NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: tamat
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sakit

Devan langsung mengantar Gauri balik ke rumah sakit begitu keluar dari toko roti. Dia masih terbawa emosi pada Vano. Untung Gauri sudah tidak ketakutan lagi.

Lorong rumah sakit sore itu lengang, tapi udara terasa sesak oleh suara-suara kecil yang berbisik di belakang punggung Devan.

"Eh, itu cucunya pemilik rumah sakit ini kan?

"Kok sama gadis itu?

"Ya ampun, anak itu lagi. Ribut lagi nggak nanti? Mendingan ditaruh di RSJ sekalian,

ngapain ..."

Devan berhenti.

Tidak menoleh. Tidak bicara. Hanya berhenti. Dan efeknya instan, semua bisikan mati mendadak. Beberapa suster pura-pura membaca chart. Dua perawat berdeham gugup. Seseorang bahkan mundur selangkah tanpa sadar.

Devan hanya mengangkat kepalanya sedikit. Tatapan dingin, jelas-jelas memberi pesan,

Aku dengar semuanya. Awas.

Lalu ia kembali melangkah sambil memegang tangan Gauri yang masih menempel di jari-jarinya, seolah gadis itu adalah poros yang menahan amarahnya agar tidak meledak.

Gauri, tidak paham apa yang terjadi, hanya melangkah dengan ayunan tangan kecil, memeluk roti-roti yang baru dibungkus.

Sesampainya di lantai perawatan khusus, seorang suster yang biasa mengurus Gauri menghampiri.

"Eh, pak Devan? Oh, ternyata Gauri ada sama anda. Pak Devan kenal dia?" nadanya cerah sekali, terlalu cerah untuk sesuatu yang tulus.

Devan hanya menatap. Suster itu menelan ludah.

"Oh, iya. Silakan. Dokter Agam masih operasi. Kamarnya sudah siap."

Mereka berjalan menuju kamar rawat Gauri, kamar yang selalu sama. Gorden biru, aroma antiseptik tipis, boneka cokelat kecil yang dibelikan Agam di atas nakas, dan dinding yang menurut Gauri terlalu putih, kayak kapas.

Begitu pintu ditutup, suara dunia luar seperti meredam. Gauri langsung menarik ujung baju Devan, mengangkat kantong roti ke atas seperti trofi.

"Kakak … buka ini?" Mata bulatnya berbinar, pipinya yang sedikit kemerahan masih terlihat lucu setelah menangis, dan tantrum di kebun sekolah tadi.

Devan mengangguk kecil.

"Duduk dulu."

Gauri patuh. Ia duduk bersila di atas lantai sebelum Devan mengangkatnya ke sofa kecil di dekat jendela, karena lantai terlalu dingin. Gadis itu menerima roti pertama dengan kedua tangan, seperti menerima hadiah ulang tahun. Dan ketika gigi kecilnya menggigit bagian atas yang empuk, matanya langsung menutup.

"Enak …" gumamnya sambil mengayun kaki.

Devan bersandar di meja kecil, menyilangkan lengan, memperhatikan. Ada bagian di dalam dirinya yang seharusnya tidak bereaksi berlebihan pada pemandangan sesederhana itu. Tapi entah kenapa … dada Devan terasa hangat setiap kali melihat Gauri makan dengan lahap.

Terlalu polos.Terlalu jujur. Terlalu tidak terlindungi. Dan dia baru saja dihina orang. Di depan Devan. Pikirannya memanas lagi, tetapi suara pelan Gauri menariknya kembali.

"Kakak …"

"Hm?"

"Nama kakak siapa?"

"Devan."

Gauri menyorongkan roti setengah dimakan ke arah bibir Devan.

"Kak Devan mau coba?" Ia tersenyum lebar, bangga seperti sedang menawarkan makanan buatan sendiri.

Devan menghela napas.

"Kakak nggak lapar."

Gauri langsung menunduk, bahunya merosot. Devan menahan tawa kecil, reaksi gadis itu begitu spontan.

"Ya udah, kasih sedikit." setelah jeda, Devan mencondongkan tubuh dan menggigit ujung roti itu. Gauri menatapnya tidak berkedip.

"Enak?"

"Enak," jawab Devan jujur.

Gauri menepuk-nepuk lututnya bahagia. Setelah habis satu roti dan setengah lainnya masuk ke kantong 'dibungkus untuk nanti', Gauri mulai menguap kecil. Mata bulatnya mengecil, tubuhnya bergoyang pelan ke kanan dan kiri.

Devan sudah tahu tanda itu.

"Ngantuk?"

Gauri mengangguk sambil mengucek mata, lalu merangkak ke arah tempat tidur dengan tangan terulur, mencari pegangan.

Mencari Devan.

Pria itu tidak menyuruhnya cepat. Ia hanya mengikuti dari belakang, memegangi punggung Gauri agar tidak jatuh. Gauri naik ke kasur, duduk, lalu memegang pergelangan tangan Devan.

"Kak Devan sini."

Devan membuka selimut, membantu gadis itu masuk. Gauri langsung berbaring miring, masih memegang jari-jari Devan seperti pegangan hidup.

"Kakak… jangan pergi…" suaranya mengecil, seperti anak kecil takut ditinggal.

"Kakak di sini," jawab Devan. Ia duduk di kursi samping ranjang.

Namun Gauri menarik tangan Devan lagi, lebih erat.

"Jangan di kursi. Sini."

Devan terdiam.

Ia menatap wajah Gauri, pucat karena obat, manis karena senyum, dan lelah setelah hari yang kacau. Gadis itu benar-benar belum mau ditinggal.

"Kalau kakak pergi … Gauri nanti nangis lagi," desisnya pelan.

Devan akhirnya menghela napas, menyerah. Ia duduk di pinggir ranjang. Gauri langsung meletakkan tangan Devan di bawah pipinya, seperti bantal tambahan. Bahkan saat napasnya mulai melambat, jemarinya tidak lepas.

"Gauri," gumam Devan,

"Kalau kamu terus begini, aku ..."

Ia berhenti. Tidak jadi melanjutkan. Karena Gauri sudah tertidur. Benar-benar tertidur, dengan napas halus yang naik turun di punggung tangan Devan.

Keheningan memenuhi ruangan.

Untuk beberapa menit, Devan hanya duduk diam. Menatap gadis itu. Menahan napas. Sisi lembut dirinya muncul ketika ia menyibakkan sedikit rambut yang menutupi mata Gauri.

Setelah sekitar dua puluh menit, suara pintu terbuka.

Agam masuk dengan seragam operasi, masker masih menggantung di bawah dagu. Tubuhnya jelas kelelahan, tapi matanya langsung membesar melihat pemandangan di depannya.

Gauri terlelap memeluk tangan Devan. Devan diam, duduk di pinggir kasur, tidak bergerak.

"Devan …" Agam berjalan mendekat.

Devan berdiri perlahan agar tidak membangunkan Gauri.

"Kau sudah kembali?" sambung Agam, suaranya melemah.

"Mhm."

"Ada masalah?"

Devan menatap Agam lama.

Ada banyak yang ingin ia katakan tentang bagaimana orang-orang memperlakukan Gauri. Tentang Vano. Tentang semua bisikan. Tentang rasa panas di dadanya setiap kali seseorang meremehkan gadis itu.

Tapi ia hanya menjawab singkat.

"Dia makan roti yang dia ambil dari tong sampah. Waktu aku lihat, sudah banyak yang dia makan. Aku membuangnya, dia sempat tantrum. Tapi tidak lama pas aku bilang akan bawa dia ke toko roti.

Agam kaget.

"Ro-roti, dari tempat sampah?"

Devan mengangguk pelan.

"Sebaiknya kau periksa kondisi tubuhnya nanti."

Agam mengangguk. Wajahnya terlihat semakin letih. Ia menatap Gauri yang terlelap dalam tidurnya, lalu mendesah berat.

"Terimakasih, sudah menjaganya."

Devan mengangguk dan bicara lagi.

"Kau harus perhatian semua staf rumah sakit ini. Ada yang pura-pura baik di depanmu pada dia. Di belakang mereka mengatainya gila.

Agam menegang. Rahangnya mengeras, bola matanya menggelap.

"Siapa?" suaranya rendah, hampir seperti geraman.

Devan menggeleng.

"Bukan soal siapa. Tapi banyak. Kau tahu sendiri… Gauri bukan pasien biasa. Mereka pikir dia beban. Menyulitkan."

Tangan Agam mengepal. Ia tidak menyangka Devan yang baru pertama kali mengantar Gauri ke sini justru jauh lebih peka darinya.

"Aku akan menertibkan mereka nanti." katanya.

Devan mengangguk. Ia lalu melepaskan pergelangan Gauri pelan, menatap gadis yang pulas itu lama sebelum pamit pergi dari sana.

1
tutut wahyuningsih
👍👍👍👍
irma hidayat
rasain lu gino kamu lengah padahal udah gunain akal akalanmu agar devan ikut
irma hidayat
pede banget kamu diana bilang ga cocok, mau nya kamu ya yg cocok
irma hidayat
cerita nya bagus,semangat berkarya thor
irma hidayat
kena juga tuh di akalin gino
irma hidayat
diana jangan marah kamu sedang menuai hasil dari perbuatanmu
irma hidayat
pelampiasan cemburu tuh s diana,ares kena
Qaisaa Nazarudin
Padahal yah dengan kejadian berlaku dan setelah kecelakaan itu, Sesiapa juga bisa MENEBAK apa yg sebenarnya terjadi,Setelah kejadian itu dengan Tiba2 Ibnu langsung berkuasa dan hidup mewah,Siapa juga akan mikir apa yg sudah terjadi..Lha ini malah PASRAH gitu aja,Aneh...
Qaisaa Nazarudin
Padahal diawal Agam mengenalkan Siapa Gauri ke Gino dan Devan, Perasaan ku Agam menyebut nama Tunangannya Gretta,Kok bisa berubah jadi Iriana..🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Move on Agam,Kamu juga berhak bahagia, Orang yg meninggal Roh akan nyangkut selagi orang yg dia Sayang belum mengikhlaskan dia PERGI, Jadi DIA belum bisa TENANG diatas sana..
Qaisaa Nazarudin
Aku takut aja ada yg merakam perbuatan mereka,Ia sih sekolah ini milik Gauri,tapi gak ada CONTOH YG BAIK,Apalagi Devan yang notabene nya SEORANG PENDIDIK,Tidak mencerminkan jiwa seorang pendidik,Kalah dengan Nafsu..🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Devan..Devan kan sudah di peringatin juga sama tante Victoria dirumah saat dimeja makan,Kenapa dilakukan juga ckk..
Qaisaa Nazarudin
Hareudang... Akhirnya Jebol juga Gauri,Tahan nafas aku baca bab ini 🤭🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Nah akhirnya Gauri SEMBUH sendiri, Semoga Gauri gak lupa kalo Devan itu SUAMINYA ya..
Qaisaa Nazarudin
Semoga setelah mimpi ini Gauri SEMBUH ya..🤲🤲🤲 Gak sabar aku nunggu Gauri sembuh..
Qaisaa Nazarudin
kok IRINA??Bukan GRETTA ya nama kakak nya?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Aku takut nya ntar Gauri cerita ke orang lain apa yang sudah Devan lakukan ke dia..😂😂🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Itu mah buah Terong bukan anggur ya Gauri 🤣🤣🤣😜😜
Qaisaa Nazarudin
Padahal aku udah takut banget kalau Keluarga Devan gak setuju dan gak restuin karena keadaan Gauri yg sakit.. Alhamdulillah ternyata diluar Ekspektasi aku..
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah tdk ada DRAMA tdk restu dan memandang RENDAH dan MENGHINA Gauri dari sang kakek..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!