NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Kenaikan Kelas

🦋

Minggu-minggu menjelang ujian kenaikan kelas menjadi masa paling melelahkan bagi Nadira. Matanya sering memerah, kepalanya berdenyut, namun tangannya tak berhenti membuka halaman demi halaman buku.

Setiap jam istirahat, teman-temannya berkerumun di kantin, tertawa dan saling melempar cerita. Sementara itu Nadira duduk di bawah pohon depan perpustakaan, mencatat cepat, membaca ulang, menghafal, dan mengulangnya lagi.

Beberapa temannya sempat mendekat.

"Dira, ikut ke kantin yuk. Kamu dari tadi di sini terus," bujuk salah satu teman sekelasnya.

Nadira hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Nanti aja."

"Ujian masih lama kali."

Nadira menunduk lagi pada bukunya. "Bagi aku, nggak pernah lama."

Ia tahu dirinya harus lebih keras dari biasanya. Harus menang dari siapapun. Membuktikan sesuatu yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang.

Persaingan di kelas 8A sangat ketat. Semua murid ingin masuk SMA favorit. Semuanya belajar. Tapi Nadira… ia belajar dengan nyawa yang serasa setengahnya hilang.

Ia tidak belajar untuk dipuji teman. Ia tidak belajar untuk sekadar ranking. Ia belajar untuk bertahan.

Malam-malam sebelum ujian, Nadira selalu begadang. Lampu meja kecil itu menjadi satu-satunya saksi dedikasinya. Kertas berserakan, pensil tumpul, dan catatan penuh coretan.

Jam dinding berdetak pelan. Kadang menunjukkan pukul dua pagi, kadang hampir subuh.

"Sedikit lagi…" bisiknya pada diri sendiri.

Kadang Keenan menelpon, menanyakan apakah Nadira sudah makan, tapi Nadira tak menjawab. Ia menatap layar ponselnya lama, jantungnya berdenyut aneh.

Ia ingin menjawab. Ingin berkata bahwa ia lelah. Tapi ia takut kehilangan fokus dan lebih takut lagi pada rasa bersalah yang mulai menggerogoti karena hubungannya dengan Jaka juga sedang kacau.

Erwin pun semakin menjauh. Tatapannya kaku. Sapanya singkat. Fero sibuk dengan dunianya sendiri. Rumah itu tidak pernah benar-benar hangat. Dan entah kenapa, justru tekanan itulah yang membuat Nadira terus memaksa diri.

"Kalau bukan aku, siapa lagi yang membanggakan keluarga ini?" Itu yang ia tanamkan pada dirinya sendiri.

Dan setiap kali kepalanya hampir jatuh ke meja karena kantuk, kalimat itu kembali berdiri tegak di pikirannya.

***

Hari ujian pun tiba.

Nadira duduk paling depan, menatap kertas soal dengan mata yang tajam. Ia mengerjakan semuanya tanpa ragu. Tulisan tangannya cepat, rapi, dan teratur, seolah otaknya bergerak lebih dahulu daripada jarinya.

Beberapa siswa menoleh ke arahnya, melihat ketenangan yang tidak mereka miliki.

"Gila, dia cepet banget," bisik seseorang.

Nadira tidak mendengar. Atau tepatnya tidak mau mendengarkan ocehan mereka.

Setiap hari ujian terasa seperti medan perang kecil.

Ada hari di mana soal Matematika terasa seperti jebakan. Ada hari di mana Bahasa Inggris menguras fokusnya. Tapi Nadira tidak berhenti. Ia mengatur napas, mengingat catatannya, dan menjawab satu demi satu.

Teman-temannya mengeluh, beberapa menangis, beberapa tertawa gugup.

"Aduh, aku blank," keluh seorang siswi sambil memijat pelipis.

"Kalau aku nggak naik kelas, mati aku," sahut yang lain setengah bercanda.

Tapi Nadira… dia hanya diam. Fokus. Satu-satunya suara yang ia dengar adalah detak jantungnya yang berlari kencang.

Ketika matahari sudah di puncak dan jam ujian terakhir berakhir, Nadira berjalan keluar kelas dengan napas panjang. Tubuhnya lelah, tapi hatinya percaya dirinya sudah memberikan segalanya.

Ia berdiri di koridor sebentar, memejamkan mata.

"Sudah," bisiknya. "Aku sudah melakukan yang aku bisa."

***

Seminggu kemudian, pengumuman dibacakan.

Seluruh murid berkumpul di halaman. Suara bisik-bisik memenuhi udara.

"Kamu kira siapa yang peringkat satu?"

"Mungkin Miara… atau Anna…"

"Ah, bisa juga Nadira. Dia belajar terus soalnya."

Nadira berusaha tampak tenang. Tangannya dingin. Ia menyelipkan jari-jari ke balik rok seragamnya, menahan gemetar.

Ketua bidang akademik naik ke panggung, membawa kertas pengumuman.

"Dan peringkat pertama dengan nilai tertinggi di seluruh kelas 9… jatuh kepada..."

Nadira memejamkan mata.

“Nadira Chava, dari kelas 9A."

Ledakan tepuk tangan memenuhi lapangan. Beberapa teman menepuk bahu Nadira. Ada yang memeluk. Ada yang melompat-lompat kegirangan.

"Nadira! Keren banget kamu!"

"Pantes!"

"Gila, usaha kamu kebayar!"

Tapi Nadira hanya mengembuskan napas dalam-dalam. Seolah seluruh beban di bahunya runtuh serentak.

Ia melangkah ke panggung, menerima piagam dan piala. Cahaya matahari mengenai wajahnya, membuatnya terlihat lebih dewasa. Lebih kuat. Lebih hidup.

Saat turun panggung, ia tahu persis pada siapa ia ingin membagikan kabar bahagia itu pertama kali.

***

Sesampainya di rumah, Nadira langsung menghampiri kakeknya.

"Kek," Nadira mengelap keringat di dahinya. Suaranya sedikit bergetar karena antusias. "Dira dapat peringkat satu lagi."

Kakek Wiratama menatap cucunya dengan sorot bangga yang jarang muncul.

"Itu baru cucu kakek," ujarnya sambil tersenyum.

Nadira tersenyum lebar. Dadanya hangat. Pujian itu sederhana… tapi bagi Nadira, rasanya seperti emas.

"Ibu kamu pasti bangga," tambah Kakek pelan.

Kalimat itu membuat mata Nadira sedikit berkaca. Seluruh lelah, seluruh tekanan, seluruh malam tanpa tidur… semuanya terasa terbayar.

Tapi momen bahagia itu tidak bertahan lama.

Erwin pulang dengan wajah pucat, menenteng buku rapot. Ia mendapat peringkat 4 di kelas 9G, jauh dari prediksi dan jauh dari harapan orangtuanya.

Fero lebih buruk bahkan tidak masuk peringkat sama sekali.

Bude Riana tampak kesal, wajahnya muram seolah menelan ampas pahit.

"Kenapa peringkat kamu bisa turun?" suara Bude tajam pada Erwin. "Kamu kurang belajar!"

Erwin hanya diam, tangannya mengepal, matanya berair.

Melihat Nadira membawa piala ke ruang tengah membuat ekspresi Bude Riana semakin terdistorsi.

"Peringkat itu nggak penting," ucap Bude Riana sambil melirik sinis pada piala Nadira. "Yang penting itu bisa kerja dan nggak pemalas."

Nadira berhenti. Ia menoleh. Ada gejolak kecil yang muncul di dadanya sesuatu yang selama ini ia tahan.

"Itukan bagi Bude," jawab Nadira tenang tapi tajam. "Bagiku, peringkat itu penting. Apa Bude nggak tau kalau kecerdasan ibu itu bakal nurun ke anak-anaknya?"

Erwin menatap Nadira kaget. Kakek Wiratama mengerutkan alis. Dan Fero melongo.

Bude Riana menegakkan badan, suaranya meninggi. "Percuma cerdas kalau jelek! Jerawatan lagi!"

Ucapan itu seperti tamparan. Tapi Nadira tidak bergerak sedikit pun. Matanya menatap lurus, dingin, mengiris.

"Anak yang cerdas lahir dari ibu yang pintar, Bude," jawab Nadira perlahan. "Dan aku bangga memiliki ibu yang tidak kasar dan tidak meremehkan anak orang."

"Kamu menghina saya!* seru Bude Riana meledak.

"Dira nggak menghina Bude." Nadira tetap tegak. "Dira cuma bicara apa adanya."

Ruangan itu hening. Tegang. Badai kecil mulai berputar di antara mereka.

Erwin menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia melihat Nadira bukan sebagai gadis pendiam, tapi seseorang yang berani.

Fero menunduk, wajahnya panas oleh rasa kalah.

Kakek Wiratama memijit pelipisnya, tidak menyela, tidak membela.

Nadira menggenggam piala dan piagamnya lebih erat, merasakan dinginnya logam di tangan.

Untuk pertama kalinya… Ia berdiri tegak melawan ketidakadilan dalam rumah itu. Untuk pertama kalinya ia tidak merendahkan diri, tidak diam, tidak pasrah.

Dan entah mengapa, di balik ketegangan dan kemarahan, ada secercah kecil rasa lega yang menyelinap dalam dadanya.

Hari itu, Nadira tidak hanya menjadi peringkat satu. Ia menjadi seseorang yang mulai berani membela dirinya sendiri.

Dan itu… jauh lebih besar dari sekadar angka di rapot.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!