Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberkatan yang Terlalu Cepat
Langit Jakarta cerah, nyaris terlalu cerah untuk sebuah hari yang seharusnya sakral. Di pelataran gedung gereja, deretan mobil mewah terparkir rapi. Karpet merah membentang, dihiasi rangkaian bunga putih dan krem yang disusun dengan cita rasa elegan, tidak berlebihan, tetapi jelas menunjukkan kelas dan kekuasaan keluarga yang menggelarnya.
Aruna berdiri di ruang rias, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia hampir tidak mengenali perempuan yang menatap balik ke arahnya.
“Akhirnya, saatnya tiba.” Gumam Aruna sambil menarik napas panjang.
Kebaya pengantin berwarna ivory keemasan membalut tubuhnya dengan anggun. Kainnya jatuh lembut mengikuti lekuk tubuh, dengan buntut panjang yang menjuntai anggun ke belakang. Di balik kebaya itu, kamisol berwarna senada memberi kesan rapi dan mewah tanpa kehilangan kesopanan. Cahaya lampu memantul lembut di benang emas yang disulam halus, membuatnya tampak berkilau tanpa berusaha mencuri perhatian.
Rambut Aruna ditata dalam sanggul rapi, sederhana namun berkelas. Veil panjang berwarna ivory keemasan jatuh lembut ke belakang kepalanya. Di kakinya, sandal satin berwarna senada dengan ornamen mutiara kecil, hampir tersembunyi di balik kain kebaya yang panjang. Ia terlihat sempurna.
“Putri ibu cantik sekali,” ujar Wening pelan, berdiri di belakangnya.
Aruna tersenyum tipis melalui pantulan cermin. Senyum yang tidak sepenuhnya lahir dari kebahagiaan.
“Ini hari besar kamu, Runa,” lanjut ibunya, suaranya lembut tapi penuh makna.
Aruna mengangguk. Ia tidak tahu apakah besar selalu berarti bahagia.
Ketika pintu ruang rias diketuk, jantung Aruna berdetak lebih cepat.
“Apa pengantin wanita sudah siap?” tanya seorang panitia dengan suara tertahan.
Aruna mengangguk pelan, lalu kembali menarik napas dalam dan pelan. Seolah ingin menenangkan hati yang sejak pagi tidak berhenti bergetar.
Di depan altar gereja, Revan telah berdiri di tempatnya. Ia mengenakan beskap berwarna ivory keemasan, serasi dengan busana Aruna. Potongannya modern, bersih, tanpa detail berlebihan. Kain batik yang menjadi bawahannya memiliki motif dan warna yang sama dengan milik Aruna simbol kesatuan yang telah dipilih dengan cermat oleh keluarga. Di kepalanya, blangkon dengan potongan rapi dan tidak terlalu tinggi, memberi kesan tegas namun tidak kaku. Revan terlihat tampan.
Matanya menatap lurus ke depan ketika Aruna berjalan bersama ayahnya memasuki ruangan. Tidak ada senyuman yang tulus, hanya anggukan sopan ketika pandangan mereka bertemu sesaat. Sedangkan Aruna menunduk, ia tidak tahu apakah hatinya akan sanggup jika menatap lebih lama.
Para tamu memenuhi ruangan. Pejabat, pengusaha, tokoh publik, bahkan beberapa artis ternama semua hadir, bercampur dalam gemerlap pesta yang terasa seperti perayaan besar. Kamera berkilat. Bisik-bisik terdengar. Semua mata tertuju pada pasangan di depan.
Namun di antara kemewahan itu, Aruna merasa sunyi.
Acara pemberkatan berlangsung khidmat dan sakral, Revan dan Aruna dengan lancar mengucapkan janji nikah di hadapan Tuhan.
“Karena itu, apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Maka berdasarkan Firman Tuhan dan otoritas yang diberikan kepada saya sebagai hamba-Nya, saya nyatakan Revan Aditya Maheswara dan Aruna Putri Pramesti sebagai suami dan istri. Kiranya Tuhan memberkati pernikahan ini, sekarang dan selama-lamanya. Amin.” Ujar pendeta, sambil tangannya memberkati Aruna dan Revan.
Aruna menunduk, air matanya menggenang bukan karena terharu, tetapi karena sebuah kesadaran yang pahit. Ia kini resmi menjadi istri Revan Aditya Maheswara. Laki-laki yang pernah menolaknya tanpa tahu seberapa dalam luka yang ia tinggalkan, laki-laki yang kini menikahinya tanpa cinta.
Saat cincin disematkan di jarinya, tangan Revan dingin. Tidak ada sentuhan yang tertinggal lebih lama dari yang seharusnya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Aruna membalas dengan anggukan kecil. Dua kata yang terdengar sopan, bukan mesra.
Resepsi dilangsungkan di tempat yang berbeda dan berlangsung megah. Musik mengalun lembut. Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Aruna tersenyum, menyapa tamu, menerima ucapan selamat. Ia menjalani perannya dengan sempurna, sebagai menantu dan istri seorang Maheswara.
Beberapa tamu mendekat, menyalami mereka berdua dengan senyum penuh arti. “Selamat ya, Aruna,” ucap seorang kolega ibunya dengan hangat.
“Terima kasih, tante.” jawab Aruna lembut, menunduk sopan.
Di sisi lain, Revan berdiri tegak, menjawab salam, berbincang dengan kolega ayahnya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa celah. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ketenangan itu, hatinya sedang berusaha mengabaikan satu nama yang terus muncul. Viona.
“Selamat ya, Revan. Pesta loe luar biasa,” kata salah satu sahabat Revan sambil tersenyum.
Revan mengangguk singkat. “Terima kasih. Orang tua gue yang ngatur.”
Sesekali, Revan melirik Aruna yang berdiri di sampingnya. Ia melihat bagaimana Aruna tertawa kecil ketika berbincang, bagaimana ia menunduk sopan, bagaimana ia tidak pernah sekali pun mencarinya dengan tatapan berharap. Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, itu mengusiknya.
“Kamu baik-baik saja?” bisik Revan pelan.
Aruna menoleh sekilas. “Baik,” jawabnya singkat, senyum tipis terpasang.
Malam semakin larut ketika pesta berakhir. Tamu satu per satu meninggalkan ruangan, membawa pulang kesan akan sebuah pernikahan sempurna.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Aruna berulang kali, suaranya mulai serak.
Aruna berdiri di sisi Revan saat lampu mulai diredupkan, tidak ada genggaman tangan dan tidak ada bisikan mesra.
“Kita pulang,” kata Revan akhirnya, nadanya datar.
Aruna mengangguk. “Ok.”
Saat mereka melangkah meninggalkan gedung, Aruna menyadari satu hal dengan jelas. Pernikahan ini telah dimulai. Namun entah mengapa, ia merasa semuanya baru akan benar-benar rumit setelah hari ini.
Tubuh Aruna lelah, tapi pikirannya lebih letih. Ia menoleh pada Revan, menunggu arahan ke mana mereka akan melangkah setelah pesta ini usai.
“Mobil sudah siap,” ucap Revan akhirnya, datar.
Aruna mengangguk. “Baik.”
Di dalam mobil, keheningan kembali mengisi ruang di antara mereka. Lampu kota berkelebat di balik kaca, memantulkan bayangan wajah Aruna yang tenang namun tertutup. Revan membuka mulut, menutupnya lagi. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak satu pun terasa tepat.
Ponsel Revan bergetar di sakunya. Ia akhirnya mengeluarkan ponsel. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang seharusnya tidak lagi muncul malam ini. Viona
“Ada yang penting?” tanya Aruna pelan, suaranya datar, seolah bertanya tentang cuaca.
Revan menggeleng. “Urusan pekerjaan.”
Kebohongan itu meluncur terlalu mudah. Mobil melaju, meninggalkan gedung pesta yang kini tinggal cahaya samar di kejauhan.
Beberapa menit berlalu. Ponselnya kembali bergetar, kali ini lebih lama. Revan menatap lurus ke depan. Aruna merapatkan selendangnya, memeluk dirinya sendiri. Ia tidak meminta penjelasan, tidak menuntut apa pun.
Saat lampu merah menyala, Revan menarik napas dan membuka pesan itu. “Kita harus bicara. Sekarang.”
Darahnya terasa dingin. Lampu berubah hijau. Mobil kembali bergerak. Revan menutup ponsel, menoleh ke Aruna, perempuan yang memilih diam demi menjaga jarak yang mereka sepakati.
“Aruna,” katanya, suaranya tertahan. “Sepertinya aku harus pergi sebentar.”
Aruna menoleh, tatapannya tenang. “Pergilah,” ucapnya lembut. “Tidak masalah.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tuduhan mana pun. Dan Revan tahu, keputusan yang akan ia ambil setelah mobil ini berhenti akan menentukan apakah pernikahan mereka benar-benar dimulai atau justru retak sebelum waktunya.