NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Langit Tengah Malam

Malam jatuh di desa itu dengan cara yang paling sunyi, seperti selembar kain beledu hitam yang dibentangkan perlahan menutupi jagat raya.

Tidak ada suara bising mesin kendaraan atau pendar lampu merkuri yang merobek langit kota. Yang ada hanyalah simfoni alam; suara jangkrik yang mengerik di kejauhan, serta gesekan daun-daun pohon damar yang tertiup angin malam, menciptakan bebunyian seperti bisikan ribuan mulut tak kasat mata.

Angin berembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan wangi resin damar yang getir namun menenangkan, menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi rumah kayu yang mulai dimakan usia.

Di dalam kamarnya, Senja terbaring diam. Namun, matanya tidak terpejam. Ia menatap langit-langit kayu di atasnya dengan pandangan kosong.

Remang cahaya bulan yang menembus tirai tipis menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding, seolah-olah bayangan itu memiliki nyawanya sendiri.

Di dalam benaknya, suasana jauh dari kata tenang. Pikiran Senja adalah sebuah labirin yang kacau, dipenuhi oleh potongan-potongan gambar yang entah datang dari mana.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia kembali melihat tempat lilin kuningan yang penyok itu melayang di kegelapan.

Ia kembali mendengar isak tangis yang begitu menyayat hati, sebuah tangisan yang terdengar sangat murni namun penuh keputusasaan. Siapa anak itu? Dan kenapa kata-kata "anak yatim piatu" itu terasa begitu akrab sekaligus begitu beracun di lidahnya? Senja tidak ingat pernah bertemu dengan anak-anak itu dalam ingatan sadarnya.

Ingatannya tentang masa kecil adalah deretan memori tentang sekolah internasional, apartemen mewah, dan liburan ke luar negeri. Tidak ada pohon damar. Tidak ada rumah kayu yang berderit.

Namun, kenapa benda usang yang ia temukan di gudang tadi siang terasa seperti kunci yang membuka pintu terlarang di dalam otaknya?

Senja bangkit dari tempat tidur. Kepalanya masih berdenyut, sebuah rasa pening yang tumpul namun konsisten. Ia merasa sesak.

Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit untuk menampung kegelisahan yang membuncah di dadanya. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan bunyi derit pada lantai kayu, ia berjalan menuju pintu dan keluar.

Di ruang tengah, keadaan sudah gelap gulita. Hanya ada cahaya dari lampu minyak kecil yang dibiarkan menyala di sudut ruangan.

Senja melangkah menuju dapur, bermaksud mencari air minum untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Namun, saat ia melewati ruang tengah, ia melihat sosok yang duduk di teras samping, sedang menatap kegelapan malam.

Itu Arkala.

Lelaki itu duduk dengan satu kaki diangkat ke atas kursi kayu, tangannya memegang secangkir kopi yang kepulannya sudah menghilang.

Senja sempat tertegun sejenak. Biasanya, melihat Arkala berada di rumah kakek hingga larut malam seperti ini akan memicu rentetan pertanyaan di kepalanya. Ia akan merasa cemburu, bertanya-tanya mengapa Arkala begitu dekat dengan keluarga ini, atau merasa curiga tentang apa yang mereka bicarakan jika ia tidak ada.

Namun malam ini, semua perasaan posesif itu menguap, digantikan oleh kekosongan yang dingin.

"Lu... kenapa masih di sini malam-malam begini, Kal?" tanya Senja dengan nada yang pelan, nyaris tanpa energi.

Arkala tidak langsung menoleh. Ia menyesap sisa kopinya sebelum menjawab.

"Gue menginap di kamar tamu sebelah. Besok pagi-pagi buta ada yang harus gue urus sama Kakek soal pembersihan kebun damar di sisi barat. Daripada gue balik ke rumah terus subuh ke sini lagi, mending gue tidur di sini saja."

Senja hanya mengangguk pelan. Ia melangkah menuju meja dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari teko.

Jika biasanya ia akan menimpali dengan sindiran seperti, "Ooh, rajin banget cari muka di depan Kakek," kali ini Senja hanya terdiam.

Ia meneguk air itu dalam keheningan yang menyesakkan. Pikirannya terlalu penuh untuk mengurusi keberadaan Arkala. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang merobek-robek kewarasannya.

Arkala menyadari perubahan itu. Ia menurunkan kakinya dari kursi, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Senja. Ia memperhatikan bagaimana bahu pemuda kota itu tampak merosot, dan bagaimana matanya kehilangan binar kompetitif yang biasanya selalu menyala tiap kali mereka berhadapan.

"Lu kenapa, Dit?" tanya Arkala. Suaranya rendah, namun ada nada penasaran yang tak bisa disembunyikan. "Muka lu dari tadi sore nggak beres. Pucatnya nggak hilang-hilang. Lu sakit? Kalau sakit bilang, jangan sampai lu pingsan di sini, gue malas kalau harus repot mengurus lu ke kota."

Senja memaksakan sebuah senyum tipis, meski ia tahu senyum itu terlihat sangat tidak meyakinkan di bawah temaram cahaya bulan. "Nggak apa-apa, Kal. Cuma kecapekan saja mungkin. Belakangan ini tidur gue nggak nyenyak."

Arkala tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan Senja dengan saksama. Biasanya, pada jam seperti ini, jika mereka berdua bertemu, mereka akan saling lempar sindiran. Mereka akan bertarung kata-kata tentang siapa yang lebih pantas menarik perhatian Arunika atau siapa yang lebih tahu tentang masa depan proyek di lahan ini.

Namun malam ini, Senja tampak seperti orang yang berbeda. Ia tampak rapuh, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menggerogoti jiwanya dari dalam.

"Biasanya lu semangat banget kalau mau berantem sama gue," celetuk Arkala, mencoba memancing reaksi. "Sekarang ditanya baik-baik malah diam. Lu beneran tidak apa-apa? Kalau ada apa-apa sama kepala lu gara-gara debu gudang tadi, bilang sama Nenek. Dia punya ramuan yang aromanya aneh tapi mujarab."

Senja menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya. "Gue beneran nggak apa-apa, Kal. Cuma lagi banyak pikiran saja."

Arkala menyipitkan mata. Ia merasa ada yang aneh. Sejak Senja menemukan sesuatu di gudang siang tadi, pemuda itu berubah drastis.

Arkala, yang biasanya merasa kesal terhadap Adit, kini justru merasa ada benih kekhawatiran yang asing. Ia terbiasa menganggap Adit sebagai saingan, tapi melihat Adit yang linglung seperti ini membuatnya tidak tenang.

Ada sesuatu yang besar yang sedang terjadi di bawah permukaan wajah Adit. Sesuatu yang mungkin, entah bagaimana, berhubungan dengan sejarah rumah kayu ini.

"Ya sudah kalau lu tidak mau cerita," ucap Arkala akhirnya, ia kembali menatap ke arah pohon damar di halaman. "Tapi ingat satu hal.

Di desa ini, angin tidak cuma bawa dingin. Dia juga bawa cerita. Kadang cerita yang lu kira sudah lu kubur dalam-dalam, bakal digali lagi oleh angin dan dibawa tepat ke depan pintu lu. Jangan kaget kalau itu terjadi."

Senja tidak menjawab. Ia merasa setiap kata yang diucapkan Arkala adalah gema yang tepat sasaran, meski ia yakin Arkala tidak tahu apa-apa tentang kepingan ingatan yang ia temukan.

Angin kembali berembus, membuat dedaunan pohon damar bergoyang hebat, menciptakan bayangan yang tampak seperti tangan-tangan panjang yang mencoba meraih langit malam.

Di dalam dadanya, Senja merasa sangat kecil. Ia merasa seperti seorang penjelajah yang tersesat di tengah samudera memori yang ia sendiri tidak miliki petanya.

Siapa anak laki-laki sombong itu? Kenapa dia begitu kejam? Dan kenapa ingatan itu justru muncul di rumah ini, di antara aroma kayu ulin dan bisikan pohon damar?

Tanpa berpamitan, Senja berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Ia tidak sanggup lagi berada di sana, di bawah tatapan Arkala yang seolah mampu menembus lapisan rahasia di dalam kepalanya.

Saat pintu kamar tertutup, Senja kembali duduk di tepi tempat tidur. Ia merogoh tas ranselnya, menyentuh permukaan rajutan usang yang ia sembunyikan di sana.

Permukaan syal itu terasa kasar di ujung jarinya, seolah setiap helai benangnya menyimpan rasa sakit yang telah membeku selama belasan tahun.

Ia kembali teringat kepingan mimpi aneh yang sempat mampir saat ia tertidur sebentar tadi sore; sebuah lorong gelap yang di ujungnya ada sebuah pohon damar besar yang terbakar.

Di bawah pohon itu, tempat lilin kuningan penyok itu bersinar merah, seolah-olah sedang meneteskan sesuatu yang kelam.

"Ini cuma halusinasi" bisik Senja pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan logika kotanya yang mulai runtuh.

Namun, hatinya berkata lain. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah benar-benar tenang sebelum ia menemukan jawaban dari teka-teki ini.

Ia harus mencari tahu. Bukan tentang Arunika, bukan tentang Arkala, tapi tentang siapa dirinya di masa lalu. Tentang apa yang sebenarnya terjadi di bawah bayang-bayang pohon damar bertahun-tahun yang lalu.

Di luar, Arkala masih duduk di teras, menatap pintu kamar Adit yang tertutup rapat. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan uap napasnya terlihat di udara malam yang dingin.

"Ada yang lu sembunyiin, Dit," gumam Arkala pelan. "Dan gue harap, apa pun itu, tidak akan merusak kedamaian yang ada di sini."

Malam semakin larut. Angin malam terus berembus, membawa nyanyian melankolis dari sela-sela batang damar, seolah sedang meratapi rahasia-rahasia yang mulai terkelupas satu demi satu.

Senja akhirnya merebahkan tubuhnya, membiarkan dirinya ditarik kembali ke dalam lautan mimpi yang gelap, berharap esok pagi, semua kepingan ingatan itu hanya akan menjadi kabut yang menguap.

Namun ia tahu, di tempat setenang ini, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya sedang menunggu untuk diingat kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!