Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. TIDAK ENAK PERASAAN
Hari ini Murat sangat sibuk memeriksa berkas berkas pekerjaannya, sebagai seorang Manajer HRD dirinya tidak bisa berleha leha . Tok...tok..tok.. "Permisi pak saya membawakan laporan yang bapak minta".
" Masuk Dimas, Oh iya apakah materi untuk meeting kita hari ini dengan tim finance sudah siap Dimas".
"Oh iya, ini sudah saya siapkan pak, mungkin bisa bapak periksa dulu". Dimas pun menaruh beberapa berkas untuk diperiksa oleh Murat.
"Apa adalagi yang bisa saya kerjakan Pak?". Murat menggeleng. "Baik Pak, kalau begitu saya permisi". Dirasa tidak ada lagi yang dibutuhkan oleh atasannya, Dimas pun keluar.
Setelah kepergian Dimas, Murat membuka kacamatanya dia merasa, kepalanya pusing dan dadanya terasa sesak. Dia menyandarkan tubuhnya dikursi.
Sejak tadi otaknya tidak pernah berhenti memikirkan Hanna. " Wanita itu benar benar, mengganggu saja". Kesalnya, kemudian dia melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda.
...****************...
Tok...tok..tok..
CEKLEK...
"Maaf Pak, 10 menit lagi meetingnya di mulai". Murat mengangguk, sejak tadi hatinya tidak bisa tenang. Dadanya terasa berdenyut nyeri entah kenapa.
Sekitar hampir 2 jam, meeting akhirnya selesai. Murat pun beranjak untuk pergi keruangannya dan menyelesaikan sisa pekerjaannya tadi.
"Maaf Pak, apa bapak baik baik saja?". Sejak tadi sebenarnya Dimas sudah melihat atasannya tidak baik baik saja. Tetapi karena ragu akhirnya dia baru bertanya sekarang.
"Bisa tolong bawakan air hangat keruanganku, sepertinya aku butuh istirahat sebentar". Murat pikir mungkin kepalanya pusing karena terlalu lama melihat layar laptop. Jadi dia berinisiatif mengistirahatkan tubuhnya.
"Baik Pak". Dimas pun segera keruangan pantri untuk membawakan apa yang atasannya minta.
Murat memijat mijat kepalanya dan rasa nyeri di kepala dan dadanya tidak kunjung membaik. Dia merebahkan dirinya di sofa dan mencoba memejamkan matanya.
Tetapi setiap dia memejamkan matanya. Wajah Hanna semakin jelas berada didalam pikirannya. " Wanita itu kenapa selalu muncul dipikiranku..huh".
Tok..tok.. ceklek.. " Permisi Pak" Dimas langsung menaruh segelas air hangat di nakas dekat sofa.
"Terima kasih Dimas".
Dimas masih diam dan memperhatikan atasannya. Sejak tadi dia melihat Murat gelisah jadi dia tidak tega meniggalkan bosnya sendiri.
Murat yang menyadari Dimas masih disana membuka matanya. " Kenapa, apa ada sesuatu?". Dia merasa tidak nyaman karena sejak tadi Dimas memperhatikannya.
"Maaf Pak, apa tidak sebaiknya Bapak pergi ke Rumah Sakit saja, wajah Bapak terlihat pucat". Murat memegang wajahnya. "Apa Iya".
"Baiklah, sepertinya hari ini aku akan pulang lebih awal". Murat lalu beranjak dan bersiap, dia juga tidak mau membuang buang waktu, karena kepala dan dadanya masih terasa nyeri.
...****************...
Murat baru saja pulang dari Rumah Sakit. Dokter bilang kesehatannya tidak ada masalah. Dia disarankan untuk tidak terlalu lelah dan menyarankannya untuk meminum beberapa vitamin.
"hah apa aku terlalu banyak pikiran". Dia bertanya pada dirinya sendiri karena merasa tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter.
Perjalanan cukup lancar sore ini. Untung saja dirinya tidak terjebak macet. Mobil memasuki perkarangan rumah. Tetapi sore ini rumahnya tampak sepi.
Biasanya Keanu sedang bermain bola dihalaman rumah dan istrinya duduk diteras menggendong baby Malika sambil mengawasi putranya.
Kemana mereka, saat hendak membuka pintu rumah, ternyata pintunya dikunci. " HANNA...HANNA...tok..tok". Kepala dan dadanya masih terasa nyeri, dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
Tetapi istrinya sejak tadi tidak kunjung membukakan pintu, kesabarannya sudah hampir habis. Cklek... Hanna membuka pintu " Maaf tadi aku sedang di kamar mandi kak, anak anak sedang tidur, jadi aku mengunci pintunya".
Murat memperhatikan istrinya cukup lama. Ada perasaan tak biasa yang dia rasakan. Biasanya kesalahan sedikitpun yang Hanna lakukan pasti emosinya langsung naik.
Tetapi sekarang dia sering tidak tega, apalagi melihat wajah Hanna yang tampak pucat dan sayu. " Sudah lah, aku lelah, aku ingin istirahat".
Padahal tadi Hanna bersiap jika suaminya mengeluarkan kata kata pedas padanya, tetapi hal itu tidak terjadi dan membuatnya sedikit heran. " Apa terjadi sesuatu?".