Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keempat orang tua menatap anak dan menantunya bangga. Alif dan Asya mendapat gelar lulusan terbaik yang tak perlu membutuhkan 4 tahun untuk lulus dengan hasil yang sempurna. Perjuangan yang tidak sia-sia dan membuahkan hasil.
"Selamat menjadi lulusan terbaik," ucap Rania sambil memeluk Asya
"Terima kasih," balas Asya membalas pelukan Rania
"Sayang," panggil Alif yang tiba-tiba datang
Alif memberikan buket bunga dan boneka doraemon kesukaan istrinya. Asya menerimanya dengan senang hati. Ia mencium tangan Alif dan Alif mencium kening Asya serta memeluknya singkat.
"Sweet banget deh pasangan baru ini," ledek Rifky
"Jiwa ingin nikah gue kambuh lagi nih lihat kemesraan kalian berdua," sahut Rania terkekeh
"Kode tuh Rif! Minta dihalalkan," goda Alif
"Apaan sih lo," sinis Rania sambil mendorong bahu Alif pelan
"Tahun depan mungkin gue nikah haha," ucap Rifky sambil tertawa
Asya terkekeh sambil menyenggol pelan lengan Rania. Sedangkan Rania terlihat seperti malu-malu kucing.
Alif memanggil Farah untuk mengabadikan momen mereka berempat. Farah dengan senang hati mengikuti perintah kakaknya.
Setelah beberapa hari di Kairo, mereka kembali pulang ke tanah air. Alif dan Asya dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka akan pulang ke rumah yang sudah disiapkan oleh Alif. Mobil tiba di tempat tujuan.
Satpam komplek membukakan jalan untuk mobil Alif. Mobil berjalan memasuki area komplek. Asya melihat pemandangan komplek yang begitu asri.
Mobil Alif berhenti tepat di rumah nomor 25. Terlihat rumah minimalis lantai 2 yang terlihat mewah dengan halaman yang indah. Asya berdecak kagum melihat bangunan di depannya.
Alif mengambil koper di bagasi. Asya menatap sekeliling rumah bergaya eropa itu. Ia terharu karena Alif telah mempersiapkan segalanya.
"Maaf ya, rumahnya gak sebesar rumah orang tua kita," ucap Alif
"Gak besar apaan sih? Rumah sebagus ini loh," ucap Asya terharu
"Kalo nggak cocok nanti kita bisa pindah kok," ucap Alif sambil mengambil kunci rumah dari kantong celananya
"Kamu sudah mempersiapkan ini?," tanya Asya
"Iya setahun lalu aku beli rumah ini. Ya walaupun waktu itu aku pesimis kalo niat baikku diterima sama kamu," jawab Alif terkekeh
"Jadi kamu sudah niat melamar aku dari lama?," tanya Asya
"Iyalah. Kalau akhirnya aku nggak bisa sama kamu ya rumah ini aku tempati sendiri," ucap Alif lalu terkekeh
"Apapun yang sudah kamu persiapkan aku tetap menerimanya. Asalkan ada suami sepertimu sudah cukup membuatku bahagia. Bimbing aku dan tetaplah bersamaku," ucap Asya tulus
"Aku akan berusaha mendampingi mu sampai maut memisahkan. Aku merasa sangat beruntung mendapatkan istri sepertimu. Allah begitu baik hingga mengirim kamu dalam hidupku," ucap Alif sambil memegang tangan Asya
Mereka masuk ke dalam rumah. Suasana sangat menenangkan.
"Nanti aku akan carikan pembantu agar kamu tidak kecapekan," ucap Alif
"Jangan," larang Asya
"Kenapa?," tanya Alif
"Aku tidak ingin ada orang lain di dalam rumah ini selain keluarga kecil kita. Kalo urusan rumah, aku pasti sanggup melakukannya," ucap Asya sambil tersenyum
"Kita akan melakukannya bersama-sama," ucap Alif
Alif tersenyum lalu memeluk erat istrinya. Asya membalas pelukan suaminya. Berkali-kali Alif mengucap syukur atas apa yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.
Malam harinya
Alif sedang pergi ke masjid komplek. Asya terlihat sedang sibuk di dapur. Ia terlihat begitu lihainya memasak. Disela-sela kegiatannya, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Asya mengenali aroma tubuh suaminya.
"Lepasin dong, Mas. Ini aku lagi masak buat kita makan malam," ucap Asya
"Masak apa?,," ucap Alif setelah melepaskan pelukannya
"Tumis kangkung sama goreng ayam saja. Nggak papa kan hanya menu ini?," tanya Asya
"Apapun yang kamu masak pasti akan aku makan," jawab Alif
"Berarti kalo aku masak kayu dan batu, kamu mau makan juga ya," goda Asya sambil mengangkat ayam yang sudah matang
"Aku lakukan asalkan kamu bahagia," ucap Alif sambil meletakkan kangkung ke mangkok
"So sweet banget suami aku," ucap Asya terkekeh
"Harus dong," ucap Alif
"Ini hampir selesai mending kamu ganti baju dulu," ucap Asya lembut
"Oke ibu negara," ucap Alif lalu mencium singkat pipi istrinya
Asya hanya terkekeh melihat tingkah suaminya. Ia sangat bersyukur karena setelah patah hati begitu besarnya, Allah telah menyiapkan kebahagiaan untuknya. Meski terkadang harua melewati rasa sakit yang luar biasa.
Asya dan Alif makan malam dengan santai. Hanya terdengar suara dentingan sendok saling bersahutan. Setelah selesai, mereka membereskan piring kotor. Semua dilakukan secara bersama. Walau Asya melarang, Alif tetap kekeh ikut mengerjakan pekerjaan rumah itu.
"Setelah ini ada yang ingin aku bicarakan," ucap Alif sambil mengelap piring
"Iya Mas," ucap Asya sambil menata piring
Setelah selesai, Alif pergi ke kamar terlebih dahulu. Sedangkan Asya masih mengunci rumah dan jendela.
Asya memasuki kamar dan menguncinya. Terlihat Alif duduk di sofa sambil memangku laptop seperti mengerjakan sesuatu dan tak lupa kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Asya mengambil duduk tepat di sebelah suaminya itu. Alif tersenyum lalu mengambil beberapa brosur dan menyerahkan kepada Asya. Tentu saja Asya menerimanya.
"Apa ini?," ucap Asya
"Itu beberapa brosur paket WO. Kami bisa memilih salah satunya," ucap Alif sambil tersenyum
"Kamu mau mengadakan resepsi?," tanya Asya
"Kita kan hanya akad saja waktu itu," jawab Alif
"Bagi aku itu sudah cukup," ucap Asya sambil tersenyum
"Masalahnya yang kasih brosur ini papa dan mama. Mereka mau mengadakan acara ngunduh mantu. Jadi kita tidak bisa menolaknya," ucap Alif terkekeh
"Aku ngikut gimana baiknya aja," ucap Asya
"Oke biar nanti aku kabari papa dan mama," ucap Alif
"Iya," ucap Asya
"Kamu tidur duluan aja sana. Ini aku lagi ada kerjaan dikit bentar lagi selesai," ucap Alif sambil mengelus kepala Asya
"Aku temenin deh," kekeh Asya
"Sayang," ucap Alif
"Iya sayang," jawab Asya
Alif terlihat salah tingkah hingga telinganya merah. Asya dengan jahilnya noel pipi suaminya itu.
"Cie salah tingkah nih orangnya," ledek Asya
"Sayang jangan diledek gitu ih," ucap Alif sambil memegang tangan Asya
Alif dan Asya saling memandang sambil tersenyum. Alif merapikan rambut yang keluar dari kerudung istrinya. Alif tersenyum lalu mencium kening Asya.
"Udah sana tidur dulu. Setelah ini aku susul," ucap Alif yang kembali fokus dengan kerjaannya
"Siap sayang," ucap Asya lalu mencium singkat pipi suaminya
Asya beranjak dari duduknya lalu merebahkan diri ke kasur. Alif tersenyum dengan tingkah istrinya.
'Terima kasih karena telah menghadirkan dia di hidupku, Ya Allah. Aku akan berusaha membahagiakan sampai maut memisahkan kami' batin Alif