NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Jejak yang Hilang

Kabut beracun di Hutan Batu Hitam masih menggantung pekat, merayap malas di antara pilar-pilar batu hitam yang menjulang serupa nisan raksasa. Namun, kesunyian kali ini terasa berbeda, bukan sekadar kesunyian kematian, melainkan kekosongan absolut seolah-olah sejarah di tempat itu telah dihapus paksa. Reruntuhan gua yang pernah menelan Mo Wuxie kini menganga seperti luka yang dipaksa mengering, meninggalkan tumpukan batu tak beraturan dan tanah yang menghitam oleh sisa qi rusak yang masih menguar tak stabil.

Di tengah kehancuran itu, berdiri sesosok figur yang mengenakan zirah hitam-merah compang-camping. Tubuhnya tegap, namun sepasang matanya yang abu-abu pucat telah kehilangan binar kehidupan. Ia tidak bernapas, tidak bereaksi pada racun di udara, dan hanya bergerak saat benang-benang perintah dari Zhao Tianlong menarik jiwanya yang telah menjadi boneka. Boneka Mo Wuxie itu berlutut, menekan telapak tangannya ke tanah, mencoba mencari getaran energi yang mungkin tertinggal. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Tidak ada aura tombak, tidak ada jejak kuda, bahkan tidak ada riak domain yang tersisa. Semuanya telah dibersihkan hingga ke akar, meninggalkan kekosongan yang membingungkan.

"Lagi-lagi nihil," sebuah suara malas memecah keheningan yang menyesakkan itu.

Wei Lan, pemuda kurus dengan jubah biru Tianyuan yang longgar, berdiri beberapa langkah di belakang boneka itu sambil menguap lebar. Rambut hitam-putihnya yang berantakan tertiup angin dingin hutan, sementara matanya yang setengah terpejam menatap reruntuhan itu dengan tatapan bosan. Ia menggaruk lehernya hingga lecet, lalu bergumam lirih, "Seluruh qi Mo Wuxie hilang tanpa sisa. Tombaknya, kudanya... bahkan jejak kebenciannya. Ini terlalu bersih. Seolah-olah seseorang telah memurnikan tempat ini sampai ke tingkat molekuler."

Di sampingnya, Duan Hong, seorang praktisi Tingkat 7 Penguasa Domain yang tegap, tidak tampak terlalu peduli pada analisis Wei Lan. Ia berdiri dengan wibawa yang menekan, namun setiap kali ia menoleh ke samping, sorot matanya yang tegas segera melunak menjadi tatapan penuh kasih. Di lengannya, Xia Mei bergantung dengan anggun. Wanita itu tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya, rambut panjangnya tertata rapi, auranya halus namun menyimpan ketajaman pisau yang siap menghujam kapan saja.

"Sayang, apa kau merasakan sesuatu?" tanya Duan Hong lembut sambil menunduk menatap kekasihnya.

Xia Mei memejamkan mata sejenak, membiarkan persepsi batinnya menyapu radius beberapa mil, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada sisa domain sang 'Naga Merah'. Seolah-olah dia memang tidak pernah ada di sini."

Duan Hong tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya dan mengangkat dagu Xia Mei dengan gerakan posesif yang protektif. "Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, di tempat sekotor ini, apakah kau masih bisa merasakan getaran cintaku padamu? Hanya itu satu-satunya hal yang kurasa tetap jernih di sini."

Xia Mei mendengus malu, namun alih-alih melepaskan diri, ia justru melingkarkan lengannya lebih erat di pinggang Duan Hong. "Kau memang tidak pernah tahu tempat untuk bicara omong kosong," bisiknya, meski senyum tipis terukir di bibirnya.

"Bucin tingkat dewa," Wei Lan bergumam di sela ucapannya, memalingkan wajah dengan ekspresi mual. "Medan pembantaian, boneka mayat, kabut racun... dan kalian masih bisa bertingkah seolah-olah sedang di taman bunga."

"Kalau kau lelah, tidur saja," sahut Xia Mei dengan nada tajam yang seketika mengubah suasananya. "Atau kau mau aku menguburmu di sini agar tidak perlu mengeluh lagi?"

Wei Lan hanya mengangkat bahu, mengabaikan ancaman itu. "Aku hanya berpikir kalian lebih cocok membuka rumah penginapan daripada mengikuti misi pengejaran ini. Pembunuh ini aneh. Tidak ada qi mandat, tidak ada domain yang familiar. Rasanya seperti... sebuah kekuatan murni yang menyatu dengan alam."

Rombongan itu akhirnya bergerak keluar dari hutan, menyisir desa-desa kecil dan tambang-tambang di sekitarnya dengan metode yang tanpa ampun. Wei Lan menggunakan teknik pelacakan jiwa, menyentuh setiap bayangan dan partikel udara, sementara Duan Hong terus menekan setiap warga yang mereka temui dengan tekanan qi Penguasa Domain untuk memaksa sebuah jawaban. Namun hasilnya tetap sama, nihil. Tidak ada pemuda tanpa qi, tidak ada kuda hitam besar, tidak ada orang asing yang mencurigakan. Jejak itu benar-benar lenyap, seolah sang pembunuh telah menguap menjadi udara.

Di sebuah tambang besar dekat jalur patroli Paviliun Tianlu, mereka berpapasan dengan rombongan lain. Dua puluh orang berpakaian resmi dipimpin oleh Qiu Shun, seorang pengawas senior dengan wajah serius dan disiplin yang terpancar dari setiap gerakannya. Qiu Shun melangkah maju, memberi salam formal dengan tangan terkatup.

"Saudara-saudara Tianyuan. Kalian juga sedang mencari pembunuh Mo Wuxie?" tanya Qiu Shun dengan nada tenang yang berwibawa.

Xia Mei melangkah maju lebih dulu, bersedekap dada sambil melemparkan tatapan meremehkan yang menyapu seluruh rombongan Paviliun. "Oh, Paviliun lokal," ucapnya dengan nada dingin. "Kalian datang secepat ini... apa karena takut kehilangan bonus jika Tianyuan pusat menyelesaikan semuanya lebih dulu?"

Suasana mendadak menegang. Beberapa anggota Paviliun Tianlu tampak tersinggung, tangan mereka mengepal pada gagang pedang, namun Qiu Shun menahan mereka dengan isyarat tangan yang tegas. "Kami hanya menjalankan tugas wilayah," jawab Qiu Shun singkat.

"Tugas wilayah?" Xia Mei tertawa kecil, melangkah setengah langkah lebih dekat dengan senyum yang menyakitkan. "Atau tugas untuk bertahan hidup? Kalian bukan orang Tianyuan. Kalian hanya budak mandat yang terlalu takut mati untuk berbuat lebih."

Duan Hong baru menimpali setelah istrinya puas menghina. "Kami datang atas perintah langsung Tuan Zhao Tianlong. Kalian boleh ikut menyisir, asal tidak menjadi beban yang menghalangi jalan kami."

Qiu Shun menundukkan kepala singkat, menyembunyikan kilat di matanya. Ia sempat melirik ke arah boneka Mo Wuxie yang berdiri kaku di belakang mereka; mata kosong itu memberikan sensasi dingin di tengkuknya. Namun, dalam benaknya yang penuh perhitungan, ia tidak pernah sedikit pun menghubungkan kejadian ini dengan Li Shen. Baginya, pemuda yatim piatu tanpa qi dari masa kecilnya itu adalah makhluk lemah yang seharusnya sudah lama mati. Bayangan tentang Li Shen sebagai pembunuh seorang jenderal Tianyuan adalah kemustahilan yang bahkan tidak layak untuk dipertimbangkan.

"Paviliun Tianlu akan terus menyisir wilayah ini secara mandiri," tegas Qiu Shun sebelum memimpin rombongannya pergi.

"Silakan saja," Xia Mei mengibaskan tangan dengan acuh. "Yang penting jangan biarkan kebodohan kalian mengacaukan pekerjaan kami."

Saat rombongan Paviliun menjauh, Wei Lan memperhatikan boneka Mo Wuxie yang tiba-tiba berdiri tegak dan menoleh ke arah lereng timur, meski pandangannya tetap kosong. "Kalau mereka mati duluan, jangan salahkan aku," gumam Wei Lan sambil berjalan malas mengikuti rekan-rekannya.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!