NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah faham yang belum terurai

Hamka baru saja selesai mandi ketika layar ponsel nyala. Satu notifikasi masuk.

Naura : Udah mandi

Ia mendengus kecil, entah kenapa dada malah terasa lega.

Kebiasaan dia emang begitu,kalau nggak diingetin, bisa langsung ganti baju dan rebahan. Dan sialnya, gue hafal itu di luar kepala.

Hamka tak langsung membalasnya, pikirannya malah balik ke punggung kecil yang tadi ia lihat dari dekat, ke tangannya yang menurut melingkar di perut tanpa satu kata pun keluar.

Harusnya gue biasa aja. Harusnya.

Tapi kenyataannya, perhatian kecil itu keluar begitu aja, tanpa ia sadari kapan mulai peduli sedalam ini.

Jari Hamka akhirnya mengetik balasan singkat.

Bagus.

Cuma satu kata. Dingin. Standar.

Padahal di balik layar, ia nyengir tipis

Tak lama kemudian notif pesan dari nomer lain muncul .

Dari Helena.

Hamka melirik sekilas, lalu tanpa membaca isinya, ia melempar ponsel itu asal ke atas tempat tidur. Tak ada niat sedikit pun untuk membalas. Dadanya justru terasa makin sesak, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan tak kunjung dibereskan.

Sepertinya adik dari temannya itu semakin membuatnya risih. Bukan karena Helena melakukan kesalahan besar, tapi karena Hamka sadar—sikapnya sendiri yang sejak awal terlalu abu-abu. Terlalu diam, terlalu membiarkan.

Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. Sudah terlalu lama ia menunda. Terlalu lama membiarkan salah paham tumbuh tanpa arah.

Dan malam itu, Hamka tahu satu hal dengan pasti..ia harus segera meluruskan sesuatu yang sejak lama seharusnya ia selesaikan.

Hamka mengecek ponselnya beberapa kali, namun pesan dari Naura tak kunjung dibalas.

Apa dia udah tidur? gumamnya pelan.

Karena gabut, ia membuka WhatsApp dan mulai melihat satu per satu status teman-temannya. Hingga akhirnya netranya tertahan pada satu unggahan. Status dari Naura.

Sebuah foto secangkir teh hangat, dengan caption:

Teh nggak banyak tanya, tapi ia selalu ada.

Dada Hamka berdesir pelan. Tanpa banyak pikir, jarinya bergerak sendiri.

Hamka: Kaya gue dong.

Pesan itu terkirim.

Dan detik berikutnya terasa berjalan lebih lambat.

Hamka menatap layar ponsel, menunggu. Jantungnya berdebar tidak wajar, seperti anak SMA yang baru pertama kali menunggu balasan chat. Ia menghela napas kecil, mencoba bersikap biasa padahal nyatanya tidak sama sekali.

Sementara di lain tempat ,Naura masih sibuk dengan beberapa buku pelajaran untuk persiapan ulangan besok .Ponsel Naura yang semula tergeletak di samping bantal kembali menyala. Ia sempat mengernyit, mengira itu hanya notifikasi biasa. Namun ketika layar terbuka, nama Hamka terpampang di sana membalas statusnya.

Naura membaca komentarnya sekali.

Lalu dua kali.

Sudut bibirnya terangkat tanpa izin.

Ia menggigit bibir bawahnya sebentar, ragu. Jarinya sempat menggantung di atas layar, menimbang kata. Tak ingin terlihat terlalu senang, tapi juga tak ingin terdengar dingin.

Akhirnya, ia membalas.

Naura:

Pede banget 😏

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik kemudian, tanda online muncul di nama Hamka. Naura meletakkan ponsel ke dadanya, jantungnya berdetak pelan namun cepat. Ia menatap langit-langit kamar, merasa ada hangat lain yang tak berasal dari secangkir teh.

Sementara di sisi lain, Hamka menatap balasan itu dengan senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan. Malam itu terasa lebih hidup..hanya karena satu pesan singkat dari seseorang yang selama ini diam-diam menempati pikirannya.

***

Naura sedang menunduk, mengikat tali sepatunya di teras rumah, ketika suara motor berhenti tepat di luar gerbang. Ia mengangkat kepala, refleks mencari sosok yang belakangan sering muncul di pikirannya.

Namun itu bukan Hamka.

Naura menengok lebih jelas. Di sana berdiri Haikal, tersenyum ke arahnya dengan ekspresi yang sulit ia tebak.

Apa dia mau jemput gue? batin Naura penuh tanya.

Ia bangkit dan mendekat. Tanpa banyak kata, Haikal menyerahkan sebuah helm ke arahnya.

“Yuk,” ajaknya lembut.

Naura masih terdiam. Sikap Haikal benar-benar di luar dugaan, membuatnya tak langsung bereaksi. Melihat Naura yang masih mematung, Haikal pun mendekat dan dengan gerakan santai langsung memakaikan helm ke kepalanya.

Refleks, Naura memekik kecil.

“Kal...!”

Dan pada saat yang sama, suara motor lain terdengar dari samping rumah. Hamka keluar, menuntun motornya. Langkahnya terhenti sejenak ketika matanya menangkap pemandangan itu..Haikal berdiri terlalu dekat, tangannya masih di helm Naura.

Rahang Hamka mengeras. Tatapan matanya tajam, dingin, menyimpan sesuatu yang tak ia ucapkan. Namun bibirnya tetap terkatup rapat.

Tanpa sepatah kata pun, Hamka langsung menaiki motornya. Mesin meraung keras sebelum akhirnya melesat pergi, meninggalkan Naura yang masih berdiri kaku, jantungnya berdetak tak karuan.

Naura menatap punggung Hamka yang menjauh, dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak sempat ia kejar .

Saat tiba di sekolah, Naura melangkah menyusuri koridor dengan perasaan yang belum sepenuhnya tenang. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian tadi pagi .Tatapan Hamka, kepergiannya yang tanpa kata, dan perasaan ganjil yang tak kunjung hilang.

Saat berbelok di ujung koridor, langkahnya terhenti.

Hamka.

Mereka berpapasan tepat di depan kelasnya, Naura refleks menoleh, berharap ada sapa, atau setidaknya tatapan singkat seperti biasa. Namun yang ia dapat justru sebaliknya. Hamka berjalan lurus melewatinya, wajahnya datar, matanya tak sedikit pun melirik.

“Semalem siapa ya yang bilang kalo dia kaya teh ?” gumam Naura pelan, hampir tak terdengar.

Hamka berhenti sejenak, lalu menoleh sekilas. Tatapannya dingin, asing.

“Gue tarik ucapan gue semalam ." ucap Hamka datar .Dingin.Kemudian ia melangkah pergi.

Naura terpaku. Kata-kata itu terasa lebih tajam dari yang seharusnya. Dadanya menghangat oleh kecewa yang datang tiba-tiba. Ia menatap punggung Hamka yang menjauh, langkahnya cepat seolah tak ingin terlibat apa pun lagi.

Meski pikirannya masih dikacaukan oleh sikap dingin Hamka, Naura tetap berusaha memaksa dirinya fokus. Ia menunduk, menatap lembar soal ulangan di hadapannya, mengisi setiap nomor satu per satu sambil menepis bayangan wajah Hamka yang terus muncul tanpa izin.

Sesekali ia menoleh ke samping. Sisi dan Lala tampak kebingungan, dahi mereka berkerut, wajahnya serunyam benang kusut. Pemandangan itu membuat Naura hampir tersenyum kecil, namun cepat ia tahan.

Waktu terus berjalan. Ketika akhirnya soal terakhir selesai ia kerjakan, Naura meletakkan pulpennya perlahan. Ia menghembuskan napas panjang, seolah baru saja keluar dari pusaran yang melelahkan. Setidaknya, di atas kertas ulangan itu, ia masih bisa mengendalikan sesuatu meski hatinya sedang tidak.

Saat bel istirahat berbunyi, Naura segera keluar dari kelas. Langkahnya dipercepat menuju lantai dua, ke kelas Hamka. Meski ragu, ada dorongan kuat di dadanya—ia merasa harus bicara dengan laki-laki itu, meluruskan sesuatu yang sejak kemarin menggantung.

Sesampainya di depan kelas Hamka, Naura celingukan. Pandangannya menyapu seisi ruangan, namun sosok yang ia cari tak juga terlihat.

“Cari Hamka ya?”

Suara itu membuat Naura menoleh. Edo baru saja datang, entah dari arah mana.

“Iya, Kak,” jawab Naura. “Dia di mana, ya?”

Edo menghela napas kecil sebelum menjawab, “Udah pulang. Tadi dapet telepon dari sekolahnya si Helena. Katanya dia jatuh waktu olahraga, tapi si Fariz lagi kontrol ke rumah sakit jadinya Hamka yang ke sana.”

Penjelasan itu terasa panjang, namun setiap katanya jatuh tepat di dada Naura.

Dadanya tiba-tiba sesak.

Ternyata… masih tentang Helena.

Naura menunduk, menertawakan dirinya sendiri dalam diam. Lalu untuk apa ia repot-repot datang ke sini? Untuk apa ia hampir menjelaskan tentang hubungannya dengan Haikal, tentang semua yang disalahpahami?

Langkahnya mundur perlahan.

Hampir saja ia melakukan sesuatu yang bodoh membuka hati pada seseorang yang ternyata masih berdiri di tempat yang sama.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!