NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 26

Matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi gedung Nirmala Capital, membiaskan cahaya keperakan yang tajam. Namun, kehangatan fajar itu sama sekali tidak mampu mencairkan suasana beku yang mencekam di dalam ruang rapat dewan direksi di lantai 42. Udara di sana terasa statis, berat oleh aroma kopi mahal yang mulai mendingin dan ketegangan yang nyaris bisa disentuh.

Kirana melangkah masuk dengan langkah yang mantap, meskipun setiap sendinya terasa letih. Ia mengenakan setelan jas berwarna merah darah, sebuah pilihan warna yang tidak sengaja, melainkan pernyataan perang. Merah untuk keberanian, dan merah untuk peringatan bagi siapa pun yang mencoba mengusiknya.

Meski matanya masih sedikit sembab karena malam yang penuh gairah, air mata, dan pengakuan di rumahnya bersama Arka, ia tetap berdiri tegak. Di balik kemeja sutra gadingnya, liontin cincin perak pemberian Arka terasa dingin menyentuh kulit dadanya, menjadi satu-satunya sumber kekuatan rahasia yang ia miliki saat ini.

Di meja panjang mahoni itu, duduk enam orang pria tua, jajaran direksi senior yang selama ini menjadi sekutu setia Roy. Mereka menatap Kirana dengan pandangan merendahkan, seolah melihat seekor mangsa yang terluka dan tinggal menunggu waktu untuk diterkam habis.

"Nona Kirana," ujar Pak Gunawan, direktur operasional yang paling vokal dan licik. Ia merapikan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menghina. "Skandal penangkapan Roy semalam telah mencoreng wajah Nirmala Capital di mata publik. Saham kita anjlok 12% saat bursa dibuka pagi ini. Kami tidak bisa membiarkan seorang CEO yang terlibat dalam drama romansa berdarah dan skandal penculikan tetap memegang kendali. Kami menuntut pengunduran diri Anda, secara sukarela, sekarang juga."

Kirana meletakkan tabletnya di atas meja dengan suara dentuman yang sengaja dibuat keras, bergema di ruangan yang sunyi itu.

"Drama romansa? Roy mencoba menggelapkan dana perusahaan melalui firma cangkang dan mencoba menculik saya untuk menutupi jejaknya, Pak Gunawan. Jika ada yang harus mundur dari ruangan ini, itu adalah Anda semua yang selama ini dengan sengaja menutup mata atas jejak kotor Roy demi dividen tambahan di rekening pribadi kalian!"

"Tanpa bukti hukum yang sah, itu hanya fitnah seorang wanita yang sedang emosional, Nona," cemooh seorang direktur lain. "Dan tanpa dukungan investor besar yang kini mulai menarik diri, Anda hanyalah seorang ratu tanpa mahkota yang duduk di atas singgasana yang terbakar."

Tepat saat suasana mencapai titik didih dan Pak Gunawan hendak membacakan mosi tidak percaya, pintu ganda ruang rapat terbuka secara otomatis dengan suara desis hidrolik yang halus.

Langkah sepatu bot kulit yang berat dan mantap bergema di atas lantai marmer. Seluruh jajaran direksi menoleh serentak.

Arka Mahendra melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator yang baru saja memenangkan perburuan besar. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dipotong sangat tajam, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan bekas memar kebiruan di wajahnya justru menambah kesan maskulin yang berbahaya dan tak terbantahkan.

Kirana terpaku di kursinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu Arka akan datang ke kantornya, apalagi dengan gaya intimidasi seperti ini.

"Siapa Anda?! Ini rapat tertutup dewan direksi!" bentak Pak Gunawan, berdiri dengan wajah merah padam.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melemparkan sebuah map kulit hitam ke tengah meja hingga meluncur ke depan Pak Gunawan. Dion, yang berdiri di belakangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi, segera membagikan dokumen salinan kepada semua direktur yang hadir.

"Nama saya Arka Mahendra. Dan per jam delapan tadi pagi, saya telah resmi mengakuisisi 35% saham Nirmala Capital yang sebelumnya dikelola oleh firma-firma cangkang milik Roy di luar negeri," suara Arka berat, berwibawa, dan penuh otoritas, membuat seluruh ruangan hening seketika seolah oksigen baru saja disedot keluar.

Arka berjalan perlahan memutari meja, langkahnya seperti harimau yang sedang menginspeksi wilayah baru. Ia berhenti tepat di belakang kursi Kirana. Tanpa ragu, ia meletakkan tangannya di sandaran kursi Kirana, sebuah gerakan posesif yang sangat jelas, membuat para direksi tersentak kaget.

"Jadi, secara teknis, saya adalah pemegang saham mayoritas tunggal dan mitra strategis utama di ruangan ini," lanjut Arka, matanya menyapu wajah-wajah pucat di depannya. "Dan saya punya sedikit masalah dengan cara kalian berbicara pada CEO saya. Sangat... tidak profesional."

Kirana mendongak, menatap Arka dengan perasaan campur aduk antara rasa syukur yang luar biasa dan amarah karena privasinya kembali diintervensi. "Arka, apa yang kau lakukan? Kau membeli saham ini tanpa bicara sepatah kata pun padaku?"

Arka menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana hingga aroma maskulin dan parfum mahalnya kembali memabukkan indra wanita itu. "Aku bilang aku akan melindungimu, Kirana. Tapi aku tidak pernah bilang aku akan melakukannya dengan cara yang manis dan membosankan," bisiknya, cukup rendah hingga hanya Kirana yang bisa merasakan getaran suaranya.

Arka kembali menatap para direksi dengan tatapan maut. "Saya menuntut audit forensik menyeluruh terhadap setiap pengeluaran yang kalian setujui selama lima tahun terakhir. Jika saya menemukan satu rupiah pun, hanya satu yang mengalir ke rekening pribadi kalian melalui skema Roy, saya pastikan kalian tidak akan hanya kehilangan jabatan, tapi kalian akan berbagi sel yang sama dengan mentor kalian itu di penjara."

Wajah Pak Gunawan dan kawan-kawannya memucat seketika. Mereka yang tadi begitu berani menghujat Kirana, kini tertunduk lesu seperti ayam sayur yang kehilangan taji.

"Rapat selesai," ujar Arka dingin tanpa kompromi. "Keluar. Saya ingin bicara dengan CEO saya secara pribadi. Sekarang."

Begitu ruangan kosong dan pintu tertutup rapat, Kirana langsung berdiri dan berbalik menghadap Arka dengan mata berkilat. "Kau gila, Arka! Kau menjadikanku terlihat seperti wanita lemah yang harus 'dibeli' oleh kekasihnya sendiri! Sekarang semua orang di gedung ini akan mengira aku hanyalah bonekamu, bukan pemimpin yang mandiri!"

Arka justru tersenyum tipis, senyuman nakal dan penuh kemenangan yang selalu berhasil membuat Kirana gregetan setengah mati. "Lebih baik dikira boneka pemegang saham mayoritas daripada dikira boneka seorang narapidana licik seperti Roy, bukan? Setidaknya aku pemilik yang jauh lebih menyenangkan."

"Ini bukan lelucon, Arka Mahendra!" Kirana memukul dada Arka dengan kesal, namun Arka tidak bergeming.

Arka justru menangkap kedua tangan Kirana dengan cepat, menariknya hingga dada mereka bersentuhan erat. Suasana di ruang rapat yang luas itu mendadak berubah menjadi sangat panas, bermuatan seksual yang liar. Arka mendorong Kirana perlahan hingga punggung wanita itu menempel pada tepi meja rapat yang besar.

"Aku membelinya karena aku ingin kau memiliki kebebasan mutlak, Kirana. Aku tidak akan mencampuri satu pun keputusan bisnismu, tapi aku akan menjadi tembok baja yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun yang mencoba menjatuhkanmu dari belakang," ujar Arka, matanya menatap lekat ke bibir Kirana yang sedikit terbuka.

"Kau selalu punya cara untuk membuatku merasa berhutang budi padamu dengan cara yang paling menyebalkan," rintih Kirana, suaranya melemah saat tangan Arka mulai merayap di pinggangnya, menarik kemeja sutranya keluar dari rok span-nya dengan gerakan yang menuntut.

"Jangan anggap ini hutang budi. Anggap ini sebagai investasi..." Arka menunduk, mencium leher Kirana dengan gigitan kecil yang membuat Kirana mendesah pelan, sebuah suara kerentanan yang hanya bisa didengar oleh Arka. "...investasi untuk masa depan yang ingin kubangun bersamamu, di atas puing-puing musuh kita."

Di tengah kemesraan yang intens itu, Kirana tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mendorong bahu Arka sedikit dengan sisa logikanya. "Arka... pintunya... pintunya tidak terkunci. Sekretarisku bisa masuk kapan saja untuk mengantar dokumen."

"Biarkan saja mereka melihat," gumam Arka parau, sama sekali tidak peduli. Ia kembali mencium Kirana dengan lebih menuntut, tangannya mulai meremas lekuk tubuh Kirana. "Biarkan seluruh dunia tahu siapa pria yang memiliki ratu ini."

Kirana merasakan adrenalinnya terpacu hebat. Risiko ketahuan di kantor pusatnya sendiri memberikan sensasi yang berbeda, perpaduan antara rasa takut yang mendebarkan dan gairah yang liar. Ia menarik dasi Arka, membawa pria itu kembali ke dalam ciuman yang dalam. Di atas meja tempat keputusan bisnis jutaan dolar biasanya diambil, mereka justru merayakan kemenangan cinta yang penuh luka.

Namun, di puncak momen itu, ponsel Arka yang tergeletak di atas meja bergetar keras. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Arka melepaskan ciumannya sejenak dengan napas memburu, matanya melirik layar ponselnya yang menyala.

Pesan itu singkat, namun mematikan.

"Selamat atas akuisisinya, Arka. Tapi ingat, apa yang bisa dibeli dengan uang, bisa dihancurkan dengan satu peluru 7.62mm. Kirana tampak sangat cantik hari ini di balik jendela kaca itu."

Arka seketika membeku. Seluruh otot di tubuhnya menegang. Matanya menyapu sekeliling ruangan rapat yang berdinding kaca transparan itu, lalu tertuju pada gedung pencakar langit di seberang kantor yang memiliki jendela-jendela gelap yang mencurigakan.

"Ada apa, Arka? Kau membuatku takut," tanya Kirana yang menyadari perubahan raut wajah Arka yang tiba-tiba berubah menjadi pucat dan waspada.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan secepat kilat, ia merangkul pinggang Kirana, menariknya turun dari meja, dan membanting tubuh mereka berdua ke lantai, berlindung di balik meja mahoni yang tebal.

"Jauhi jendela! Merunduk!" teriak Arka.

Ia segera menekan tombol interkom di jam tangannya yang terhubung langsung ke Dion. "Dion! Sektor 4! Ada pengintai di gedung seberang, posisi atap atau lantai 40! Kirim tim penembak jitu kita sekarang! Code Black!"

Kirana gemetar hebat di pelukan Arka, ia mencoba merapikan kemejanya dengan tangan yang tidak stabil. "Apakah ini orang-orang Roy lagi?"

"Tidak. Roy tidak punya akses ke penembak jitu kelas profesional seperti ini," jawab Arka, matanya menatap tajam ke arah langit-langit, telinganya menajam mencari suara pecahnya kaca. "Sepertinya kita baru saja mengusik sarang lebah yang jauh lebih besar dan lebih gelap, Kirana. Akuisisi saham ini membuat orang-orang di belakang sindikat Roy merasa terancam. Mereka tidak lagi bermain drama... mereka bermain dengan nyawa."

Arka memeluk Kirana dari belakang, melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dengan sangat protektif, seolah-olah tubuhnya sendiri adalah tameng bagi Kirana. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun sendirian mulai detik ini. Kau dengar? Tidak ke toilet, tidak ke ruang rapat, tanpa pengawalanku."

Kirana mengangguk pelan dalam dekapan Arka. Ia menyadari sepenuhnya bahwa meski ia mulai membuka hatinya untuk pria ini, dunia di sekitar mereka justru menjadi semakin gelap dan mematikan. Cinta mereka bukan lagi sekadar urusan taruhan atau dendam masa lalu, melainkan sebuah perjuangan berdarah untuk bertahan hidup di tengah badai konspirasi yang baru saja dimulai.

Di luar jendela, awan mendung mulai menutupi langit Jakarta yang gerah, seolah menjadi pertanda alam bahwa hari-hari tenang mereka telah berakhir selamanya. Perang yang sesungguhnya baru saja dideklarasikan dengan satu pesan singkat.

...----------------...

Next Episode.....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!