Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sonya menegakkan punggung, mencoba menanggalkan rasa cemas yang menggelayuti hatinya. "Pak, saya tidak meminta bantuan dari siapa pun," jawabnya dengan suara yang sedikit lebih tegas dari yang ia duga. "Saya di sini karena kemampuan saya. Jika Anda meragukan saya, beri saya kesempatan untuk membuktikan diri."
Yudha menatapnya lebih lama, seolah mencoba menilai apakah Sonya benar-benar serius. Ada kilatan keheranan di matanya, mungkin dia tak menyangka Sonya akan berbicara dengan begitu berani. Lalu, setelah beberapa detik yang terasa panjang, Yudha mengangguk. "Baik. Jangan buat saya kecewa."
Setelah kesepakatan itu tercapai, Sonya buru-buru meninggalkan ruangan Yudha yang terasa semakin menyesakkan dadanya.
Sonya duduk di bangku taman yang terletak di luar gedung, pikirannya kacau balau. Tatapan tajam Yudha dan kata-kata yang terucap dengan nada tegas itu terus berputar di kepalanya, mengingatkannya pada masa lalu yang penuh penyesalan. Sonya meraup wajahnya dengan frustasi, hatinya terasa begitu berat. "Ini kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Yudha," pikirnya, namun di sisi lain, ia merasa begitu kecil di hadapan pria itu.
"Sonya, kamu harus bisa. Ini semua demi Sasa. Kamu sudah janji akan melakukan apa pun untuknya. Bukankah ini kesempatan yang bagus?" gumamnya, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Namun, hatinya yang lain berbisik tentang harga diri, dan segera saja, kata-kata itu ditepisnya. "Harga diri mana lagi yang kamu miliki? Bukankah semuanya sudah hancur berkeping-keping? Lima tahun ini, kata hinaan mana yang tidak kamu dengar? Bahkan tatapan jijik sudah kamu terima. Kenapa di depan Yudha, kamu masih ingin terlihat seperti Sonya yang dulu?"
Tiba-tiba, air mata mengalir begitu saja, tanpa bisa ia bendung lagi. Semua beban yang menumpuk di pundaknya seolah tak bisa ia tanggung lagi. Sebelum dirinya sempat meluapkan semua emosinya, ponselnya berdering, mengalihkan perhatiannya dengan satu notifikasi.
(Hari ini, CEO dan keluarganya akan makan siang bersama di rumah. Anda diperintahkan untuk segera datang dan menyiapkan menu hidangan.)
Sonya menarik napas panjang dan mencoba menenangkan dirinya. Tidak ada waktu untuk meratapi perasaan. "Kamu bisa melakukannya, Sonya," katanya dengan suara parau, lebih kepada dirinya sendiri. "Ini untuk Sasa. Hanya untuk Sasa."
Sonya melangkah dengan langkah tegap menuju rumah yang sudah diinformasikan. Tak lama ia sampai di perumahan elit di salah satu sudut Jakarta. Sonya tersenyum getir saat memandang sekeliling yang kini terasa asing baginya. Dulu, ia pernah tinggal di perumahan seperti ini, namun kini, ia hanya bisa membeli rumah minimalis untuk berteduh bersama sang buah hati. Meskipun begitu, ia sudah bisa bersyukur.
"Lima tahun... kenapa perbedaan kita begitu jauh?" gumam Sonya sembari melangkahkan kakinya menginjak halaman rumah itu, perasaan campur aduk di hatinya.
Sonya mengetuk pintu dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menahan rasa cemas yang tiba-tiba muncul. Begitu pintu terbuka, Sonya terhenti sejenak. Yudha berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak semakin dingin dan tak terjangkau. Mata Yudha menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Masuklah," kata Yudha dengan nada datar, seolah tidak ada rasa kaget atau keingintahuan di suaranya.
Sonya mengangguk, meskipun sedikit ragu, dan melangkah masuk dengan langkah yang agak goyah. Tangannya gemetar, dan meskipun berusaha tenang, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Di dalam, suasana terlihat hangat dengan cahaya lembut yang mengalir dari lampu gantung, menciptakan bayangan halus di sekitar ruangan. Namun, kehadiran Yudha yang tegap dan tenang membuatnya merasa seperti orang asing yang tak sepenuhnya diterima.
Ketika dia melangkah lebih jauh, tiba-tiba salah satu sepatu hak tinggi yang ia kenakan tergelincir di lantai yang licin. Sonya terhuyung, berusaha menjaga keseimbangan, tetapi tubuhnya tak bisa menahan kejatuhan. Dalam detik-detik yang penuh ketegangan, Yudha melangkah maju dengan sigap, meraih tubuh Sonya dan memeluknya dengan kekuatan yang tak terduga.
Saat mata pandangan keduanya saling terperangkap Yudha dalam keadaan sadar mengumpat pada dirinya sendiri, "Sialan! kenapa kembali bereaksi. Apa kata dokter itu benar?"
Tak ingin terlihat canggung dan Sonya menyadari sesuatu Yudha buru-buru melepaskan tubuh Sonya, “Jangan terlalu sering mengandalkan orang lain untuk menyelamatkanmu,” katanya dengan nada yang tetap datar, tetapi ada kedalaman yang sulit diungkapkan.
Sonya menunduk tanpa ingin menjawab. Saat kakinya melangkah lebih jauh ia disambut oleh suara ceria Arya yang berlari menghampirinya. "Halo, Tante. Kita ketemu lagi. Kata Ayah, Tante bakal masak untuk kita."
Sonya tersenyum tipis, merasa ada ketulusan dalam ucapan Arya meski hatinya terasa berat. "Halo, Arya. Iya, Tante masak untuk kalian," jawab Sonya, berusaha terdengar ceria.
Tiba-tiba, terdengar suara Serly yang menegur Arya dengan nada tegas. "Arya, jangan terlalu dekat dengan orang asing." Serly melangkah masuk ke ruang tamu, matanya sempat bertemu dengan Sonya, lalu segera berpaling.
Sonya merasa sedikit canggung, namun Arya tetap mencoba menjelaskan. "Ini Tante Sonya, dia—"
Namun Yudha cepat memotong kalimat Arya. "Kita duduk di ruang makan. Biar karyawannya menyelesaikan tugasnya." Yudha kemudian mengangkat tubuh mungil Arya. "Kamu pasti sudah lapar kan?"
"Iya, Ayah," jawab Arya ceria.
Sonya mengangguk dan mengikuti mereka ke ruang makan. Namun, ada rasa sakit yang membekas di hatinya melihat kebahagiaan Arya bersama Yudha dan Serly. Bukan karena cinta, tetapi karena anaknya, Sasa, tidak bisa merasakan kebahagiaan ini. Ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya.
Beberapa saat berlalu, Sonya berdiri di dapur besar rumah Yudha, tangannya bergerak cekatan menyiapkan bahan-bahan yang telah tersedia di dalam kulkas. Bau rempah-rempah yang baru dipotong mulai memenuhi udara, menciptakan aroma yang memikat. Sonya berencana memasak menu olahan berbahan ayam.
"Dia suka masakan pedas, jadi aku ingin membuat ayam cincang masak sambal, sementara untuk Arya, dia masih anak-anak, jadi aku harus buat sop ayam. Dan untuk Serly, dari karakter-nya pasti sama seperti Yudha," gumam Sonya mengeluarkan idenya.
Ia memanaskan minyak dalam wajan, dan suara minyak yang mendesis seolah menjadi penanda dimulainya perjalanan memasak yang penuh makna. Sonya memotong daging ayam dengan teliti, setiap irisannya disusun dengan hati-hati. Setiap potongan seakan menceritakan kisah lama mereka, cerita tentang dua orang yang pernah saling berbagi tawa dan air mata.
Saat Sonya fokus pada masakan, suara percakapan Yudha dan Serly perlahan terdengar di latar belakang, mengusik ketenangannya.
"Pokoknya aku ingin pertunangan ini berlanjut, Kak. Dan aku sudah menyiapkan semuanya," ujar Serly, dengan nada penuh harap.
"Apa yang kamu mau lakukan saja," jawab Yudha, suaranya datar dan ketus.
"Tapi Kakak bisa nggak jangan cuek seperti ini? Kita sudah sepakat," Serly mencoba meyakinkan, namun ada keputusasaan dalam suaranya.
"Serly, kamu tahu di sini ada Arya. Apa kamu nggak bisa ngebahas ini nanti?" Yudha menanggapi dengan nada yang semakin tegas, hampir seperti mengusir.
Sonya terdiam, mata bulatnya terbuka lebar. Dia pikir, Yudha dan Serly adalah pasangan suami istri, tapi ternyata mereka baru mau bertunangan? Dan... Arya? Anak siapa dia? Pertanyaan itu menggantung di benaknya, mengusik pikirannya. Saat pikirannya melayang, tanpa sadar tangannya tergores oleh pisau yang sedang ia pegang.