Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN YANG MEMUNCAK
Hari berikutnya, Qinara kembali ke rumah tempat dia tinggal bersama Bu Laras selama bertahun-tahun—rumah kecil dengan kebun bunga yang pernah mereka rawat bersama, tempat di mana mereka sering makan malam sambil berbicara tentang impian yayasan dan masa depan anak-anak yang akan mereka bantu. Udara pagi yang biasanya segar dan menyegarkan terasa berat di paru-parunya saat dia menginjakkan kaki di halaman yang sudah begitu akrab. Dia memegang tas kulit kecil yang berisi berkas-berkas penting yang telah dia susun dengan hati-hati selama berhari-hari, serta kotak kayu kecil yang selalu dia bawa kemana-mana—kotak pemberian ayahnya yang penuh dengan surat-surat dan kenangan berharga.
Dia berharap bisa mendapatkan dukungan dari Bu Laras, bisa menjelaskan semua yang dia temukan dengan tenang dan bersama-sama mereka bisa menyelidiki kebenaran yang tersembunyi. Tapi saat dia membuka pintu rumah tanpa mengetuk—seperti yang selalu dia lakukan selama bertahun-tahun—dia menemukan Bu Laras sedang menunggunya di ruang tamu. Wanita yang biasanya lembut dan penuh kasih sayang itu kini duduk dengan wajah kemerah-merahan marah, tangannya bergemetar di atas meja, dan mata yang biasanya hangat kini menyala dengan amarah yang luar biasa. Di mejanya ada tumpukan surat dan dokumen yang tampaknya telah dia baca berkali-kali.
"Qinara! Kamu masih berani datang ke sini setelah semua yang telah kamu lakukan?"
Teriakan Bu Laras terdengar sangat keras hingga membuat kaca jendela bergetar dan membuat burung-burung di kebun terbang terkejut. Suaranya yang biasanya lembut kini seperti guntur yang mengguncang seluruh rumah. Qinara terkejut mundur satu langkah, tas yang dia pegang hampir terjatuh dari tangannya.
"Bu Laras, tolong dengarkan aku sekali lagi. Aku memiliki bukti yang jelas bahwa ada kecurangan di dalam yayasan dan bahwa ayahku dibunuh—" Dia mencoba mengangkat tas yang berisi berkas-berkasnya, matanya penuh harapan bahwa Bu Laras akan mau melihat dan memahami.
"Tidak ada yang perlu aku dengar lagi!" teriak Bu Laras dengan mengangkat tangan dan memotong pembicaraan Qinara dengan keras. Dia berdiri dengan cepat, kursinya berbunyi bersandar saat menyentuh lantai. "Kamu telah menyebarkan kebohongan di mana-mana! Kamu menghubungi polisi, kejaksaan, bahkan beberapa donor utama yayasan! Kamu membuat nama baik yayasan dan semua orang yang bekerja di sana menjadi kotor! Kamu telah menghancurkan reputasi yang kita bangun dengan susah payah selama dua dekade lamanya!"
Air mata mulai mengumpul di sudut mata Qinara. Dia menggenggam tasnya lebih erat. "Tidak, itu bukan kebohongan! Ini adalah buktinya!" kata Qinara dengan suara bergetar, mengambil berkas-berkas yang telah dia susun rapi dan menunjukkan kepada Bu Laras. Di sana ada laporan keuangan yang dimanipulasi, bukti transfer dana ke rekening pribadi, dan catatan rahasia yang dia temukan di ruang arsip lama—catatan yang menunjukkan bahwa ayahnya telah mulai menyelidiki kecurangan skala besar beberapa bulan sebelum kematiannya.
Tetapi Bu Laras tidak mau melihatnya. Dia mengambil berkas dari tangannya dengan gerakan yang kasar dan tanpa berpikir dua kali, melemparkannya ke lantai. Kertas-kertas itu terbang ke segala arah, beberapa lembar bahkan terjatuh di dalam ember sampah yang ada di sudut ruangan. "Aku tidak ingin melihat omong kosongmu lagi!" seru Bu Laras dengan wajah yang memerah karena kemarahan. "Kamu telah menjadi beban bagi saya dan bagi seluruh yayasan! Kamu telah melupakan semua yang telah kami lakukan untukmu—kami yang mengasuhmu ketika kamu masih kecil dan kesepian setelah ayahmu pergi, kami yang membantu kamu memulai yayasan pertama, kami yang berdiri di sisimu saat semua orang meragukan kemampuanmu!"
Tangisan Qinara mulai terdengar. Dia membungkuk untuk mengumpulkan berkas-berkas yang terlempar ke lantai, tapi tangannya gemetar sehingga sulit untuk menjepit kertas-kertas yang sudah sedikit robek akibat benturan dengan lantai keras. "Bu Laras, saya tidak melupakan itu! Itu sebabnya saya harus melakukan ini—untuk melindungi yayasan dan anak-anak yang seharusnya mendapatkan bantuan! Saya tidak bisa membiarkan orang-orang yang salah mencuri uang yang seharusnya digunakan untuk membangun sekolah dan membeli buku pelajaran! Saya tidak bisa membiarkan mereka yang membunuh ayahmu terus berada di dalam yayasan dan merusak impian yang kita bangun bersama!" jawab Qinara dengan suara penuh emosi, air mata mengalir deras di wajahnya dan mencampuri debu yang menempel di kertas.
Namun, kata-katanya hanya membuat Bu Laras semakin marah. Dia mengambil sebuah foto bingkai dari atas meja—foto mereka berdua bersama di pembukaan Universitas Hadian beberapa tahun yang lalu—dan dengan kasar menolaknya ke atas meja hingga bingkainya sedikit retak. "Kamu tidak mengerti apa-apa!" teriak Bu Laras dengan berdiri tegak dan menunjuk ke arah pintu dengan jari yang tremor. "Kamu berpikir kamu tahu segalanya hanya karena menemukan beberapa kertas lama! Kamu tidak menyadari betapa banyak usaha yang telah kami lakukan untuk menjaga yayasan tetap berdiri, betapa sulitnya mencari dana dan menangani semua masalah yang muncul setiap hari! Dan kamu dengan seenaknya saja merusak semuanya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak terbukti!"
"Bu Laras, saya telah memverifikasi bukti ini berkali-kali! Ada nama-nama yang jelas tertera di sana—beberapa orang yang kamu percayai dengan penuh keyakinan!" kata Qinara dengan suara yang semakin kuat, meskipun hatinya merasa seperti sedang hancur berkeping-keping. Dia melihat ke arah foto yang bingkainya retak, merasa sakit hati melihat kenangan indah yang kini tergores oleh kemarahan.
Bu Laras menghela napas dalam-dalam, seolah mencoba menahan amarahnya, tapi matanya tetap menyala dengan kemarahan. "Kamu harus pergi dari sini sekarang juga! Aku tidak ingin melihatmu lagi di rumah ini atau di mana saja di sekitar yayasan! Kamu tidak lagi menjadi bagian dari keluarga ini atau dari yayasan Hadian! Semua hubungan kita telah selesai!"
Hati Qinara retak sepenuhnya saat mendengar kata-kata itu. Dia tidak bisa percaya bahwa orang yang telah menjadi ibu angkatnya selama lebih dari dua puluh tahun, orang yang telah mengelus kepalanya saat dia menangis karena merindukan ayahnya, orang yang telah berdiri di sisinya saat dia menghadapi rintangan-rintangan besar dalam membangun yayasan—bisa berkata seperti itu padanya. Dia berdiri dengan perlahan, masih menggenggam beberapa berkas yang berhasil dia kumpulkan. "Bu Laras, tolong jangan lakukan ini. Saya hanya ingin mencari kebenaran dan menyelamatkan yayasan yang kita cintai bersama! Saya hanya ingin memastikan bahwa ayahmu tidak mati dengan sia-sia!"
"Tidak ada yang bisa kamu selamatkan lagi! Kamu telah merusak segalanya!" teriak Bu Laras dengan mata penuh air mata kemarahan yang kini juga mulai mengalir di wajahnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan sebentar, kemudian melihat kembali ke arah Qinara dengan ekspresi yang penuh dengan rasa sakit dan kemarahan. "Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi!"
Qinara merasa sangat hancur dan tidak berdaya. Dia tidak punya kekuatan lagi untuk membantah atau meminta maaf. Dia hanya mengambil kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sudut ruang tamu—kotak kayu kecil yang telah mereka rawat bersama selama bertahun-tahun—dan memasukkannya ke dalam tasnya. Dia melihat ke arah Bu Laras dengan mata penuh kesedihan dan sedikit kemarahan, kemudian berjalan menuju pintu tanpa berkata apa-apa lagi. Setiap langkahnya terasa seperti membawa batu berat di kaki.
Saat dia membuka pintu dan akan keluar, Bu Laras berbicara lagi dengan suara yang dingin dan penuh kemarahan, tanpa melihat ke arahnya. "Dan jangan pernah menghubungi saya atau orang lain di yayasan lagi! Kamu sudah tidak punya hubungan lagi dengan kami! Semua yang kamu kerjakan hanyalah merusak impian yang kita bangun bersama!"
Qinara tidak menjawab. Dia keluar dari rumah dan menutup pintu dengan lembut, seolah takut akan merusak apa pun yang tersisa dari hubungan mereka. Dia berdiri di depan rumah yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun, melihat ke atas ke jendela ruang tamu di mana Bu Laras berdiri dengan wajah yang tertutup dan penuh dengan kesedihan. Hujan mulai turun dengan deras, tetesan air hujan yang dingin membasahi wajahnya yang penuh dengan air mata, menyatu dan menyembunyikannya. Dia membawa tas barang-barangnya yang tidak banyak dan kotak pemberian ayahnya yang berharga, kemudian berjalan perlahan menjauh dari rumah itu tanpa tahu harus pergi kemana.
Jalanan Jakarta yang biasanya ramai dan penuh dengan kehidupan terasa sunyi dan dingin baginya. Hujan membuat jalanan licin dan suram. Dia berjalan tanpa tujuan yang jelas, kaki nya terkadang tergelincir di genangan air. Kotak pemberian ayahnya terasa sangat berat di tangannya, bukan karena bobot fisiknya, tapi karena beban harapan dan kenangan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak punya uang banyak, tidak punya tempat tinggal lain, dan semua orang yang pernah dia percayai telah mengingkari dia. Tapi di tengah rasa sakit dan kehilangan yang luar biasa itu, ada sedikit nyala tekad yang tetap menyala di dalam hatinya—dia tidak akan menyerah sampai menemukan kebenaran tentang ayahnya dan membersihkan nama baik yayasan yang mereka bangun dengan susah payah.