Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya yang membelah ranjang king size itu. Dewangga terbangun lebih dulu. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar sejenak sebelum menoleh ke samping.
Siham masih di sana. Posisinya sama persis dengan posisi semalam saat Dewangga masuk ke kamar untuk tidur: meringkuk membelakangi sisi ranjang Dewangga, seolah-olah ada tembok transparan yang memisahkan mereka. Tidak ada gerakan, tidak ada suara napas yang teratur. Untuk sesaat, Dewangga merasa ngeri; istrinya tampak begitu diam hingga ia harus memastikan bahu Siham masih bergerak naik-turun.
Dewangga menghela napas, mencoba membuang kegelisahan yang menghantuinya sejak makan malam sendirian tadi malam. Ia bangkit, berusaha tidak peduli, dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah kucuran air shower yang dingin, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah fase protes Siham yang biasa.
Namun, saat ia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang dan rambut yang basah, pemandangan di kamar sudah berubah.
Siham sudah duduk di pinggir ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya masih sepucat kertas. Di tangannya ada sebuah botol plastik kecil tanpa label dan segelas air putih. Dengan gerakan tangan yang sedikit gemetar, Siham menelan sebutir obat, lalu meneguk airnya hingga tandas. Ia sempat memejamkan mata kuat-kuat, seolah sedang menahan rasa mual yang hebat atau nyeri yang menusuk.
Dewangga berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi. Gengsinya berperang hebat dengan nuraninya. Ia melihat bagaimana Siham meletakkan gelas itu dengan sangat hati-hati, seolah benda kaca itu beratnya ber-ton-ton.
"Kamu... baik-baik saja?" tanya Dewangga akhirnya. Suaranya terdengar kaku, hampir seperti paksaan. Ini adalah kalimat perhatian pertama yang ia ucapkan secara sukarela tanpa ada orang tua atau mertua di sekitar mereka.
Siham tidak langsung menoleh. Ia menarik napas dalam-dalam, mengatur detak jantungnya agar tidak terdengar panik. Ia kemudian menatap Dewangga dengan tatapan yang sangat datar, sepasang mata yang dulu penuh binar cinta kini hanya menyisakan kekosongan.
"Hmm. Cuma sedikit kurang enak badan," jawab Siham pendek. Suaranya serak dan tak bertenaga.
Dewangga berjalan menuju lemari pakaian, pura-pura sibuk memilih kemeja, namun matanya terus mencuri pandang lewat pantulan cermin. "Harusnya makan dulu sebelum minum obat. Jangan cuma minum air putih saja."
Siham tertegun sejenak. Ia menangkap nada yang sedikit berbeda dari suara Dewangga seperti ada secuil perhatian yang terselip, atau mungkin hanya rasa bersalah yang sedang menyamar. "Iya, nanti. Aku cuma lagi ingin rebahan saja."
Dewangga mengenakan kemejanya, mengancingkan mansetnya satu per satu dengan gerakan yang lambat. Ia merasa jawaban Siham terlalu pasif. "Kamu tidak ke kantor?"
"Tidak," jawab Siham singkat sembari kembali merebahkan tubuhnya ke bantal. "Pak Hendra memberi izin aku satu minggu untuk tidak masuk."
Dewangga menghentikan gerakannya. Ia mengerutkan kening tajam. Dalam dunia bisnis Dewangga, tidak ada istilah izin satu minggu tanpa alasan yang sangat mendesak, apalagi untuk posisi editor senior yang memegang naskah besar.
"Satu minggu?" ulang Dewangga, suaranya naik satu oktav. "Apa alasannya? Apa pekerjaanmu sekarang sudah tidak penting lagi sampai kantor memberikan libur selama itu di tengah proyek besarmu?"
Siham memejamkan mata, membelakangi Dewangga lagi. "Alasannya karena waktu kerjaku memang sefleksibel ini, Mas. Pak Hendra tahu kapan aku harus bekerja keras dan kapan aku harus berhenti sejenak. Semua naskah tetap bisa aku pantau dari sini."
"Fleksibel atau kamu yang sedang merayu atasanmu untuk mendapatkan keistimewaan?" sindir Dewangga, kembali ke sifat aslinya yang tajam saat merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Siham tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan. "Percaya atau tidak, itu terserah padamu. Yang jelas, aku punya waktu satu minggu untuk diam di rumah ini. Jadi, jangan heran kalau kamu melihatku hanya di ranjang atau di ruang kerjaku seharian."
Dewangga merasa seperti dipukul oleh keacuhan istrinya. Biasanya, jika ia menyindir seperti itu, Siham akan membela diri dengan panjang lebar atau menangis. Namun sekarang, Siham seolah sudah tidak punya energi untuk sekadar merasa marah.
"Terserahlah," gumam Dewangga sembari menyambar jam tangan mewahnya. "Pastikan saja kau tidak membuat Mama curiga saat kita di Swiss nanti. Aku tidak mau liburan keluarga rusak hanya karena kau yang ingin rebahan terus-menerus."
Siham tidak menyahut. Ia membiarkan suara pintu kamar yang tertutup menjadi tanda bahwa Dewangga telah pergi. Begitu suara mobil Dewangga menjauh dari halaman rumah, Siham membuka matanya. Ia menyentuh perutnya yang terasa nyeri luar biasa.
Satu minggu cuti ini bukan untuk rebahan. Ia harus menyelesaikan bab terakhir Surat Pamit untuk Aksara Renjana. Ia harus menyusun bukti-bukti dan wasiat yang akan ia tinggalkan.
Di dalam kamar yang mewah itu, Siham menatap langit-langit. Perhatian kecil Dewangga tadi bukannya membuatnya bahagia, justru membuatnya semakin sedih. Perhatian itu datang saat ia sudah tidak lagi membutuhkan kehadiran pria itu untuk bertahan hidup.
"Sudah terlambat, Mas," bisik Siham pada kesunyian. "Bahkan jika kamu memberikan seluruh perhatianmu sekarang, sel-sel di tubuhku tidak akan peduli. Mereka sudah membuat jadwal keberangkatanku sendiri."
Ia meraih laptopnya, meletakkannya di atas pangkuan, dan mulai mengetik. Setiap denting tombol laptop adalah hitungan mundur menuju Swiss, menuju perpisahan yang sudah ia sunting sedemikian rupa agar menjadi naskah paling tragis yang pernah Dewangga baca.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor