NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Arkan dan Naura kembali ke SMA Pelita Bangsa saat matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat. Acara pensi masih berlangsung, namun suasananya sudah lebih santai karena sebagian besar pengisi acara sudah selesai tampil.

Begitu mobil Arkan memasuki gerbang sekolah, Bimo dan Rio yang sedang duduk di atas motor mereka langsung berdiri dengan mata melotot. Di samping mereka, Nadira sedang bersedekap dengan wajah yang menuntut penjelasan.

"Nah, ini dia aktor dan aktris utama kita!" seru Rio sambil berlari mendekati mobil bahkan sebelum Arkan mematikan mesin.

Naura menarik napas panjang, mengubah raut wajah dinginnya menjadi mode "Naura yang ceria namun sedikit malu-malu" dalam hitungan detik. Ia turun dari mobil dengan senyum canggung.

"Ya ampun, kalian dari mana aja?!" cecar Nadira langsung menghampiri Naura.

"Tiba-tiba ngilang setelah duet, Arkan narik lo kayak orang mau diculik, terus kalian baru balik sekarang? Baju kalian... kok berantakan gini?"

Bimo menyenggol lengan Arkan sambil nyengir lebar. "Gila lo, Kan. Gue tahu duet tadi emosional banget, tapi masa langsung dibawa kabur? Pajak jadiannya mana nih?"

Arkan hanya menatap Bimo dengan pandangan datar yang mematikan. "Tadi ada urusan mendadak. Ada orang mencurigakan di parkiran, gue cuma mastiin Naura aman."

"Halah, alasan klasik!" Rio tertawa kencang, menarik perhatian beberapa siswa lain.

"Bilang aja mau quality time berdua tanpa gangguan kita, kan? Ngaku lo!"

Naura tertawa renyah, berusaha mencairkan ketegangan. "Ih, kalian mikirnya kejauhan! Tadi itu... anu, kucing gue! Iya, Kak Najam tiba-tiba telepon bilang kucing gue lepas, jadi Arkan nganterin gue pulang sebentar buat nyari. Bener kan, Arkan?"

Naura melirik Arkan, memberi kode agar pria itu mengikuti alurnya. Arkan hanya berdehem singkat sebagai tanda setuju, meski dalam hati ia merasa alasan itu sangat konyol.

"Kucing?" Nadira menyipitkan mata, merasa ada yang janggal namun sulit dibuktikan. "Ya udah deh, yang penting kalian balik selamat. Tapi denger ya, gara-gara kalian ngilang, gosip di grup angkatan udah panas banget. Kalian dinobatkan jadi Best Couple Pensi tahun ini."

Wajah Naura memerah tentu saja akting, sementara Arkan merasa telinganya mulai panas. Di tengah kehebohan itu, Arkan menangkap pergerakan di lantai dua gedung sekolah. Seorang pria dengan headset tampak mengamati mereka dari balik jendela.

Arkan secara alami melangkah selangkah lebih maju, memposisikan dirinya di depan Naura untuk menghalangi garis pandang dari jendela tersebut.

"Udah sore, lebih baik kalian pulang," ujar Arkan memotong pembicaraan. "Gue bakal anter Naura balik ke rumahnya."

"Wih, protektif banget sekarang!" goda Bimo lagi. "Ya udah, kita duluan ya. Jangan lupa, besok ceritain detail 'pencarian kucing'-nya!"

Setelah Bimo, Rio, dan Nadira menjauh sambil berbisik-bisik jahil, suasana di antara Arkan dan Naura kembali menjadi kaku.

"Teknik yang bagus, Naura. Kucing?" sindir Arkan pelan sambil tetap waspada memantau sekitar.

"Itu hal pertama yang lewat di otak gue," balas Naura ketus, wajah cerianya menghilang seketika. "Sekarang apa? Lo mau nunggu di depan rumah gue sampai pagi?"

Arkan mengeluarkan ponselnya, memeriksa umpan kamera dari satelit yang baru saja dikirimkan oleh tim Sektor 7. "Sesuai perintah Komandan lo. Gue bakal pasang perimeter di sekitar rumah lo malam ini. Dan besok pagi, gue yang jemput lo ke sekolah."

Naura memutar bola matanya, namun ia tidak membantah. Ia tahu, di balik candaan Bimo dan Rio tadi, ada ancaman nyata yang sedang mengintai dari balik bayang-bayang sekolah mereka.

......................

Malam itu, kompleks perumahan Naura yang biasanya tenang berubah menjadi medan perburuan yang sunyi. Arkan tidak duduk diam di dalam mobil; ia bergerak seperti bayangan di antara pepohonan dan tembok tinggi rumah-rumah tetangga.

Arkan mengenakan pakaian taktis serba hitam dengan earpiece yang terus berkedip pelan. Melalui kacamata thermal yang ia gunakan, ia mendeteksi tiga sumber panas yang bergerak mendekati pagar belakang rumah Naura.

"Target terdeteksi. Sektor Barat. Tiga penyusup," bisik Arkan ke komunikatornya.

Tanpa suara, Arkan menyergap penyusup pertama dari belakang. Dengan satu gerakan cepat, ia mengunci leher lawan dan menekan titik sarafnya hingga pria itu pingsan seketika sebelum sempat mengeluarkan suara. Arkan meletakkan tubuh itu perlahan di balik semak.

Dua penyusup lainnya menyadari ada yang tidak beres. Salah satu dari mereka menarik belati, namun Arkan lebih cepat. Ia menangkis serangan itu dengan punggung tangannya, memutar lengan lawan hingga terdengar bunyi retakan pelan, dan menjatuhkannya ke tanah dengan satu hantaman lutut ke ulu hati.

Penyusup terakhir mencoba kabur menuju motor yang terparkir di ujung gang, namun sebuah peluru bius melesat tepat mengenai lehernya. Pria itu ambruk sebelum sempat menyalakan mesin.

"Area bersih," lapor Arkan datar sambil mengatur napasnya.

Tak lama kemudian, beberapa sosok muncul dari kegelapan. Mereka adalah anggota tim khusus dari Unit-X yang dipanggil Arkan.

"Kalian terlambat dua menit," tegur Arkan dingin kepada anak buahnya yang baru sampai.

"Maaf, Kapten. Kami harus menghindari kamera pengawas warga," jawab salah satu dari mereka.

Arkan menunjuk ke sekeliling kompleks. "Dengar. Mulai malam ini, gue mau kalian pasang perimeter melingkar di radius 500 meter dari rumah ini. Gue nggak mau ada tikus dari Black Ledger yang lewat tanpa ketahuan."

Arkan menatap satu per satu anak buahnya. "Gunakan penyamaran. Satu orang jadi tukang ojek pangkalan di depan gerbang kompleks, dua orang menyamar jadi petugas Satpam tambahan, dan satu orang jadi teknisi internet yang sedang perbaikan kabel di tiang listrik. Pastikan semua sensor gerak terhubung langsung ke ponsel gue."

"Siap, Kapten!"

"Dan satu lagi," Arkan menambahkan, suaranya merendah. "Jangan sampai Naura tahu kalian ada di sini. Kalau dia tahu dia sedang dikepung, dia bakal bertindak nekat. Gue yang akan urus bagian dalam, kalian urus bagian luar."

Setelah anak buahnya menyebar dan menghilang dalam kegelapan untuk memulai penyamaran mereka, Arkan kembali menatap jendela kamar Naura yang masih menyala. Ia melihat bayangan gadis itu sedang duduk di meja belajarnya, mungkin sedang meretas data atau sekadar membaca buku.

Arkan menyandarkan tubuhnya di tembok yang gelap, tetap terjaga. Di tangannya, ia memegang sebuah alat kecil pengacak sinyal yang ia sita dari penyusup tadi. Mereka sudah sangat dekat, pikir Arkan.

Keesokan paginya, suasana kembali normal setidaknya di mata warga. Namun bagi Arkan, setiap tukang sayur yang lewat dan setiap kurir paket yang masuk adalah bagian dari pion-pion dalam papan catur yang sedang ia mainkan untuk melindungi gadis itu.

......................

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden saat Naura melangkah keluar dari rumahnya. Ia mengenakan seragam SMA Pelita Bangsa yang rapi, lengkap dengan tas ransel kecilnya. Wajahnya berseri-basi, memancarkan aura "siswi teladan" yang sangat meyakinkan.

Di depan pagar, mobil Arkan sudah terparkir. Arkan berdiri bersandar pada pintu mobil dengan tangan bersedekap. Wajahnya sedatar biasanya, matanya yang tajam tertutup sebagian oleh kacamata hitam. Tidak ada satu pun tanda di wajahnya yang menunjukkan bahwa semalam ia baru saja melumpuhkan tiga agen profesional di gang sebelah.

"Pagi, Arkan! Wah, beneran dijemput ya? Kamu tepat waktu banget!" seru Naura dengan nada ceria yang sedikit dibuat-buat, sengaja agar didengar oleh para tetangga.

Arkan hanya melirik jam tangannya tanpa mengubah ekspresi. "Masuk. Kita sudah telat lima menit."

Najam muncul dari balik pintu rumah sambil membawa cangkir kopi. Ia menatap Arkan dengan pandangan menyelidik yang dalam, menyadari ada "petugas keamanan" baru yang menyamar sebagai tukang ojek di ujung jalan. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Titip adik gue ya, Kan. Pastikan dia balik tanpa lecet."

"Selalu, Jam," jawab Arkan pendek.

......................

Sesampainya di sekolah, suasana koridor sudah ramai. Namun, perhatian siswa tidak lagi tertuju pada gosip duet Arkan dan Naura. Mereka sedang membicarakan sosok baru yang berdiri di depan ruang kepala sekolah.

Seorang gadis dengan rambut hitam lurus yang jatuh sempurna di bahunya berdiri diam. Ia mengenakan seragam dengan sangat rapi, namun auranya sangat berbeda. Jika Naura adalah matahari yang hangat (meski palsu), gadis ini adalah bongkahan es yang membeku.

"Itu Raisa, murid pindahan dari luar negeri katanya," bisik Nadira yang tiba-tiba muncul di samping Naura.

Naura memperhatikan gadis bernama Raisa itu. Insting agennya langsung berteriak. Cara Raisa berdiri, cara matanya memindai sekitar dengan efisien, dan gerakannya yang sangat terkontrol menunjukkan bahwa dia bukan siswi biasa.

Raisa menoleh, matanya bertemu dengan mata Arkan. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum. Hanya tatapan dingin yang saling mengunci selama beberapa detik sebelum Raisa membuang muka dan berjalan masuk ke kelas yang ternyata sama dengan mereka, XII-IPA 1.

Di dalam kelas, Raisa duduk di pojok belakang, tepat di seberang meja Arkan. Kehadirannya membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat. Bimo dan Rio yang biasanya berisik mencoba mendekat untuk menyapa, namun langsung mundur teratur setelah mendapat balasan tatapan tajam dari Raisa.

"Gila, itu cewek atau robot? Lebih dingin dari Arkan," bisik Rio pada Bimo.

Naura duduk di bangkunya, masih mempertahankan senyum cerianya, namun tangannya di bawah meja bergerak cepat memeriksa basis data melalui ponsel rahasianya.

"Raisa..." gumam Naura pelan.

Arkan, yang duduk tidak jauh dari sana, membuka buku catatannya. Di sudut halaman, ia menuliskan sesuatu yang hanya bisa dibaca olehnya: [Identitas Baru Terdeteksi: Kode Frost. Awasi pergerakan pukul 12.]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!