NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepingan Pertama

Feiyan melangkah ke arena latihan yang luas, udara penuh dengan aroma dupa ringan dan suara langkah kultivator lain yang bergema di lantai marmer. Cahaya lampu qi dari berbagai peserta berkilau, menandai aliran energi mereka yang berbeda-beda. Meski ramai, ia merasakan kesunyian di dalam dirinya sendiri—kegugupan yang bercampur dengan tekad untuk membuktikan diri setelah beberapa kegagalan terakhir.

Di pinggir arena, para gadis yang selalu hadir dalam hidupnya berdiri, menatapnya dengan senyum hangat. Gao Lian, Yan Mei, Lin Yue, Xi Qinxue, dan Ru Lan masing-masing menyembunyikan niat mereka. Tatapan mereka lembut, seakan memberikan dorongan, namun di balik itu ada kendali dan pengamatan yang cermat. Feiyan menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya, dan melangkah ke pusat arena.

Ketika gong kecil berdentang menandai dimulainya latihan, Feiyan mulai menarik Qi ke dalam meridiannya. Aliran energi yang telah lama ia latih terasa familiar, hangat, dan mengalir perlahan. Awalnya goyah, namun perlahan ia menemukan ritme, hampir menyentuh keseimbangan sempurna yang diidamkan. Napasnya lambat dan mantap, tubuhnya seakan menyatu dengan aliran Qi, dan untuk sesaat, rasa kemenangan batin membuatnya tersenyum tipis.

Yan Mei memandang dari kejauhan, senyumnya masih cerah, namun aura di sekitarnya mulai memengaruhi aliran energi peserta lain. Aura itu tidak menyerang Feiyan secara langsung, tetapi membuat gerakan lawan sedikit lebih cepat dari normal. Lin Yue bergerak dengan elegan, menarik perhatian Feiyan dengan charm halus—tatapan singkat dan senyum lembut yang memicu rasa ragu di dalam dirinya. Feiyan tersentak sedikit, aliran Qi dalam dirinya terganggu, meski ia tidak sepenuhnya menyadari hal itu.

Xi Qinxue duduk dengan tenang di tepi arena, matanya memperhatikan setiap gerakan Feiyan. Perlahan, ia menyesuaikan tekanan spiritual dari teknik Moon Dream Guidance yang tersisa di tubuh Feiyan, menjaga agar fondasi Qi tetap rapuh namun tidak runtuh. Gao Lian berdiri tidak jauh, wajahnya tetap hangat, namun ia mengamati dari sisi lain, menahan energi formasi kuno yang memengaruhi stamina Feiyan, memastikan tubuhnya tetap berada di ambang kelelahan.

Feiyan berusaha menyingkirkan gangguan kecil yang dirasakannya, mencoba fokus kembali pada teknik Qi. Namun setiap kali ia hampir menemukan titik keseimbangan, ada sesuatu yang menahan atau menariknya. Napasnya mulai lebih cepat, keringat dingin menetes di pelipis. Ia merasa sedikit kesakitan, ringan, tapi menekan diri untuk tetap fokus. Rasa malu mulai muncul—di mata peserta lain, ia tampak berjuang lebih keras daripada yang lain.

Langkah demi langkah, Feiyan mengatur aliran Qi, membayangkan energi bergerak seperti air di sungai yang tenang, tetapi lawan di sekitarnya seolah bergerak lebih lincah dari sebelumnya. Setiap kali ia mencoba menyesuaikan aliran, sedikit kekacauan muncul—gerakan lawan lebih cepat, tatapan Lin Yue menimbulkan keraguan, dan bisikan samar dari Xi Qinxue yang tetap tenang mengarahkan pikirannya ke perasaan “tidak cukup baik”.

Meskipun demikian, Feiyan terus mendorong dirinya. Ia ingin menyelesaikan teknik, ingin membuktikan bahwa ia mampu. Qi dalam tubuhnya mengalir lebih stabil, tubuhnya menegak, wajahnya menampilkan konsentrasi yang kuat. Ia hampir mencapai puncak, rasanya energi seluruh tubuhnya menyatu dalam harmoni sempurna—sebuah kemenangan batin yang telah lama ia impikan.

Namun, sabotase halus mulai bekerja lebih nyata. Yan Mei memperkuat gangguan di aliran energi lawan, membuat setiap gerakan Feiyan sedikit tertinggal. Lin Yue memanipulasi rasa ragu dalam pikirannya dengan senyum lembut yang membuatnya mempertanyakan langkah sendiri. Gao Lian dan Xi Qinxue menyesuaikan tekanan formasi dan teknik mereka, menjaga agar tubuh dan Qi Feiyan tetap rapuh, tanpa menimbulkan tanda bahaya yang jelas.

Feiyan merasakan ketidakseimbangan itu, tetapi terlalu halus untuk dipahami sepenuhnya. Setiap kali ia ingin menarik napas lebih dalam untuk menenangkan diri, energi di sekelilingnya menekan sedikit, membuatnya kembali goyah. Ia menekankan seluruh kekuatan fokusnya, mencoba menahan rasa malu dan kebingungan, tetapi semakin lama tekanan halus itu semakin terasa menekan ke dalam dada dan kepala.

Saat ia hampir menyelesaikan teknik terakhir, Qi dalam tubuhnya tiba-tiba terguncang. Gerakan lawan menjadi lebih cepat, senyum Lin Yue membuat detak jantungnya tak menentu, dan pengaruh formasi serta teknik yang tersembunyi membuat aliran Qi-nya berantakan. Feiyan terpental beberapa langkah, jatuh berlutut, dan menahan napas sambil merasakan rasa sakit ringan di dada. Matanya menyipit, melihat sekeliling peserta yang kini menatapnya dengan ekspresi campur aduk—beberapa heran, beberapa tampak kasihan.

Rasa malu dan frustrasi melanda, Feiyan menunduk, napasnya terengah. Hatinya mulai merasakan kekosongan samar yang merayapi setiap sudut pikirannya. Ia mencoba menenangkan diri, mengulang teknik dalam hati, namun setiap kali ia melakukannya, gangguan halus dari para gadis membuatnya kembali goyah. Kelelahan fisik bercampur dengan tekanan psikologis, membentuk rasa kesepian yang menekan meski ia berada di tengah arena ramai.

Feiyan duduk di sudut arena, menarik napas panjang, mencoba meredakan panas di dada dan kekosongan yang mulai menyebar. Saat itu, dada terasa panas dan dingin sekaligus—Void Crack bereaksi. Garis hitam halus di jantungnya berdenyut, memberi sensasi “kosong” yang baru, berbeda dari sebelumnya. Rasa ini menandai pergeseran dalam dirinya, sebuah pertanda bahwa fase baru pertumbuhan gelap mulai muncul. Ia menatap ke langit-langit arena, napasnya masih berat, merasakan tubuhnya lelah, namun ada sesuatu yang lain—fragmen pertama dari Void Crack kini aktif, menandai bahwa Feiyan perlahan mulai menjadi “kepingan” dari dunia para gadis itu.

Para gadis di pinggir arena tersenyum samar, tatapan mereka hangat di permukaan namun penuh pengaruh di baliknya. Mereka tahu, setiap gerakan yang mereka lakukan, setiap pujian yang mereka lempar, setiap gangguan halus yang mereka ciptakan, semua bertujuan menanam dasar ketergantungan dan manipulasi pada Feiyan. Fragmen pertama dari Void Crack telah aktif, dan Feiyan, meski merasa didukung, tidak menyadari bahwa dirinya perlahan mulai terfragmentasi, siap diatur oleh mereka—bagian demi bagian, tanpa mampu menghentikannya.

Feiyan tetap duduk di sudut arena, napasnya berat, tubuhnya lelah, namun pikirannya terus berputar. Rasa kosong yang baru muncul dari Void Crack menembus ke dalam kesadarannya, seperti bisikan halus yang menuntunnya pada ketidakpastian. Ia menatap tangan gemetarnya, merasakan denyut Qi yang tidak stabil, namun ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk bangkit dan mencoba lagi.

Di sekelilingnya, para gadis tetap mengawasi dengan senyum samar. Gao Lian berdiri di sisi arena, wajahnya lembut namun matanya mengamati setiap gerakan Qi Feiyan dengan ketelitian. Yan Mei memperhatikan dari sudut lain, aura cerahnya menutupi maksud tersembunyi, membuat Feiyan merasa didukung namun tanpa sadar dipengaruhi. Lin Yue bergerak pelan di belakangnya, charm halusnya membuat pikiran Feiyan sedikit melayang, sementara Xi Qinxue tetap tenang, matanya memantau setiap getaran energi dan emosi, siap menyesuaikan tekanan yang diperlukan. Ru Lan mengintai dari bayangan, hadir namun tak terlihat, menambah ketegangan psikologis yang perlahan menekan Feiyan.

Feiyan menutup mata, mencoba menyatukan aliran Qi yang tersisa. Ia mengingat teknik yang dipelajari, mencoba menarik energi dari meridian, menyelaraskan napas, dan menenangkan denyut jantung yang bergejolak. Namun setiap kali ia hampir menemukan ritme yang stabil, gangguan halus muncul. Sebuah bayangan tipis di sudut matanya, sebuah senyum samar yang menimbulkan rasa ragu, atau bisikan yang terlalu halus untuk dipahami. Ia mulai menyadari bahwa sesuatu di sekelilingnya tidak benar, namun ketidakjelasan ini justru membuatnya semakin bingung.

Void Crack berdenyut lebih kuat di dalam jantungnya, sensasi panas dan dingin bercampur dengan rasa malu dan frustrasi. Feiyan merasakan tarikan yang tak bisa dijelaskan—seolah ada kekuatan gelap yang ingin mengambil alih setiap celah kelemahannya. Setiap usaha untuk menguatkan Qi seakan ditarik ke arah kosong yang semakin menelan. Ia merasakan keterikatan emosional yang baru, rasa didukung yang menenangkan sekaligus menekan, dan semua itu datang dari senyum para gadis yang tampak hangat namun menyimpan kontrol penuh.

Rasa lelah fisik bercampur dengan tekanan psikologis membuat Feiyan hampir kehilangan fokus. Tangannya bergetar, tubuhnya condong ke depan, dan matanya menatap kosong ke arena. Ia mencoba menenangkan diri, memusatkan Qi sekali lagi, tapi setiap percobaan terganggu—gerakan lawan yang sedikit lebih cepat, aura yang terlalu dekat, tatapan yang memancing rasa ragu. Semua hal itu terasa halus, namun cukup untuk membuatnya merasa tak berdaya.

Di saat itu, Ru Lan muncul sebagai bayangan samar di sisi arena, tak terlihat oleh Feiyan. Ia menatap dengan dingin, menilai setiap gerakan, setiap getaran Qi, setiap ekspresi wajah Feiyan. Dengan kontrol penuh, Ru Lan memanipulasi bayangan lain untuk tetap mengintai, memastikan ketidakberdayaan Feiyan meningkat secara perlahan. Ia tersenyum tipis, menikmati ketegangan yang mulai membentuk di dalam diri Feiyan, mengetahui bahwa Void Crack yang aktif memberikan sensasi baru yang akan membuatnya semakin mudah diatur.

Feiyan, meski lelah, merasakan dorongan untuk bangkit. Ia menahan tubuh yang gemetar, menarik napas panjang, dan mencoba sekali lagi menyatukan Qi. Namun sensasi dalam dada semakin kuat—Void Crack kini berdenyut dengan ritme sendiri, menggerakkan sesuatu di dalam jantungnya yang belum pernah ia rasakan. Panas dan dingin yang bercampur membuatnya terpaku, seakan ada bagian dari dirinya yang menolak diatur, sementara bagian lain menyerah pada ketidakpastian.

Para gadis tetap mengawasi dari kejauhan, ekspresi mereka lembut namun penuh kendali. Gao Lian menatap dengan tatapan hangat yang tersembunyi niat menguras Qi, Yan Mei tersenyum nakal namun hati-hati, Lin Yue menimbulkan ketergantungan emosional yang samar, Xi Qinxue menyesuaikan tekanan psikologis secara halus, dan Ru Lan tetap menunggu dari bayangan, menikmati proses yang lambat tapi pasti. Setiap gerakan mereka membentuk jaringan pengaruh yang membuat Feiyan merasa diterima, dicintai, dan sekaligus tak berdaya.

Void Crack di dadanya kini berdenyut lebih kencang. Feiyan merasakan energi gelap itu mengalir perlahan ke seluruh tubuhnya, tidak menyakitkan, tapi menimbulkan sensasi “kosong” yang menuntunnya ke dalam ketergantungan yang semakin dalam. Napasnya tersengal, pandangannya kabur, dan ia merasa tubuhnya hampir melepaskan kontrol atas Qi sendiri. Ia mencoba menenangkan diri, namun setiap usaha berulang kali gagal.

Dalam detik yang terasa panjang, Feiyan menatap ke arah para gadis yang tersenyum lembut dari kejauhan. Ada rasa hangat yang menenangkan, namun ia mulai merasakan sesuatu yang salah—rasa didukung yang terlalu sempurna, rasa aman yang menekan, dan bayangan yang tak bisa dijelaskan dalam hati. Ia menoleh ke arah arena kosong, napasnya berat, tubuhnya gemetar, menyadari bahwa sesuatu di dalam dirinya telah berubah, namun belum sepenuhnya memahami apa.

Void Crack di jantungnya berdenyut semakin kuat, sensasi kosong dan panas bercampur dengan perasaan malu dan frustrasi, membentuk ketegangan yang menahan setiap langkahnya. Feiyan menunduk, menatap tangan yang gemetar, merasakan bahwa ia telah menjadi bagian dari permainan yang lebih besar. Fragmen pertama kini aktif sepenuhnya, dan ia merasakan tarikan yang lambat tapi pasti, membawa dirinya ke arah manipulasi para gadis yang tersenyum lembut, namun menyembunyikan kontrol penuh.

Matanya menatap langit-langit arena yang luas, napas tersengal, dada berdebar. Ia masih tidak mengerti sepenuhnya, namun ada kesadaran samar bahwa sesuatu dalam dirinya telah mulai retak—Void Crack yang aktif menandai awal dari “kepingan pertama”. Sensasi panas dan dingin, kekosongan yang baru, dan tarikan emosional dari pengaruh para gadis mulai membentuknya menjadi seseorang yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di pinggir arena, Gao Lian, Yan Mei, Lin Yue, Xi Qinxue, dan Ru Lan saling bertukar tatapan samar, setiap senyum penuh arti. Mereka tahu, langkah pertama telah berhasil. Fragmen pertama Void Crack kini aktif, Feiyan mulai menjadi “kepingan” yang dapat diatur. Perlahan, sangat perlahan, ia akan terikat pada mereka—bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena setiap manipulasi, setiap pengaruh yang diberikan, dan setiap ketergantungan yang ditanam dalam hatinya sejak awal.

Feiyan menunduk, napasnya berat, dan matanya mulai berkaca. Ia merasakan kombinasi hangat dan dingin, rasa kosong yang menelan, dan tekanan yang menuntunnya ke ketergantungan baru. Di arena yang ramai namun hening, di tengah para gadis yang tersenyum samar, fragmen pertama dari Void Crack telah membentuk dirinya—awal dari perjalanan gelap yang akan menuntun Feiyan menjadi bagian dari dunia mereka, perlahan tapi pasti.

Dan ketika ia menatap ke kejauhan, bayangan para gadis tampak memudar, meninggalkannya sendirian dengan perasaan kosong yang mendalam,

dada yang berdenyut panas dan dingin, dan kesadaran samar bahwa hidupnya kini telah mulai berubah… selamanya.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!