Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Langkah kaki rombongan guru terdengar selaras di koridor rumah sakit yang sepi, menciptakan gema tipis di antara aroma antiseptik yang tajam. Di barisan paling depan, Aksa berjalan dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ada beban yang lebih berat dari sekedar rasa simpati yang ia bawa di pundaknya saat mereka berhenti di depan pintu kamar Lusi.
Bagi teman-teman mungkin saja itu bentuk solidaritas rekan kerja. Namun, bagi Aksa yang ia lakukan ini seperti pengkhianatan terhadap Dini.
"Pak Aksa, ketuk pintunya" ucap Vera karena Aksa hanya diam terpaku.
Aksa mengetuk pintu tapi lama sekali tidak ada jawaban, kemudian masuk begitu saja. "Lusi ternyata tidak ada di ruangan ini" Aksa kaget. Tadi pagi ketika mengantar Lusi di rawat di ruangan itu.
Aksa minta teman-temannya menunggu di ruang tunggu kemudian menemui dokter. Dia tanyakan di mana Lusi dan keadaannya.
Dokter menarik napas panjang, terasa berat untuk menyampaikan kepada Aksa. Tampak ada penyakit serius yang bersarang di tubuh Lusi.
"Ada apa, Dok? Lusi sakit apa?" Desak Aksa ingin segera tahu.
"Mbak Lusi di pindahkan ke ruang ICU," dokter Budi menceritakan bahwa Lusi mengalami gagal ginjal stadium akhir.
Aksa menyandarkan punggungnya di kursi depan dokter Budi. Bukan manusia jika ia tidak merasakan sedih. Selama ini ia memang tidak pernah mencintai Lusi, tapi mereka cukup dekat. Setiap ada kegiatan sekolah mereka partner.
"Anda suaminya?" Dokter Budi memberi tahu bahwa saat ini Lusi membutuhkan keluarga yang bisa menemani setiap saat.
"Bukan Dok, kami hanya teman kerja. Kalau begitu saya segera mencari keluarganya," Aksa membuka pintu ruangan dokter lalu menyeret kakinya yang terasa lemas menemui teman-temannya.
Begitu tiba di dekat teman-teman, mereka semua berdiri dan bertanya tentang kondisi Lusi.
"Lusi menderita sakit ginjal, Bu," Aksa menceritakan apa yang disampaikan dokter Budi kepada teman-temannya. Kesedihan muncul di wajah para guru, ngeri dan mengucap Istigfar. Pantas saja selama ini Lusi sering kali mengeluh sakit pinggang.
"Bapak sama Ibu ada yang tahu keluarga Lusi?" Aksa ingin segera mengabarkan kepada keluarganya. Lusi butuh bantuan keluarga agar ada yang menemani secara khusus.
"Saya tidak tahu" Anjani menggeleng.
"Saya juga tidak tahu," Vera pun menceritakan, jika Lusi tidak pernah menceritakan tentang keluarganya.
Semua menjawab tidak tahu hingga ruang tunggu yang awalnya sepi menjadi ramai walaupun masih dalam batas suara pelan.
"Nanti kita tanyakan teman-teman kita yang tidak ikut menjenguk," Anjani memberi usul.
Teman-teman Aksa boleh menjenguk Lusi, tapi secara bergantian, kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Sementara Aksa berdiri mematung di depan pintu rumah mbah Ambar. Sebenarnya ia lelah sejak pagi sama sekali belum istirahat. Namun, karena rasa bersalahnya kepada Dini, Aksa langsung ke tempat itu ingin minta maaf kepada Dini agar masalahnya cepat selesai.
Aksa mengetuk pintu hingga beberapa sata pintu pun terbuka, menampakkan sosok Dini dengan mata yang masih sembab.
"Dini," Suara Aksa terdengar parau. "Boleh aku masuk sebentar?"
Dini tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri bersandar di kusen pintu, melipat tangan di dada dengan ekpresi datar. "Jadi menjenguk Bu Lusi?" Tanya gadis itu pada akhirnya.
Aksa mengangguk pelan. "Iya, dari sana tadi aku langsung kemari. Aku tidak tenang kalau kita masih begini." Aksa maju mendekati Dini. "Maafkan aku untuk siang tadi yang tidak bisa menahan emosi." Lanjutnya.
Dini menghela napas panjang, ada kekecewaan yang tersirat di matanya. Namun, setelah ia pikir-pikir sikapnya kepada Aksa sudah keterlaluan. Apa lagi melihat kelelahan di wajah Aksa. "Masuk Pak, saya buat kan minum dulu," Dini masuk lebih dulu diikuti Aksa.
"Kok sepi, Tante Ratna sama mbah Ambar kemana?"
"Ibu sudah kembali ke kota, Mbah sedang ada pengajian" jawabnya lalu meninggalkan Aksa tanpa menyuruh duduk.
Dini segera ke dapur membuat minuman yang dingin agar menghilangkan dahaga Aksa. Setelah selesai ia kembali ke ruang tamu. Dia berhenti sejenak ketika menatap Aksa yang bersandar di kursi dengan mata terpejam. Dini meletakkan jus buah di meja perlahan-lahan. Ia melihat kelelahan di wajah Aksa sebelum akhirnya membiarkan saja lalu beranjak hendak kembali ke dapur.
"Dini..."
Dini menoleh Aksa yang sudah posisi duduk tegak lurus. "Bapak ngantuk gitu, tidur saja dulu," Dini tidak mau mengganggunya.
"Nggak apa-apa, duduk sini Dini..." Aksa menepuk kursi di sebelahnya. Tetapi Dini memilih meletakkan bokongnya di depan Aksa yang di batasi meja kecil.
"Kamu sudah memaafkan aku?" Aksa sedikit lega melihat wajah Dini yang sudah cerita lagi.
"Dengan satu syarat," Dini menekan kata syarat. Jika Lusi sudah sehat nanti, Aksa tidak harus menurut saja ketika Lusi minta ditemani dan diantar ke mana saja seperti sebelumnya.
"Iya, aku janji," Aksa mengakui jika dirinya seperti tukang ojek gratis disuruh mengantar Lusi ke sana ke mari. Namun, ia melakukan itu sebenarnya hanya karena Lusi teman.
"Bu Lusi memang sakit apa, Pak?" Dini sampai lupa menanyakan masalah ini.
Aksa menarik napas dalam-dalam, ketika ingat kata dokter Budi. "Lusi menderita gagal ginjal stadium akhir, Dini," lirih Aksa. Gurat kecemasan pun muncul di wajah tampannya.
"Astagfirullah..." Dini tercengang, matanya tiba-tiba mengembun. Ada rasa sesal di hati karena telah cemburu buta, padahal Lusi sedang bertaruh nyawa karena penyakitnya. "Aku mau menjenguk bu Lusi, Pak," ucapnya lirih.
"Besok pulang sekolah aku antar kamu menjenguk."
Dini mengangguk, sebenarnya ia ingin menjenguk sekarang juga, tapi waktu sudah magrib. Lagi pula Aksa sudah kelelahan.
"Lalu siapa yang menemani Bu Lusi di rumah sakit, Pak" Dini ingat cerita Marini jika Lusi pendatang dari kota.
"Itulah Dini, sebenarnya kami ingin tanya alamatnya dan mencari keluarganya, tapi Lusi masih belum sadar."
Dini menunduk, rasa simpatinya kepada Lusi semakin besar. Sepasang kekasih itu pada akhirnya akur kembali. Setelah menghabiskan jus, Aksa pamit pulang.
.
Keesokan harinya, Dini sekolah seperti biasa bahkan mengikuti pelajaran ekstra hingga sore hari, kemudian berangkat ke rumah sakit ditemani Lestari dan juga Aksa. Dini berboncengan dengan Lestari mengikuti motor Aksa hingga tiba di rumah sakit.
"Dini... Karena sampai saat ini kami para guru belum bisa menemukan keluarga Lusi. Untuk itulah aku yang diminta teman-teman untuk mewakili sementera," jujur Aksa. Tentu saja hanya membantu Lusi ketika konsultasi kepada dokter, tapi minta izin Dini terlebih dahulu agar jangan sampai salah paham.
"Bukankah alamatnya ada di dokumen Pak, misalnya ktp, sim atau ijazah," Dini mengerutkan kening.
"Iya, tapi hanya tanggal lahir saja, Dini" Aksa sudah memeriksa data diri Lusi.
Dini mengangguk, ia buang ego, semua ini Aksa lakukan demi kemanusiaan.
Aksa minta Lestari menunggu di ruang tunggu, kemudian mengajak Dini ke ruang dokter Budi.
"Ini adiknya Pak Aksa?" Tanya dokter Budi menatap Dini.
"Saya muridnya Pak Aksa, Dok" Dini menjawab cepat.
"Oh" dokter manggut-manggut.
"Bagaimana kabar Lusi Dok?" Tanya Aksa pada intinya.
"Mbak Lusi membutuhkan donor darah secepatnya, Aksa," papar dokter Budi "Tetapi rumah sakit kami tidak mempunyai stok jenis golongan darah yang cocok untuk Lusi."
"Golongan darahnya apa Dok?" Aksa bingung juga.
Dokter Budi mengatakan jika golongan darah Lusi O+
"Kebetulan golongan darah saya sama, Dok" Aksa bertekat hendak mendonorkan darahnya.
...~Bersambung~...
atau jgn² lusi lg sekarat ,,kena penyakit mematikan atau ada apa sih jd penasaran 🤣🤣