NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Perjalanan Malam ke Qingshui

Kuda hitam itu melaju di bawah langit malam tanpa bulan penuh. Bintang-bintang pucat memandangi mereka tanpa lelah, sementara angin membawa bau tanah basah bercampur rumput.

Li Shen duduk di tengah pelana. Tangan kanannya mantap memegang kendali, tangan kirinya melingkar di pinggang Hua’er yang duduk kaku di depannya. Di belakang, Lin Xiao memeluk Li Shen erat-erat. Tubuh remaja itu gemetar, entah karena dingin atau takut, tapi ia tidak bersuara.

Hua’er duduk terlalu tegak. Punggungnya lurus kaku, bahunya menegang, tangan mencengkeram pelana depan sampai buku jarinya memucat. Wajahnya panas, ia tahu, meski malam menyembunyikannya. Qi di tubuhnya stabil, bahkan selaras dengan Li Shen, tapi jarak yang terlampau dekat, membuat pikirannya tak tenang.

Li Shen sedikit mencondongkan tubuhnya. Suaranya rendah, tepat di dekat telinga Hua’er. “Jangan kaku. Kalau begini terus, kau bisa jatuh.”

Hua’er mendesis pelan. “Aku baik-baik saja.”

“Kau tidak terlihat begitu.”

“Itu karena kau terlalu dekat!”

Li Shen tersenyum tipis. Ia maju setengah jengkal lagi, dada menyentuh punggung Hua’er dengan jelas. “Kita tidak akan lama.”

Hua’er tersedak. Wajahnya semakin merah. “Berapa lama sampai Qingshui?”

Li Shen menatap ke depan, memperkirakan jarak. “Beberapa jam.”

Hua’er terdiam. Jalan dari Qingshui ke Jing’an dulu memakan hampir seminggu berjalan kaki. Jawaban itu terlalu singkat untuk dipercaya.

Kuda di bawah mereka bergerak tanpa suara berat. Langkahnya panjang, tubuh besarnya lentur, seakan tanah tidak benar-benar menahannya. Sejak pertama kali Li Shen menaikinya, ia sudah tahu, ini bukan kuda biasa.

Zirah hitam milik Mo Wuxie telah lama dilepaskan. Terlalu mencolok, terlalu mudah dikenali Tianyuan. Tanpa beban itu, kuda ini bergerak bebas. Ototnya bekerja tanpa getar berlebih, denyut qi di tubuhnya tenang. Membuat yang di punggungnya nyaman tanpa guncangan berarti.

Itulah binatang suci. Keturunan roh kuda liar dari padang Lianzhou, sebelum qi dunia rusak.

Pepohonan di sekitar mereka mundur cepat, berubah jadi kilasan bayangan. Angin semakin kencang, tapi tubuh Hua’er justru mulai mengendur. Panas tubuh Li Shen di punggungnya, aliran qi yang selaras, gerak kuda yang stabil, semua itu meredam kegelisahannya.

Li Shen melirik sekilas ke bawah. “Lin Xiao. Pegang lebih erat.”

“Baik,” jawab remaja itu cepat, lengannya mengencang.

Kuda hitam itu mempercepat langkahnya lagi.

Mereka tiba di Qingshui sebelum fajar.

Desa itu gelap dan sunyi. Rumah-rumah kayu tua berdiri rapat, ladang kering terbentang di pinggir, dan sungai kecil mengalir di sisi timur. Di kejauhan, lampu patroli Paviliun Tianlu berkelip dari arah bukit, tempat tambang qi baru dibuka.

Li Shen menatap sekeliling. Tidak banyak yang berubah.

Beberapa perempuan setengah baya duduk di teras rumah, terbangun oleh suara langkah kuda. Mereka menoleh, saling berbisik.

“Itu… Li Shen?”

“Siapa? Yang anak yatim piatu itu?”

“Sudah sebesar itu… .”

Li Shen tahu pandangan itu. Ia tidak asing di sini, hanya dulu tak pernah dianggap. Fana cacat, yatim-piatu, tidak berguna selain bekerja serabutan dan menghabiskan nasi basi.

Lin Xiao membawa mereka ke rumah kecil di ujung desa. Begitu pintu terbuka, seorang wanita berusia empat puluhan mematung sesaat, lalu memeluk remaja itu sambil menangis tersedu. Wajahnya lelah, matanya cekung.

“Xiao’er… kau kembali… . Wajahmu kenapa, Nak? Sudah, tidak perlu kembali ke kota itu lagi.”

Lin Xiao membalas pelukan itu, bahunya bergetar.

Setelah perkenalan singkat, mereka masuk ke kamar dalam. Seorang anak perempuan terbaring di atas kasur jerami. Usianya sekitar sepuluh tahun. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, batuk-batuk kecil disertai bercak darah. Qi di tubuhnya memang sedang bocor begitu parah.

Li Shen duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan mungil itu. Ia menahan kehendaknya, membiarkan alam mengalir sendiri. Meridian rusak sejak lahir, diperparah qi desa yang tercemar tambang.

Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke Hua’er dan ibu Lin Xiao. “Sumber qi terkuat di desa ini… ada di gua tambang lama. Tambang Batu Meridian Timur.”

Wajah sang ibu langsung runtuh. “Tidak. Jangan ke sana. Paviliun Tianlu menjaga tempat itu sekarang. Qi-nya melonjak. Para lelaki dipaksa bekerja hampir dua puluh empat jam.” Suaranya pecah. “Suamiku diperkerjakan di sana dan belum pulang berminggu-minggu.”

Lin Xiao ikut menangis meski ia tahan-tahan dengan terus menghapus air matanya. “Ayah yang menyuruhku pergi ke ibu kota… supaya aku tidak diseret ke tambang itu.”

Li Shen menatap mereka tenang. “Justru karena qi di sana kuat, itulah satu-satunya cara.” Ia menoleh ke Hua’er. Gadis itu mengangguk tanpa ragu.

Keheningan menyelimuti ruangan. Tangis tertahan, ketakutan, dan harapan bercampur jadi satu.

Li Shen berdiri. “Aku dan Hua’er masuk malam ini.” Ia menatap Lin Xiao. “Kau tetap di sini. Jaga ibu dan adikmu.”

Di luar, malam masih hitam seperti tinta. Patroli Paviliun bergerak di bukit dan gua yang dulu mengubur namanya, sedang menunggunya tuk kembali.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!