NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dukun Kampung Sebelah

Proyek pembangunan warung kecil-kecilan itu pun segera di realisasikan.

Pagi itu Yitno bersama dengan lek Nanang mulai mengerjakan pembuatan warung, tampak mereka berdua membuat pondasi dari batako setelah di ukur dan di tandai dengan seutas benang nilon.

Seharian mereka mengerjakan pembuatan warung tersebut, dinding bata sudah terpasang setinggi satu meter, sepertinya pengerjaan itu tak akan memakan waktu yang lama. Yitno memprediksi seminggu selesai sudah di plester dan di beri atap. Setidaknya paling lama 10 hari seharusnya sudah kelar.

Malam hari Yitno berada di kamarnya, ia menghitung uangnya yang masih sangat banyak. Ia menghitung masih ada sekitar 170 juta. Itu karna dia tak memakai terlalu berlebihan. Takutnya warga akan mencurigainya.

Yitno berfikir harus terlihat masuk akal, setidaknya ia harus membangun usaha, agar saat ia terlihat sukses kelak ia tak akan di pandang buruk atau mendapat prasangka yang tidak-tidak. Sejauh ini rencana dan strategi yang di jalankan Yitno berjalan lancar mulus tanpa hambatan.

Dia melakukan kegiatan dan rutinitas kesehariannya seperti biasanya. Pagi hari ia mengisi air di kolam menggunakan Sanyo pompa listrik, sembari menunggu lek Nanang datang.

Siang hari saat dirinya dan lek Nanang sedang beristirahat mereka pun berbincang.

"Yit, nanti kalau udah nol bata, libur sehari dulu sebelum masang atap. Biar agak keras dulu dindingnya. Jangan di lepas papan tiang cor di sudut-sudut itu, Nanti aja." Ucap lek Nanang

"Oh iya lek."

"Soalnya tetanggaku mau ada hajat juga Yit, rewang sekalian..gak enaklah."

"Siapa lek yang mau hajatan?"

"Itu tiga rumah dari sebelahku itu..orang baru, gak kenal kamu."

"Ohh...kapan lek hari H-nya?"

"Sabtu.."

"Masih lima hari lagi to lek, lah rewang apa dari sekarang?"

"Nimbun, halamannya yang rada rendah..jadi dia mau beli pasir sekitar empat rit. Ya ngunjalin pasir ke halamannya itu."

"Oh gitu ya, iya juga..kalau ujan nanti malah becek kalau gak ada pasirnya."

"Iya, jaga-jaga lah istilahnya.."

"Lima hari lagi? Aku akan beraksi di saat acara hajatan itu..pasti lek Nanang dan istrinya jadi panitia di hajatan itu." Batin Yitno

Sore hari selepas mandi Yitno termenung, ia sedang berfikir bagaimana cara dia memp*r*osa Ratih.

"Gimana ya caranya? Apa di pukul? Iya kalau pingsan...lah kalau nggak? Apa pas dia lagi mandi? Aghh..kok jadi bingung aku ya? Masalahnya dia bukan mayat..pasti dia ngelawan. Masak harus aku bunuh dulu sih..? Nggak-nggak...aku gak mau bunuh orang.." batin Yitno gundah kebingungan

Malam hari ia duduk di kursi kayu dibawah pohon nangka yang berada di halamannya, di temani segelas kopi. Ia browsing-browsing tentang bagaimana cara membuat orang pingsan..

"Hmm..ini ada obat bius? Kayaknya gak workit deh.. kalau di sekap mulutnya yang ada dia mati kehabisan nafas kalau gitu..hmm pake apa ya? Di pukul tengkuknya kalau kekuatan bisa mati, atau gegar otak kasian juga." Batin Yitno yang masih bingung

Tiba-tiba ia menemukan sebuah alat yang dapat membuat pingsan sesorang. Ya, sebuah alat bernama stun gun. Sebuah alat defensif pertahanan diri berupa alat kejut listrik.

Perlahan-lahan ia terus scroll hapenya mencari tahu tentang alat itu..di toko online.

"Sialan! yang di jual di toko online Indonesia yang voltasenya rendah gak bisa bikin pingsan! Cuma alat pertahanan diri! Hiss..!! aku harus membelinya di toko online luar negeri, tapi estimasi sampenya lama banget njiir.."

"Hmm...apa ini aja ya? Harganya 14 juta tapi itu pasti workit kalau buat bikin pingsan beneran. Estimasi sampainya 8-12 hari, masih sempet sih. Tapi moment acara hajatan itu terlewatkan. Gimana ini?" Batin Yitno ragu

Keesokan harinya lek Nanang libur kerja, Yitno memanfaatkan hari itu untuk pergi ke kota. Dia membuka rekening tabungan di sebuah bank swasta.

Setelah ia mempunyai rekening, ia duduk di halaman depan mesin ATM bank tersebut. Ya dia memesan alat itu dan melakukan pembayaran melalui mesin ATM..

"Sip selesai,,," ujarnya lega.

Saat ini Yitno tinggal beradu dengan nasib, adakah kesempatan dia untuk melancarkan aksinya tersebut. Sambil berjalan ia terus berhitung tenggat waktu yang ia miliki.

Empat hari kemudian, atap warung sudah jadi. Dan sudah di plester dinding dalam dan luarnya.

"Yit, besok acaranya,, aku panitia,." ucap lek Nanang

"Oh iya lek, libur dulu aja. Butuh apa lagi lek kira-kira?"

"Lah tinggal keramik sama pintu kan? Lah pintunya kamu mau pesen folding atau mau pake papan?"

"Folding mahal gak ya lek?"

"Gak lah, ya mending folding aja Yit lebih rapih, papan Yo sekarang mahal juga.."

"Ya udahlah lek urusan pintu belakangan, kan bukan sampeyan juga yang masang. Besok aku beli keramiknya lek. Berapa kotak lek?"

"Terasnya di keramik juga apa nggak? Apa acian semen aja?"

"dalem dulu aja lek.."

"12 kotak."

"Ya udah lek, besok ku pesen. Sekalian aku mau beli cat, lampu, kabel...hufftt...banyak juga yang kelupaan gak di beli."

"Dipikirin dulu makanya, biar gak bolak balik beli."

"Iya lek, namanya baru pertama ini aku buat bangunan. Jadi ya banyak bingungnya."

Hari demi hari ia lewati sembari menunggu alat itu sampai. Siang itu Yitno pergi ke warung bude Sri, ia hendak makan lontong pecel..

"Weh Yitno, hmm jadi sainganku ini..mau jualan apa itu? Kok Buat warung bagus banget gitu?" Ujar bude Sri

"Warung kecil gitu lho bude, bukan warung makan. Tenang aja,"

"Pinter kamu bikinnya, rapih gitu. Bude ngeliatnya jadi kepengen ikutan bikin kayak warungmu."

"Ya gak panteslah, warung pecel keramikan bude. Takut yang beli nanti, sangkanya mahal lagi."

"Hahaha iya juga ya..udah selesai itu, Yit? Tinggal pintu depannya aja ya?"

"Iya Bude, selesai kemarin. Masih nunggu tukang foldingnya, katanya banyak pesenan. Masih masang di desa sebelah."

"Berapa pesen pintu folding?"

"Halah yang tipis kok bude aku pesen bahannya, biasa hemat hehehe.."

"Weh banyak duit kamu?"

"Duit sih ada, kalau banyak.. nggaklah bude .. "

"Bisa aja jawabnya pinter banget..Oh iya ikan nila nya masih ada nggak?"

"Udah ku panen, ini baru tebar bibit baru."

"Owalah, kemaren di habisin semua to panennya..."

"Iya bude butuh duit, ya buat bikin warung, itu aja masih kurang."

"Terus kurangannya minjem bank plecit ya? Hayo?"

"Husss...ngawor nggak ya, ngutang dulu sama adikku." Jawab Yitno berbohong

"Hahaha kirain minjem duit renten, aku juga mau kalau ada kenalan bank plecit aku juga mau buat warung yang agak rapih lah.hehehe.."

"Gak punya kenalan rentenir aku bude..oh iya ada gosip terbaru apa ini yang masih anget, aku kan gak pernah nongol sibuk ngaduk semen buat warung.."

"Eeehh..ada..!! tau gak kamu, yit?"

"Tau bude..." Hahaha

"Hiiis....!!! Serius ini!"

"Iya..iya..apa bude?"

"Kemarin istrinya Tarman pergi ke tempatnya Mbah suro dukun terkenal di kampung sebelah itu..."

"Istrinya lek Tarman, bude?"

"Iya, dia kan masih bau-bau saudara sih sama bude sama istrinya iwan juga. Agak jauh sih, bukan saudara sekandung. Sepupu Laen mbah lah istilahnya.. itu Yit..katanya bukan Mbah yang di rawa angker itu pelakunya..jadi mereka mau minta bantuan dukun buat nyari pelaku aslinya."

Sontak Yitno tertegun sembari menelan ludah mendengar itu...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!