NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

33. TGD.33

Waktu berlalu seperti deru angin di pematang sawah—cepat namun meninggalkan jejak yang dalam. Tiga tahun kemudian, "Omah Tandur" bukan lagi sekadar rumah tinggal, melainkan sebuah simbol modernisasi desa yang tetap membumi.

Pagi itu, suasana di meja makan terasa lebih ramai sekaligus lebih emosional. Ini adalah hari keberangkatan Bumi ke Jakarta. Setelah lulus SMP dari asrama kabupaten dengan predikat siswa terbaik se-provinsi, ia mendapatkan beasiswa penuh di sebuah SMA unggulan di ibu kota yang fokus pada diplomasi dan tata negara.

"Ingat, Bumi," ucap Arkan sambil membantu putranya menutup koper yang padat. "Jakarta itu hutan beton. Jangan biarkan hatimu ikut mengeras seperti trotoarnya. Tetaplah jadi tanah yang menyerap air."

Bumi mengangguk mantap. Posturnya kini sudah melampaui tinggi Shelly. "Aku akan kembali, Yah. Aku hanya pergi untuk mengambil 'kunci' pintu-pintu kebijakan di sana, supaya desa kita tidak lagi dipandang sebelah mata."

---

Kepergian Bumi meninggalkan celah yang segera diisi oleh saudara-saudaranya. Aksara kini duduk di kelas 1 SMK Teknik Mesin. Ia jarang terlihat tanpa noda oli di tangannya. Di gudang belakang, ia sedang mengerjakan proyek ambisius: sebuah traktor bertenaga surya yang terintegrasi dengan sensor tanah ciptaan ayahnya.

"Bu, kalau ini berhasil, kita tidak perlu beli solar lagi," lapor Aksara saat Shelly membawakannya es teh. "Koperasi bisa menghemat pengeluaran sampai 40% per tahun."

Sementara itu, Padi telah menjadi sosok "tangan kanan" Shelly di koperasi. Meski masih SMA di desa, pemikirannya tentang regenerasi petani sangat progresif. Ia menginisiasi program Urban Farming untuk pemuda desa, mengubah lahan-lahan tidur menjadi kebun sayur organik yang hasilnya dipasok ke hotel-hotel di kota.

"Padi itu seperti kamu, Shel," gumam Arkan saat melihat anak bungsunya itu dengan sabar mengajari para petani tua menggunakan aplikasi pemasaran digital. "Dia punya kesabaran seorang penanam."

---

### Trio Bunga yang Mulai Bermekaran

Di sudut lain rumah, keceriaan datang dari **Kirana, Larasati, dan Mentari** yang kini duduk di kelas 4 SD. Mereka tumbuh dengan karakter yang kontras namun saling melengkapi:

Kirana adalah 'Humas' keluarga. Ia memenangkan lomba pidato tingkat kabupaten dan selalu menjadi pusat perhatian di setiap acara desa.

Larasatimenjadi pelukis cilik. Dinding lorong rumah kini penuh dengan lukisan pemandangan desa yang sangat detail. Ia adalah orang pertama yang mendesain kemasan produk beras organik koperasi milik ibunya.

Mentari tetap menjadi yang paling liar. Ia sering ditemukan di kandang ternak atau di tengah sawah bersama Padi, tidak takut kotor dan selalu bertanya tentang anatomi tanaman.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di gazebo, Mentari bertanya pada Shelly, "Ibu, kenapa Kak Bumi harus pergi jauh? Kenapa kita nggak tinggal bareng-bareng terus di sini?"

Shelly menarik Mentari ke pangkuannya, sementara Kirana dan Larasati mendekat. "Karena sebuah pohon yang besar butuh menyebarkan bijinya, Sayang. Kak Bumi pergi untuk menjadi pohon di tempat lain, supaya orang-orang tahu bahwa bibit dari Desa Makmur bisa tumbuh di mana saja."

---

Namun, dinamika keluarga tidak selalu mulus. Konflik muncul ketika Aksara ingin memasang menara pemancar sinyal di tengah area keramat desa untuk mendukung otomatisasi traktornya. Warga desa sempat resah, menganggap hal itu akan merusak estetika dan kesucian tanah leluhur.

Di sinilah peran **Padi** diuji. Ia menjadi jembatan antara logika teknis kakaknya dan perasaan emosional warga.

"Mas Aksara, teknologi itu harus punya jiwa," ucap Padi dalam sebuah rapat di balai desa. "Kita tidak bisa hanya bicara soal efisiensi. Kita harus bicara soal harmoni."

Akhirnya, dengan bantuan desain estetik dari **Larasati**, menara itu dibangun dengan bentuk yang menyerupai instalasi seni bambu, sehingga justru menjadi daya tarik wisata baru di desa tersebut. Arkan dan Shelly hanya bisa saling berpandangan bangga dari kursi belakang. Anak-anak mereka mulai belajar menyelesaikan masalah dunia tanpa perlu campur tangan orang tua.

---

### Malam Penganugerahan

Tahun itu ditutup dengan sebuah kejutan. Shelly terpilih sebagai "Tokoh Penggerak Ekonomi Desa Nasional". Saat diminta memberikan pidato di Jakarta—didampingi Arkan dan Bumi yang sudah setahun menetap di sana—Shelly tidak bicara soal angka keuntungan.

Ia berdiri di podium dengan kebaya yang sama saat wisuda anaknya, menatap kamera seolah sedang berbicara pada kelima anaknya yang menonton melalui layar kaca di desa.

"Banyak orang bertanya, apa rahasia di balik suburnya Omah Tandur," ucap Shelly dengan suara bergetar namun jelas. "Rahasianya bukan pada pupuknya, melainkan pada siapa yang menanamnya. Saya tidak hanya menanam padi, saya menanam harapan pada anak-anak saya. Karena bagi seorang ibu, panen yang sesungguhnya bukanlah saat padi menguning, melainkan saat melihat anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi tanah airnya."

Di barisan depan, Arkan menggenggam tangan Bumi. Di Desa Makmur, Aksara, Padi, dan trio bunga desa bersorak di depan televisi.

Malam itu, Omah Tandur tidak hanya sekadar rumah di tengah sawah. Ia telah menjadi sebuah mercusuar; bukti bahwa cinta yang ditanam di atas kejujuran dan kerja keras akan menghasilkan buah yang manis, musim demi musim.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!