NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Pertemuan Tak Terduga

Sore perlahan tenggelam di Maple Leaf Village (Desa Daun Maple), dan langit yang memerah seakan menyatu sempurna dengan warna daun-daun maple yang terus berjatuhan tanpa henti. Cahaya senja menyelimuti desa dengan kehangatan yang lembut, sementara angin berhembus pelan, membawa dedaunan merah berputar di udara sebelum akhirnya menyentuh tanah dengan tenang.

Namun di tengah suasana damai itu, hati Long Chen justru tidak menemukan ketenangan.

Ia berjalan sendirian menyusuri jalan desa, pedang kayu masih tergenggam di tangannya, namun kali ini bukan dengan semangat seperti sebelumnya. Genggamannya terasa lebih berat, seolah pedang itu tidak lagi sekadar mainan, melainkan pengingat akan kekalahannya.

Langkahnya pelan, tanpa arah yang jelas.

Setiap langkah yang ia ambil terasa kosong, seakan pikirannya masih tertinggal di lapangan tadi, terjebak dalam momen saat ia kembali dikalahkan tanpa mampu memberikan perlawanan berarti. Tawa teman-temannya masih terngiang samar di telinganya, bukan sebagai ejekan, namun cukup untuk membuat dadanya terasa semakin sesak.

Wajahnya terlihat murung.

Bayangan duel tadi terus berputar di benaknya tanpa henti, seolah setiap detiknya terulang dengan lebih jelas dan lebih menyakitkan. Ia melihat kembali serangan-serangan yang ia lepaskan dengan penuh keyakinan, namun semuanya berakhir sia-sia, dengan mudah dihindari seakan tidak memiliki arti apa pun. Ia merasakan lagi momen ketika pukulan itu datang, cepat dan tak mampu ia tangkis, menghentikan napasnya dalam sekejap.

Lalu gambaran terakhir itu muncul dengan begitu jelas.

Ujung pedang Xiao Yan yang berhenti tepat di lehernya, dingin dan tak terbantahkan, menjadi penutup dari pertarungan yang bahkan belum sempat ia balikkan.

Kekalahan keempat puluh delapan.

Langkah Long Chen perlahan terhenti.

Tangannya mengepal semakin erat di sisi tubuhnya, hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya sedikit bergetar, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terus menekan dari dalam dirinya.

“Aku… masih terlalu lemah…” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar, namun sarat dengan kejujuran yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Long Chen!”

Suara seorang pria paruh baya memanggilnya dari depan sebuah rumah, memecah lamunan yang sejak tadi membebani pikirannya. Pria itu duduk santai di kursi kayu, namun tatapannya penuh perhatian saat melihat ekspresi anak itu.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat murung,” tanyanya dengan nada khawatir.

Long Chen tersadar dan segera memaksakan senyum kecil, berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan. “Aku baik-baik saja, Paman. Terima kasih… aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” jawabnya pelan, meski jelas ada beban yang tidak ia ungkapkan.

Pria itu menatapnya sejenak, lalu mengangguk perlahan, tidak memaksa untuk bertanya lebih jauh. “Hati-hati di jalan. Matahari hampir tenggelam, dan biasanya makhluk buas mulai muncul di luar desa,” ujarnya mengingatkan dengan nada serius namun tetap hangat.

“Iya, Paman,” balas Long Chen singkat.

Ia kembali melanjutkan langkahnya menyusuri jalan desa, meninggalkan percakapan itu di belakang. Langit di atasnya semakin gelap, warna merah senja perlahan memudar digantikan bayangan malam yang mulai turun. Rumah-rumah di sepanjang jalan memanjang dalam bayangan, menciptakan suasana yang lebih sunyi dan sedikit menekan.

Saat berjalan melewati sebuah tikungan sempit di antara deretan rumah, langkah Long Chen tiba-tiba terhenti oleh benturan yang tak terduga. Tubuhnya terdorong mundur satu langkah, cukup untuk membuatnya tersentak dari lamunannya.

“Maaf, Paman!” ucapnya spontan sambil sedikit menundukkan kepala.

Pria di hadapannya berdiri diam tanpa banyak reaksi. Wajahnya tertutup bayangan senja yang semakin gelap, membuat sosoknya sulit dikenali dengan jelas, namun dari caranya berdiri, ada ketenangan yang terasa berbeda dari orang biasa.

“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat dengan suara tenang.

Long Chen tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia hanya mengangguk kecil, lalu segera melangkah melewati pria tersebut. Malam hampir tiba, dan ia tidak ingin berlama-lama di luar.

Namun belum jauh ia melangkah, suara pria itu kembali terdengar dari belakangnya, pelan namun cukup jelas untuk membuatnya berhenti.

“Masih memikirkan kekalahanmu tadi?”

Langkah Long Chen langsung terhenti.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, dan tanpa sadar ia menggenggam pedang kayunya lebih erat. Ia berbalik dengan cepat, tatapannya langsung mengarah pada pria itu, kali ini penuh kewaspadaan dan kebingungan yang tak bisa ia sembunyikan.

“Apa…?” Long Chen mengerutkan kening, matanya menyipit tajam saat menatap pria itu. Rasa terkejutnya belum hilang, kini bercampur dengan kewaspadaan yang semakin jelas. “Bagaimana kau tahu tentang itu?” lanjutnya, suaranya tidak lagi santai seperti sebelumnya.

Pria itu hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat, melainkan penuh makna yang sulit ditebak.

“Itu tidak penting,” jawabnya datar. Meski nadanya tenang, ada tekanan aneh yang terasa dalam setiap katanya, seolah sesuatu yang tak terlihat sedang menekan ruang di sekitar mereka.

Ia menatap Long Chen lurus, tanpa berkedip. “Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu.”

Long Chen tidak langsung menjawab. Ia berdiri diam, tubuhnya sedikit menegang, instingnya mengatakan bahwa pria ini bukan orang biasa. “Apa maksudmu, Paman?” tanyanya akhirnya, nada suaranya lebih hati-hati.

Pria itu melangkah mendekat satu langkah.

Gerakannya pelan, namun cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa semakin sempit, dan entah mengapa, udara di sekitar tiba-tiba terasa lebih berat.

“Jika kau ingin menjadi kuat,” ucapnya perlahan, setiap kata terdengar jelas dan terukur.

“Jika kau ingin mengalahkan temanmu itu,” lanjutnya, matanya sedikit menyipit, seolah sudah mengetahui jawaban yang ada di dalam hati Long Chen.

Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kata-katanya untuk meresap.

“Temui aku di bangunan tua di pinggir sungai.”

Angin berhembus pelan di antara mereka, membawa hawa dingin yang tiba-tiba terasa menusuk. Daun-daun maple yang tadi bergerak lembut kini terdengar berdesir lebih keras, seolah suasana di sekitar ikut berubah.

Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Long Chen merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Suasana… tiba-tiba menjadi dingin.

Long Chen mengerutkan kening, tatapannya semakin tajam saat menatap pria di hadapannya. Perasaan tidak nyaman mulai muncul di dalam hatinya, bercampur dengan rasa penasaran yang sulit ditekan. “Kau sebenarnya siapa?” tanyanya, suaranya lebih serius dari sebelumnya.

Namun pria itu hanya membalas dengan senyum samar, senyum yang tidak memberi jawaban apa pun.

“Kau tidak perlu tahu,” ujarnya tenang.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih dalam, seolah setiap katanya memiliki bobot tersendiri. “Yang perlu kau tahu… kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”

Kata-kata itu masih menggantung di udara ketika dalam sekejap berikutnya, sosok pria itu menghilang.

Begitu saja.

Tanpa suara, tanpa jejak, seolah ia tidak pernah berdiri di sana sejak awal.

Long Chen membeku di tempatnya.

Matanya melebar, napasnya tertahan sesaat, dan pikirannya seakan berhenti memproses apa yang baru saja terjadi. “Apa… tadi itu…?” gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia mengingat kembali setiap kata yang diucapkan pria itu, satu per satu, seolah kata-kata tersebut tertanam di dalam benaknya.

Jika kau ingin menjadi kuat…

Temui aku di bangunan tua di pinggir sungai…

Kata-kata itu berputar tanpa henti, menggoda sekaligus membuatnya gelisah.

Namun tiba-tiba, ia menggeleng keras, berusaha mengusir semua pikiran tersebut. “Tidak… aku tidak boleh memikirkan hal aneh seperti itu,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan hatinya.

Langit di atasnya sudah hampir sepenuhnya gelap.

Tanpa berpikir panjang lagi, Long Chen segera berbalik dan berlari menuju rumahnya, langkahnya cepat seolah ingin menjauh dari tempat itu, dari bayangan pria misterius itu, dan dari pilihan yang perlahan mulai terbentuk di dalam takdirnya.

End Chapter 3

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!