NovelToon NovelToon
Bos Hyper Itu Mantanku

Bos Hyper Itu Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Kantor / CEO / Romantis / Mantan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kinamira

"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Lily menghela nafas kasar, pundaknya yang naik turun terlihat jelas, membuat Axton tersenyum puas melihatnya.

"Kau sudah gelisah? Sudah cemburu hm?" batin Axton semakin percaya diri.

"Ini belum apa-apa. Selanjutnya akan lebih menyenangkan, dan kau harus menyaksikannya," batin Axton kemudian melirik Aline yang sedang bertelepon.

"Hm, cepatlah," ucap Aline kemudian mengakhiri panggilan.

Aline menatap Axton dan tersenyum. "Pak sebentar lagi Daisy akan bergabung dengan kita."

"Hm," dehem Axton kemudian mendekat, memberikan kecupan lembut di telinga Aline.

Aline tersenyum malu-malu menerima ciuman itu.

"Kamu sangat wangi," puji Axton.

"Ah, Pak Axton bisa aja." Aline memejamkan mata, kala Axton memberikan ciuman lembut di leher Aline hingga bibirnya mengeluarkan lenguhan lembut.

Ciara diam memperhatikan, ia melirik ke arah Lily yang masih membelakangi, namun tubuhnya terlihat gemetar. Tangannya yang mengusap rambut ke belakang, jelas memperlihatkan ke gelisahan.

"Sungguh menarik. Sayangnya terlalu tau, dan ikut campur itu tidak baik," ucap Ciara mengedikkan bahu, bersikap acuh tak acuh meski rasa penasarannya cukup tinggi.

"Melayani Pak Axton adalah pekerjaan utama," batin Ciara kemudian mendekat, menarik lembut wajah Axton agar menatapnya dan mempertemukan bibir mereka.

Axton tidak menolak, ia membalas, sembari menatap Lily dengan penuh kepuasan.

"Kau masih mencintaiku, itulah yang terjadi, dan sudah seharusnya. Tapi, pengkhianat tetap pengkhianat, kau akan mendapatkan balasannya," batin Axton kemudian meremas kuat dada Ciara membuat wanita itu melenguh.

Lily memejamkan mata, tangannya mengepal. "Aku ingin pergi, aku tidak tahan mendengarnya," batinnya.

Bersamaan dengan itu, suara langkah dari dua arah terdengar.

"Hay! Aku datang!" seruan Daisy yang berlari kecil terdengar, membuat kegiatan Axton terhenti, menatap satu wanita lainnya datang.

Di sisi lain, Vina dan Rania datang menarik alat kebersihan mereka, dengan mulut terkatup rapat, menghampiri Lily.

"Lily, kenapa diam saja?" sahut Vina berbisik sembari menyentuh pundak Lily, membuat Lily tersentak.

"Ah, anu. Em, tidak apa," sahut Lily dengan nafas yang masih terasa berat.

Sementara Rania menyapa. "Selamat pagi Pak Bu."

"Iya Pagi," jawab Ciara ramah, sementara yang lainnya hanya diam menatap.

"Maaf Pak, kami belum selesai membersihkan lantai ini. Ini ...," Rania tidak melanjutkan ucapannya, setelah berpikir ucapannya akan salah.

"Tidak apa. Lanjutkan saja, tapi ..., jangan sampai menganggu kesenanganku!" ucap Axton penuh penekanan.

Lanjutkan, tapi jangan menganggu. Dua kalimat yang jelas menegaskan, meminta mereka tetap di sana, layaknya penonton atas apa yang mereka lakukan.

"Em, baik pak," jawab Rania.

"Ayo lanjutkan," sahut Rania pada Lily dan Vina.

Lily menghela nafas kasar, hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawabannya.

Lily kembali menggerakkan pelnya membasahi lantai putih yang bernoda itu.

"Dia jelas ingin mempermainkan perasaanku. Baiklah, aku terima. Meski sulit, aku pasti bisa! Dengan begini, sisa cinta itu akan sirna. Ini jauh lebih menguntungkan," batin Lily mulai mempersiapkan mental dan hatinya.

Menit demi menit berlalu. Suara lenguhan, dan kulit yang saling bertabrakan terdengar jelas memenuhi ruangan, hingga suara pel dan alat kebersihan lainnya, bukanlah tandingan suara itu.

Mata tidak menjadi saksi, namun telinga Lily menangkap setiap detik suara itu, dan terekam dalam benaknya.

"Au, Pak Axton pelan-pelan."

Suara-suara itu, membuat hatinya terjadi kekacauan, membuat Lily beberapa kali harus menghela nafas, agar bisa mengontrol tubuhnya.

Sementara Axton, mulutnya lebih banyak diam, meski tubuhnya terus bergerak seirama, namun matanya lebih sering memperhatikan ke arah Lily. Ingin menyaksikan setiap ekspresi Lily yang jauh lebih menimbulkan kepuasan.

Ciara yang juga diam-diam memperhatikan hanya tersenyum dengan dugaan yang semakin yakin.

"Pak Axton biasanya akan bicara penuh rayuan, dan pujian, tapi hari ini dia diam, karena mata dan setengah pikirannya fokus pada Lily," batin Ciara.

"Ini jelas cinta lama," batin Ciara menduga, sembari tetap fokus melayani.

Setelah beberapa menit berlalu, permainan itu selesai. Axton menjatuhkan tubuhnya di sofa, lalu merapikan celananya.

"Ah, Pak Axton, anda benar-benar kuat. Padahal ada Ciara dan Aline, tapi aku masih sedikit kewalahan. Tapi, ini sangat menyenangkan," ucap Daisy sembari merapikan pakaiannya.

"Aku juga. Pinggangku agak sakit," keluh Aline namun bibirnya menampakkan senyum.

"Aduh, kalian ini. Ini belum seberapa. Kalian harus lebih kuat lagi. Harus belajar lebih giat lagi. Agar pasangan kalian, bisa lebih puas nantinya," ucap Axton santai, namun membuat Lily yang mendengarnya langsung merasa mual, namun berusaha menahan diri.

"Ah, tidak juga Pak, kalau bukan Pak Axton, aku tidak akan pernah merasakan kepuasan. Suamiku terlalu payah," ucap Daisy dengan blak-blakan.

Lily yang semula berusaha menahan diri. Merasa isi perutnya bersiap keluar. Ia langsung berlari masuk ke ruangan yang merupakan toilet.

"Hah? Apa-apaan itu? Apa dia meledekku?" sahut Daisy yang tampak tak suka, seolah tau, Lily mual karena ucapannya.

"Ya mungkin menganggap kamu murahan karena punya suami, tapi tidur dengan pria lain," celetuk Aline santai, kemudian mengibaskan rambutnya dengan santai.

Daisy mendelik. "Apa bedanya denganmu, sudah punya tunangan," balasnya.

"Jelas beda, tunangan itu belum milik resmi," balas Aline santai.

"Kau!"

"Ekhm!" Daisy ingin protes, namun suara deheman Axton membuatnya mengatup mulutnya.

Axton bangkit dari duduknya, tanpa mengatakan apapun, ia mengambil langkah menuju toilet dan masuk begitu saja di ruangan itu.

Apa yang dilakukan Axton jelas membuat para wanita itu melongo, kecuali Ciara yang justru tersenyum dan tenang.

"Oh, Rania apa menurutmu, Lily akan langsung jadi wakil ketua kita?" bisik Vani menatap ke arah pintu dengan jantung berdebar.

"Hm, sepertinya akan begitu," ucap Rania berbisik.

"Huhu, aku yang janda ini, kapan bisa merasakan sentuhan Pak Axton juga," sahut Vani dengan bibir cemberut.

"Hm, aku juga penasaran. Sudah beberapa kali jadi penonton, dan itu terus membuat bunga ku berkedut ingin juga," tambah Rania yang juga terbegong terus menatap ke arah pintu.

"Saat ini saja rahimku ikut hangat," timpal Vani yang semakin menjadi-jadi.

Keduanya yang berpikiran liar. Lain dengan Daisy dan Aline yang tampak kesal.

"Ternyata saingan kita akan bertambah," gerutu Aline.

"Pantas saja dia berani bersikap begitu. Ternyata tau, kalau Pak Axton juga meliriknya," timpal Daisy mendengkus kesal, memperhatikan pintu yang masih tertutup rapat.

Sementara itu di dalam toilet, setelah memuntahkan isi perutnya. Lily menyalakan air, membiarkan, muntahnya itu tersapu di dalam wastafel.

Lily membasuh wajahnya, bersamaan dengan itu, Axton mencuci tangannya di wastafel sebelahnya.

"Hamil hm?" celetuk Axton membuat Lily sontak mengangkat kepalanya.

Lily menatap Axton dengan tajam melalui pantulan cermin. "Gila! Aku belum menikah!" umpatnya.

Axton tertawa sinis, dan berucap, "Melahirkan anak pertamamu itu, memangnya kamu sudah menikah?"

Ucapan yang membuat Lily diam, dan menoleh menatap Axton langsung.

Axton tersenyum santai, tangannya menarik beberapa lembar tisu dan mengusap tangannya, dengan santai berucap. "Jangan sok suci Lily. Kamu pun hamil di luar nikah. Kamu ...."

Axton menatap Lily, lalu mendekat, hingga wajah keduanya hanya tersisa beberapa sentimeter saja. "Kamu bahkan sangat hebat bermain, dan aku masih sangat ingat, bagaimana kamu bergoyang liar di atasku," ucap Axton penuh penekanan.

Kalimat tajam yang menusuk hati, membuat bola mata Lily berkaca-kaca.

Namun, Axton seolah tak menggubris. Ia melangkah mundur, dengan lambaian tangan, dan pergi begitu saja.

Genangan di pelupuk mata, jatuh membasahi pipi Lily, "Mulai detik ini, di sini hanya ada benci Axton!" ucap Lily menunjuk dadanya.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
teka teki nya masih terbungkus rapat, kek nasi uduk karet dua🤣🤣🤣🤣
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gemeesshh sama lily, ga mau jujurrrr
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
see maria.. masih yakin kah kamu yg ada di hati axton😒🤭
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
yg ada lily tambah jijik ax liat kamu sama ciwik2 murahan itu😒
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
rencana mu salah ax.. pertama2 tuh cari tau ada apa dgn lily di masa lalu, kedua singkirkan manusia yg kt nya ayah mu itu, karena dy biang korek eehh kerok nya😒 baru kamu kejar lagi cinta lily, bukan kamu yg memaksa lily utk tunduk sama kamu 😤😤😤
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
teka teki baru😓
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
iisshhh lanjut ga thooorr 😒🔨🔨🔨🔨
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
ada apa dgn klrga axton n masa lalu axton lily ya🤔
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
wkwkkk.. poor chloe.. senjata makan tuan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih bertanya-tanya, siapa leon🤔
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
apa ini ya, kok ambigu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!