Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Licik
Sudah hampir 10 menit, Danu menunggu Lucas di lobby Hotel Narendra. Kedatangannya kesini karena semalam Lucas menelpon, dan memintanya untuk bertemu.
Sepertinya Danu salah mengira, jika Lucas sudah tidak lagi sudi menjalankan bisnis bersamanya. Mengingat jika rencana pernikahan antara Selvi, dan Rendra sudah dibatalkan secara sepihak oleh Rendra sendiri. Dan membuat Lucas sangat marah, bahkan hampir menarik semua sahamnya dari Perusahaan Wilson.
Tapi kenapa Lucas tiba-tiba saja memintanya untuk bertemu di Hotel Narendra?
Apa ini masih tentang masalah rencana pernikahan anak-anak mereka?
Atau ada hal lain, yang ingin Lucas bicarakan dengannya?
Entah, Danu sama sekali tidak bisa menebak apa isi pikiran Lucas saat ini.
Sejenak Danu meregangkan otot-ototnya, yang terasa kaku karena sudah lama menunggu. Kedua matanya melihat dekorasi Hotel Narendra, yang benar-benar sangat mewah, elegan, dan berkelas.
Sejujurnya ia masih terobsesi untuk merebut Hotel Narendra dari tangan Lucas. Namun sayang, rencana itu harus berakhir gagal di tengah jalan, karena Rendra menolak menikah dengan Selvi.
"Huff!" Danu menghela napas kasar, memikirkan bagaimana cara ia bisa mengendalikan Rendra, seperti dulu lagi. Jika ancaman sudah tidak lagi mempan, kenapa Danu tidak menggunakan tindakan nyata, yang mungkin akan membuat Rendra tunduk di hadapannya lagi.
"Danu!" suara Lucas yang baru saja datang membuat Danu mengalihkan pikirannya, dan menatap Lucas yang berjalan mendekatinya.
Lucas tersenyum ramah, duduk di sofa depan Danu, "Aku minta maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama."
"No problem, Lucas. Jadi ada urusan apa kau ingin menemui ku?" tanya Danu.
"Oke, kita langsung ke intinya saja. Aku ingin pernikahan Rendra, dan Selvi tetap dilanjutkan," ujar Lucas tanpa basa basi.
Alis Danu mengernyit saat mendengar perkataan Lucas, "Tapi bukannya Rendra tidak ingin melanjutkan rencana pernikahannya dengan Selvi?"
"Justru itu menjadi tugasmu, Danu. Aku tidak mau tau, gimana pun caranya Rendra harus menikahi putri ku 2 minggu lagi!" tegas Lucas.
Danu menghela napas panjang, "Lantas aku harus berbuat apa, Lucas? Rendra yang sekarang ini sulit untuk ku kendalikan lagi," ucapnya yang sebenarnya sedang menahan rasa senang, mendengar Lucas ingin melanjutkan rencana pernikahan itu.
Lucas mengambil dokumen yang ada di dalam tas kantornya, "Sudah aku tegaskan dari awal. Aku tidak peduli caramu membujuk anakmu itu, yang penting dia mau menikahi putriku," ucapnya sambil memberi sebuah dokumen.
Danu yang menerima dokumen tersebut sedikit merasa bingung, "Apa ini?"
"Bukalah!"
Danu membuka dokumen tersebut, dan terkejut saat mengetahui jika ini adalah ...
"Surat pemindahan hak milik Hotel Narendra?" Danu menatap tak percaya ke arah Lucas, memintanya untuk menjelaskan apa maksudnya ini.
"Anggap itu sebagai bayaran, jika kau berhasil membujuk Rendra," ucap Lucas.
Danu tentu saja merasa bahagia, bahkan seperti sedang mendapat sebuah jackpot. Ia akhirnya berhasil memiliki Hotel Narendra, tanpa perlu lagi merebutnya dari tangan Lucas.
Cukup dengan memaksa Rendra menggunakan cara apapun, untuk menikahi Selvi. Dan Hotel Narendra akan datang dengan sendirinya, dan menjadi miliknya seutuhnya.
"Tapi, Lucas. Kenapa kau memberiku Hotel Narendra, hanya demi memintaku untuk memaksa Rendra menikahi putrimu?" tanya Danu yang memasang ekspresi palsu, untuk menyembunyikan rasa senangnya.
Lucas terdiam mendengar pertanyaan Danu. Mungkin memang terdengar sangat bodoh, dan konyol ia memberi hotel yang dirintis sejak dari nol. Hotel yang sudah lama menjadi kebanggaan, dan telah mendapat berbagai penghargaan serta apresiasi dari berbagai media luar negeri.
Namun, hanya demi Selvi bisa menikah dengan Rendra. Lucas bersedia melakukan apapun. Termasuk merelakan Hotel Narendra, dari genggamannya. Terlebih ini semua memang kesalahannya sendiri, yang menyebabkan Rendra sangat membenci putrinya. Dan sebagai balasan hukumannya, ia harus kehilangan hotel kesayangannya ini.
"Karena cuma kau yang bisa memaksa Rendra menikahi putriku," balas singkat Lucas.
Meski masih terdengar cukup ambigu, Danu tidak ingin menanyakan lebih jelas lagi. Yang Danu pikirkan sekarang, adalah cara memaksa Rendra untuk menikahi Selvi.
"Baik, Lucas. Aku akan mencoba sebisa mungkin," ujar Danu tersenyum percaya diri.
Lucas menatap dingin Danu, "Tapi ingat Danu! Batas kesepakatan ini hanya 3 hari. Cepat paksa Rendra menikahi Selvi, dan kau bisa mengambil alih Hotel Narendra ini. Dan jika gagal, maka kesepakatan kita juga batal."
Danu mengangguk mengerti, "Iya Lucas, kau tenang saja," ucapnya tersenyum penuh maksud.
"Kalau begitu, aku permisi terlebih dulu," pamit Lucas beranjak dari tempat duduknya.
"Baik, Lucas." Danu tersenyum mengulurkan tangan kanannya. Sebentar Lucas melihat uluran tangan Danu, sebelum akhirnya ia membalasnya dan tersenyum.
****************************
"Huekkk!!" sejak dari tadi Luna tidak berhenti memuntahkan isi perutnya. Membuat Lisa yang sejak dari tadi, memijat tengkuk leher Luna merasa khawatir.
"Dek, olesi dulu minyak kayu putih ya," pinta Lisa sambil memberi Luna minyak kayu putih.
"Nanti dulu.. Kak... aaa.. huekkk!!!" Luna bahkan tidak bisa ngomong sebentar, karena perutnya terasa dikocok hebat, dan membuatnya terus muntah-muntah.
Sementara Rendra dan David yang menunggu di depan toilet merasa sangat khawatir, dengan keadaan Luna sekarang ini.
"Lo sih, Vid! Ngapain nyuruh tuh Bocil ikut main jet ski? Jadi mabuk laut kan dia," ucap Rendra menatap tajam David.
"Kok gue yang salah? Kan Luna sendiri yang minta. Lagi lo sih ngapain bawa jet ski ugal-ugalan banget," balas David merasa tidak ingin disalahkan sendiri, karena kondisi Luna saat ini.
"Eh, Vid! Kan lo yang nantang gue buat balapan. Atau jangan-jangan lo sengaja, nyuruh Luna buat ikut gue naik jet ski bareng. Biar gue kalah, karena pasti bawa jet skin nya pelan-pelan. Ngaku gak lo!" Rendra merasa kesal menunjuk kasar David.
"Sembarang lo kalau ngomong. Mana ada gue-"
"Sst! Udah sih jangan ribut mulu!" sahut Lisa yang datang untuk menghentikan perdebatan Rendra, dan David.
"Daripada kalian ribut, mending sana bikinin Luna sup ayam biar sedikit reda mabuk lautnya," pintanya menatap Rendra, dan David bergantian.
"Sup Ayam?" Rendra berpikir keras bagaimana ia bisa membuat sup ayam untuk Luna. "Lo tau cara bikinnya, Vid?" tanyanya menatap kearah David.
"Sedikit tau sih gue," balas David terlihat ragu-ragu.
"Ck! Gak! Gue gak percaya. Yang ada Luna tambah mabuk nanti, makan sup ayam buatan lo," ucap Rendra menatap kesal David.
"Ya udah sih, kalau gitu lo bikin sendiri," suruh David.
"Enak aja nyuruh gue. Gue ini-"
"Huekkk!!! Kak Lisaaaa!!" suara Luna menjerit setengah lemas, memanggil Lisa.
"Ck! Udah sana! Terserah yang bikinin siapa. Yang penting buatin Luna sup ayam segera," ucap Lisa yang bergegas langsung menghampiri Luna.
Rendra dan David saling pandang. Tidak ada cara lain, selain memasak berdua, dengan modal tutorial dari internet.