Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Singkirkan foto itu dariku." Essa, menjauhkan ponsel Micha sambil memalingkan muka. Micha yang melihat itu merasa heran.
"Kamu kenapa Essa?"
"Wajahnya tidak mengenakan," ketusnya. "Aku sarankan kamu jangan terlalu menyukainya, tampangnya seperti wanita penggoda." Essa, berkata sambil mengibaskan telapak tangannya.
Eva dan Micha saling tatap, sebagai penggemar mereka tentu tidak setuju dengan cara pandangan Essa. Sejak kapan Heyra jadi penikung, Heyra bukan aktris penuh skandal pencapaiannya murni dari hasil kerja kerasnya, dan ia tidak pernah terlibat skandal sama siapapun kecuali sama seorang pria yang diyakini para fans jika itu kekasihnya.
Siapa lagi jika bukan Alex, Heyra selalu membagikan kebahagiaannya kepada para penggemarnya, salah satunya foto mesra dengan seorang lelaki yang tidak lain adalah Alex, hanya saja Heyra tidak pernah menampilkan wajah Alex, karena Alex melarangnya. Mereka dibuat penasaran dengan melihat setengah badan Alex, atau punggungnya saja.
"Heyra, bukan wanita seperti itu. Aku mengenalnya, dan aku pernah bertemu dengannya. Dia juga sangat ramah dengan para fansnya. Essa, kau jangan mempengaruhiku."
"Aku tidak mempengaruhi kalian, bagaimana jika ternyata dia menggoda suami orang."
"Hah! Itu tidak mungkin." Micha merasa kecewa. "Jika itu benar, aku tidak bisa bilang apa-apa. Karena aku pun sama."
Sontak bola mata Essa membulat sempurna. Eva terkekeh mendengar penuturan kata dari Micha. Apa yang Micha katakan itu benar, dia tidak bisa membenci idolanya hanya karena penggoda suami orang karena dirinya pun sama.
Karena sugar daddynya punya seorang istri.
"Yakk!" Essa mengumpat sambil berdiri, matanya mendelik tajam pada kedua sahabatnya. Ekspresinya sudah seperti akan menerkam mereka berdua.
"Kenapa kalian begitu menyukainya?" Essa sangat marah. "Tidak adakah artis yang kalian suka, jangan dia."
Eva dan Micha semakin tidak mengerti. "Memangnya kenapa?" tanya keduanya.
"Pokoknya aku membencinya. Kalian juga harus membencinya."
"Lah, Essa apa hubungannya denganku? Kenapa aku harus membencinya?" Micha tidak mengerti.
Essa semakin kesal dia pergi dengan marah meninggalkan lapangan. Eva dan Micha yang melihat itu bergegas menyusulnya.
"Essa, tunggu hey!"
"Essa, kau mau kemana?"
"Essa tunggu dong, jangan marah!"
"Essa!"
Bugh
Refleks Eva dan Micha menghentikan langkahnya, mulutnya cengar-cengir melihat seorang siswa yang mengusap darah dihidungnya karena tendangannya Essa.
Essa menendang?
Ya, tapi bukan menendang wajah siswa itu. Karena kesal Essa meluapkan amarahnya pada kaleng soda yang ada di bawah kakinya. Dengan kencang ia menendang kaleng itu hingga mengenai wajah seniornya.
Bagaimana dengan Essa?
Tentu saja dia sangat takut. Essa, melangkah mundur ketika kakak seniornya melirik tajam ke arahnya. Tubuhnya mentok di depan tubuh Micha dan Eva, mereka ikut ngeri melihat senior yang terkenal dingin, cuek dan galak.
"Essa kau melakukan kesalahan besar," bisik Eva.
"Bukan aku tapi kaleng itu yang menghantam wajahnya."
"Tapi kamu yang menendangnya bukan?"
"Suruh siapa kaleng itu ada di depanku."
"Astaga Essa, kau benar-benar mencari masalah. Kau tahu betul, kan senior satu itu dia gak kenal ampun. Dia tidak akan melepaskan seseorang yang sudah mengganggunya."
"Banyak anak baru, begitupun dengan adik kelas yang menderita karenanya."
"Maksud kalian?" tanya Essa dengan gemetar.
"Kau akan tahu sendiri Essa."
"Lihat, dia melangkah kesini, oh tidak ...." Micha menegang matanya melotot.
"Essa, maafkan kita ... kita tidak bisa menolongmu."
"Hei! Kalian mau kemana?"
Essa hanya pasrah ketika Eva dan Micha pergi. Semua orang pasti menghindari lelaki itu, Vano—namanya Reynard Elvano, salah senior yang paling ditakuti karena seorang anak pemilik yayasan. Semua yang dia lakukan buruk atau baik, tidak ada yang melarangnya. Seberapa banyak siswa yang jatuh karenanya, tidak akan ada yang peduli apalagi sampai menghukum lelaki itu.
Essa, menelan salivanya, langkahnya terus mundur ketika Vano semakin dekat kepadanya. Vano terlihat marah, hidungnya masih merah bekas darah tadi.
"Kau yang melempar ini?" tanya Vano, menjunjung botol kaleng minuman yang baru saja menghantam wajahnya.
Essa hanya nyengir, matanya melirik pada kaleng itu. Seketika matanya membola ketika tangan Vano berhasil meremas kaleng itu.
oh tidak, tenaganya ... apa dia juga akan meremas tubuhku. Dia akan menjadikanku seperti kaleng itu, jangan ...
"Apa masalahmu?"
Seketika tubuh Essa melemas, ia ingin segera lari tapi kemana, Vano ada di sekolah itu, kemana pun ia berlari pasti bertemu.
"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja aku tidak tahu botolnya melayang ke arahmu. Aku akan bayar kerugiannya, kita bisa pergi ke rumah sakit sekarang."
"O, ya?" Vano menatapnya dingin.
Lutut Essa, semakin melemas, kakinya sudah tidak bisa menahan yang mungkin sebentar lagi ambruk.
"Maaf, kak Vano tapi saya harus segera pergi."
"Pergi, ya? Kamu tidak akan bisa pergi." Ancaman Vano semakin menakutkan.
Namun, bukan Essa namanya jika tidak punya akal untuk kabur. Matanya terus melirik sekitar, idenya buntu tapi jalanan tidak buntu, Essa memberanikan diri untuk menatap Vano, dengan tegas ia berdiri lalu mendekat. Vano mengerutkan keningnya tapi tidak setelah Essa berbisik.
"Kak, resletingmu kebuka."
Wajah sangar Vano berubah menjadi merah, ia merasa dihina karena Essa, melihat reseleting celananya yang terbuka. Vano menunduk, untuk memeriksanya, tapi siapa sangka Essa menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Dan Vano, merasa kesal sudah ditipu.
"ESSA!" teriaknya menggema di sekitar lapangan.
Sementara Essa, nafasnya terengah-engah yang berlari ke dalam toilet. Larinya yang kencang mengejutkan semua siswa yang sedang berdandan di sana. Essa, tidak peduli yang langsung masuk ke dalam bilik toilet.
Essa duduk di atas kloset sambil menyandarkan punggungnya. Nafasnya terus diatur sampai ia bisa kembali tenang.
"Oh, sial kenapa jadi begini. Kenapa harus kak Vano, aku tidak mau berurusan dengannya."
Tanpa sengaja Essa mendengar pembicaraan di luar sana yang mengatakan jika Vano, baru saja menghukum siswa yang menumpahkan es bobanya.
"Vano dia itu sungguh kakak kelas yang mengerikan. Kalian tahu, anak baru yang menumpahkan jus waktu itu. Vano langsung memberikan pelajaran padanya."
Oh tidak, bagaimana dengan aku yang sudah membuat hidungnya berdarah.
Essa menjadi takut, jika Vano setega itu, lalu hukuman apa yang akan dia terima.
Essa dibuat pusing dengan urusan foto dan kaleng itu, sementara Alex, pria itu kini berbaring di atas sofa di ruangan kerja bosnya, Alex memasuki ruangan Darren setelah ikut meeting.
Sikapnya yang lemas itu mencuri perhatian Darren.
"Ada apa lagi? Apa Essa berulah lagi?"
"Ini lebih rumit," balas Alex.
"Apanya yang rumit?" Darren bertanya sambil melangkah ke arah sofa. Ia duduk di samping Alex, yang menatapnya.
"Bagaimana caranya meredakan amarah adik iparmu?"
"Kenapa Essa marah? Apa lagi kali ini?"
Alex, melirik pada Darren lalu bangun mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk tegak. Ia pun menjelaskan apa inti masalahnya. Seketika Darren tercengang, ia menjitak keningnya sendiri setelah mendengar curhatan Alex.
"Dari awal aku sudah bilang, agar membatalkan kerja sama tapi kamu menolak. Dan sekarang sudah terlambat Alex, Heyra sudah menjadi bagian Lucian Company, dia tidak akan pergi dengan mudah. Dan kamu harus menghadapinya setiap hari."
"Tapi aku tidak menyangka Heyra melakukan itu. Nanti aku akan bicara dengannya."
"Tapi ngomong-ngomong, adik iparku marah setelah melihat kamu dicium Heyra, itu pertanda bagus Alex." Darren menyeringai.
"Apanya yang bagus?"
"Ada kemungkinan Essa cemburu, yang artinya dia mulai menyukaimu."
Alex tertegun.
Apa benar? Tapi akhir-akhir ini Alex juga merasakan hal yang sama. Selalu kesal dan marah ketika diabaikan istri kecilnya.
Mungkinkah mereka sudah mulai jatuh cinta?
...----------------...
Jangan lupa like dan Votenya reader 🤗
Wajib Komen 👇
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.