika dia sampai di depan kantor, dia melihat mobil Rizky yang diparkir di luar.

Di sebelahnya ada seorang wanita yang sedang membuka pintu mobil untuk masuk – dan itu adalah Lina.

Arini segera menyembunyikan diri di balik pohon besar di depan kantor.

Dia melihat bagaimana Rizky dan Lina berbicara dengan wajah yang penuh dengan emosi, kemudian bagaimana tangan Lina menyentuh pipi Rizky dengan lembut sebelum mereka masuk ke dalam mobil bersama-sama.

Jantung Arini terasa seperti akan berhenti berdetak. Keringat dingin menetes di dahinya meskipun cuaca pagi masih cukup sejuk.

Dia tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya sendiri – suaminya yang dicintainya sedang bersama wanita lain dengan cara yang tidak biasa bagi rekan kerja.

Tanpa berpikir panjang, Arini segera masuk ke mobilnya dan mengemudi pulang dengan kecepatan yang lebih cepat dari biasanya.

Pikirannya penuh dengan gambar yang baru saja dilihatnya – bagaimana wajah Rizky yang lembut ketika berbicara dengan Lina, bagaimana sentuhan mereka yang penuh makna.

Semua tanda-tanda yang dia abaikan selama ini sekarang menjadi jelas sekali.

Ketika dia sampai di rumah, dia langsung masuk ke kamar tidur dan menangis dengan penuh rasa sakit.

Tara melihat ibunya menangis dan segera mendekat dengan membawa boneka kesayangannya.

"Mama kenapa menangis ya?" anak kecil itu mencium pipi Arini dengan penuh cinta.

"Jangan menangis Mama, saya akan menemanimu."

Arini mengangkat anaknya dan memeluknya erat, menangis semakin deras di bahu Tara yang kecil namun hangat.

Dia tidak bisa berkata apa-apa – bagaimana dia bisa menjelaskan pada anaknya bahwa ayahnya mungkin sedang melakukan sesuatu yang menyakitkan hati mereka berdua?

Sore itu, Rizky pulang dengan wajah yang terlihat lelah namun juga sedikit bersalah.

Dia melihat Arini yang sedang duduk di sofa dengan wajah yang datar dan mata yang merah karena menangis.

"Sayang, apa kamu tidak enak badan? Kamu terlihat tidak baik-baik saja." Rizky mendekat dengan ingin memeluknya, tapi Arini segera mundur sedikit.

"Kamu kemana saja hari ini, Rizky?" ujar Arini dengan suara yang dingin dan penuh dengan rasa sakit.

"Kamu bilang kamu akan bekerja di kantor, tapi saya melihatmu di luar kantor dengan Lina."

Rizky merasa seperti terkena petir langsung di kepalanya. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya bergoyang tidak bisa berkata apa-apa.

Dia tahu bahwa semua kebohongannya sudah terbongkar dan tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk menyembunyikannya.

"Sayang, saya bisa menjelaskan semuanya..."

"Jangan bilang apa-apa lagi!" suara Arini tiba-tiba meninggi, membuat Tara yang sedang bermain di lantai terkejut dan mulai menangis.

"Aku sudah melihat segalanya, Rizky. Aku tidak bisa percaya bahwa kamu bisa melakukan hal seperti ini padaku dan pada anak kita!"

Rizky mendekat untuk menenangkan Tara yang menangis, tapi anak kecil itu langsung berlari ke kamar dan menyekat pintunya dari dalam.

Suara tangis Tara yang kecil membuat hati kedua orang tuanya terasa seperti ditusuk dengan banyak jarum.

"Lihat apa yang kamu lakukan!" ujar Arini dengan mata yang penuh dengan air mata.

"Kamu tidak hanya menyakitkan hatiku, tapi juga membuat anak kita menangis!"

"Saya tidak sengaja, sayang. Saya benar-benar menyesal dengan semua yang telah saya lakukan." Rizky menangis dengan melihat pintu kamar yang disekat Tara.

"Saya mencintaimu dan Tara lebih dari segalanya. Saya tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi."

Namun kata-kata maafnya itu tidak lagi memiliki makna bagi Arini. Dia sudah terlalu banyak memberikan kesempatan dan terlalu banyak mengabaikan tanda-tanda yang ada.

Sekarang semua kebohongan telah terbongkar, dan dia harus mengambil keputusan yang sulit untuk masa depan dirinya dan anaknya.

Di rumahnya sendiri, Lina sedang melihat pesan dari Rizky yang mengatakan bahwa semua sudah terbongkar.

Wajahnya penuh dengan rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Dia tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar – merusak keluarga yang bahagia dan menyakiti orang yang tidak pernah menyakitinya.

"Maafkan saya, Bu Arini," bisiknya dengan suara yang lembut sambil menangis.

"Saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Anda dan anak Anda. Saya hanya terlalu lemah untuk mengontrol perasaan saya."

Keluarga yang dulu tampak bahagia dan sempurna sekarang mulai runtuh berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!