Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke rumah judi
"Hai tuan botak, aku sudah memenangkan uang ini, jadi kamu harus menyerahkan seluruh uang ada di meja." ucap Ling Xu-mei sembari tersenyum dengan begitu lebar. matanya menatap tajam tumpukan koin emas, beberapa tail emas perak.
Pemilik rumah judi menatap Ling Xu-mei dengan senyum penuh dengan kelicikan, kepala tak berambut licin seperti landasan pesawat terbang itu memperhatikan Ling Xu-mei dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku yakin kamu sudah berbuat curang kan? kamu sudah melakukan kejahatan." kata pria pemilik rumah judi, dia yang kalah taruhan begitu banyak itu tentu saja tidak akan mau menyerahkan uang hasil kemenangan yang didapatkan oleh Ling Xu-mei.
Beberapa kali dia menang dan seharusnya Ling Xu-mei mendapatkan banyak uang. "Hei botak kepalamu licin seperti landasan pesawat terbang, kalau bicara itu yang enak ya. Kamu kira aku penipu, Kamu kira aku ini pembohong. Aku itu sudah memenangkan begitu banyak uang, sekarang berikan padaku, aku mau pulang." kata Ling Xu-mei. dia kemudian menadahkan tangannya menatap si pria botak dengan penuh harapan dia akan mendapatkan uang dari hasil permainan judi itu.
Tapi sayangnya si pemilik rumah judi malah mengatakan kalau Ling Xu-mei sudah berbuat curang, dia tidak mau memberikan uang hasil kemenangan Ling Xu-mei. "Kamu itu curang, kamu tidak berhak mendapatkan uang ini." kata pemilik rumah judi.
Karena Kesal Ling Xu-mei kemudian menunjuk si pemilik rumah judi. "Hei kepala botak, kamu ini main curang ya aku sudah memenangkan taruhan ini, jadi berikan semua uangnya padaku!" ujar Ling Xu-mei yang kemudian menadahkan tangannya,
Si pemilik rumah judi malah kesal karena Ling Xu-mei terus meminta uang hasil kemenangannya. Pria itu kemudian meminta beberapa anak buahnya untuk menangkap Ling Xu-mei.
"Dasar kalian ini curang!" Ling Xu-mei melihat beberapa pria yang hendak menangkapnya dan Yura.
Yura panik, dia langsung memeluk tangan Ling Xu-mei dengan erat. "Bagaimana ini nyonya? kita akan diapakan?" kata Yura dengan suara gemetar.
"Jika mereka berani melakukan sesuatu padaku, lihat aja apa yang akan aku lakukan dengan mereka." ujar Ling Xu-mei.
Melihat tiga pria yang mendatanginya Ling Xu-mei kemudian mengambil kursi yang tadi dia duduki, Dia kemudian melempar kursi itu ke arah tiga pria yang hendak menangkapnya. "Cepat kabur!" Ling Xu-mei menarik tangan Yura, membawanya keluar dari rumah judi yang dipenuhi oleh orang.
"Jangan lari!" teriak anak buah pemilik rumah judi.
"Tidak lari? mau ditangkap ya? dasar bodoh! pakai otak kalian!" seru Ling Xu-mei yang berlari kencang.
Sedangkan Gu Yanzel yang melihat itu dia malah tersenyum. "Ternyata wanita ini benar-benar sudah berubah total, bahkan dia berani ke tempat judi dan menaklukkan beberapa pria."
"Kita cepat keluar dari sini!" seru Ling Xu-mei.
Yura nampak ketakutan, tangannya yang digenggam erat oleh Ling Xu-mei hanya bisa mengikuti ke mana majikannya itu mengajaknya berlari, hingga salah satu dari tiga anak buah pemilik rumah judi menghadangnya.
"Tenang, kamu di sini aku akan melawan mereka terlebih dahulu." ujar Ling Xu-mei yang kemudian langsung mengangkat salah satu kursi kemudian memukul kan kepada anak buah rumah judi.
Ling Xu-mei menghajarnya habis-habisan, menendang memukul menghajar bahkan tangannya yang terkenal lincah dan gesit itu mengambil barang-barang yang ada di tempat itu kemudian melempar ke arah tiga anak buah pemilik rumah judi. hal itu membuat ketiga pria yang dia hajar itu hanya bisa meraung kesakitan.
Gu Yanzel yang melihat itu dia hendak menolong namun sayangnya mungkin bantuannya tidak akan dibutuhkan, karena Ling Xu-mei sudah menghajar para pria itu dengan kekuatannya sendiri.
"Bonyok bonyok sekalian deh, wajah kalian itu pas-pasan jadi kalau sudah bonyok seperti ini mungkin seumur hidup kalian tidak akan laku." ejek Ling Xu-mei yang kemudian meninggalkan rumah judi.
Ling Xu-mei keluar dari rumah judi dengan senyum yang merekah, Yura yang melihat itu dia sedikit kebingungan, Yura menatap Ling Xu-mei dengan senyumnya yang sedikit aneh. "Ada apa nyonya?" tanya Yura.
Ling Xu-mei kemudian menunjukkan sesuatu di tangannya, sekantong uang yang tadi sempat diambil dari meja sebelum kabur meninggalkan rumah judi. "Taa.. da...,"
Langkah Ling Xu-mei mengendur, senyum riangnya menghilang seketika saat matanya menangkap pemandangan memilukan di depan toko kue kecil yang remang. Di sana, beberapa anak kecil dengan wajah lusuh dan mata yang penuh harap didorong kasar oleh pemilik toko yang tampak garang dan penuh amarah. Suara bentakan tajam menyayat udara malam, “Pergi dari sini!” Pemilik toko itu bahkan menendang salah satu anak yang mencoba meraih sepotong roti.
Tubuh mungil anak itu terpental, namun matanya tetap memohon, penuh luka dan keputusasaan. Ling Xu-mei menatap tajam, dadanya bergejolak antara kemarahan dan iba. Perlahan ia melangkah mendekat, napasnya berat namun matanya membara, siap melawan lagi demi anak-anak yang tak berdaya itu. Yura yang berjalan di sampingnya hanya bisa mengamati dengan wajah terkejut, menyadari bahwa malam yang semula penuh kemenangan berubah menjadi panggilan untuk melindungi yang lemah.
Bukk..
tanpa mengatakan apapun Ling Xu-mei langsung memberikan tendangan balasan kepada pemilik toko roti yang menendang beberapa anak kecil itu. "Tidak bisakah kamu bersikap baik kepada anak-anak ini?! beraninya kamu menendang mereka!" bentak Ling Xu-mei dengan suara yang begitu keras. dia dan Yura kemudian membantu 5 anak kecil itu.
"Lapar.. lapar kami lapar Kak..," ucap salah satu anak kecil sembari memegang perutnya yang barusan ditendang oleh pemilik toko roti.
"Dasar pencuri kecil, pergi dari sini!" seru pemilik toko yang kemudian hendak mengambil sapu untuk memukul anak-anak kecil itu.
Ling Xu-mei langsung merebut sapu itu kemudian mematahkannya. "Dengar ya, kalau kamu berani menyentuh mereka akan ku bunuh kamu, akan potong-potong tubuhmu setelah itu akan kuberikan kepada anjing!" ujar Ling Xu-mei yang kemudian mendorong tubuh si pemilik toko roti.
"Siapa kamu, beraninya kamu mendorongku!" si pemilik toko roti nampak marah. beberapa anak buah yang bekerja untuknya mendatangi pemilik toko roti.
Anak-anak itu Mereka terlihat begitu lusu dan tubuh mereka nampak sangat kotor. "Apa kalian lapar?" tanya Ling Xu-mei.
Anak-anak kecil itu menganggukkan kepalanya. "Iya Kak, kami lapar sudah beberapa hari kami tidak makan, kasihanilah kami, berikan kami makanan." pinta anak kecil perempuan yang berusia sekitar 5 tahun. wajahnya terlihat pucat dengan cekungan di bawah matanya.
"Jika kalian memberikan mereka makan, mereka akan terus meminta kepada kalian!" seru pemilik toko roti.
Ling Xu-mei tidak menghiraukan perkataan pemilik toko roti, tangannya nampak begitu lembut mengelus kepala beberapa bocah itu. Di dunianya dahulu dia adalah anak yatim piatu, dibesarkan di panti asuhan kemudian dibuang oleh orang tua angkatnya, hidup di jalanan membuat Ling Xu-mei menjadi gadis liar, gadis preman, gadis pencuri bahkan dia suka melakukan pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa.
"Jika kalian berani menyentuh mereka, akan patahkan tangan dan kaki kalian." ujar Ling Xu-mei.
pemilik toko roti itu memegang perutnya, perutnya yang barusan ditendang oleh Ling Xu-mei terlihat begitu sakit.
"Bungkus kan mereka makanan yang banyak, aku akan memberikan uang kepada kalian semua." Ling Xu-mei yang kemudian memberikan satu tael emas kepada pemilik toko kue, hal itu membuat pemilik toko kue langsung tersenyum mereka dan berubah menjadi ramah.
*Bersambung*
semangat berkaryaa