NovelToon NovelToon
Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Dijual Teman Laknat, Dibeli Mantan Minus Akhlak

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?

Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!

Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang menyesakkan

Orang kalau udah siyook itu bakal jadi plenger dan plonga-plongo sekali. Seperti yang terjadi pada bapaknya Kilau itu. Dia masih diam di kursi, tapi otaknya ngefly maring ndi-ndi.

Wajah yang tadinya merah padam oleh keangkuhan, kini memutih layaknya kain kafan. Tangannya yang bergetar masih menekan dada kirinya, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu liar saking syoknya. Matanya melotot, menatap Dai seolah-olah pemuda di depannya itu adalah malaikat yang bertugas untuk mencabut nyawanya.

Seluruh dunianya runtuh dalam satu detik. MahaTech, harga dirinya, dan posisi semu yang selalu dia banggakan di depan semua orang, sebagai CEO ternyata berada di dalam genggaman tangan pemuda yang selama ini dia sebut sampah. Kalau udah kayak gini, Djiwa bisa apa?

Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang sudah tercecer di lantai, Djiwa memaksakan dirinya untuk bangkit. Kakinya lemas, nyaris membuat lututnya membentur pinggiran meja. Dia menelan ludah yang terasa segetir racun sebelum akhirnya membuka suara, terbata-bata dengan nada yang teramat rendah dan memelas.

"Tu—Tuan muda Badai..." Suara Djiwa bergetar, hilang sudah nada bariton yang biasanya penuh perintah. "Saya... saya benar-benar tidak tahu. Maafkan kelancangan saya. Mohon dimaafkan, Tuan Muda. Mulut tua saya ini memang tidak tahu aturan. Saya sungguh meminta maaf atas segala ucapan dan perbuatan saya selama ini."

Alih-alih merasa menang, sudut bibirnya hanya terangkat, membentuk seulas senyum sinis yang teramat dingin. Dia melangkah maju satu demi satu, mendekati meja makan mewah yang memisahkan mereka. Setiap ketukan pantofel mahalnya di atas lantai seolah menjadi lonceng kematian bagi nyali Djiwa.

Dai berhenti tepat di seberang Djiwa, menumpukan kedua tangannya di atas meja, lalu condong ke depan. Tatapannya menembus langsung ke manik mata Djiwa yang dipenuhi ketakutan.

"Maaf?" desis Dai, suaranya mengalun pelan namun sarat akan intimidasi yang mematikan. "Tuan Djiwa. Saya mau tanya, seandainya saya bukan putra dari seorang Hiro Daichi, dan jika malam ini saya tidak berdiri di sini, apakah kata maaf itu akan tetap keluar dari mulut anda?"

Djiwa bungkam. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, jatuh membasahi meja.

"Tidak, bukan?" lanjut Dai dengan kekehan sarkas yang menusuk. "Anda akan tetap menghina saya hingga mulut anda penuh busa. Anda akan tetap menyuruh para pengawal anda untuk menganiaya saya. Menghancurkan tempat usaha kecil saya. Sama seperti yang anda perbuat sebelumnya. Ya kan? Permintaan maaf anda tidak tulus, sebab anda hanya takut pada takhta Ananta Corporation dan saham mayoritas yang saya pegang di MahaTech, bukan menyesal karena telah menginjak harga diri manusia lain."

Dai menegakkan tubuhnya kembali, mengancingkan satu kancing jasnya dengan tenang, lalu membuang muka seolah melihat Djiwa hanya akan mengotori matanya. Dia menoleh ke arah samping, tempat di mana seorang gadis masih membekap mulutnya sendiri dengan air mata yang mulai meluncur bebas melewati pipi halusnya. Kilau tak percaya papanya bisa sekejam itu sampai merusak bengkel Dai, pantas saja Sajen, Abu dan Suga tidak ramah padanya seperti sebelumnya ternyata Djiwa adalah alasan kenapa teman-teman Dai mengucilkannya.

"Kilau," panggil Dai lembut, sangat kontras dengan nada suaranya saat berbicara pada Djiwa tadi. "Ikut gue. Gue pengen ngomong sama lo."

Kilau menatap Dai dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam netra indahnya, ada kebingungan, rasa tidak percaya, dan luka karena dibohongi. Namun, terlepas dari rasa syok yang mendera, ikatan batinnya dengan Dai membuat kakinya bergerak sendiri. Kilau menuruti kemauan Dai tanpa memedulikan ayahnya yang masih plonga-plongo di tempatnya.

Dai berbalik, melangkah keluar dari ruangan VIP tersebut menuju area balkon privat yang terletak di ujung koridor restoran. Kilau berjalan mengekor di belakangnya, membiarkan keheningan malam ibu kota menyelimuti langkah mereka.

Dai berdiri menghadap pagar pembatas kaca, menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip seperti berlian berserakan. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Kilau yang berdiri beberapa langkah di depannya dengan kedua tangan yang saling meremas cemas.

"Silahkan tanya apapun, gue siap menjawab semua yang ingin lo tau, Ki." Badai tetap menjaga jarak meski sebenarnya dia sangat ingin memeluk perempuan di depannya.

"Siapa lo sebenarnya, Dai?" tanya Kilau, suaranya serak menahan tangis yang siap pecah kapan saja. "Laki-laki yang berdiri di depan gue dengan jas mewah ini... apa lo beneran Dai yang gue paksa jadi pacar pura-pura gue?"

Dai memejamkan matanya sejenak, merasakan tusukan tak kasatmata di dadanya. Kemudian dia membuka jas nya. Maju tiga langkah dan memakaikan jas itu untuk menutupi pundak terbuka Kilau. Kilau diam tak memprotes apa yang Dai perbuat.

"Gue tetap Badai pacar lo, Ki. Nggak ada yang berubah dari diri gue. Dan mengenai identitas gue... Yang dikatakan Xylas tadi memang kenyataan yang terpaksa nggak gue up pada siapapun. Karena semua itu menyangkut keselamatan keluarga gue, Ki."

Badai menatap Kilau tanpa memberi kesempatan pada keraguan bisa menembus hati perempuan itu. Dengan tarikan nafas dalam, Dai mulai menceritakan jati dirinya. Semua dia ceritakan. Dari awal dia dan ibunya yang sedang mengandung di 'usir' dari keluarga Daichi, hingga kebenaran mengenai dirinya yang baru dia ketahui empat tahun yang lalu.

Kilau diam mendengarkan seluruh rentetan penjelasan itu. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata Dai, mencari celah kebohongan, namun yang dia temukan hanyalah kejujuran dan rasa bersalah.

Namun, penjelasan itu tidak serta merta menghapus kekecewaan Kilau. Selama ini dia kebingungan mencari informasi dan identitas BAD, Dai tahu semuanya. Dai tahu bagaimana lelahnya Kilau, tapi Dai memilih bungkam.

"So? kenapa lo nggak ngasih kabar beberapa hari ini, Dai? Lho tahu rasanya orang khawatir nggak sih? Gila ya lo! Dan lucunya.. Selama sebulan belakangan gue dibikin pusing sama orang yang ngebeli saham perusahaan gue.. Gue capek nguber info tentang biliuner gabut yang seenak jidat beli setengah saham lebih MahaTech tanpa sepengetahuan gue. Dan Lo tau, Dai! Lo tau! Tapi lo diem aja."

Suara Kilau pecah, air matanya meluncur deras tanpa bisa dibendung lagi. Dia maju satu langkah, menatap Dai dengan dada yang naik turun akibat emosi yang membuncah. Dan Dai biarkan saja Kilau mengungkapkan kekesalannya tanpa mau memotong ucapan Kilau atau membela diri.

"Gue rasa di belakang gue, lo pasti menertawain kebegoan gue kan? Sial! Berhari-hari, Dai... Berhari-hari gue kayak orang gila nyari informasi tentang lo. Gue denger dari Sajen kalo lo ngilang.. Astaga.." seru Kilau dengan suara bergetar menahan amarah. Dia memegang pelipisnya menekan rasa pusing yang mulai menyerang.

"Gue datangi rumah lo, bengkel lo, arena sirkuit, tongkrongan lo, tapi nggak ada lo di manapun. Lo bikin gue nyaris gila, Dai. Lo jahat tau nggak!"

Dai terenyak, dia ingin melangkah maju untuk mendekap tubuh bergetar itu, namun urung saat melihat Kilau mengangkat sebelah tangannya, memintanya untuk tetap di tempat. "Ki, gue.."

"Stop! Dada gue sesak, Dai. Gue takut banget bokap gue nyakitin lo, gue nyampe berantem tiap hari sama bokap nyokap gue karena lo. Tapi apa yang gue lihat malam ini? Lo tiba-tiba muncul di sini, dengan pakaian sekorporat ini, menjadi anak dari orang paling berkuasa, dan menjadi pemilik sah dari perusahaan gue." tawa hambar itu tampak menyakitkan, matanya menangis tapi berusaha menunjukkan tawa meski terlihat menyesakkan.

"Ki, gue berada di bawah pengawasan ketat mansion bokap, gue nggak bisa---"

"Lo bisa, Dai. Lo bisa! Kalau lo benar-benar punya niat, dengan segala kekuasaan dan kecerdasan yang lo miliki sekarang, mengirim satu pesan singkat 'gue baik-baik aja' bukan hal yang mustahil buat lo!" potong Kilau cepat. Kesal, marah, kecewa, namun di saat yang sama rasa rindu yang luar biasa besar mengaduk-aduk dadanya hingga terasa menyakitkan.

Kilau memandang Dai untuk terakhir kalinya malam itu. Tatapannya melekat pada setelan kemeja mahal yang melekat di tubuh atletis pria itu, menyadari bahwa jarak di antara mereka sekarang justru terasa jauh lebih lebar daripada saat Dai masih menjadi seorang montir.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Kilau membalikkan badannya dengan cepat. Dia setengah berlari meninggalkan area balkon privat itu, mengabaikan panggilan lirih dari mulut Dai. Kilau terus melangkah melewati koridor, meninggalkan restoran mewah itu, dan bahkan meninggalkan papanya, Djiwa, yang mungkin saat ini masih terduduk syok dan gemetaran di dalam ruangan VIP. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari kegilaan ini.

Dai berdiri mematung di tempatnya. Langkah kakinya terasa seberat timah, menahannya untuk tidak mengejar punggung gadis itu yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu kaca. Dia tahu, memaksakan diri mengejar Kilau dalam kondisi emosi gadis itu yang sedang hancur justru akan memperburuk keadaan. Hubungan mereka yang tulus kini telah ternodai oleh intrik kelas atas yang selalu dia benci.

Dai menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam yang dingin membekukan rasa perih di dadanya. Dia membalikkan badan, melangkah kembali menuju ruangan VIP dengan raut wajah yang kini sepenuhnya datar dan dingin, tanpa emosi sama sekali.

Pintu geser ruangan VIP terbuka. Di dalam, Djiwa masih tampak pucat di kursinya, sementara Hiro Daichi duduk dengan tenang sembari menyesap teh hangatnya seolah tidak terjadi badai apa pun di sekitarnya. Xylas tetap berdiri tegap seperti biasa di belakang sang tuan besar.

Dai melangkah masuk, berhenti tepat di samping kursi ayahnya. Dia menatap pria paruh baya yang memiliki garis wajah serupa dengannya itu dengan sorot mata yang penuh dengan kilat amarah yang tertahan.

"Hebat sekali permainan anda, Tuan Hiro Daichi," ujar Dai dengan nada suara yang dipenuhi sarkasme yang amat kental.

Hiro tidak langsung menjawab, dia meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas tatakan porselen sebelum mendongak menatap putranya. "Apa maksudmu, Dai? Ayah hanya membantumu meluruskan posisi dan mengembalikan harga dirimu yang selama ini diinjak-injak oleh orang ini." Hiro melirik Djiwa sekilas dengan pandangan merendahkan.

Dai terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar dan menyakitkan. "Mengembalikan harga diri? Jangan berlagak seperti pahlawan di depanku. Anda sengaja merancang semua ini, kan? Anda sengaja membawaku ke pertemuan ini tanpa memberi tahu detailnya, membiarkan orang tua serakah ini menghinaku terlebih dahulu, lalu menyuruh Xylas menjatuhkan bom kebenaran itu."

Dai mengepalkan tangannya di sisi tubuh, menahan diri agar tidak menggebrak meja di depan ayahnya.

"Aku harus berterima kasih pada anda, ayah," lanjut Dai, menekan kata 'Ayah' dengan penuh penekanan yang sinis.

"Terima kasih karena dengan kekuasaan besar anda itu, anda berhasil mengangkatku setinggi langit di depan musuhku, sekaligus menjatuhkan diriku ke dalam jurang yang sedalam-dalamnya di depan wanita yang aku cintai. Anda menghancurkan kepercayaannya padaku dalam satu malam. Persis seperti caramu menghancurkan hidup ibu dulu."

Setelah menumpahkan seluruh kepahitan hatinya, Dai berbalik tanpa menunggu respons atau pembelaan lebih lanjut dari Hiro. Dia melangkah lebar keluar dari ruangan itu dengan langkah tegas, meninggalkan atmosfer ruang VIP yang kembali membeku, menyisakan Hiro Daichi yang hanya mampu menatap kepergian putranya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

1
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
oleh Dai oleh babat wes mumlung ketemu yokan kokopan Sampek dower juga oleh
Dewi kunti
sok nanya lagi,dilarang jg pasti tetep ngokop
Badai pasti berKilau
Boleh gak ya ☺
Badai pasti berKilau
Miyako 🤣

Cosmos ada ?
Badai pasti berKilau
Santet aja Thor, ehh Kil, gemez lama-lama sama Dai Badai 😌
Badai pasti berKilau
Cemburu ya abang Badai 🤣🤣
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
klo udah di kamar dan ngbrol sama Kilau, auto jadi anak kucing ya Dai😅
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
ini otor keknya penasaran aja klo gak bikin pembacanya mewek dah
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
tobat makanya tobaaaatttt..
masih ae mikirin harta aja udah nyungkep krna ketamakan sendiri juga
Bulan-⁶
bapak si raja kejam
Badai pasti berKilau
Dihh manjanya ko Badai 🤣
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
sabar Xylas resiko ngadepin arek bucin gak ada obatnya emang
📌♏♎®️𝕯µɱՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤ ̐
bapak durjanahhh🤣🤣🤣
anaknya suruh kerja dia mepet emaknya 🤣🤣
Dewi kunti
haaaiiiii ky judul film🤭🤭🤭🤭
Bulan-⁶
paham pak djiwa????!!!!!
Bulan-⁶
gak usah nantangin kamu dai bisa2 kelabakan sendiri nantinya
Bulan-⁶
kopi dangdut🤣🤣🤣
Dewi kunti
hai hai hai main kokop aj, bodyguard Kon nunggoni wong kokopan
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
udah cukup oe..
tar takut ada yg bangkit pulak🤣🤣🤣
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
heleh, entut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!