Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu
...SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
Nara membuka matanya perlahan. Tangis semalam membuat tidurnya cukup lama dari biasanya.
Ia menguap kecil.
“Hoam…”
Pandangan Nara menyapu sekeliling kamar. Tubuhnya mendadak menegang ketika menyadari dirinya terbaring di atas kasur.
“Bukannya tadi malam aku ketiduran di lantai…?” gumamnya heran.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Nara menoleh ke arah jendela. Tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda seseorang masuk atau keluar.
“Apa aku tidur sambil jalan ya? Dan berakhir dikasur” batinnya, mencoba berpikir logis.
Ia menggeleng pelan. Tidak ingin larut dalam pikiran yang membuat kepalanya semakin berat. Nara bangkit, meraih handuk, lalu masuk ke kamar mandi.
Air dingin mengalir deras membasahi tubuhnya. Sensasinya menyegarkan, sedikit mengusir sisa-sisa lelah dan sesak di dada. Untuk beberapa saat, ia hanya memejamkan mata, membiarkan suara air menenangkan pikirannya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian sederhana, Nara melangkah ke dapur.
“Bun, masak apa?” tanyanya pelan.
Bunda Amara duduk di meja makan, menikmati sepiring nasi goreng dengan wajah datar.
“Kamu nggak lihat? saya makan nasi goreng,” jawabnya singkat. “kebetulan Bunda cuma masak satu porsi. Kamu bisa buat sendirikan?"
Nada sinis itu membuat senyum Nara meredup, tapi ia tetap berusaha tenang.
“Em… Nara makan di luar aja, Bun. Sekalian ke butik Bu Astri, mau jahit kain² Nara." ucapnya hati-hati.
“Ya sudah. Jangan pulang malam lagi,” sahut Bunda Amara tanpa menoleh.
Nara mengangguk kecil. Baginya, dibalas bicara saja sudah cukup. Ia meraih tas dan kunci motor, lalu keluar rumah.
Scoopy kesayangannya kembali ia gunakan. Angin pagi menyentuh wajahnya lembut, matahari belum terlalu terik. Di tengah jalan, Nara sempat tersenyum tipis, menikmati momen singkat tanpa beban.
Sesampainya di butik, langkahnya melambat. Bangunan itu tampak cantik dan rapi. Gaun-gaun pengantin tergantung anggun di etalase, disusul deretan dress dan pakaian formal lain yang terlihat mahal.
"bagus…” lirih Nara.
Sejenak ia berkhayal. Andai suatu hari ia punya toko sendiri. Toko kue miliknya. Tanpa harus berkeliling menawarkan pesanan hanya lewat ponsel.
“Nara?”
Suara itu membuatnya tersadar.
“Eh, Bu Astri,” ucap Nara sambil tersenyum.
“Tumben ke sini,” kata wanita paruh baya itu ramah.
“Iya, Bu. Saya mau kain-kain ini dijahit jadi dress sederhana tapi elegan. Ada beberapa style yang saya mau nanti nara kasih liat fotonya, bisakan, Bu?”
“Bisa dong,” jawab Bu Astri cepat. “Duduk dulu, atau mau lihat-lihat butik ibu?”
“emang boleh?” tanya Nara ragu. “Nara cuma lihat-lihat loh, nggak beli, lagi gak punya uang."
“Ya nggak apa-apa. Anggap saja butik sendiri,” ucap Bu Astri sambil tersenyum hangat.
Ia menatap Nara dengan lembut. Sifat gadis itu selalu mengingatkannya pada putri yang telah lama pergi. Ada rasa sayang yang tumbuh tanpa sadar.
“Nara masih jualan cake?” tanya Bu Astri saat mereka berjalan berkeliling.
“Iya, Bu. Kenapa emangnya?”
“Ibu kira kamu sudah berhenti. Siapa tahu mau kerja di butik ibu,” katanya sambil tertawa kecil.
Nara ikut tersenyum. “Ini sudah jadi hobi saya, Bu. Lagi pula cita-cita saya punya toko sendiri. Seperti butik ibu.”
“Semoga tercapai,” ucap Bu Astri tulus.
“Makasih, Bu.”
“Oh iya,” lanjut Bu Astri, “di depan sana, nggak jauh dari sini, kayanya lagi bangun toko baru”
“Toko apa ya, Bu?”
“Belum tahu.”
Nara mengangguk pelan. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit hangat mendengarnya.
“Bu, Nara pamit dulu ya. Mau sarapan di depan.”
“Iya, hati-hati.”
★★★
Nara memarkirkan motor Scoopy-nya dengan hati-hati. Karena tempat makan dan area parkir dipisahkan oleh jalan raya, maka ia harus menyeberang terlebih dahulu.
Matanya melirik ke kanan dan kiri. Setelah Jalannya terlihat cukup sepi. Dengan langkah cepat, Nara menyeberang, berniat segera mengisi perutnya. Bagaimanapun juga, kini ia tak sendirian. Anak di dalam kandungannya membutuhkan asupan yang cukup, terutama protein.
Namun, perhatiannya justru teralihkan pada sebuah bangunan besar di sebelah tempat makan itu.
“Oh… jadi ini toko baru yang Bu Astri bilang,” gumam Nara dengan mata berbinar, menatap pembangunan tersebut dengan kagum.
Bangunannya tampak megah, jauh dari kesan toko biasa.
“Besar banget… andai aja toko ini punya aku,” ucapnya lirih, lalu terkekeh kecil. “Haish....kayanya ajh kebanyakan berkhayal.”
Namun, senyum itu lenyap seketika.
Pandangan Nara membeku saat melihat sosok tinggi yang sangat ia kenal. Sosok yang membuat dadanya mengeras hanya dengan satu tatapan.
Raviel.
“Kenapa dia ada di sini?” gumam Nara pelan.
Refleks, ia menunduk dan menutupi sebagian wajahnya dengan tas. Jantungnya berdegup tidak teratur.
Di sisi lain, Raviel yang sedang memantau pembangunan toko itu langsung menangkap keberadaan gadisnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Tatapan dinginnya melunak saat melihat Nara berdiri tak jauh darinya.
Tanpa ragu, Raviel melangkah mendekat, langkahnya tenang namun pasti.
Namun Nara yang masih diliputi amarah dan kekecewaan memilih menghindar. Ia berbalik cepat, berniat menyeberang kembali dan mengambil motornya.
Saat itulah semuanya terjadi begitu cepat.
Sebuah motor dari arah berlawanan melaju dan tak sengaja menyerempet tubuh Nara.
“Akhh!” jerit Nara.
Tubuhnya terhempas ke aspal. Rasa nyeri langsung menjalar, terutama di bagian perut. Kram hebat membuat wajahnya meringis kesakitan.
Raviel yang menyaksikan kejadian itu sontak melotot. Tanpa memedulikan orang-orang yang mulai berkumpul, ia berlari menghampiri.
“Baby!” serunya panik.
Beberapa warga ikut mendekat, sebagian berbisik-bisik. Dari cara Raviel memeluk dan mengangkat tubuh Nara, mereka mengira pria itu adalah suaminya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Raviel dengan suara bergetar, tangannya gemetar saat menyentuh pipi Nara.
“Hiks… sakit…” rintih Nara pelan.
Tak lama kemudian, matanya terpejam. Tubuhnya melemas sepenuhnya.
Raviel membeku.
Ingatan tentang kandungan Nara menghantam kepalanya keras-keras.
“ETHAN!” teriak Raviel penuh amarah dan kepanikan. “BAWA MOBIL KE SINI, SEKARANG!”
Ethan yang berada tak jauh dari sana langsung berlari membuka pintu mobil bagian belakang.
“Ayo, Tuan,” ucapnya tergesa.
Raviel mengangkat tubuh Nara dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu bisa hancur hanya dengan satu gerakan salah.
“Tahan, Baby,” bisiknya dengan suara penuh penyesalan. “Aku akan bawa kamu ke rumah sakit.”
Setelah Nara dibaringkan di dalam mobil, Raviel masuk menyusul, matanya tak lepas dari wajah pucat gadis itu.
“Berangkat sekarang, Ethan,” perintahnya dingin namun tegas.
“Baik, Tuan.”
Mobil pun melaju meninggalkan lokasi, membawa kepanikan, rasa bersalah, dan konflik yang semakin membesar.