Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Target
Kehidupan normal terus berlangsung, saat ini Yitno sudah memiliki kegiatan usaha walaupun belum ada hasil. Ia memiliki 3 kolam ikan nila dan ternak penangkaran burung kenari yang menjadi kesibukannya sehari-hari.
Setidaknya ia harus membuat gimick agar warga tidak curiga kepadanya bilamana suatu saat nanti ia menjadi orang punya. Ia harus memiliki usaha/penghasilan yang relevan dan dapat dimaklumi oleh penilaian warga. Itulah fikirannya saat ini.
Satu bulan kemudian..
Di sore hari tepat pukul empat sore sebuah mobil grand max pickup berwarna putih, masuk kehalaman rumah Yitno. Terlihat di bak mobil tersebut tong drum plastik berwarna biru dan beberapa fiber box berwarna kuning.
Yitno yang saat itu sedang di samping rumah memberi makan nilanya pun datang menghampiri ke halaman depan setelah mendengar deru mesin mobil dan suara klakson. Ternyata itu mobil tengkulak pengepul ikan yang akan membeli ikan nilanya. Ada tiga orang pria yang keluar dari dalam mobil.
Sore itu panen di lakukan. Mereka bersama-sama memanen dan menimbang hasil panenan dan langsung membayar cash ikan-ikan itu. Hingga waktu menjelang magrib barulah mereka selesai. Mereka bersantai melakukan pembayaran sembari menikmati kopi..
Sebelum magrib pembeli itu pun pamit pulang..
"Kena harga berapa, Yit?" Tanya ibunya selidik
"Sembilan ribu Mak.."
"Hah! Murah banget?" Di pasar lho pedagang jualnya sekilo 17-18 ribu/kg, kalau udah siangan baru turun 13-15'ribu/kg " ucap ibunya
"Ya memang segitu harga yang di tawarin, aku udah cek beberapa peternak juga Mak. Kita jual ke pasar juga apa ya pedagang mau beli ikan sebanyak itu?"
"Terus kamu dapet duit berapa?"
"5,7juta Mak. Tapi baru di kasih 5 juta, soalnya dia cuma bawa duit segitu, kira dia bakal cukup taunya kurang."
"Terus yang 700?"
"Besok Mak, buat mamak, kalau orangnya dateng ambil aja duitnya buat mamak."
"Weh makasih Yit.." Jawab ibunya begitu senang.
Ke esokan harinya Yitno pergi ke toko bangunan di pasar. Ia memesan 2 rit pasir, beberapa sak semen, atap asbes plastik dan kanal rangka baja ringan. Siang hari material itu langsung datang di antar ke rumahnya...
Ibunya yang melihat begitu bangga pada Yitno, ia tak menyangka jika Yitno begitu benar-benar serius mewujudkan apa yang ia katakan tentang niatnya ingin membuka warung kecil-kecilan.
"Weh seriusan kamu mau buka warung, Yit?"
"Cuma punya kolam nila apa bisa buat aku banyak duit to Mak?" Jawab Yitno santai
"Hmm...iya sih, kamu gak beli bibit nila nya lagi?"
"Nanti lah Mak, mau tak kosongin seminggu dulu kolamnya, mau ku ganti airnya."
"Ohh gitu ya."
"Oh iya Mak, ada kenalan tukang nggak?"
"Lah pak Gito yang dulu kamu pernah kerja jadi kuli ngikut dia bangun sarang walet itu aja ngapa, Yit?"
"Nggak ah kalau dia Mak, kerjanya lelet kebanyakan ngopi sama ndupuk aja orangnya. Udah tua juga, tenaganya juga kurang.."
"Iya ya..anu aja kalau gak lek Nanang dia juga 'kan tukang bangunan."
"Iya ya' kok lupa aku, ntar lah Abis magrib aku ke rumahnya maen tanya-tanya."
Selepas magrib Yitno pergi ke rumah lek Nanang yang jaraknya sekitar dua perempatan dari rumahnya, mungkin sekitar 200 meter-an.
"Tok..tok... assalamualaikum..." Ucap Yitno sembari mengetuk pintu rumah yang belum di cat itu
"Waalaikumsalam...ehh kamu Yit, ada apa?" sapa seorang laki-laki berumur 50 tahunan yang bernama Nanang
"Ada perlu lek, bisa ngobrol-ngobrol bentar, nggak?" ucap Yitno sopan
"Oh iya-iya masuk-masuk.."
"Gak usahlah lek, nyantai di teras ini aja lebih luwes ngobrolnya, kayak tamu penting aja harus duduk di sofa. Kaku aku nanti gak bisa ngomong hehhe"
"Ohh..ya udah, ngopi ya Yit.."
"Boleh lek,"
Nanang masuk ke dalam rumahnya beberapa saat dan keluar membawa asbak kayu dan rokok
"Aghhh...duduk diteras ndeprok gini anyes pantatnya ya Yit... gimana-gimana ada urusan apa kamu kok tumben maen ke sini?" Tanya Nanang to do point'
"Lek Nanang lagi kerja gak lek..?"
"Nggak, lagi nganggur.. baru tiga hari lalu selesai buat ruko orang China deket pasar."
"Anu lek, saya ada rencana mau buat warung-warungan di depan rumah, di halaman itu. Warung kecil kecilan gitu"
"Oh iya, kapan mulainya?"
"Ya itu lek Nanang bisa nggak, makanya aku ke sini nanyain"
"Wuoohhh ya bisa..lagi kosong job.."
"Harian berapa lek?"
"Udah sama tetangga harga sedulur, lepas 120 Yit, kuli 90. Maksudnya lepas itu gak di kasih rokok dan makan lho Yit, tapi kopi sama minum air putih apa es ya tolong di kasih..masak lelek mau bontot bawa termos? Hahaha.."
"Iya lek, paham aku soal itu aku juga pernah nguli..emm tapi ini aku minta tolong lho lek, aku gak punya banyak duit jadi aku aja ya jadi kuli nya..biar hemat gitu lek hehehe..bisa gak lek?"
"Iya..iya ya udah gak papa, ukuran berapa mau buat warungnya?"
"Kecil lek 3x4 aja lek, kasih teras, sama depan warung pas selokan itu tolong di buat cor apa gorong-gorong gitu lek. Masak orang suruh lompat comberan? Hahaha.."
"Iya iya, pake batako aja di buat talut kecil abis itu di cor kan bisa. Emm materialnya udah beli?"
"Udah lek, udah dateng tadi siang.."
"Pake batako depan rumahmu itu, Yit?"
"Iya lek..cukupkan itu?"
"Cukuplah, itu lho banyak.."
"Kapan lek bisa di mulai?"
"Besok juga bisa.."
"Oke sip lek masuk, lebih cepat lebih bagus.."
Tak lama seorang gadis muncul, gadis manis mengenakan hijab, dan rok panjang membawa nampan berisi dua gelas kopi..
"Kopinya mas..." Ucap gadis itu
"Iya makasih..." Jawab Yitno
"Itu siapa lek?" Tanya Yitno penasaran
"Ya ampun.. itu Ratih anakku lho Yit.. mosok kamu lupa?"
"Eeeehhh...?? Lah kok udah gadis? perasaan kemarin-kemarin masih mandi hujan hujanan pake sempak doang berenang di selokan."
"Weh kamu terlalu santai Yit...dia lho udah kelas tiga SMP sekarang."
"Ya ampun, udah tua aku berarti ya lek? Pangling aku..pake jilbab sekarang soalnya. Cepet banget perempuan gede nya ya?"
"Tua nya juga cepet Yit wkwkwkwk"
Setelah berbincang beberapa saat, Yitno pun pamit undur diri pulang. Di perjalanan pulang ia tersenyum sinis...ia berniat menjadikan Ratih korbannya.
"Masih tersisa waktu 20 hari dari persyaratan soal darah per*wan itu, aku akan mendapatkannya dari Ratih. Pasti dia masih per*wan.." batin Yitno penuh kemenangan