laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Yang Tenang
...Masa lalu tidak pernah benar-benar bisa dilupakan, karena ia adalah bagian dari lembaran hidup kita....
...Setiap orang yang hadir dalam hidup, pasti pernah membawa kebahagiaan sekaligus luka....
...Masa lalu akan terus menyakiti jika yang kita simpan hanyalah ingatan tentang rasa sakitnya....
...Namun kita bisa berdamai, bahkan mengubah arah hidup, ketika yang kita kenang adalah kebahagiaan yang pernah ada di dalamnya....
...{Revan Alistair}...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gemericik air dari dinding batu bergelombang mengalir pelan, jatuh ke kolam luas yang aesthetic di samping kamar Revan. Rintikannya menemani malam yang sunyi, seiring goresan pena yang perlahan membentuk sosok seorang gadis di atas kertas. Tangan kanan Revan memegang sebuah foto—wajah perempuan itu menjadi acuannya.
Ia merebahkan tubuh di kursi sun lounger dengan sandaran dinaikkan satu tingkat, cukup nyaman untuk menggambar dalam posisi setengah rebah.
Dari balik dinding kaca kamar yang belum tertutup gorden, Irwan memandang sang putra. Senyum getir terbit di wajahnya, seolah memahami sesuatu yang tak ingin ia akui.
Ayah mana yang tega melihat anaknya takut untuk. menjemput kebahagiaan.
“Sampai kapan kamu kuat menopang hati yang bercampur luka, Nak,” gumamnya pelan, sebelum akhirnya melangkah mendekat.
“Sudah malam, kenapa belum juga tidur?” ujar Irwan, berdiri di belakangnya.
Revan menoleh perlahan. Matanya tetap menatap gambar di tangannya. “Nanti saja, Dad.”
Irwan ikut duduk di kursi samping. Tatapannya hangat, penuh cinta, tapi ada sedikit kerut di dahi—seolah menahan kekhawatiran. Meski tak melihat gambar sepenuhnya, ia tahu siapa sosok yang tengah digambar putranya itu.
"Ada tulisan apa di samping gambarnya? Boleh Daddy baca?"
Revan mengulurkan kertas. "Oh...ini, Dad. Jangan diketawain ya, Revan nggak bisa nulis quotes."
Irwan membaca perlahan, bibirnya hampir tersenyum.
“Tidak salah, hanya saja sang penulis tidak berani melakukan apa yang ditulis.”
Ia menatap Revan, yang mengernyit sedikit—pertanyaan dan kebingungan tergambar jelas di wajahnya.
“Kalau berdamai bisa mengubah arah hidup, harusnya tidak stuck di tempat. Entah kenapa kamu cuma fokus pada agensi, padahal sumber kebahagiaanmu ada di tempat lain. Kamu seperti takut untuk bahagia.”
Revan menghela napas panjang, dadanya naik turun.
“Tidak begitu, Dad. Revan hanya… belum siap,” jawabnya pelan.
Irwan mengembalikan kertas itu ke tangan Revan, lalu menepuk bahunya perlahan.
“Sama saja. Belum siap itu cuma karena takut.”
Ia menatap putranya dengan penuh pengertian.
“Nak, mana ada hobi yang bisa jadi sumber ketakutan. Kamu hanya takut rasa sakit itu muncul lagi, bukan takut dengan hobi.”
Revan menunduk sejenak, tetap memegang gambar itu. Irwan menepuk pelan foto tersebut, suaranya lembut namun tegas.
“Hanya karena gadis ini.”
Revan menelan ludah. Dadanya berdebar, namun ada kehangatan yang membuatnya tetap diam di sana—merasa aman di sisi ayahnya, di antara rasa takut, rindu, dan cinta yang tak terucap.
Irwan memposisikan dirinya lebih nyaman di kursi. Revan kembali menatap hasil gambar yang telah ia buat. Di pandangan sang ayah, senyum tipis itu nyaris tak pernah berubah—tanpa ekspresi berlebihan, selalu terkendali, mencerminkan kedewasaannya.
Keheningan kembali terjeda ketika Irwan angkat bicara, seolah malam ini memang waktu yang tepat untuk berbincang.
“Gimana perkembangan kasus klienmu itu yang Daddy temuin, siapa namanya?” tanyanya.
“Zaskia, Dad.” Revan mengalihkan fokus pada sang ayah.
Irwan mengangguk, berpura-pura baru mengenali nama itu.
“Iya, dia mungkin.”
“Mulai besok, Revan dan tim agensi bertahap akan observasi langsung ke lapangan.”
Ia larut dalam perbincangan, meraih camilan di meja yang sedari tadi telah disiapkan maid. Mengambil satu, mengunyah pelan, lalu melanjutkan,
“Menurut Revan ada yang aneh, padahal Ayah dan saudaranya ada, tapi cuma dia yang berambisi mencari sendiri.”
Sambil mendengarkan, Irwan ikut mengambil camilan, mengunyahnya dengan santai.
“Gimana mau ikut mencari, karena mereka memang sudah tidak peduli lagi,” ujarnya spontan.
“Kok Daddy bisa tahu.”
Irwan langsung menyadari ucapannya. Ia berniat berpura-pura tidak mengenali Zaskia, namun justru keceplosan. Sepersekian detik ia terdiam, mencari jawaban yang tak menimbulkan kecurigaan.
“Nebak saja, Nak. Kalau mereka nggak ikut andil, itu berarti, kan tidak peduli.”
Revan mengangguk sambil memasukkan kacang ke mulutnya.
“Hmm, bisa jadi. Tapi Revan juga yakin ayahnya ada dibalik ini semua, cuma Revan belum berani mengatakan secara detail Ke Zaskia sebab ini masih dugaan Revan sendiri.”
Mata Irwan membesar. Ia tertegun, meskipun tak mengetahui detail keluarga Zaskia, ada kesamaan dengan dugaannya sendiri.
“Kenapa kamu bisa yakin.”
“Ada pola komunikasi paling sering dan jam terakhir tepat seminggu sebelum dia pergi dari suaminya. Dan tidak ada balasan lagi dari istrinya. Revan tidak tahu isi chatnya, tapi Revan merasa ada yang janggal di sini.”
Irwan membeku. Pandangannya sempat jatuh ke lantai, seolah menimbang sesuatu, sebelum senyum tipis—senyum lebar yang tertahan—muncul di wajahnya. Revan menangkap perubahan itu.
“Sepertinya Daddy terlihat senang,” katanya sambil memicingkan mata.
Irwan tampak bingung mencari alasan.
“Oh tentu, Daddy senang karena bangga sama kamu. Bisa membantu banyak orang dan selalu berhasil. Daddy yakin kasus Zaskia bisa kamu tangani.”
Ucapannya terdengar dibuat-buat.
Revan mengernyit. Ia meraih jus di depannya, meneguk jus jeruk dengan santai. Di sela tegukan, pandangannya sesekali melirik Irwan—dalam hati, senyum dan ucapan ayahnya terasa tidak sinkron.
“Menurut Revan, Daddy terlihat aneh.”
Ia meletakkan kembali gelas itu ke meja.
Irwan terkekeh kecil, menepuk bahu Revan.
“Tidak ada yang aneh, sudah Daddy mau tidur. Kamu juga ya.”
Ia memilih pergi, menghindari pertanyaan lanjutan.
“Baik, Dad.”
Irwan mengelus bahu Revan sebelum melangkah keluar, meninggalkannya dalam kesunyian.
Di depan pintu, Irwan langsung mengaktifkan ponsel dan memanggil nomor tertentu. Setelah tersambung, ia melangkah menjauh dari kamar Revan, berdiri di dekat anak tangga.
“Kerjamu bagus, Jack. Sekarang Zaskia bakal selalu terhubung dengan Revan. Saya senang dan puas melihat progresnya meskipun bersifat profesional. Setidaknya ini awal yang bagus untuk mereka bisa dekat. Tidak sia-sia kita sedikit mengelabuhi Papanya Nadine dalam misi ini. Ini bukan sesuatu yang kebetulan, tapi alam memang merestui. Menyuruh dia untuk menuruti permintaan Nadine hingga pertemuan Zaskia dengan Revan terjadi. Sisanya biar saya yang urus. Terima kasih, Jack.”
“Sama-sama Pak,” jawab Jack. “Bapak bisa menghubungi saya kapanpun Pak Irwan mau, dan saya akan siap membantu.”
“Saya pasti akan selalu membutuhkan kamu, sampai kontrak kerja kamu habis setelah rencana kita berhasil. Tapi untuk saat ini kita jangan berinteraksi dulu, jangan sampai Revan mengetahui. Bisa habis saya kalau dia tahu sewa kamu untuk hal-hal begini. Padahal dia tahunya kamu aspri saya.”
Nada Irwan serius—bukan takut, hanya waspada.
Sebelum panggilan itu berakhir, suara Revan tiba-tiba mengagetkannya.
“Daddy, masih di sini, ngapain?”
Irwan menoleh, ponsel masih menempel di telinga.
“Oke, terima kasih. Besok saya cek,” ucapnya cepat sebelum menutup panggilan.
“Revan, sejak kapan kamu di sini,” nada Irwan terdengar sedikit gugup.
“Daddy belum jawab pertanyaan, Revan. Ngapain di sini, itu tadi teleponan sama siapa, serius sekali sepertinya.”
“Oh...itu,” katanya agak terbata. “Sama Safa, laporan soal pabrik.”
Ekspresinya datar, berharap Revan percaya dan tidak mendengar percakapannya.
Revan mengangguk. Ada curiga, tapi ia memilih mengabaikannya. Seperti ia melarang ayahnya ikut campur dalam pekerjaannya, begitu pula sebaliknya.
“Ini, Dad.” Ia mengulurkan jam tangan. “Daddy orang yang paling tidak betah kalau tidak pakai jam tangan, kenapa ini lupa?”
Saat mengobrol tadi, Irwan memang sempat melepas arlojinya.
“Astaga, iya, bisa-bisanya Daddy lupa.”
Irwan mengambil jam tangan itu, lalu berpamitan untuk beristirahat.
Revan duduk sendiri, memeriksa catatannya sebentar sebelum menutup lampu.
Ia menarik napas perlahan, menatap hasil gambar di depannya. Meski masa lalu tetap membekas, malam itu ia memilih tetap fokus—pada pekerjaan, pada rencana, pada dirinya sendiri.
......................
Untuk tulisan Revan yang dibaca Daddy Irwan, kata-kata paling atas ya☺🙏
Sampai sini jika kalian suka karyaku dan menantikan bab selanjutnya, jangan lupa like dan komen ya teman-teman.
Readers terpikat, author semangat. 🥰🙏