Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Di tengah hiruk-pikuk ucapan selamat, Arumi sejenak berdiri menyendiri di tepi aula, memperhatikan lautan tamu yang hadir. Saat itulah, sebuah langkah kaki yang tenang mendekat. Mike berjalan pelan, berhenti tepat di belakang Arumi dengan segelas minuman di tangannya.
"Kau cantik sekali, Safa," ucap Mike dengan suara pelan yang sangat tenang.
Arumi tersentak. Tubuhnya menegang mendengar nama belakangnya disebut dengan nada seperti itu. Sejauh yang dia tahu, hanya Mike pria dari masa lalunya yang biasa memanggilnya dengan nama itu. Nama yang terasa seperti rahasia di antara mereka.
Mike melangkah maju, berdiri di samping Arumi. Matanya tidak menatap sang pengantin, melainkan tertuju pada Brian yang berada di kejauhan. Di sana, Brian tampak sedang berbincang serius dengan seorang tamu wanita cantik, terlihat sangat akrab hingga mengabaikan sekelilingnya.
"Kau tahu, menikahi pria tampan dan kaya raya seperti Brian Aditama memang sebuah keberuntungan besar," Mike menjeda kalimatnya, menyesap minumannya perlahan tanpa menoleh sedikit pun pada Arumi. "Tapi kau juga harus bersiap jika setelah ini kau akan menangis karena pengkhianatan nya."
Arumi mengeratkan pegangan pada buket bunganya. Ia mencoba mempertahankan senyum di wajahnya meski hatinya terusik. "Itu mungkin berlaku untukmu, Mike. Tapi tidak untuknya," jawab Arumi dengan nada tegas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Bibir Mike tertarik, membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan. Ia akhirnya menoleh, menatap Arumi dengan tatapan yang dalam. "Kita lihat saja nanti, Safa. Saat hari itu tiba, kau pasti akan datang mencari ku."
Suasana semakin tegang sebelum akhirnya Hendra, tangan kanan Aditama yang setia menyadari interaksi tersebut. Melihat nyonya mudanya tampak tidak nyaman, Hendra berjalan pelan namun pasti menghampiri mereka.
Hendra melangkah membelah kerumunan tamu dengan langkah tegap. Matanya yang tajam telah mengunci posisi Mike sejak pria itu mendekati Arumi. Begitu jaraknya cukup dekat, Hendra berdiri sedikit di depan Arumi, menciptakan pembatas yang halus namun jelas antara sang pengantin wanita dan Mike.
"Selamat malam, Tuan Mike," sapa Hendra dengan suara rendah namun berat, sembari membungkuk hormat sekilas. "Maaf mengganggu pembicaraan Anda, namun Tuan Brian sudah menunggu Nyonya Muda di meja utama untuk sesi foto keluarga besar."
Mike tidak langsung beranjak. Ia menurunkan gelasnya, menatap Hendra dengan senyum meremehkan. "Kau selalu tepat waktu, Hendra. Brian pasti membayar mu sangat mahal untuk menjadi bayangan Aditama."
Wajah Hendra tetap datar, tak sedikit pun terprovokasi. "Sudah menjadi tugas saya untuk memastikan kenyamanan Nyonya Muda, Tuan. Saya harap Anda mengerti."
Hendra kemudian menoleh ke arah Arumi, sorot matanya berubah menjadi lebih sopan. "Mari, Nyonya. Saya akan mengantar Anda kembali ke sisi Tuan Brian."
Arumi mengangguk pelan, merasa sedikit lega karena ketegangan yang diciptakan Mike baru saja diputus oleh kehadiran Hendra. Sebelum melangkah pergi, ia sempat melirik Mike untuk terakhir kalinya, pria itu masih berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata bahwa ramalannya tentang pengkhianatan Brian akan segera menjadi kenyataan.
"Ingat apa yang kukatakan, Safa," ucap Mike, cukup keras untuk didengar Arumi sebelum wanita itu menjauh.
Hendra tetap berada di belakang Arumi, jelas mendengar Mike bicara. Dia memastikan Mike tidak menyusul. Tangannya yang mengenakan sarung tangan hitam sesekali menyentuh alat komunikasi di telinganya, memberikan kode kepada penjaga lain untuk terus memantau pergerakan Mike selama sisa pesta berlangsung.
Sejak sesi foto keluarga dimulai, Arumi tampak lesu. Senyumnya terasa dipaksakan, dan ia berkali-kali menghindar secara halus dari sentuhan tangan Brian di pinggangnya. Brian menyadari perubahan sikap itu, ia mencoba tetap tenang dan bersabar, menjaga citra sempurna di depan kamera meskipun rahangnya sesekali mengeras.
Di tengah keheningan yang canggung itu, Dona berjalan menghampiri mereka dengan wajah cemberut.
"Kak Brian, apa kalian melihat Frans?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Tidak. Memangnya ke mana dia?" Arumi balik bertanya, mencoba mengalihkan suasana dari rasa tidak nyamannya sendiri.
"Aku juga tidak tahu! Tiba-tiba saja dia menghilang begitu saja," ucap Dona dengan nada kesal, matanya menyapu seisi aula mencari sosok asisten yang kaku itu.
Tak lama kemudian, seorang rekan bisnis penting mendekat. "Tuan Brian, boleh kami minta waktu sebentar untuk foto bersama?"
Brian mengangguk sopan. Ia berdiri dan melangkah agak menjauh dari Arumi untuk memenuhi permintaan koleganya. Melihat kursi di samping Arumi kosong, Dona langsung mendudukinya, menggantikan posisi kakaknya.
Tiba-tiba, Dona teringat sesuatu. "Kak Arumi," bisiknya sambil mencondongkan tubuh. "Kau kenal dengan wanita yang berdiri di sana?" Dona menunjuk dengan dagunya ke arah sudut ruangan.
Arumi menoleh, menatap sosok wanita cantik yang berdiri tak jauh dari kerumunan. "Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Arumi pura-pura penasaran.
"Hati-hati, Kak. Aku mencium bau-bau pelakor," ucap Dona dengan wajah yang sangat serius.
Arumi terdiam sejenak. Ia kembali menatap wanita itu, lalu tersenyum tipis meski hatinya mulai dirayapi rasa gelisah. "Biarkan saja jika memang kakakmu mau."
"Mimpi!" sahut Dona ketus. Ia mengibaskan rambut pirangnya yang bergelombang dengan gaya angkuh. "Tak akan kubiarkan ular keket itu mengganggu kalian. Akan ku pastikan dia tahu di mana tempatnya."
...***...
Setelah pesta pernikahan yang melelahkan itu berakhir, Brian membawa Arumi menuju kamar utama mereka untuk beristirahat. Namun, suasana di dalam kamar mewah itu terasa sunyi. Arumi masih enggan bersuara, sikapnya tetap dingin dan cuek, seolah Brian adalah orang asing yang tak terlihat.
Brian memperhatikan istrinya dari pantulan cermin. Ia berpikir keras, mencoba menebak apa yang membuat suasana hati Arumi memburuk. Hingga akhirnya, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Brian menyadari satu hal. Arumi sedang cemburu. Mungkin karena wanita di pesta tadi, atau mungkin karena ucapan Mike yang jelas dia sudah tahu karena diam-diam gaun pengantin Arumi terpasang alat penyadap.
Rasa gemas menyergap hati Brian melihat wajah ditekuk Arumi yang justru terlihat menggemaskan di matanya. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang istrinya.
"Sini, biarkan aku membantumu," bisik Brian lembut.
Dengan penuh kesabaran, jemari Brian mulai membuka satu per satu pengait gaun pengantin Arumi yang rumit. Begitu gaun itu mulai melonggar, Brian tak tahan untuk tidak mendaratkan kecupan-kecupan ringan di bahu mulus Arumi yang terbuka. Aroma parfum Arumi yang memabukkan membuatnya semakin tak ingin menjauh.
Meskipun Arumi masih tetap diam dan mematung, Brian bisa merasakan napas istrinya sedikit memberat. Ia memeluk Arumi dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menikmati momen intim mereka sebagai suami istri di tengah dinginnya sikap Arumi yang sedang merajuk.