NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pesta di Bawah Lampu Sorot

​Malam Puncak Dies Natalis SMA Pelita Bangsa tahun ini mengusung tema "Neon & Noir". Aula sekolah yang biasanya membosankan dan berbau pel lantai, kini disulap menjadi ballroom remang-remang yang diterangi lampu neon ungu dan biru.

​Dentuman bass dari DJ yang disewa OSIS menggetarkan kaca jendela. Siswa-siswi yang biasanya berseragam putih abu-abu kini tampil all out. Ada yang memakai gaun pesta, ada yang memakai setelan jas, ada juga yang kostumnya heboh seperti mau karnaval.

​Namun, di tengah kemeriahan itu, Julian Pradana berdiri kaku di dekat pintu masuk utama.

​Ia memakai jas hitam slim fit dengan kemeja putih tanpa dasi—penampilan yang membuatnya terlihat seperti aktor drama Korea yang sedang shooting adegan sedih. Di telinganya terpasang earpiece HT untuk koordinasi keamanan.

​Mata Julian tidak menikmati pesta. Matanya sibuk memindai setiap wajah yang lewat.

​Siapa? batin Julian gelisah. Siapa pengirim foto itu?

​Sejak pesan ancaman itu masuk kemarin sore, Julian tidak bisa tidur. Ia menganalisis kemungkinan pelakunya. Doni? Geng anak kelas 12? Atau rival politiknya di OSIS? Foto itu diambil dari jarak jauh, angle tersembunyi.

​"Jul, aman?" suara Raka terdengar, menepuk pundaknya.

​Julian tersentak. Raka tampil rapi dengan kemeja flanel dan rambut yang disisir klimis (tumben).

​"Aman secara fisik. Tidak ada alkohol, tidak ada rokok di dalam aula," lapor Julian otomatis.

​"Muka lo tegang banget, Bro. Santai dikit napa. Ini pesta, bukan simulasi gempa," Raka tertawa, lalu celingukan. "Mana vokalis kita? Katanya mau dateng bareng lo?"

​"Saya tidak datang bareng Alea," sanggah Julian cepat. Terlalu cepat. "Kami datang terpisah. Demi... protokol keamanan."

​"Halah, protokol," cibir Raka.

​Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar dari arah pintu masuk. Beberapa siswa menoleh, berbisik-bisik kagum.

​Julian mengikuti arah pandang mereka. Dan untuk sesaat, ia lupa caranya bernapas.

​Alea masuk.

​Tidak ada gaun princess warna pink atau heels tinggi yang menyiksa. Itu bukan gaya Alea.

Gadis itu memakai dress hitam selutut berbahan beludru dengan potongan simpel namun elegan. Di kakinya, ia tetap setia memakai sepatu boots Dr. Martens hitam. Rambutnya yang ber-highlight merah dibiarkan tergerai bergelombang, satu sisinya diselipkan ke belakang telinga, memperlihatkan anting perak berbentuk peniti. Riasannya sedikit lebih tebal dari biasanya—smokey eyes yang membuat matanya terlihat tajam dan misterius.

​Dia terlihat seperti... ratu rock and roll. Gelap, berbahaya, tapi memikat.

​Alea berjalan masuk dengan percaya diri, menyapa beberapa teman kelasnya, lalu matanya bertemu dengan Julian di seberang ruangan.

​Alea tersenyum. Senyum lebar yang tulus. Dia melambaikan tangan kecil, memberi isyarat agar Julian mendekat.

​Hati Julian mencelos. Ingin sekali ia berlari ke sana, memuji penampilan Alea, dan berdansa dengannya. Tapi bayangan pesan ancaman itu menahannya seperti rantai besi.

​Jauhi dia, otak logis Julian berteriak. Semakin dekat kamu sama dia, semakin besar bahaya buat kalian berdua.

​Julian memalingkan wajah. Ia pura-pura sibuk berbicara lewat HT, lalu berbalik badan dan berjalan menjauh menuju area belakang panggung yang gelap.

​Senyum Alea perlahan pudar. Tangannya yang melambai turun perlahan.

​"Kenapa lagi sih tuh Robot?" gumam Alea bingung. "Perasaan kemaren abis makan bakso udah cair. Kok sekarang beku lagi?"

​Satu jam berlalu. Pesta semakin meriah. Lagu-lagu upbeat dari Dua Lipa dan Bruno Mars membuat lantai dansa penuh sesak.

​Julian bersembunyi di area meja konsumsi, mengawasi stok fruit punch. Ia berusaha menghindari Alea sebisa mungkin. Setiap kali ia melihat rambut merah Alea mendekat, Julian akan pindah ke sudut lain. Seperti main petak umpet.

​Namun, Alea bukan orang yang gampang menyerah.

​Saat Julian sedang pura-pura mengecek kabel sound system di pojok yang sepi, seseorang menepuk bahunya keras.

​"Lo ngindarin gue ya?"

​Julian berbalik. Alea berdiri di sana sambil berkacak pinggang, memegang gelas sirup.

​"Tidak. Saya sedang patroli," jawab Julian datar, tidak berani menatap mata Alea.

​"Bohong. Tiap gue deketin, lo kabur. Gue ada salah apa? Gue bau bawang abis makan bakso kemaren?" Alea mengendus ketiaknya sendiri. "Wangi kok. Parfum mahal punya Kak Tiara nih."

​"Bukan itu, Alea," Julian menghela napas lelah. "Saya cuma... sibuk. Banyak tamu VIP. Kepala Sekolah ada di sini. Komite sekolah ada di sini."

​"Terus kenapa? Lo malu keliatan sama gue di depan mereka?" tuduh Alea, matanya mulai berkilat marah. "Lo malu temenan sama cewek berandal di acara formal?"

​"Bukan begitu!" Julian membantah keras. "Justru karena saya peduli..."

​Julian menghentikan kalimatnya. Ia tidak bisa bilang soal ancaman itu. Alea akan panik. Atau lebih parah, Alea akan nekat melabrak pelakunya dan membuat situasi makin runyam.

​"Peduli apa?" desak Alea, melangkah maju.

​Musik tiba-tiba berubah.

​Lampu sorot yang tadinya berkedip cepat kini meredup, berganti menjadi sorotan lampu kuning lembut yang berputar pelan. Lagu slow mulai mengalun. Intro piano lagu All of Me dari John Legend.

​Suasana pesta berubah romantis seketika. Pasangan-pasangan mulai merapat ke tengah lantai dansa.

​"Peduli apa, Jul?" ulang Alea, suaranya melembut karena atmosfer lagu.

​Julian menatap Alea. Di bawah sinar lampu remang-remang, Alea terlihat sangat cantik. Rapuh sekaligus kuat.

​"Saya peduli... kalau kamu salah paham," Julian akhirnya memilih jawaban aman.

​Tiba-tiba, dari arah panggung, MC acara berteriak.

​"Oke, sekarang waktunya 'Spotlight Dance'! Lampu sorot akan keliling secara acak, dan siapa pun yang kena sorot pas musik berhenti, harus dansa sama orang di sebelahnya! Nggak boleh nolak!"

​Sorak sorai membahana. Lampu sorot putih besar mulai bergerak liar ke seluruh penjuru ruangan.

​Julian panik. "Saya harus pergi. Saya panitia, tidak boleh ikut main."

​Ia hendak berbalik, tapi kerumunan siswa di belakangnya terlalu padat. Ia terjebak. Alea berdiri tepat di depannya, terhimpit oleh kerumunan juga.

​Musik berhenti.

​Dan tentu saja, sesuai hukum alam semesta yang suka bercanda, lampu sorot itu berhenti tepat di atas kepala mereka berdua.

​Cahaya putih terang menyilaukan mata. Julian dan Alea berdiri di pusat perhatian, dikelilingi kegelapan.

​"Wuih! Bapak Ketua OSIS kita kena!" teriak MC heboh. "Sama siapa tuh? Wah, sama Alea! Pasangan fenomenal tahun ini! Ayo dansa! Dansa! Dansa!"

​Seluruh aula meneriakkan: "DANSA! DANSA! DANSA!"

​Wajah Julian pucat pasi. Ini bencana. Semua mata tertuju padanya. Termasuk mata si peneror misterius itu.

​Alea menatap Julian dengan canggung. "Gimana nih? Kabur?"

​Julian melihat sekeliling. Ratusan kamera HP sudah terangkat, merekam momen ini. Kalau dia kabur sekarang, itu akan jadi berita yang lebih heboh dan memalukan. Itu akan membuat Alea terlihat ditolak di depan umum.

​Julian menatap mata Alea.

​"Jangan kabur," bisik Julian. "Kalau kita kabur, kita pengecut."

​Julian mengulurkan tangannya. Tangannya sedikit gemetar, tapi tatapannya mantap.

​"Boleh?" tanya Julian formal.

​Alea tertegun sejenak, lalu tersenyum miring. Ia meletakkan gelas sirupnya di lantai (atau di tangan seseorang, dia tidak peduli), lalu menyambut tangan Julian.

​"Jangan injek kaki gue pake sepatu pantofel lo itu ya," ancam Alea.

​Julian menarik Alea mendekat. Tangan kirinya memegang tangan kanan Alea, tangan kanannya ragu-ragu menyentuh pinggang Alea yang ramping.

​Mereka mulai bergerak pelan mengikuti irama lagu.

​Cause all of me... Loves all of you...

​Awalnya kaku. Seperti robot berdansa dengan patung. Tapi perlahan, irama musik mengambil alih.

​"Lo tegang banget," bisik Alea di dekat telinga Julian. "Rileks, Jul. Nggak ada yang bakal ngasih lo poin pelanggaran karena dansa."

​"Saya tidak bisa dansa. Saya cuma tau teori gerak harmonik sederhana," gumam Julian.

​Alea tertawa pelan. Getaran tawanya terasa di tangan Julian yang ada di pinggangnya.

​"Ikutin gue. Kiri... kanan... muter dikit..." Alea memandu.

​Mereka berputar pelan. Dunia di sekitar mereka seolah memudar. Teriakan MC, kilatan kamera, tatapan guru-guru, semuanya menjadi blur. Yang jelas hanya wangi parfum Alea dan tatapan matanya yang cokelat terang.

​Untuk satu menit itu, Julian melupakan ancaman. Melupakan ayahnya. Melupakan segalanya. Dia hanya seorang remaja laki-laki yang sedang berdansa dengan gadis yang disukainya.

​Julian memberanikan diri. Ia menarik Alea sedikit lebih rapat, memperkecil jarak di antara mereka.

​"Kamu cantik malam ini, Alea," bisik Julian. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar.

​Mata Alea membelalak. Pipinya merona merah, terlihat jelas meski di bawah lampu remang.

​"Lo... lo juga lumayan. Nggak terlalu kaku," balas Alea gugup.

​Lagu berakhir.

​Tepuk tangan dan siulan menggema di seluruh aula.

​Julian dan Alea melepaskan pegangan mereka dengan canggung, seolah baru tersadar dari mimpi. Mereka saling pandang, tersenyum malu-malu, lalu buru-buru memalingkan wajah.

​Tapi nasi sudah menjadi bubur.

​Momen itu sudah terekam. Video Julian Pradana berdansa mesra dengan Alea si biang kerok sekolah sudah diunggah ke Instagram Story ratusan siswa. Dalam hitungan menit, itu akan menjadi gosip terpanas minggu ini.

​Saat Julian berjalan mundur, mencoba keluar dari lingkaran cahaya, matanya menangkap sosok di lantai dua aula.

​Doni.

​Kakak kelas itu berdiri di balkon, memegang HP yang diarahkan ke Julian. Doni tidak merekam. Dia hanya menatap Julian sambil tersenyum miring. Senyum penuh kemenangan.

​Lalu, HP Julian di saku jasnya bergetar.

​Julian merogoh sakunya dengan tangan dingin. Pesan baru dari nomor yang sama.

​Nomor Tak Dikenal:

Tarian yang indah, Ketua OSIS. Video ini pasti bakal disukai bokap lo. Gue kirim sekarang ya? Atau lo mau negosiasi?

Temui gue di gudang belakang sekolah. Sekarang. Sendirian.

​Darah Julian seolah berhenti mengalir. Pesta yang meriah itu mendadak terasa sunyi senyap di telinganya. Hanya detak jantungnya yang terdengar seperti bom waktu.

​Julian menatap Alea yang sedang dikerubungi teman-temannya yang menggoda soal dansa tadi. Alea tertawa bahagia.

​Julian tidak bisa membiarkan kebahagiaan itu hancur. Dia tidak bisa membiarkan Pensi—panggung impian Alea—dibatalkan gara-gara skandal ketua OSIS.

​Julian mengeraskan rahangnya. Ia menyimpan HP-nya, lalu berbalik arah menuju pintu keluar belakang. Menuju gudang.

​Ia akan menghadapi "musuh"-nya. Sendirian.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!