Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12: Sang Legenda yang Kembali
Suasana pagi di SMA Garuda terasa jauh lebih formal dan kaku dari biasanya. Langit mendung tipis memberikan nuansa serius pada gedung sekolah yang biasanya riuh itu. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan plat nomor khusus terparkir dengan anggun tepat di depan lobi utama. Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka, dan seorang pemuda turun dengan langkah yang penuh percaya diri. Ia mengenakan kemeja rapi yang dibalut almamater universitas ternama, melambangkan prestise yang sulit dicapai oleh orang biasa.
"Itu... Aji, kan? Si jenius yang loncat kelas tahun lalu?" bisik para siswa yang berjejer di koridor, mata mereka mengikuti setiap langkah pemuda itu.
Aji berjalan dengan ketenangan seorang pemenang. Di sekolah ini, namanya adalah legenda hidup. Saat masih duduk di bangku kelas XI, ia adalah ketua kelas asli di kelas unggulan, sebelum kecerdasannya yang melampaui rata-rata membawanya mendapatkan beasiswa akselerasi ke universitas terbaik di luar negeri. Namun, hanya sedikit yang tahu sebuah rahasia kecil; sebelum ia terbang melintasi benua, ia meninggalkan sebuah "titipan" yang sangat berharga pada teman dekat sekaligus sekutunya di sekolah, Wawan.
Saat Aji sampai di ambang pintu kelas XII IPA 1, langkahnya terhenti. Matanya langsung tertuju pada satu titik di tengah ruangan. Ia melihat Ella yang sedang asyik membaca buku referensi Teknologi informatika tebal tanpa kacamata hitam besarnya lagi. Senyum tipis yang penuh arti mengembang di wajah Aji. Ella yang ia lihat sekarang tampak jauh lebih bersinar daripada gadis pemalu yang ia tinggalkan setahun lalu.
"Ella!" Panggil Aji yang kini terdengar lebih berat dan dewasa memecah keheningan kelas.
Ella tersentak dan menoleh. Matanya berbinar seketika, sebuah ekspresi kegembiraan murni yang jarang ia tunjukkan. "Aji?!" Ella berdiri dengan cepat hingga kursinya sedikit berderit. "Kamu... kamu kapan pulang? Kenapa tidak memberi kabar sama sekali?"
Wawan, yang biasanya duduk bersandar santai sambil memainkan pulpen, langsung menegakkan punggungnya. Ekspresinya berubah drastis menjadi serius, matanya menyipit menatap sosok Aji. Ingatannya kembali pada sebuah percakapan rahasia setahun lalu sebelum Aji berangkat. Saat itu, Aji memegang bahunya dan berpesan: 'Wan, jaga Ella dari orang-orang yang suka menindasnya. Jangan biarkan dia sedih atau merasa sendirian. Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa aku percaya untuk ini.'
Wawan telah menjaga Ella dengan seluruh jiwanya, itu benar. Namun, ada satu hal yang tidak ada dalam "kontrak" perjanjian mereka: Wawan juga jatuh cinta pada Ella. Dan kehadiran Aji sekarang terasa seperti sebuah tagihan yang menuntut jawaban atas janji tersebut.
"Aku pulang untuk sebuah misi khusus, La," ucap Aji sambil melangkah masuk ke dalam kelas. Ia berjalan melewati Rizki yang duduk di barisan depan dengan rahang mengeras.
Rizki selalu merasa berada di bawah bayang-bayang Aji. Saat Aji pergi, Rizki memang mengambil alih posisi ketua kelas, namun ia sadar sepenuhnya bahwa ia tidak pernah bisa mengambil alih posisi "si jenius kesayangan" di mata para guru. Melihat Aji kembali dengan almamater bergengsi membuat ego Rizki terasa tersengat.
Aji mengabaikan tatapan dingin dari sekitarnya dan langsung meletakkan sebuah map kulit berwarna biru tua dengan logo universitas elit di atas meja Ella. "Aku sudah bicara panjang lebar dengan rektor di kampusku dan kepala sekolah di sini tadi pagi. Dengan nilai-nilaimu yang luar biasa konsisten dan predikat juara umum yang terus kamu pertahankan, aku merekomendasikanmu untuk masuk ke universitas tempatku belajar sekarang lewat jalur prestasi khusus."
Aji menatap Ella dengan pandangan yang mendalam. "Kita bisa belajar di kampus yang sama, Ella. Di lingkungan yang akan benar-benar menghargai kecerdasanmu, bukan di sini, di mana orang masih sibuk meributkan fisik atau status sosial."
Duar! Kata-kata itu meledak seperti petir di siang bolong bagi Rizki dan Wawan. Mereka berdua tersadar bahwa musuh paling nyata bukanlah persaingan antara "berandalan" dan "ketua kelas", melainkan masa depan Ella yang mungkin tidak melibatkan mereka berdua.
"Tunggu dulu, Ji," Wawan berdiri dari kursinya. Suaranya tidak lagi bercanda atau ugal-ugalan; suaranya rendah dan sarat akan proteksi. "Ella baru akan menempuh ujian nasional beberapa bulan lagi. Kenapa harus buru-buru membicarakan universitas luar negeri sekarang?"
Aji menoleh perlahan ke arah Wawan, menatapnya dengan pandangan menilai yang tenang namun tajam. "Kesempatan emas ini tidak datang dua kali, Wan. Universitas itu adalah tempat terbaik buat kapasitas otak selevel Ella. Bukannya dulu aku menitipkannya padamu supaya dia bisa berkembang dan tidak terhambat oleh lingkungan yang toxic ini? Tawaran ini adalah jalan keluar terbaik untuknya."
Rizki juga tidak tahan lagi hanya menjadi penonton. Ia menghampiri meja Ella, berdiri tegak dengan aura kepemimpinan yang ia miliki. "Ella punya hak penuh untuk memilih jalannya sendiri, Aji. Kamu tidak bisa datang tiba-tiba setelah setahun menghilang dan langsung mengatur masa depan orang lain seolah-olah kamu pemilik hidupnya."
Aji hanya tersenyum tenang, senyum yang menunjukkan tingkat kedewasaan yang berbeda dari remaja SMA lainnya. Ia menatap Rizki tepat di mata. "Aku tahu kamu adalah penggantiku sebagai ketua kelas, Rizki. Tapi coba pikirkan secara logis. Apa kamu bisa mengejar levelnya? Universitas itu memiliki syarat nilai rata-rata yang sangat tinggi dan standar seleksi yang brutal. Jika Ella menerima tawaran ini dan pergi ke sana, apa kalian berdua sanggup menyusulnya?"
Pertanyaan Aji menghantam telak di ulu hati mereka berdua. Aji melanjutkan dengan kalimat yang lebih menusuk. "Atau kalian hanya akan menjadi beban emosional yang menahan sayapnya untuk terbang tinggi? Cinta bukan tentang memenjarakan seseorang di tingkat yang sama denganmu hanya karena kamu takut ditinggal, bukan?"
Keheningan di kelas XII IPA 1 itu terasa sangat mencekam. Kata-kata Aji logis, namun sangat menyakitkan. Rizki tahu betul bahwa nilai matematikanya hanya berada di level rata-rata atlet. Wawan pun tahu, meskipun ia mulai belajar belakangan ini, ia masih lebih sering menghabiskan waktu memikirkan cara melindungi Ella daripada menghafal rumus.
Jika Ella menerima tawaran Aji, mereka tidak hanya akan kehilangan Ella karena jarak ribuan kilometer. Mereka akan kehilangan Ella karena perbedaan level dunia yang sudah sangat jauh. Ella akan berada di puncak menara gading intelektual, sementara mereka mungkin masih berkutat di koridor sekolah ini.
Ella menatap map biru di depannya dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia menatap Wawan—yang matanya menyiratkan luka mendalam dan ketakutan akan kehilangan—lalu menatap Rizki—yang wajahnya menunjukkan keputusasaan dan rasa rendah diri yang jarang muncul. Aji menawarkan masa depan yang cerah, kepastian, dan lingkungan yang setara dengan kecerdasannya. Sementara Wawan dan Rizki menawarkan hati yang tulus, namun terancam tertinggal di belakang karena keterbatasan mereka.
"Ayo ikut aku ke ruang guru sekarang, La. Kita harus segera menandatangani berkas persetujuan awal agar kuotanya tidak diambil orang lain," ajak Aji lembut sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Ella.
Wawan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri. Ia ingin berteriak melarang Ella pergi, namun ia teringat kata-kata Aji: Apakah aku hanya menjadi beban?
Rizki pun terdiam kaku. Ia menyadari bahwa lawan terberatnya kali ini bukanlah Wawan si berandalan, melainkan kenyataan pahit bahwa dirinya mungkin memang tidak cukup pantas atau cukup pintar untuk mendampingi masa depan Ella yang begitu gemilang.
Ella menatap tangan Aji yang terulur, lalu perlahan ia mendongak menatap wajah kedua pria yang selama setahun terakhir ini mewarnai hidupnya dengan suka dan duka. Di dalam kelas XII IPA 1 yang sunyi itu, sebuah keputusan besar sedang menunggu untuk dilahirkan—sebuah keputusan yang akan menentukan apakah Ella akan tetap menjadi "Cahaya yang Tersembunyi" di sekolah ini, atau menjadi cahaya yang terbang jauh meninggalkan semua kenangan di SMA Garuda.