Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANGUN, LIHATLAH BAGAIMANA AKU MENGUASAINYA.
Setelah gairah yang membara itu mereda, suasana kamar kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas yang perlahan teratur. Harvey melepaskan pelukannya, bangkit dari tempat tidur tanpa sepatah kata pun. Ia memungut jubah mandinya, lalu menatap Melisa yang masih terbaring lemas dengan rambut berantakan dan tatapan kosong ke langit-langit.
Ada kilat kepuasan di mata Harvey, namun juga ada kegelapan yang tak terbaca. Ia merasa telah menang telak pagi ini—ia telah membuktikan bahwa ia bisa membuat Melisa terhanyut meski wanita itu mencoba menolaknya dengan kata-kata paling tajam sekalipun.
"Bersihkan dirimu," ujar Harvey dingin sambil mengenakan jam tangan mewahnya. "Aku ada pertemuan dengan tim dokter spesialis Narendra satu jam lagi. Aku akan ke rumah sakit sekarang."
Melisa tersentak mendengar nama suaminya disebut. Rasa nikmat yang baru saja ia rasakan seketika menguap, berganti dengan rasa mual yang luar biasa terhadap dirinya sendiri.
"Kau... kau pergi tanpaku?" tanya Melisa parau.
Harvey mengenakan jasnya, merapikan kerah di depan cermin besar. Ia menoleh sedikit, memberikan senyum sinis yang menyakitkan. "Ya. Aku ingin memastikan pengobatannya tetap berjalan lancar. Lagipula, melihat matamu yang sembab dan bibirmu yang bengkak karena aku... kurasa bukan ide yang baik jika kau bertemu suamimu sekarang. Kau tidak ingin dia melihat 'bekas' sentuhanku di sekujur tubuhmu, bukan?"
Melisa mencengkeram sprei, air matanya kembali luruh. Harvey benar-benar tahu cara menghancurkan mentalnya. Pria itu memberikan kenikmatan surgawi hanya untuk menjatuhkannya kembali ke neraka kenyataan yang paling pahit.
"Aku akan meninggalkan kunci cadangan dan pengawal di depan pintu. Jangan coba-coba pergi ke mana pun sampai aku kembali," tambah Harvey. Ia melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak. "Dan ingat, Melisa... setiap detik napas yang Narendra ambil di sana adalah karena aku mengizinkannya. Tetaplah menjadi wanita yang patuh."
Blam!
Pintu kamar tertutup dengan dentuman yang menggema. Melisa meringkuk, memeluk lututnya di tengah ranjang yang masih hangat oleh kehadiran Harvey. Ia merasa kotor. Di saat ia baru saja merasakan kenikmatan di pelukan Harvey, pria itu kini pergi menemui suaminya seolah-olah ia adalah malaikat pelindung, padahal ia adalah sosok yang sedang menghancurkan pernikahan mereka perlahan-lahan.
**
Setibanya di rumah sakit, Harvey melangkah menyusuri lorong VIP dengan wibawa seorang dokter yang disegani. Namun, di balik jas putihnya, detak jantungnya tidak stabil. Ada ego yang menuntut kepuasan lebih dari sekadar fisik; ia ingin melihat pria yang masih memiliki hati Melisa itu hancur dalam ketidakberdayaannya.
Harvey memasuki ruang ICU yang dingin. Bunyi electrocardiogram (EKG) yang monoton menyambutnya. Di sana, Narendra terbaring kaku dengan berbagai selang yang menopang hidupnya.
Harvey mendekat, menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Narendra. Bau antiseptik menyengat indra penciumannya.
"Kau tahu, Narendra?" bisik Harvey, suaranya rendah dan penuh racun. "Melisa baru saja menangis. Tapi bukan karena merindukanmu. Dia menangis karena ia tidak bisa menolak sentuhanku. Rasanya luar biasa melihat istrimu yang suci itu akhirnya menyerah pada pria lain."
Mata Harvey menyipit, mencari tanda-tanda respons. "Bangunlah, jika kau memang merasa sebagai laki-laki. Lihatlah bagaimana aku menguasainya."
Tepat setelah kata-kata itu terlontar, keajaiban yang menyakitkan bagi Harvey terjadi. Jemari Narendra yang pucat bergerak sedikit. Garis di monitor EKG yang semula landai tiba-tiba melonjak naik, menciptakan bunyi peringatan yang lebih cepat.
Pip. Pip. Pip. Pip.
Narendra merespons. Bukan karena kesadaran yang pulih sepenuhnya, melainkan karena naluri seorang suami yang merasa miliknya sedang dilecehkan. Napas Narendra yang dibantu ventilator mulai memburu, tubuhnya menunjukkan tanda-tanda penolakan terhadap kondisi komanya.
Sebagai pria yang menginginkan Melisa sepenuhnya, Harvey ingin sekali mencabut selang oksigen itu dan mengakhiri semuanya. Namun, sebagai dokter spesialis terbaik, sumpah medisnya berteriak di kepala. Jika Narendra mati sekarang, Melisa akan membencinya selamanya dan menjadikannya martir cinta.
"Sial," umpat Harvey pelan.
Egonya bergejolak. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus menyelamatkan pria yang ingin ia singkirkan. Harvey segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat, lalu ia sendiri mulai melakukan pemeriksaan pupil dan mengatur ulang dosis obat penenang melalui infuse pump.
Beberapa menit kemudian, tim dokter lainnya masuk ke ruangan. Harvey berdiri di sisi tempat tidur, kembali menjadi sosok dokter yang profesional dan dingin.
"Ada aktivitas saraf yang signifikan secara tiba-tiba," lapor seorang asisten dokter dengan nada antusias. "Ini kemajuan luar biasa, Dokter Harvey. Seolah-olah ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk kembali."
Harvey hanya mengangguk kaku, tangannya terkepal di dalam saku jas. "Ya. Dia sedang berjuang."
Dalam hatinya, Harvey bersumpah: Jika kau bangun, Narendra, kau hanya akan terbangun untuk melihat dunia di mana Melisa bukan lagi milikmu. Aku akan memastikan kau hidup cukup lama hanya untuk menyaksikan kekalahanmu sendiri.
***
Bersambung