NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DIBALIK SENYUM ARUMI.

Langit Maldives yang biru seketika berubah kelabu di mata Adam. Tanpa membuang waktu satu jam pun, ia menyeret koper mereka keluar dari villa mewah itu. Rencana makan malam romantis di bawah bintang-bintang menguap, digantikan oleh kobaran api amarah yang menuntut keadilan.

"Adam, pelan-pelan. Kau bisa jatuh," Aurel mencoba menenangkan suaminya saat mereka memasuki terminal bandara.

Adam menoleh dengan sorot mata yang masih tajam. "Kita tidak pulang ke Jakarta, Adel. Kita ke Surabaya. Sekarang."

"Tapi bagaimana dengan barang-barang kita yang lain? Dan tiket kepulangan awal?"

"Urus nanti. Aku tidak bisa membiarkan Mbak Arumi terus memuja pria bajingan itu di rumah, sementara suaminya sedang memadu kasih di surga dunia dengan wanita lain," jawab Adam tegas. Suaranya dingin, namun ada getaran luka di dalamnya.

Setelah menempuh perjalanan udara yang terasa sangat panjang, mereka tiba di depan rumah bergaya kolonial milik keluarga Adam di Surabaya. Arumi keluar dari pintu depan dengan senyum lebar, tangannya mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.

"Adam! Aurel! Kok sudah pulang?" seru Arumi gembira. Ia memeluk Aurel dengan erat. "Wah, pasti rindu masakan Mbak, ya? Padahal Mbak pikir kalian akan menghabiskan waktu dua minggu di sana. Maldives itu kan romantis sekali!"

Adam membeku di tempatnya. Melihat binar bahagia di mata kakaknya membuat lidahnya seolah kelu. Bagaimana mungkin ia menghancurkan binar itu dengan satu kalimat pahit?

"Iya, Mbak. Tiba-tiba ada urusan mendadak di A-Games yang tidak bisa ditinggal," Adam berbohong, matanya menghindari tatapan Arumi.

Arumi tertawa, tidak menyadari kegelisahan adiknya. "Dasar gila kerja! Masa bulan madu ditinggal demi gim. Ya sudah, ayo masuk. Mbak sudah masak rawon kesukaanmu."

Selama dua hari, Adam hidup dalam kegelisahan yang menyiksa. Setiap kali Irfan menelepon Arumi—yang tentu saja dengan alasan dinas di Balikpapan, Adam harus keluar ruangan karena tidak sanggup mendengar suara munafik kakak iparnya itu. Aurel berkali-kali memegang tangan Adam, memberi kekuatan secara diam-diam.

Pada sore hari kedua, saat mereka duduk di teras belakang sambil menikmati teh, Adam tidak bisa menahan diri lagi. Ia melihat Arumi sedang menjahit baju bayi kecil dengan wajah penuh kedamaian.

"Mbak..." panggil Adam lirih.

Arumi mendongak, tersenyum manis. "Kenapa, Dam? Mau tambah tehnya?"

"Adam melihat Mas Irfan di Maldives. Dua hari lalu," kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Adam.

Jarum di tangan Arumi terhenti. Ia tetap tersenyum, meski binar matanya sedikit meredup. "Kamu salah lihat mungkin, Dam. Mas Irfan di Balikpapan, dia kirim foto proyek tambang kok tiap pagi."

"Adam tidak salah lihat, Mbak," potong Adam cepat. Ia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto yang sempat ia ambil dari kejauhan sebelum konfrontasi itu terjadi. "Dia dengan wanita lain. Dia memeluknya, Mbak. Dia bahkan bilang pada wanita itu kalau dia sudah bercerai."

Hening seketika mencekam teras itu. Aurel menahan napas, menatap Arumi dengan rasa iba yang mendalam. Arumi mengambil ponsel Adam, menatap layar itu dengan saksama selama beberapa menit. Tidak ada teriakan, tidak ada tangis histeris. Hanya tangan Arumi yang perlahan gemetar hebat hingga ponsel itu diletakkan kembali ke meja.

"Oh," suara Arumi terdengar sangat kecil. "Jadi... ini alasannya dia sering ganti parfum belakangan ini."

Tepat saat matahari tenggelam, suara mobil terdengar memasuki halaman. Irfan Ardi melangkah masuk dengan wajah yang dibuat-buat lelah, membawa kantong plastik berisi oleh-oleh khas Kalimantan yang kemungkinan besar dibelinya di bandara.

"Sayang, aku pulang!" seru Irfan dengan nada ceria yang palsu.

Ia terhenti di ruang tamu saat melihat Adam dan Aurel berdiri di sana dengan wajah kaku. Irfan menelan ludah, ia tahu posisinya terancam. Namun, ia mencoba tetap tenang.

"Lho, Adam? Masih di sini?" tanya Irfan, mencoba bersikap biasa.

Arumi muncul dari arah dapur. Biasanya, ia akan langsung menyambut Irfan, mengambil tasnya, dan mencium tangannya dengan takzim. Namun kali ini, Arumi berdiri diam dengan jarak tiga meter. Tatapannya yang biasanya teduh, kini berubah sedingin es.

"Bagaimana Balikpapan, Mas? Panas?" tanya Arumi datar.

"Iya, lumayan melelahkan. Ini ada amplang untuk camilan kalian," Irfan menyodorkan kantong plastiknya.

Arumi berjalan mendekat, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Atau Maldives yang lebih panas, Mas? Sampai-sampai Mas harus melepas kacamata hitam karena kaget melihat Adam di sana?"

Wajah Irfan seketika pucat pasi. Ia melirik Adam dengan tatapan benci, namun Adam membalasnya dengan tatapan menantang. "Arumi, aku bisa jelaskan..."

"Tidak perlu, Mas. Adam sudah menjelaskan semuanya dengan bukti foto yang sangat jelas," Arumi memotong dengan suara yang sangat tenang, namun ketenangan itu justru lebih menakutkan daripada amarah.

Irfan menjatuhkan tasnya, ia mencoba meraih tangan Arumi. "Itu hanya khilaf, Arumi. Wanita itu yang menggodaku. Aku hanya bosan dengan rutinitas..."

"Bosan?" Arumi tertawa miris. "Aku mengurus anak kita, dan aku sedang hamil anakmu, Mas. Aku menjaga rumahmu, menjaga martabatmu. Dan kau bosan lalu mencari hiburan di tempat kita dulu berjanji untuk setia?"

Arumi menarik napas panjang, mengusap perutnya seolah memberi kekuatan pada janin di dalamnya. "Mas Irfan, aku menghormatimu sebagai imamku selama bertahun-tahun. Tapi seorang imam tidak akan meninggalkan makmumnya di tengah badai untuk berdansa dengan wanita lain."

"Arumi, tolong... maafkan aku. Aku akan memutuskan hubungan dengannya," mohon Irfan.

"Tidak perlu repot-repot," Arumi melangkah mundur. "Jika Mas memang sangat mencintainya, silahkan. Aku tidak akan melarangmu untuk menikahinya. Silahkan bawa dia ke hadapanku jika itu maumu."

Adam terkejut. "Mbak! Apa yang Mbak katakan?"

Arumi mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Adam diam. Ia kembali menatap Irfan. "Tapi ada satu syarat, Mas. Sebelum kau mengucapkan akad untuknya, ucapkanlah kata cerai untukku sekarang juga. Aku tidak ingin berbagi imam dengan pengkhianat. Pilihannya hanya dua: kau kehilangan dia, atau kau kehilangan aku, Raffa dan anak ini selamanya."

Irfan terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka istrinya yang lemah lembut bisa sekeras baja dalam mengambil keputusan. Adam berdiri di samping kakaknya, siap melindunginya jika Irfan berani berbuat kasar. Di tengah ruang tamu itu, sebuah keluarga yang tadinya tampak sempurna kini hancur berkeping-keping, meninggalkan Arumi yang berdiri tegak meski hatinya hancur, dan Adam yang menyadari bahwa terkadang, kedewasaan juga berarti berani melepaskan sesuatu yang sudah busuk.

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!