NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Sugar Daddy KR

"Sekarang, aku ingin kau katakan padaku, apa hukuman untuk pelanggaran kontrak ini, Ayu?" tuntut Lingga, suaranya dipenuhi otoritas.

Sebelum Ayu sempat menjawab, Lingga bergerak. Ia tanpa ragu meraih pinggang Ayu, menarik tubuh gadis itu erat-erat ke dalam tubuhnya yang padat dan berotot.

Jarak di antara mereka musnah, hanya terisi oleh panas tubuh Lingga yang menghanguskan. Ayu mendongak, terperangkap oleh mata Lingga yang kini dipenuhi hasrat yang membakar.

"Apa kamu ingin aku menjadi sugar daddy seperti yang dikatakan temanmu itu?" bisik Lingga, suaranya serak dan sangat dekat dengan telinga Ayu, napasnya yang hangat menerpa kulit Ayu. Jari-jarinya mencengkeram pinggang Ayu, menegaskan kontrol mutlaknya.

"Kau ingin ranah pribadi yang dominan, Ayu? Karena aku bisa memberikannya padamu. Lebih baik aku yang mengendalikanmu, daripada fantasi bodoh temanmu."

Ayu benar-benar membeku, jantungnya berdebar kencang seolah ingin meledak keluar dari tulang rusuknya.

Cengkraman tangan Lingga di pinggangnya begitu kuat dan posesif, menariknya hingga tidak ada ruang tersisa di antara mereka. Aroma maskulin parfum mahal yang selalu melekat pada Lingga kini terasa menyesakkan, bercampur dengan deru napasnya yang tidak teratur di dekat telinga Ayu.

​Lingga, di sisi lain, sangat menikmati sensasi ini. Ia merasakan dua gundukan lembut Ayu—yang hanya ditutupi oleh kaus belel murah—menempel erat pada dada bidangnya. Sentuhan ini, memicu reaksi liar dalam dirinya.

Ia mencondongkan tubuh lebih dekat, bibirnya menyentuh tepi telinga Ayu saat ia mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih dalam dan mengancam.

​"Jawab aku, Ayu."

Ayu akhirnya menemukan suaranya, meskipun hanya bisikan yang penuh penolakan. "T-tidak, Tuan. Saya tidak pernah ingin itu. Saya adalah asisten Anda, bukan… bukan aset lain yang bisa Anda beli."

Ayu berusaha mendorong dada Lingga, tetapi itu sama saja melawan dinding beton. Sensasi sentuhan itu terlalu intim, dan ancaman dalam nada suara Lingga terlalu nyata.

Ia terperangkap, dan Lingga tahu betul itu. Pria itu menyeringai kecil, puas karena berhasil membuat Ayu tak berdaya hanya dengan kontak fisik dan bisikan.

Cengkraman Lingga di pinggang Ayu semakin mengerat, tangannya sedikit bergetar karena gejolak hasrat yang tiba-tiba menyergapnya. Jarak nol yang mematikan itu mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuhnya.

Lingga bisa merasakan setiap lekuk tubuh Ayu menekan tubuhnya, dan dua gundukan lembut itu terasa membakar di dadanya. Perasaan ini, kerinduan yang dingin dan dominan, seketika membuat bagian bawahnya menegang dan tersengat.

Ia menundukkan kepalanya lagi, mengisap aroma rambut Ayu yang wangi, suaranya kini terdengar berat dan serak, hampir mendesak.

"Aku tidak pernah membeli aset, Ayu. Aku mengambilnya. Dan saat ini, aku benar-benar ingin mengambil mu. Menjadikanmu milikku, sepenuhnya. Kau adalah milikku saat kau ada di sini. Tidak ada lagi freelance atau teman-teman bodoh yang mempertanyakan mu. Hanya aku dan kau."

"Denda finansial, Tuan. Atau pemecatan dan diskreditasi," jawab Ayu, suaranya tegas seraya mendorong tubuh Lingga yang terasa sangat panas hingga pelukan itu terlepas. Ia takut akan perasaan ini. Ia takut ia terbuai meskipun ia juga suka.

Lingga menghela nafasnya, kesal karena Ayu menolaknya. Pria itu pun kembali dingin.

"Aku tidak akan memecat mu, dan aku tidak akan mendendamu dengan uang yang tidak kau miliki," kata Lingga. Ia meletakkan Amandemen Kontrak Kedua di meja. "Hukumanmu adalah ini: Aku akan mengambil semua kebebasanmu. Baca pasal ketiga."

Ayu mengambil kertas itu dan membaca pasal tentang penyerahan perangkat telekomunikasi pribadi dan pengawasan penuh oleh tim keamanan.

"Anda... Anda ingin menyita ponsel saya?" tanya Ayu, matanya melebar karena terkejut yang tulus.

"Itu adalah sumber bahaya dan gangguan," kata Lingga dingin. "Kau harus memutus kontak dengan teman-teman yang mengajarkanmu tentang sugar daddy dan klub malam. Kau akan fokus pada kuliah dan pekerjaanku. Semua komunikasimu akan melalui saluran yang aman."

Ayu menarik napas. Kehilangan kebebasan fisik masih bisa ia toleransi, tetapi kehilangan ponsel adalah isolasi total. Jiwa mudanya, yang mengandalkan koneksi digital dan teman, memberontak.

"Tidak, Tuan Lingga," tolak Ayu.

Lingga tampak terkejut. Tidak ada yang pernah menolak perintahnya. "Kau baru saja melanggar dua kali dalam satu hari, Ayu. Dan sekarang kau menolak hukuman yang kuberikan?"

"Saya tidak menolak hukuman, Tuan. Tapi saya menolak pasal ini," kata Ayu, menunjuk pada pasal penyitaan ponsel. "Saya lebih baik menerima denda."

Lingga menyeringai sinis. "Kau pikir kau bisa mengancamku dengan hutang, Ayu? Aku bisa membeli semua hutangmu hari ini juga."

"Bukan masalah hutang, Tuan," balas Ayu. "Ini masalah koneksi. Saya tidak akan bisa menghubungi ibu saya, atau teman saya atau mencari informasi kuliah yang mendesak. Saya adalah individu yang baru lulus, Tuan. Saya tidak bisa hidup tanpa koneksi, bahkan jika itu berarti mengorbankan uang."

Ayu meletakkan dokumen itu. Keputusannya bulat, meskipun ia tahu ini adalah taruhan besar.

"Saya lebih baik membayar denda yang pantas, Tuan," kata Ayu, menatap Lingga dengan mata berani. "Potong gaji saya. Berapa pun. Sampai gaji saya habis. Tapi ponsel saya tidak bisa Anda sita. Itu adalah satu-satunya jaminan saya pada dunia luar."

Lingga terdiam. Ia melihat kepolosan Ayu—dia tidak takut pada uang, dia takut pada isolasi. Dia rela menjual gaji yang sangat ia butuhkan demi koneksi dengan dunia luar. Itu adalah bukti bahwa gadis ini belum sepenuhnya terkontaminasi oleh materialisme.

Lingga kembali ke mejanya, mengambil kalkulator.

"Kau menghilang tujuh jam. Itu adalah pelanggaran keamanan maksimal," kata Lingga, menghitung cepat. "Gajimu, potongannya akan melebihi utang SPP-mu. Kau akan bekerja padaku, dan pada akhir bulan, gajimu hanya tersisa untuk biaya hidup minimum."

Lingga menulis angka di selembar kertas.

"Ini," katanya, mendorong angka itu ke Ayu. Potongan 80% dari gajimu selama enam bulan.

Ayu melihat angka itu. Ia hampir pingsan. Gaji besarnya kini menyusut drastis, nyaris tidak berbeda dengan bekerja serabutan, tetapi masih cukup untuk biaya kuliah.

Lingga menatap Ayu. "Ambil hukuman ini, dan kau mempertahankan ponselmu. Tapi aku akan memasang software pemantauan yang akan memberitahuku lokasi dan log panggilanmu setiap saat. Dan kau tetap harus ditemani oleh Ken atau tim keamanan setiap kali kau keluar dari gedung. Tidak ada pengecualian. Setuju?"

Ayu menggigit bibirnya. Ini masih jauh lebih baik daripada kehilangan ponselnya. Ia masih bisa mengirim pesan ke ibunya dan Vera (meskipun lokasinya akan terlacak).

"Setuju, Tuan," kata Ayu, meskipun terasa pahit. "Saya akan menandatangani amandemen kontrak baru, dengan denda pemotongan gaji ini. Tapi saya tegaskan, ini adalah pertukaran untuk ponsel saya, bukan karena saya pantas dihukum."

Lingga menyeringai kecil. "Tentu. The rebel harus membayar mahal untuk kebebasannya."

Lingga mengubah dokumen itu, mencoret pasal penyitaan ponsel dan menggantinya dengan pasal pemotongan gaji 80% selama enam bulan. Ayu menandatanganinya.

"Satu hal lagi," kata Lingga. "Kau bilang kau butuh waktu untuk diri sendiri. Aku akan memberikannya. Dua jam setiap malam. Tapi kau harus menghabiskannya di perpustakaan pribadiku. Kau bisa membaca apa pun di sana, tetapi jangan pernah menggunakan ponselmu di area itu."

Perpustakaan. Tempat yang sama di mana Ayu melihat Lingga bermain piano. Hukuman ini terasa seperti jebakan halus.

Ayu mengambil ponselnya, dan langsung merasa kehangatan yang hilang. Ia telah mempertahankan koneksinya.

"Sekarang, kembali bekerja," kata Lingga. "Kita punya janji bertemu dengan Tuan Aris di Rooftop Garden. Dan karena gajimu sudah kupotong 80%, aku harap efisiensimu meningkat 200%."

"Anda kejam tuan!" teriak Ayu kemudian berlari ke kamarnya.

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!