NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kehidupan Sheila di kota baru tidaklah mudah. Memasuki usia kehamilan yang rentan, tubuhnya mulai cepat lelah. Ia harus membagi waktu antara kuliah kedokteran yang berat dan pekerjaan paruh waktu di sebuah toko buku. Sheila tidak pernah menyentuh uang di amplop cokelat yang ditinggalkan Devano, ia ingin membuktikan bahwa harga dirinya tidak bisa dibeli.

​Suatu sore, hujan deras mengguyur kota. Sheila yang baru pulang kuliah terpaksa berjalan kaki menuju halte karena uang sakunya mulai menipis. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di sampingnya. Seseorang turun dan memayunginya tanpa suara.

​Sheila menoleh, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira itu Devano. Namun, yang berdiri di sana adalah seorang pria paruh baya berseragam rapi. "Mari saya antar, Nona Sheila. Ini perintah dari... lembaga beasiswa Anda."

​Sheila menyipitkan mata penuh curiga. "Lembaga beasiswa tidak pernah mengantar jemput mahasiswanya, Pak. Siapa yang mengirim Anda?"

​Pria itu terdiam sejenak sebelum membukakan pintu mobil. "Seseorang yang sangat mencemaskan kesehatan bayi Anda."

​Mendengar kata 'bayi', pertahanan Sheila runtuh sejenak demi keselamatan janinnya. Ia masuk ke mobil dengan perasaan berkecamuk. Di dalam mobil, ia menemukan sebuah kotak hangat berisi sup ayam dan catatan kecil: Makanlah, kamu butuh tenaga untuk ujian besok.

​Sheila meremas kertas itu. Ia tahu ini semua ulah Devano. "Berhenti memperlakukanku seolah aku ini lemah, Vano!" desisnya pada udara kosong.

Di London, Devano semakin kehilangan akal sehatnya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap layar monitor. Ia melihat Sheila yang mulai sering memegangi punggungnya karena lelah disaat ia mengandung dan membagi waktu untuk bekerja yang semakin berat. Ia melihat Sheila yang hanya makan mie instan karena ingin berhemat, yang langsung membuat Devano menelepon asisten pribadinya di Indonesia untuk mengirimkan katering nutrisi terbaik secara anonim.

​Namun, cinta yang obsesif itu mulai menemui batu sandungan. Ayah Devano, Tuan Narendra, mulai mencium ketidak—beresan putranya di London.

Tiba-tiba ponselnya bergetar drt.drt.drt. ia langsung mengangkat panggilan tersebut.

​"Kenapa laporan bisnismu menurun, Devano? Dan ke mana larinya aliran dana ratusan juta setiap bulannya ke sebuah kota kecil di Indonesia?" suara Tuan Narendra menggelegar melalui sambungan telepon.

​Devano mengepalkan tangan. "Itu bukan urusan Papa."

​"Apapun yang kamu sembunyikan, akan aku hancurkan jika itu menghalangi masa depanmu di sini. Ingat, aku tahu keberadaan gadis itu," ancam ayahnya.

​Devano membeku. Darahnya berdesir hebat. Ia menyadari bahwa perlindungannya selama ini justru bisa menjadi petaka bagi Sheila jika ayahnya bergerak.

Malam itu, Sheila merasa gelisah. Perasaan diawasi itu semakin kuat. Saat ia hendak mengunci pintu apartemennya, ia menemukan sebuah amplop hitam tanpa nama terselip di bawah pintu.

​Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya terdapat foto-foto dirinya yang sedang memegang perut di taman, di kampus, bahkan foto saat ia sedang tidur di kamarnya sendiri. Di balik foto itu tertulis: "Monster kecil itu tidak boleh lahir ke dunia ini."

​Sheila mundur dengan wajah pucat pasi. Ia menyadari ada kamera di dalam ruang pribadinya. Ia mulai membongkar vas bunga, memeriksa jam dinding, dan benar saja—ia menemukan lensa kamera kecil di sana.

​"Bajingan!" teriak Sheila histeris. Ia merasa dikhianati dan dilecehkan secara mental.

​Rasa syok yang luar biasa itu memicu kontraksi hebat di perutnya. Sheila merosot di lantai, memegangi perutnya yang mendadak terasa sangat keras dan sakit. "Aahhh... tidak... sayang, bertahanlah..."

​Di London, Devano berteriak frustrasi saat melihat di monitor Sheila tersungkur di lantai sambil menangis kesakitan. Namun, tepat di saat kritis itu, layar monitornya tiba-tiba berubah menjadi hitam. Seseorang telah memutus koneksinya secara paksa.

Tiba-tiba Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel Devano dari nomor tak dikenal: "Jangan bermain-main dengan Papa, Devano. Gadis itu sedang menerima konsekuensinya sekarang."

Sementara Di apartemen keringat dingin membanjiri dahi Sheila saat rasa sakit yang luar biasa menghantam rahimnya. Ia mencengkeram pinggiran meja makan, mencoba menahan bobot tubuhnya yang terasa kian berat. Napasnya tersengal, pendek-pendek, sementara matanya menatap nanar ke arah lensa kamera kecil yang baru saja ia cabut paksa dari balik jam dinding.

​"Bajingan... kamu Vano!" jeritnya pilu. Suaranya bergema di ruangan yang kini terasa seperti penjara kaca. Sheila merasa benar-benar telanjang, setiap gerak-geriknya, setiap napasnya, bahkan tidurnya telah menjadi tontonan pria yang telah menghancurkannya.

Di London, suasana tak kalah mencekam. Ruangan belajar Devano yang biasanya senyap, kini dipenuhi suara benturan benda tumpul.

​Brak!

​"Tidak! Sheila! Bangun!" teriak Devano histeris. Ia melihat melalui layar monitor bagaimana Sheila merosot ke lantai, memegangi perutnya dengan wajah yang dipenuhi air mata dan kesakitan.

​Tepat saat ia hendak meraih ponsel untuk menghubungi tim medis di Indonesia, layar monitor besar di hadapannya mendadak berkedip cepat.

​Zzztt... Zzztt...

​Suara statis yang memekakkan telinga terdengar, dan dalam sekejap, visual kamar Sheila menghilang. Gelap total.

​"Tidak! Jangan sekarang!" Devano memukul meja dengan kepalan tangannya hingga berdarah. Ia mencoba meretas kembali sistemnya, namun semuanya terkunci.

​Ting!

​Sebuah nada pesan masuk yang tajam memecah keheningan yang mencekam itu. Devano menyambar ponselnya dengan tangan gemetar.

​Pesan dari Papa:

"Jangan bermain-main dengan Papa, Devano. Kamu pikir Papa tidak tahu investasi bodohmu di kota itu? Gadis itu sedang menerima konsekuensinya sekarang karena kelalaianmu. Fokuslah pada studimu, atau dia tidak akan pernah mencapai rumah sakit dengan selamat."

​"PAPA!!!" raungan Devano pecah. Ia melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Ayahnya bukan sekadar mengancam—ayahnya sedang mengeksekusi hukuman bagi Sheila hanya karena Devano terlalu mencintainya dengan cara yang salah.

Drt... Drt... Drt...

​Ponsel Sheila yang tergeletak di lantai, hanya beberapa senti dari tangannya, bergetar hebat. Itu telepon dari Risma, satu-satunya orang yang ia percayai. Namun, rasa sakit di perutnya membuat Sheila bahkan tidak bisa menggerakkan jarinya.

​"Aaakhhh... sa-sakit..." rintih Sheila. Ia merasakan cairan hangat mulai mengalir di sela kakinya. Ketakutan luar biasa menyergapnya. Bukan sekarang, Sayang. Tolong, jangan lahir sekarang, batinnya memohon pada janin yang baru berusia enam bulan itu.

​Dengan sisa tenaga yang ada, Sheila merangkak di atas ubin dingin menuju pintu apartemen. Setiap inci pergerakannya terasa seperti sayatan pisau di perutnya. Ia merasa dikhianati oleh semua orang. Ia merasa Devano sedang menertawakannya dari balik layar yang kini sudah ia hancurkan.

​Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat di lorong apartemen. Bukan suara langkah yang tenang, melainkan langkah terburu-buru yang seolah sedang mengejar sesuatu.

​Brak! Brak! Brak!

​Pintu apartemennya digedor dengan keras dari luar.

​"Nona Sheila! Buka pintunya! Kami harus membawa Anda sekarang!" suara pria asing terdengar dari balik pintu.

​Sheila membelalak. Apakah itu orang suruhan ayah Devano yang datang untuk menyingkirkan bayinya? Ataukah itu orang suruhan Devano yang kembali ingin mencampuri hidupnya?

​"Pergi... hiks... pergi kalian semua!" teriak Sheila lemah, sebelum pandangannya mulai mengabur dan kesadarannya perlahan menghilang di tengah rasa sakit yang memuncak.

Di bandara Heathrow, London, Devano berlari seperti orang kesurupan menembus kerumunan orang. Ia tidak membawa paspornya—ayahnya telah menyitanya. Ia tidak punya uang—semua kartunya telah diblokir.

​Ia berdiri di depan loket tiket dengan napas memburu dan mata merah yang mengerikan. "Aku harus pulang ke Indonesia! Sekarang!"

​"Maaf Tuan, tanpa dokumen dan pembayaran yang valid, kami tidak bisa—"

Lutut Devano lemas. Ia jatuh terduduk di tengah hiruk pikuk bandara. Di Indonesia, nyawa Sheila dan anaknya sedang berada di ujung tanduk, sementara di sini, ia hanya seorang pecundang yang terkunci di sangkar emas ayahnya.

1
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!