Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hari-hari berlalu begitu cepat di kontrakan sederhana itu. Cintya May, serta Pus. Mereka saling bahu membahu mengurus baby Al, seolah mereka adalah keluarga yang tak terpisahkan.
Pagi ini, Al baru saja selesai mandi dan sedang asyik bermain dengan boneka beruang lusuhnya di ruang tamu. Boneka itu sudah usang, dengan satu mata yang lepas tapi Al sangat menyayanginya.
Cintya sibuk menyiapkan sarapan, sementara May sudah lebih dulu berangkat ke cafe karena mendapat sif pagi. Cintya sebenarnya sangat merindukan teman-temannya di cafe dan cerita-cerita lucu mereka di pagi hari, tapi ia tahu sekarang ia punya tanggung jawab besar akan keselamatan Al.
"Al, putra tampanya bunda! Lagi main apa, hm? Mau sarapan bubur ayam spesial ala bunda enggak?" celoteh Cintya sambil mendekat.
Gegas ia menggendong Al yang menggeliat senang. Pipinya yang gembul selalu berhasil membuat Cintya gemas. Ia mencium pipi Al, merasakan kelembutan kulit bayi yang membuatnya selalu ingin melindungi Al dari segala bahaya.
"Da ... Aa ... au... bubu!" Al merespon dengan celotehan khas bayi, berusaha meraih wajah Cintya dengan tangan mungilnya. Jari-jarinya yang mungil mencengkeram rambut Cintya, membuat Cintya terkekeh geli.
"Iya, ini Bunda. Bunda sayang Al," balas Cintya lembut, mencium pipi Al lagi.
"Meong!"
Pus, si kucing misterius, ikut meramaikan suasana. Ia melompat ke sofa, mendekati Al dengan gerakan lincahnya. Bulunya yang seputih salju berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi. Matanya yang hijau zamrud menatap Al dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah ia mengerti lebih dari yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sebenarnya, Pus ini adalah reinkarnasi dari Alexander ayahnya Al, yang meninggal saat penyerangan malam itu. Jiwanya kembali ke dunia untuk melindungi putranya dari jauh.
Ia merasakan sakit yang mendalam setiap kali melihat Al, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaganya dari kejauhan. Ia hanya bisa memberikan tatapan sayang dan mengawasi Al.
Sayangnya, hanya Pus yang tahu kebenaran ini. Cintya, sendiri tidak menyadari kehadiran sosok Alexander dalam diri si kucing putih ini. Ia hanya menganggap Pus sebagai kucing biasa yang menyayangi Al, seperti halnya ia menyayangi Al.
Sambil menggendong Al, Cintya melangkah ke dapur mini. Aroma bubur ayam langsung menyeruak, berpadu dengan aroma teh yang diseduh May sebelum berangkat kerja.
"Jangan protes ya, Al. Ini bubur ayam terenak di dunia versi anak kos!" gumam Cintya. Ia membuka lemari dapur, memperlihatkan deretan bungkus bubur ayam instan yang menjadi makanan sehari-hari mereka.
"Al, kamu nanti gede mau jadi apa? Dokter? Pilot? Astronot? Atau tukang bubur ayam aja biar Bunda bisa makan bubur gratis tiap pagi?" Cintya terkekeh sendiri mendengar celotehnya.
"Da ... da ... bubu!" Al menunjuk ke arah sendok berisi bubur dengan antusias. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, siap menerima suapan dari Cintya.
"Iya, sabar ya sayang. Ini dia, bubur ayam spesial untuk Al yang ganteng," kata Cintya sambil menyuapi Al dengan penuh kasih sayang.
Selesai menyuapi Al, Cintya memandangi wajahnya yang polos. Al sangat tampan, Tidak heran, karena ibunya aja sangat cantik.
Ia teringat pada Anastasya, ibu Al, wanita yang telah mempercayakan Al padanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga Al seperti anaknya sendiri, memberikan cinta dan perlindungan yang Al butuhkan.
"Kamu tenang aja ya, Al. Bunda janji bakal jagain kamu. Sampai kapanpun!" bisik Cintya sambil mengecup kening Al, menyalurkan semua kasih sayang yang ia miliki. Ia merasakan ikatan yang kuat antara dirinya dan Al, seolah mereka telah ditakdirkan untuk bersama.
"Bu ... da ... sayang!" Al memeluk leher Cintya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Cintya membalas pelukan Al, merasakan kehangatan tubuh mungil itu.
Setelah Al kenyang dan kembali bermain dengan Pus, Cintya mulai membereskan kontrakan yang tidak seberapa luas itu. Menyapu, mengepel, mencuci piring ... kini menjadi rutinitas yang ia nikmati.
Hidup memang penuh kejutan. Dulu, ia hanya gadis biasa yang kerja di sebuah cafe untuk memenuhi kebutuhannya saja, sekarang menjadi ibu dadakan yang jago memasak bubur ayam instan dan rela melakukan apa saja demi Al. Ia tersenyum, menyadari bahwa hidupnya telah berubah menjadi lebih bermakna.
__________&&________
Sementara itu, di ruang CEO sebuah perusahaan besar, Arkana sedang dilanda frustrasi. Langit yang kelabu seolah mencerminkan suasana hatinya. Sudah setahun ini ia mencari keponakannya, Al, tanpa hasil. Meja kerjanya berantakan dengan berkas-berkas yang berserakan dan laporan-laporan yang nihil. Aroma kopi pahit memenuhi ruangan itu, seolah menambah pahitnya kenyataan yang harus ia hadapi.
"Sudah setahun, Dev! Kita mencari Alexie! Kenapa susah sekali sih! Mencari satu bayi di Jakarta ini?!" gerutu Arkana sambil mengacak rambutnya kasar. Matanya merah karena kurang tidur, dan rahangnya mengeras karena menahan amarah. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi keluarganya, dan ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Al.
Devano, hanya bisa menghela napas sabar. Ia sudah terbiasa dengan ledakan emosi Arkana.
"Sabar, Ar. Jakarta ini terlalu besar. Tapi kita sudah mengerahkan anggota terbaik kita. Cepat atau lambat, pasti ketemu," cetus Devano sambil menepuk pundak Arkana, berusaha menenangkan.
"Cepat atau lambat kata lo? Bagaimana kalau selama itu keponakan gue tidak terurus? Bagaimana kalau dia sakit? Bagaimana kalau ..." Arkana tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Bayangan bayi kecil tak berdaya membuat hatinya mencelos. Ia gagal sebagai seorang pelindung.
"Ar, percayalah. Kita akan menemukannya!" lanjut Devano lagi, dengan nada yang lebih meyakinkan.
Arkana membuang pandangannya ke luar jendela. Gedung-gedung pencakar langit tampak menjulang angkuh, seperti menertawakan ketidakberdayaannya.
Di balik kemegahan kota ini, ada seorang pemuda yang sedang mencari keponakannya yang hilang, di tengah kegelapan dan kejahatan yang mengintai. Ironis. Ia merasa seperti sendirian di dunia ini, berjuang melawan musuh yang tak terlihat.
"Apa ada perkembangan dari anak buah bayangan kita?" tanya Arkana, berusaha mengendalikan emosinya.
"Mereka belum memberikan informasi apapun Ar!" balas Devano dengan nada kekecewaan yang sama. Ia tahu bahwa waktu terus berjalan, dan mereka harus segera menemukan Al jsebelum terlambat. Mereka harus berpacu dengan waktu, sebelum Al jatuh ke tangan orang yang salah.
_________&&_______
Sorenya Arkana langsung pulang ke mansion karena mendapat kabar jika Mommy-nya lagi kurang enak badan. Ia merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya di tambah dengan mencari Baby Alexie.
Beberapa bulan terakhir ini kesehatan sang Mommy menurun akibat terlalu banyak pikiran, akan nasib sang cucu yang sampai saat ini belum juga di temukan. Ia tahu bahwa Mommynya sangat menyayangi Al, dan ia merasa bertanggung jawab untuk membawa Al kembali ke pangkuan keluarganya.
"Mom! Yang tenang ya! Arkana akan terus berusaha untuk menemukan cucu mommy, mommy yang sabar dan jaga kesehatan, jangan sampai Alexie ketemu, Mommy malah sakit gak bisa main sama Alexei," tutur Arkana lembut.
Beda dengan biasanya jika bicara dengan anak buahnya. Arkarna meskipun seorang pemimpin mafia ia sangat lembut pada sang Mommy, karena ia sangat mencintai keluarganya. Ia mencium tangan Mommynya, merasakan kehangatan kulitnya yang mulai keriput.
"Iya, Nak. Mommy percaya sama kamu. Mommy tahu kamu pasti bisa menemukan Alexei," balas Mommynya dengan suara lemah. Ia mengusap pipi Arkana, menyalurkan kasih sayangnya.Tapi juga tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya terhadap nasib sang cucu di luarn sana.
Setelah menyelimuti sang Mommy dan mencium keningnya ia gegas kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih. Ia ingin membersihkan diri dari semua kekhawatiran dan rasa bersalah yang menghantuinya.
Malam semakin larut Arkana duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil memangku sebuah laptop, mencoba mencari petunjuk baru tentang keberadaan Alexie.
Tiba-tiba kucing putih yang kini sudah setahun ini tinggal bersamanya masuk kekamar Arkana lalu menatap Arkana dengan tatapan penuh arti. Ia merasakan keanehan dari tatapan si kucing, seolah ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting, sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Arkana yang menyadari tatapan hewan berbulu itu, menoleh dengan tatapan penuh tanda tanya? Ia menatap kucing imut itu dengan seksama, mencoba memahami apa yang ingin disampaikannya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan kucing ini, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
Si kucing hanya mengeong seolah ingin meminta Arkana berbicara serius. Ia melompat ke pangkuan Arkana, menatapnya dengan mata yang memohon, seolah ia ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.
Arkarna tahu si kucing ingin mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar di telinga Arkana hanya suara ngeongan saja. Ia menghela napas, merasa frustrasi karena tidak bisa memahami apa yang diinginkan si makhluk berbulu itu. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan makhluk dari dunia lain.
Si kucing yang frustrasi akhirnya melompat ke pangkuan Arkana duduk menghadap laptop yang masih menyala. Dengan lincah tangannya mengambil alih keyboard laptop. Ia mengetik sesuatu di sana, membuat Arkana terpaku melihat aksi si kucing, bagaimana bisa si kucing mampu bermain benda canggih ini? Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seolah ia sedang bermimpi.
Tatapannya tak berpaling dari layar laptop membaca setiap huruf yang di ketik si kucing. Jantungnya berdegup kencang, seolah ada sesuatu yang besar akan terjadi, sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
"Arkana, ini aku Anastasya, kakak ipar kamu!
Aku tahu kamu pasti tak percaya, tapi kenyataannya aku adalah Anastasya!"
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus