"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Kunti
"Ya ampun, aku pernah peluk dia kemarin!" pekik warga lain
"Dasar me sum, kamu kan sudah punya istri kenapa peluk peluk janda, eh... kuyang"
"Aku mana tahu kalau itu kuyang, tubuhnya sungguh menggoda..."
"Ggghhhhrrrrrr!"
"Aaaaaaa!"
Teriakan kembali terdengar dan warga berhamburan lari juga sebagian ada yang menyerang Salbiah menggunakan obor yang mereka bawa, Kaelan bahkan tetap berdiri di dekat tubuh Salbiah sambil menggendong Kalingga.
Narno juga masih terlihat bingung, dia tidak mau rahasianya terbongkar jadi dia sebisa mungkin akan membuat Salbiah tidak bisa membuka mulutnya lagi.
"Oek... Oek... Oek..."
Tangisan Kalingga membuat serangan Salbiah berhenti, dia yang masih lemas mendekat ke arah Kaelan dan Kalingga, warga hanya bisa melihat karena mereka tidak peduli kalau Kaelan ataupun Kalingga di serang kuyang, yang mereka waspadai adalah jika kuyang itu menyerang mereka dan keluarga mereka.
"Kamu..."
"Kamu akan mati Salbiah!" sinis Kaelan
"Aku.. aku tahu di mana ari ari bayi kamu ini Kaelan... bebaskan aku dan aku akan mengatakan di mana ari ari itu"
"Tidak perlu repot-repot, aku juga sudah tahu dan ari ari itu aman bersama pelindungnya" jawab Kaelan membuat Salbiah terbelalak.
"Salbiah! kamu sudah melanggar adat di kampung ini, bahkan kamu sudah berani datang dan menjadikan kampung kami sebagai tempat persembunyian! kami tidak mau ambil resiko jadi kamu harus menyerah!" ucap Narno
"Biarkan aku pergi dan aku tidak akan kembali ke kampung ini lagi, aku akan pergi jauh" ucapnya dengan suara serak
"Jangan biarkan dia kabur Mbah, saya yakin dia akan mencari korban lagi, lihat saja jantungnya terus mengeluarkan darah" ucap Wisnu
"Iya Mbah, bakar sekarang!"
"Tidak!"
"Bakar!" perintah Narno membuat Salbiah panik.
"Na....Na...."
Salbiah ingin menyebut nama Narno tapi lidahnya tiba tiba saja jadi kaku, matanya menatap penuh permohonan pada Kaelan tapi Kaelan tidak peduli, dia dan Kalingga sudah menggenggam rambut Salbiah dan sekarang Salbiah semakin bertambah panik.
Salbiah tidak peduli dengan api yang mulai membakar kayu kayu di bawah tubuhnya, dia segera bergerak mendekati tubuhnya untuk kembali masuk tapi Kaelan tidak membiarkan itu.
Kaelan semakin menggenggam erat rambut Salbiah begitupun dengan Kalingga yang tiba tiba saja memancarkan cahaya emas di tangannya, membuat semua orang terkejut dan mundur karena takut dengan apa yang terjadi.
Srak. Srak.
"Aaakhhhhkhkkkkkk! tidak! tubuhku!" teriak Salbiah karena tubuh itu terbakar setelah cahaya emas di tubuh Kalingga muncul dan menyerang Salbiah, begitupun dengan rambut dan kepala Salbiah yang belum sempat kembali menyatu.
Bruk.
"Hhkkkkk... Am... Ampun..."
Kepala Salbiah terjatuh tepat di depan kaki Kaelan, api yang membakar kepala dan tubuh itu membawa aroma daging terbakar dan bau amis darah yang begitu kuat, warga sampai menutup hidung mereka bahkan sebagian ada yang muntah tapi Kaelan hanya menatap datar kobaran api yang ada di hadapannya.
"Kamu bisa tenang sekarang, kuyang itu tidak akan menggangu kamu" ucap Kaelan dan Kalingga tertawa
"Hihihi.."
"Anak Kunti! anak Kunti itu tertawa! dia benar benar anak Kunti!" teriak seorang warga berlari ke arah rumahnya begitupun yang lain karena takut.
"Sialan!" umpat Kaelan menatap tajam orang orang yang berlarian itu.
"Kaelan! aku menghukum kamu karena melanggar perintahku! lima tahun ini kamu harus tetap berada di kampung cadas dan kalaupun keluar, kamu tidak boleh menginap!" perintah Narno pergi dari sana.
"Baik Mbah" jawab Kaelan malas
"Lihat orang tua itu, dia pikir dia bisa menahan kita Kalingga, tidak apa lima tahun ini ayah tinggal di sini, lagipula kamu belum bisa ayah ajak ngobrol kalau kita pergi, kasihan juga ibu kamu kalau dia tidak bisa ikut kita ke kota, kita tunggu sampai ibu kamu bisa ikut kita juga" bisik Kaelan dan Kalingga kembali tersenyum.
"Ayah ngantuk, ayo kita pulang untuk tidur anak cantik, dasar orang orang bodoh! anak secantik ini di bilang anak Kunti, mereka tuh yang anak Kunti" gerutu Kaelan mengangguk pada Wisnu lalu pulang.
"Kalingga benar benar unik, dia anak yang kuat dan aku bisa melihat itu" gumam Wisnu
°°°°°°°°°°°
Satu Minggu berlalu setelah kejadian kuyang itu di bakar, kampung cadas mendapatkan banyak hadiah karena berhasil membunuh kuyang yang sudah meneror banyak kampung, bahkan Narno juga semakin di sanjung sebagai pemimpin yang baik dan bisa melindungi warganya.
"Mbah saya mau ijin ke kampung Mahoni, saya tidak menginap hanya akan pulang agak sore" ucap Kaelan yang datang ke rumah Narno sambil menggendong Kalingga.
"Kamu jangan bohong atau hukuman kamu bertambah" ucap Narno
"Tidak akan Mbah, saya juga mau Imunisasi Kalingga, sudah terlewat" jawab Kaelan
"Baiklah, tapi jangan sampai menginap dan pastikan kamu tidak membuat warga kampung lain ketakutan karena membawa anak Kunti itu" jawab Narno
"Baik Mbah" jawab Kaelan
"Tunggu" tahan Narno saat Kaelan akan pergi
"Ya Mbah"
"Aku titip ini untuk keluarga Mbah Karman, berikan dan jangan sampai tidak kamu berikan" ucap Narno memberikan beberapa makanan dan pakaian perempuan pada Kaelan.
"Ini pakaian perempuan Mbah, kakek Karman itu laki laki, istrinya juga sudah meninggal" ucap Kaelan yang tahu pasti itu untuk Kinanti.
"Kan Mbah Karman punya anak perempuan, kamu berikan padanya, Kinanti pasti suka dan Jang membantah terus!" kesal Narno
"Baik Mbah, ayo sayang kita ke rumah bibi Kinanti, nanti kamu di gendong sama dia dan kita jalan jalan" ucap Kaelan memanas manasi Narno
"Kaelan kamu tidak saya ijinkan pergi" ucap Narno
"Jangan Mbah, ini akan saya berikan pada Kinanti dan bilang kalau ini dari Mbah Narno" ucap Kaelan segera berlari pergi sebelum Narno kembali berubah pikiran.
"Dasar anak kurang ajar!" kesal Narno
Kaelan tertawa sepanjang perjalanan, dia menaiki delman milik Karna yang datang untuk menjemputnya, bahkan Kaelan begitu senang bisa membawa Kalingga pergi lagi setelah hampir dua bulan berada di kampung cadas.
"Senang sekali kamu" ledek Karna
"Iya yah, Kaelan senang bisa bawa Kalingga pergi dari kampung itu meskipun tidak menginap" jawab Kaelan
"Kalau begitu gunakan waktu kalian dengan baik, kamu jalan jalan ke resort saja sana ajak Kinanti supaya bisa jaga Kalingga" ucap Karna
"Kalau ke resort terlalu jauh pulang pergi yah, Kaelan mau di kampung Mahoni saja dulu sambil silaturahmi ke rumah kak Liam dan kak Lintang" jawab Kaelan
"Silaturahmi juga ke rumah kakek kamu, dia mau membicarakan sesuatu tentang Kinanti" ucap Karna membuat Kaelan membeku
"Hihihi..."
"Astagfirullah, kenapa tawa Kalingga seperti itu" kaget Karna
"Mungkin karena Maryani tidak tertawa seperti Kunti, jadi Kalingga yang seperti Kunti tertawanya" jawab Kaelan lemas sambil menciumi wajah Kalingga.